Pembedaan
Roh memiliki andil besar dalam mengadakan pemilihan ataupun penegasan rohani di
dalam hidup seseorang. Bila kita dapat membedakan gerakan roh baik dan roh
jahat dengan tepat, maka kemampuan itu akan mendukung secara tepat dalam
mengadakan pemilihan mengenai bermacam-macam hal terlebih dalam hidup rohani.
Dalam bagian ini, akan dibicarakan secara singkat bagaimana seseorang dapat
mengadakan pemilihan dengan baik berdasarkan kemampuannya membedakan roh baik
dan roh jahat, berdasarkan pengalaman hiburan ataupun kesepian.
1.
Hal yang perlu diperhatikan sebelum pemilihan
Sebelum kita mengadakan suatu pilihan
dan mengadakan penegasan, perlulah kita menyadari terlebih dahulu apa yang
menjadi tujuan hidup kita yang sesungguhnya. Tujuan penciptaan kita oleh Allah
pertama-tama ialah untuk memuji dan mengabdi Allah. Karena tindakan memuji dan
mengabdi Allah itulah, kita akan memperoleh keselamatan dan kebahagiaan bersama
Allah.
Apabila tujuan hidup kita ialah demi
meluhurkan Allah, maka sikap kita terhadap semua hal, barang ciptaan lain,
menjadi jelas pula, yaitu kita akan menggunakannya sejauh hal itu mendukung
tujuan kita, dan akan melepaskannya bila hal itu mengganggu tujuan hidup kita.
Patokan yang sangat jelas, yaitu menolak
segala yang mengganggu dan memakai yang berguna bagi kehidupan kita di dalam
memuliakan Tuhan. Perlu bertanya ke dalam diri sendiri pula, apakah tujuan kita
di dalam mengadakan pemilihan itu sungguh murni, yaitu hanya untuk memuji
Tuhan. Bisa pula ditanyakan lebih jauh apa kehendak Tuhan dalam hal ini?
2.
Hal yang dijadikan bahan pemilihan
Ada beberapa kriteria yg perlu diperhatikan
di dalam pemilihan, yaitu:
a.
Bahan yang dijadikan pemilihan haruslah baik,
atau minimal netral tidak baik namun juga tidak buruk
Bahan yang jelek tidak perlu diadakan
pemilihan, karena sudah jelas pilihannya, yaitu kita tidak perlu memilihnya.
Paling tidak ialah memilih sesuatu yang netral, seperti memilih tempat hidup,
pekerjaan, atau mana yang hendak dibeli. Berbeda ketika ada pilihan antara
korupsi atau tidak, karena pilihannya pasti, tidak korupsi.
b.
Bahan pemilihan dibedakan antara yang dapat
diubah dan tidak dapat diubah
Pemilihan dalam hal yang tidak dapat
diubah misalnya perkawinan atau tahbisan. Memilih tahbisan tidak akan mungkin
menikah dan sebaliknya. Berbeda dengan memilih pekerjaan, domisili atau barang
yang hendak dibeli. Pemilihan dalam hal ini, kalau tidak tepat akan dapat
dengan mudah diulang atau diganti, karena halnya sendiri dapat diubah tanpa
harus mengorbankan banyak hal.
c.
Untuk bahan yang tidak dapat diubah
Bila seseorang telah memilih secara
keliru, sebaiknya tetap dalam pilihan itu sambil mencoba menghayati pilihan itu
dengan sebaik mungkin sebagai tanggung jawab dan silih kepada Tuhan atas
pilihan yang salah. Misalnya kalau sudah memilih pasangan dan dirasa keliru,
lebih baik menjalani itu dengan baik. Kalau berpikir untuk bercerai, korban
akan jauh lebih banyak tentunya.
d.
Untuk bahan yang dapat diubah
Tentu pilihan dalam hal ini dengan mudah
akan dapat diubah dan memilih pilihan baru, sepanjang situasi dan keadaannya
memungkinkan. Apabila pilihan telah perlu kiranya pribadi tersebut berjuang dan
menyempurnakan pilihan tersebut. Pribadi itu tinggal meningkatkan penghayatan
dan pelaksanaannya.
3.
Tiga waktu pemilihan
a.
Waktu I
Waktu di mana orang tanpa ragu-ragu
digerakkan Allah untuk memilih suatu
hal. Contoh konkret apa yang dialami oleh Rasul Paulus. Ketika sedang dalam
pengejaran murid-murid Tuhan, Paulus diminta mengikuti Tuhan dan dengan segera
mengikutinya. Demikian pula Andreas, Yakobus, Petrus, dan Yohanes.
Keberanian diperlukan di dalam
melaksanakan pilihan. Namun keberanian tersebut juga merupakan pemberian Tuhan,
oleh karena itu perlu kiranya kita memohon Tuhan memberikan kekuatan untuk
mengiyakan ajakan Tuhan itu dan melaksanakannya.
b.
Waktu II
Dalam waktu kedua ini, orang mendapatkan
terang dan pengertian karena hiburan dan kesepian serta pengalaman membedakan
roh. Dalam hal ini orang akan memilih hal yang lebih membawa kepada Tuhan yang
jelas pada hiburan rohani yang ia alami.
Seorang gadis mengisahkan pengalamannya
untuk memilih siapa yang akan dipilih menjadi suaminya. Ia banyak berdoa kepada
Tuhan untuk memberikan petunjuk mana yang paling tepat untuknya. Ia merasakan
kedamaian, ketenteraman, dan kebahagiaan ketika bersama di Budi daripada yang
lain. Maka ia memilih Budi sebagai suaminya.
c.
Waktu III
Waktu tenang untuk berfikir dan
berefleksi. Dalam waktu ini memang orang dapat tenang tanpa tergesa-gesa
mempertimbangkan apa yang ingin dipilihnya. Inilah waktu yang biasanya kita
punyai dalam banyak pemilihan. Jiwa kita tidak akan terganggu oleh macam-macam
roh, sehingga kita dapat menggunakan daya kodrati seperti pikiran, budi, dan
kehendak kita secara bebas. Ada dua cara untuk mengadakan pemilihan dalam waktu
biasa ini, yaitu:
1)
Cara 1
Cara ini ialah dengan melihat dan
mempertimbangkan unsur pro dan kontra dari setiap hal yang kita jadikan
pemilihan, lalu membawa hasilnya kepada Tuhan. Keputusan yang memberikan
ketenangan, itulah yang dipilih. Kadang diperlukan masukan dan bertukar pikiran
dengan orang lain atau teman yang dipercaya. Langkah-langkah pemilihan sebagai
berikut.
a)
Menghadap Tuhan dan mohon agar dapat mengadakan
pemilihan dengan baik. Mohon agar digerakkan untuk memilih mana yang lebih
menambah pujian bagi Tuhan
b)
Menimbang tujuan hidup, yaitu diciptakan untuk
memuji, meluhurkan, dan mengabdi Tuhan.
c)
Menatap bahan pilihan. Menimbang semua unsur
dari bahan itu, melihat alasan pro dan kontra apabila memilih salah satu,
memberikan bobot kepada hal-hal yang menunjang aku diciptakan. Apa untung
ruginya, apa manfaat dan tidaknya semua hal tersebut.
d)
Dari alasan tersebut, menimbang mana yang lebih
menguntungkan bagi kehidupan kita dan kecondongan hati kita . Itu merupakan
pilihan sementara.
e)
Membawa pilihan kembali kepada Tuhan, apakah
hasil ini yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
f)
Merasakan dalam batin apakah kita menjadi
tenang, damai, mendapatkan hiburan kerena pilihan itu, atau sebaliknya, hati
menjadi gundah dan kacau? Bila tenang, maka kiranya pilihan itu ialah tepat,
bila tidak perlu dipertimbangkan lagi.
2)
Cara 2
Pada cara kedua ini, diungkapkan
beberapa cara yang dapat membantu mengadakan pemilihan secara tepat. Ada empat
cara yang dapat dilakukan, bisa dipilih yang paling membantu kita.
Kita hadir di hadapan Tuhan dan memohon
agar boleh mengadakan pemilihan. Selanjutnya dapat memilih cara berikut.
a)
Kita bayangkan bahwa ada orang yang belum kita
kenal yang datang kepada kita untuk minta nasihat tentang bahan yang akan
dipilih. Sebagai seorang yang dimintai nasihat, kita akan memberikan nasihat
yang terbaik dalam hal pemilihan itu. Pilihan terbaik yang lebih memuliakan
Tuhan. Pilihan itulah yang lalu menjadi hasil pemilihan kita.
b)
Membayangkan, seolah-olah kita sedang ada
di dalam ambang maut, lalu bertanya apa
yang akan aku pilih. Dalam keadaan ambang maut, biasanya orang berfikir untuk
mengambil keputusan yang paling tepat bagi kehidupannya. Pilihan itu yang kita
ambil.
c)
Membayangkan kita berada di hadapan Tuhan Yesus
dan menjalani penghakiman terakhir. Apa yang aku pilih bila ada di hadapan
Tuhan yang sedang menyidang kita. Pilihan itulah yang kita ambil.
d)
Membayangkan apa akibat dari pilihan tersebut
bagi hubungan kita dengan Tuhan dan orang lain. Apakah pilihan tersebut membawa
kita semakin dekat dengan Tuhan dan sesama atau sebaliknya, atau malah
menjauhkan?
4.
Unsur yang ikut mempengaruhi pengambilan
keputusan
Beberapa hal yang biasanya mempengaruhi
pemilihan seseorang dan pengambilan keputusan seseorang:
a.
Sifat, watak, dan pembawaan seseorang. Apakah
orangnya mudah bingung, takut, punya trauma yang perlu dibereskan terlebih
dahulu? Hal ini akan mempengaruhi cara orang mengadakan pemilihan.
b.
Pendidikan seseorang juga berpengaruh dalam
memilih. Orang yang dididik dan dibiasakan untuk memilih sejak kecil dan
mengambil keputusan dalam hal-hal sederhana dan kecil dengan tepat dan
bijaksana, akan lebih mudah dalam melakukan pemilihan dalam hal yang besar dan
mendasar.
c.
Suara hati yang dikembangkan dengan baik,
jernih, dan benar akan sangat mempengaruhi orang tersebut dalam mengadakan
pemilihan secara tepat. Demikian pula sebaliknya, pribadi dengan suara hati
kacau akan kesulitan mengadakan pilihan secara benar.
d.
Pemilihan juga berbeda dalam setiap levelnya.
Level rohani, moral, psikologis, atau praktis.