“Ibu,
apa arti pencemaran lingkungan itu?” tanya seorang anak kelas dua sekolah dasar
pada ibunya.
“Contohnya
membuang sampah sembarangan, eh bukan, itu limpah pabrik,” kata ibu muda itu.
Ibu ini lulusan perguruan tinggi, masih muda, dan tentu melek media.
Percakapan
itu merupakan percakapa banyak anak dan orang tua yang bisa terjadi seperti di
atas. Sama sekali tidak salah mengenai pencemaran lingkungan tersebut. Sederhana
dan benar bagi anak usia anak kelas dua, namun malah diubah sesuai pola ibu,
dan itu justru membuat anak bingung, pabrik itu apa, limbah itu apa, dan
pencemaran makin luas jadinya bagi anak seusia itu. Guru akan menjawab yang
pertama, membuang sampah sembarangan yang membuat lalat datang dan membawa
penyakit.
Sering orang
mengatakan, ah gampang jadi guru itu, asal mau. Sama sekali tidak sesederhana
itu. Relatif mudah bagi dosen dan guru tingkat lanjut, terutama menengah atas.
Guru sekolah dasar sama sekali tidak mudah, bahkan sulit dengan berbagai
penilaiannya.
Anak-anak
sekolah sekarang sering mengatakan gampang, tanya saja Mbah Google. Di sana ada
semua. Dan itu benar, tidak ada yang tidak ada kog. Mulai yang ilmiah ada pula
yang hanya iseng dan becanda. Dari yang dibuat oleh kaliber profesor hingga
anak yang sedang latihan nulis.
Definisi itu contoh
Berangkat
dari penjelasan ibu ke anak tersebut, ternyata tidak mudah menerangkan sesuai
dengan kepentingan. Mungkin banyak orang untuk memberikan keterangan dan
definisi, pengetahuan, ilmu pengetahuan apapun itu, namun tidak banyak yang
bisa mengajar dan memberikan penjelasan dan menerangkan dengan panjang lebar
dan bisa dimengerti bukan asal bisa apalagi dengan konsep oleh si penerang.
Mampu memberikan contoh sesuai dengan konteks dan keperluan itu tidak gampang.
Mengajar itu untuk orang lain, bukan diri
sendiri
Orang pandai
itu banyak dan tidak kurang, namun orang yang bisa memberikan sepenuhnya kepada
pihak lain itu tertentu. Guru adalah profesi yang memberikan diri pada
muridnya. Itu keseluruhan, dan itu tidak mudah. Berbagi ilmu itu bukan hanya
otak, namun hati dan itu perlu kecerdasan tertentu.
Ilmu itu perlu kedalaman.
Media,
termasuk di dalamnya media digital melimpah informasi. Namun kedalaman hanya
ada dari pengajaran. Kemampuan memilah dan memilih itu ada dari pendidikan dan
pengajaran. Pinter tanpa pendidikan hanya pengajaran murid tidak akan tumbuh
berkembang sesuai dengan jati dirinya. Pinter bukan hanya otak namun hati
termasuk di dalamnya. Belajar bukan untuk nilai (A, B, atau 80, 90), namun
untuk hidup. Bagaimana hidup lebih baik dan mampu memilih dan memilah yang
tidak ada di luar pendidikan oleh seorang guru. Guru memberikan panduan moral,
etis, kedalaman, dan skil yang ada di dalam kebersamaan.
Guru vs Google.
Google
bersifat komplementer, melengkapi pengajaran yang ada di sekolah dari guru,
sama sekali tidak bisa mengambil alih tugas seorang guru. Guru ada di garda
terdepan di dalam pendampingan dan pendidikan peserta didik. Google sebagai
referensi sangat kaya namun tidak mungkin memberikan penilaian etis, kedalaman,
dan pendidikan secara berjenjang dan kontekstual sebagaimana guru berikan.
Hakikat
manusia itu bertumbuh dan berkembang bersama yang lain demikian juga dalam
pendidikan. Pendidikan tidak bisa lepas dari peran orang lain dan salah satunya
adalah guru.
Keberadaanmu tidak
akan tergantikan
Dirgahayu Guru!