Minggu, 04 Februari 2018

Kekerasan dalam Pendidikan


Kekerasan dalam pendidikan, miris, kembali duka lembaga pendidikan terjadi, saat guru meninggal akibat perbuatan anak didiknya sendiri. Ikut berduka bagi sekolah dan keluarga yang ditinggalkan, agar ada kepedulian dari lembaga terkait. Beberapa hal yang patut dicermati, berdasar pengalaman pribadi menghadapi murid dengan tabiat, karakter, dan latar belakang suku yang aneka macam itu tidak mudah. Pun proses pendidikan guru juga sangat menentukan seorang pendidikan akan bisa menghadapi dinamika yang ada dengan baik.
Kisah pertama, saat praktek mengajar, ada murid dari suku yang saya asumsikan keras, lantang, dan jelas tidak bisa main-main. Badannya besar, duduk di belakang, eh pas saya mengajar kakinya ditaruh di meja, dengan lengan celananya digulung. Kaos kaki merah AC Milan panjang selutut dipamerkan. Jelas mainan anak-anak terhadap calon guru PPL. Keringat dingin juga ini, kalau dikerasi akan geger, didiamkan akan trunyak, perlu penanganan serius. Saya menemukan ilmu dari guru SMP saya mengenai falsafah kenduri. Bagaimana datang ke kenduri itu, ada yang serius berdoa, ada hyang ngantuk, tertidur, atau malah ngobrol sendiri, apa yang didapat satu dos, atau besek nasi dengan lauk yang sama. Mulai lengan celananya diturunkan dan menutupi kaos kakinya, malah sempat berteriak jangan teruskan, kakinya turun. Ada dua anak serius di depan, pasti ini mereka korban yang belakang itu, saya lirik kakinya turun dan mulai menyimak, bukan acuh tak acuh lagi. Dua anak ini saya jadikan contoh, bagaimana sekolah bukan kenduri, dan saya lanjutkan dengan pengeluaran orang tuanya untuk mereka. Pertemuan berikut, saya lewat warung dekat sekolah dengan sepeda ontel, anak yang kakinya di meja ini teriak, Mas enteni, sambil minum dan membayar lari ke kelas. Saya kaget luar biasa.
Kisah kedua, anak yang bandel minta ampun, semua guru tidak mau lagi memberikan perhatian, bahkan tantenya sendiri angkat tangan. Apapun kenakalan anak ia lakukan. Apalagi dengan guru. Nah suatu hari, ia ini mengirim status ke media sosial saya, dan memang bagus, saya katakan, kog juga bisa bagus, mengapa di kelas harus begitu? Dia balik tanya, beneran Pak, dan saya jawab iya... Mulai hari itu ia selalu mengirimkan status (copas atau terusan sih), dan di kelas juga berubah.
Kisah ketiga, kisah di majalah, bukan milik saya pribadi, seorang anak bandel minta ampun, gurunya saking jengkelnya mengatakan, kalau kamu tidak mau berubah kamu akan jadi sampah masyarakat. Suatu hari si ibu guru ada yang mencari, seorang polisi. Ibu guru itu makin bingung dan takut, apalagi si polisi membuka tempat pistolnya dan menaruh di atas meja ruang guru dengan topi seragamnya. Ibu lupa saya pasti, dulu ibu mengatakan saya kalau tidak mau berubah hanya akan jadi sampah masyarakat. saya berubah Ibu dan karena Ibu, saya datang untuk berterima kasih sampil berlutut. Tanpa apa yang Ibu katakan dulu, pasti saya jadi sampah masyarakat.
Di dalam kelas atau sekolah selalu akan ada trouble maker, jagoan, jawara, dalam kasus Sampang ini pendekar malah, itu tidak akan bisa dihindarkan. Guru yang perlu cerdik sehingga anak tidak meradang, dan juga guru tidak jatuh wibawanya. Mirisnya hal demikian tidak akan pernah dikatakan di bangku kuliah. Jam terbang sangat penting, dan sangat wajar Bapak Guru almarhum masih relatif muda juga.
Teman guru dulu baru lulus, menghadapi anak memang tidak mudah. Kewibawaan memang tidak serta merta ada dalam diri para guru. Bantuan rekan sangat menentukan. Rekan muda tersebut sering berdiskusi, bertukar pengalaman dan akhirnya bisa menemukan trik jitu bagi dirinya menghadapi murid. Belum tentu suasana ruang guru dan kebersamaan dengan guru lain sama di setiap sekolah. Hal ini tantangan yang lagi-lagi di ruang kuliah tidak ada pembicaraan sama sekali.
Anak didik itu manusia yang memiliki karakter, luka batin, kepribadian, dan kejiwaan masing-masing. Artinya, mereka khas dan unik, inilah seninya menjadi guru, namun bisa juga menjadi bencana jika tidak siap. Belum tentu anak yang satu dengan yang lain sama di dalam menanganinya. Belum lagi jika orang tuanya sensi.
Suasana dan tata tertib sekolah juga mendukung. Memberikan ruang lebih bagi anak-anak tertentu, misalnya juara ini dan itu, bisa menjadi bencana ketika anak yang merasa istimewa ini ternyata dihadapi sebagai anak yang sama oleh guru yang tidak tahu atau idealis misalnya. Ini masalah besar jika guru tidak siap, apalagi anak yang biasa istimewa ini merasa tersentuh egonya. Memang pendidikan calon guru ada matkul Psikologi Perkembangan, toh teori, untuk aplikasi ya lemah.
PPL menjadi penting untuk meningkatkan jam terbang. Persoalan adalah ketika sekolah guru menjadi marak dengan adanya sertifikasi, satu angkatan 700 hingga 1000 di kota kecil, sekolah mana yang bisa menjadi “ajang” coba-coba? Padahal hal ini sangat penting. Penguasaan kelas tidak mudah lho, jangan remehkan, semua pernah jadi siswa apalagi di K ini, kalau jadi guru gak banyak  rasanya.
Sikap politis yang menempatkan matpel “istimewa” membuat anak tidak respek dengan pengampu matpel yang biasa. Jangan heran mereka mana berani bersikap sok dengan guru fisika, matematika, Bahasa Indonesia, dan sejenisnya. Mata pelajaran UN, dan sikap yang jelas ditampilkan sekolah dengan fasilitas khusus, jam tambahan, anak diajar secara tidak langsung meremehkan matpel tertentu. Dalam kasus almarhum adalah guru seni.
Buka soal kasus per kasus, namun soal pendidikan. Bagaimana pendidikan bisa menghasilkan anak didik tidak respek pada guru seperti ini? Ini bukan hanya meminta anak instrospeksi, guru berkaca, atau apa? Namun masalah mendasar dunia pendidikan.
Hukuman saja tidak cukup, jika berbicara kasus, namun bagaimana dunia pendidikan berbenah demi perbaikan. Lepaskan dari kepentingan-kepentingan yang tidak mendasar atas pendidikan. Politik, bisnis, dan yang tidak mendukung pendidikan secara langsung saatnya menyadari dan beralih, bukan lahan untuk yang lain-lain.