Jumat, 29 Agustus 2014

Aborsi dalam Tinjauan Moral Katolik

Aborsi: Budaya Kehidupan Berhadapan dengan Budaya Kematian
Hari-hari ini sedang hangat-hangatnya pembicaraan mengenai aborsi. PP No. 61 tahun 2014, mengenai aborsi. Secara garis besar aborsi kandungan akibat pemerkosaan diperbolehkan. Perlu pembicaraan lebih lanjut ialah, bagaimana korban itu ialah manusia kecil yang sama sekali tidak berdosa. Janin dan calon manusia itu sama sekaali tidak bersalah, dan berdosa, bagaimana anak manusia tersebut yang tidak bersalah dan berdosa itu dibunuh tanpa bisa melawan dan mempertahankan diri? Mengapa kejahatan dibalas dengan kebiadaban kepada obyek yang sama sekali tidak tahu menahu.
Pembicaraan selanjutnya ialah pendampingan bagi korban pemerkosaan. Motivasi dan bimbingan untuk menerima keadaan sebagai orang beriman. Ketika menghadapi persoalan sebagai orang beriman, tentu pilihan atau opsi pembunuhan itu tidak akan timbul. Tidak mungkin kebaikan dan keburukan timbul dan berkembang di tempat yang sama. Hati manusia oleh Tuhan diciptakan baik adanya. Oleh karena itu ketika Tuhan menguasai hati manusia, nafsu jahat, kehendak buruk tentu tidak akan memiliki tempat untuk berkembang.
Tradisi Gereja berbicara mengenai aborsi sangat jelas. Mulai dari abad-abad pertama sejarahnya, Gereja membela hidup anak di dalam kandungan, juga kalau dalam masyararakat tersebut menilai hal itu sebagai kebiasaan dan umum seperti di Romawi abad-abad 1-2. Konsili Vatikan II menyebut pengguguran sebagai suatu “tindakan kejahatan yang durhaka”, sama dengan pembunuhan anak. (Bdk. GS. 51). Eksiklik Paus Paulus VI, Humanae Vitae, (1968) pengguguran, juga dengan alasan teraupetik, bertentangan dengan tugas memelihara dan meneruskan hidup. Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik, Veritatis Splendor (1993), menyatakan, pengguguran digolongkan antara perbuatan yang lepas dari situasinya, dengan sendirinya dan dalam dirinya dan oleh karenanya dilarang keras. Gaudium et Spes, mengungkapkan, “Apa saja yang berlawanan dengan kehidupan sendiri, bentuk pembunuhan yang manapun juga, penumpasan suku, pengguguran, euthanasia, dan bunuh diri dengan sengaja, apapun yang melanggar keutuhan pribadi manusia, seperti...penganiayaan, apapun yang melukai martabat manusia....semuanya itu sudah merupakan perbuatan keji, mencoreng peradaban manusia....sekaligus sangat bertentangan dengan kemuliaan Sang Pencipta.”  (GS 27: VS 80).
Manusia dalam kandungan sama martabatnya seperti manusia yang telah lahir. Sebelum dan sesudah kelahiran hanya berbeda dalam lingkup dan lingkungan hidupnya yang berbeda.
Ibu yang mengandung anak berpotensi cacat, atau ibu yang mengandung di luar nikah, bukan menjadi alasan pembenar adanya pengguguran. Keadaan tersebut lebih membutuhkan pertolongan, konseling, dan pendampingan dari lingkungan. Lingkungan terdekat keluarga, diikuti dan dikukuhkan oleh gereja, dan negara memiliki tanggung jawab untuk memberikan kekuatan moral kepada ibu tersebut. Konflik hidup hanya bisa diselesaikan dengan membantu hidup bukan dengan membunuh.

Pustaka:
1. Iman Katolik
2. DKV II
3. Tolak Aborsi



Rabu, 27 Agustus 2014

R.I.P

Setiap kali mendengar berita duka, atau mendoakan arwah, kita memiliki kecenderungan untuk mengucapkan baik langsung atau dalam doa sebagai berikut,”semoga arwahnya  diterima di sisi-Nya sesuai dengan apa yang menjadi amal.........” dan seterusnya dan seterusnya.
Paham kelompok mayoritas bangsa ini mempengaruhi pola pikir kita, dalam iman Katolik, meninggal sebagai awal kehidupan kekal. Kedudukan di sisi Tuhan adalah mutlak di pangkuan Allah Bapa Mahakuasa, karena pembaptisan yang diterima telah menjadikan kita bersatu dengan-Nya.
Amal perbuatan itu bukan penentu keberadaan kita di hadapan Tuhan dalam hidup kekal. Perbuatan baik kita merupakan konsekuensi logis atas cinta Tuhan kepada kita. Karena DIA telah lebih dahulu mengasihi kita, sudah selayaknyalah kita membalas kasih-Nya itu dengan berbuat baik. Kalau tidak berbuat baik berarti kurang ajar, durhaka, dan tidak tahu berterima kasih.
Keselamatan melekat atas pembaptisan kita. Dosa Adam yang membawa kita kepada derita, kelemahan, dan kesakitan, serta keterpisahan dengan kasih Allah telah dipulihkan dengan kedatangan Sang Putera.
Keterpisahan total itu sangatlah kecil kemungkinannya. Kasih Allah sungguh besar, DIA tidak mungkin mengingkari Diri-Nya dengan menyia-nyiakan ciptaan-Nya untuk disiksa di panas abadi (neraka?)
Api penyucian tempat yang wajar sebagai manusia yang masih memiliki kehendak, keinginan,  rasa iri, kedagingan yang kuat, jatuh bangun dalam peziarahan menuju kepada-Nya. Ketika masih ada luka, bisul, kerak-kerak yang perlu dibersihkan sebelum benar-benar layak untuk menghadap DIA Yang Agung Mulia.  Kondisi di mana ketika kita hendak menghadap seseorang yang kita hormati saja kita berpakaian layak dan pantas, demikian juga saat menghadap-Nya muka dengan muka tentunya kita disempurnakan terlebih dahulu. Saat pembersihan luka, menyempurnakan apa yang masih kurang, dan menjalani sanksi apa yang telah kita lakukan.
Berkat Baptis dan kesetiaan di dalam menjalaninya merupakan berkat yang membawanya bersatu di dalam kemuliaan Bapa di surga. Pertama-tama ialah berkat, dan kesetiaan kita merupakan rahmat lain yang diberikan-Nya sehingga kita mampu menjalaninya.
Apa yang tepat kita ucapkan dan doakan kalau begitu? Ungkapkan saja ikut berduka dan semoga mendapatkan ketabahan, dan bagi yang telah meninggal sudah berbahagia bersama Bapa di surga.


Selasa, 26 Agustus 2014

Pemilihan dan Penegasan Rohani


Pembedaan Roh memiliki andil besar dalam mengadakan pemilihan ataupun penegasan rohani di dalam hidup seseorang. Bila kita dapat membedakan gerakan roh baik dan roh jahat dengan tepat, maka kemampuan itu akan mendukung secara tepat dalam mengadakan pemilihan mengenai bermacam-macam hal terlebih dalam hidup rohani. Dalam bagian ini, akan dibicarakan secara singkat bagaimana seseorang dapat mengadakan pemilihan dengan baik berdasarkan kemampuannya membedakan roh baik dan roh jahat, berdasarkan pengalaman hiburan ataupun kesepian.
1.       Hal yang perlu diperhatikan sebelum pemilihan
Sebelum kita mengadakan suatu pilihan dan mengadakan penegasan, perlulah kita menyadari terlebih dahulu apa yang menjadi tujuan hidup kita yang sesungguhnya. Tujuan penciptaan kita oleh Allah pertama-tama ialah untuk memuji dan mengabdi Allah. Karena tindakan memuji dan mengabdi Allah itulah, kita akan memperoleh keselamatan dan kebahagiaan bersama Allah.
Apabila tujuan hidup kita ialah demi meluhurkan Allah, maka sikap kita terhadap semua hal, barang ciptaan lain, menjadi jelas pula, yaitu kita akan menggunakannya sejauh hal itu mendukung tujuan kita, dan akan melepaskannya bila hal itu mengganggu tujuan hidup kita.
Patokan yang sangat jelas, yaitu menolak segala yang mengganggu dan memakai yang berguna bagi kehidupan kita di dalam memuliakan Tuhan. Perlu bertanya ke dalam diri sendiri pula, apakah tujuan kita di dalam mengadakan pemilihan itu sungguh murni, yaitu hanya untuk memuji Tuhan. Bisa pula ditanyakan lebih jauh apa kehendak Tuhan dalam hal ini?
2.       Hal yang dijadikan bahan pemilihan
Ada beberapa kriteria yg perlu diperhatikan di dalam pemilihan, yaitu:
a.    Bahan yang dijadikan pemilihan haruslah baik, atau minimal netral tidak baik namun juga tidak buruk
Bahan yang jelek tidak perlu diadakan pemilihan, karena sudah jelas pilihannya, yaitu kita tidak perlu memilihnya. Paling tidak ialah memilih sesuatu yang netral, seperti memilih tempat hidup, pekerjaan, atau mana yang hendak dibeli. Berbeda ketika ada pilihan antara korupsi atau tidak, karena pilihannya pasti, tidak korupsi.
b.    Bahan pemilihan dibedakan antara yang dapat diubah dan tidak dapat diubah
Pemilihan dalam hal yang tidak dapat diubah misalnya perkawinan atau tahbisan. Memilih tahbisan tidak akan mungkin menikah dan sebaliknya. Berbeda dengan memilih pekerjaan, domisili atau barang yang hendak dibeli. Pemilihan dalam hal ini, kalau tidak tepat akan dapat dengan mudah diulang atau diganti, karena halnya sendiri dapat diubah tanpa harus mengorbankan banyak hal.
c.     Untuk bahan yang tidak dapat diubah
Bila seseorang telah memilih secara keliru, sebaiknya tetap dalam pilihan itu sambil mencoba menghayati pilihan itu dengan sebaik mungkin sebagai tanggung jawab dan silih kepada Tuhan atas pilihan yang salah. Misalnya kalau sudah memilih pasangan dan dirasa keliru, lebih baik menjalani itu dengan baik. Kalau berpikir untuk bercerai, korban akan jauh lebih banyak tentunya.
d.    Untuk bahan yang dapat diubah
Tentu pilihan dalam hal ini dengan mudah akan dapat diubah dan memilih pilihan baru, sepanjang situasi dan keadaannya memungkinkan. Apabila pilihan telah perlu kiranya pribadi tersebut berjuang dan menyempurnakan pilihan tersebut. Pribadi itu tinggal meningkatkan penghayatan dan pelaksanaannya.
3.       Tiga waktu pemilihan
a.    Waktu I
Waktu di mana orang tanpa ragu-ragu digerakkan Allah untuk  memilih suatu hal. Contoh konkret apa yang dialami oleh Rasul Paulus. Ketika sedang dalam pengejaran murid-murid Tuhan, Paulus diminta mengikuti Tuhan dan dengan segera mengikutinya. Demikian pula Andreas, Yakobus, Petrus, dan Yohanes.
Keberanian diperlukan di dalam melaksanakan pilihan. Namun keberanian tersebut juga merupakan pemberian Tuhan, oleh karena itu perlu kiranya kita memohon Tuhan memberikan kekuatan untuk mengiyakan ajakan Tuhan itu dan melaksanakannya.
b.    Waktu II
Dalam waktu kedua ini, orang mendapatkan terang dan pengertian karena hiburan dan kesepian serta pengalaman membedakan roh. Dalam hal ini orang akan memilih hal yang lebih membawa kepada Tuhan yang jelas pada hiburan rohani yang ia alami.
Seorang gadis mengisahkan pengalamannya untuk memilih siapa yang akan dipilih menjadi suaminya. Ia banyak berdoa kepada Tuhan untuk memberikan petunjuk mana yang paling tepat untuknya. Ia merasakan kedamaian, ketenteraman, dan kebahagiaan ketika bersama di Budi daripada yang lain. Maka ia memilih Budi sebagai suaminya.
c.     Waktu III
Waktu tenang untuk berfikir dan berefleksi. Dalam waktu ini memang orang dapat tenang tanpa tergesa-gesa mempertimbangkan apa yang ingin dipilihnya. Inilah waktu yang biasanya kita punyai dalam banyak pemilihan. Jiwa kita tidak akan terganggu oleh macam-macam roh, sehingga kita dapat menggunakan daya kodrati seperti pikiran, budi, dan kehendak kita secara bebas. Ada dua cara untuk mengadakan pemilihan dalam waktu biasa ini, yaitu:
1)      Cara 1
Cara ini ialah dengan melihat dan mempertimbangkan unsur pro dan kontra dari setiap hal yang kita jadikan pemilihan, lalu membawa hasilnya kepada Tuhan. Keputusan yang memberikan ketenangan, itulah yang dipilih. Kadang diperlukan masukan dan bertukar pikiran dengan orang lain atau teman yang dipercaya. Langkah-langkah pemilihan sebagai berikut.
a)    Menghadap Tuhan dan mohon agar dapat mengadakan pemilihan dengan baik. Mohon agar digerakkan untuk memilih mana yang lebih menambah pujian bagi Tuhan
b)   Menimbang tujuan hidup, yaitu diciptakan untuk memuji, meluhurkan, dan mengabdi Tuhan.
c)    Menatap bahan pilihan. Menimbang semua unsur dari bahan itu, melihat alasan pro dan kontra apabila memilih salah satu, memberikan bobot kepada hal-hal yang menunjang aku diciptakan. Apa untung ruginya, apa manfaat dan tidaknya semua hal tersebut.
d)   Dari alasan tersebut, menimbang mana yang lebih menguntungkan bagi kehidupan kita dan kecondongan hati kita . Itu merupakan pilihan sementara.
e)   Membawa pilihan kembali kepada Tuhan, apakah hasil ini yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
f)     Merasakan dalam batin apakah kita menjadi tenang, damai, mendapatkan hiburan kerena pilihan itu, atau sebaliknya, hati menjadi gundah dan kacau? Bila tenang, maka kiranya pilihan itu ialah tepat, bila tidak perlu dipertimbangkan lagi.
2)      Cara 2
Pada cara kedua ini, diungkapkan beberapa cara yang dapat membantu mengadakan pemilihan secara tepat. Ada empat cara yang dapat dilakukan, bisa dipilih yang paling membantu kita.
Kita hadir di hadapan Tuhan dan memohon agar boleh mengadakan pemilihan. Selanjutnya dapat memilih cara berikut.
a)    Kita bayangkan bahwa ada orang yang belum kita kenal yang datang kepada kita untuk minta nasihat tentang bahan yang akan dipilih. Sebagai seorang yang dimintai nasihat, kita akan memberikan nasihat yang terbaik dalam hal pemilihan itu. Pilihan terbaik yang lebih memuliakan Tuhan. Pilihan itulah yang lalu menjadi hasil pemilihan kita.
b)   Membayangkan, seolah-olah kita sedang ada di  dalam ambang maut, lalu bertanya apa yang akan aku pilih. Dalam keadaan ambang maut, biasanya orang berfikir untuk mengambil keputusan yang paling tepat bagi kehidupannya. Pilihan itu yang kita ambil.
c)    Membayangkan kita berada di hadapan Tuhan Yesus dan menjalani penghakiman terakhir. Apa yang aku pilih bila ada di hadapan Tuhan yang sedang menyidang kita. Pilihan itulah yang kita ambil.
d)   Membayangkan apa akibat dari pilihan tersebut bagi hubungan kita dengan Tuhan dan orang lain. Apakah pilihan tersebut membawa kita semakin dekat dengan Tuhan dan sesama atau sebaliknya, atau malah menjauhkan?
4.       Unsur yang ikut mempengaruhi pengambilan keputusan
Beberapa hal yang biasanya mempengaruhi pemilihan seseorang dan pengambilan keputusan seseorang:
a.    Sifat, watak, dan pembawaan seseorang. Apakah orangnya mudah bingung, takut, punya trauma yang perlu dibereskan terlebih dahulu? Hal ini akan mempengaruhi cara orang mengadakan pemilihan.
b.    Pendidikan seseorang juga berpengaruh dalam memilih. Orang yang dididik dan dibiasakan untuk memilih sejak kecil dan mengambil keputusan dalam hal-hal sederhana dan kecil dengan tepat dan bijaksana, akan lebih mudah dalam melakukan pemilihan dalam hal yang besar dan mendasar.
c.     Suara hati yang dikembangkan dengan baik, jernih, dan benar akan sangat mempengaruhi orang tersebut dalam mengadakan pemilihan secara tepat. Demikian pula sebaliknya, pribadi dengan suara hati kacau akan kesulitan mengadakan pilihan secara benar.
d.    Pemilihan juga berbeda dalam setiap levelnya. Level rohani, moral, psikologis, atau praktis.


Selasa, 19 Agustus 2014

Guru, Pengabdian Multi Talenta


Guru lebih dari sebuah profesi. Pengabdian untuk lebih dari hanya mengajar. Mendidik anak yang bukan darah dagingnya. Anak yang tidak akan dengan begitu saja bisa dicubit, kalau tidak mau berurusan dengan polisi atau komnas HAM. Menghadapi kebengalan, kenakalan, kadang kedunguan yang teramat dan harus tetap sabar.
Talenta dan bakat yang dapat dilakoni guru dalam waktu yang bersamaan, paling tidak sebagai berikut
1.       Pemain watak dan peran bak artis teater
Jangan heran kalau guru harus pinter dalam akting, akting marah, guru kalau marah tidak boleh sampai hati, atau benar-benar marah. Kemarahan guru itu seyogyanya akting saja, sehingga tidak merusak kesehatan, suasana hati, dan suasana kelas. Selesai marah kepada yang satu, tidak boleh masih dengan kemarahan yang sama untuk anak, kelas, atau rekan guru yang ditemui walaupun belum berjarak waktu ataupun tempat. Ini tidak mudah. Guru juga menjalani peran dengan baik, ketika kehabisan uang gaji untuk kebutuhan sehari-hari, tetap harus mampu ceria dan mengajar dengan semangat dan totalitas. Mampu melucu untuk menyegarkan suasana.
2.       Harus selalu fit
Aktivitas guru itu idealnya berdiri dan bicara berjam-jam, walaupun guru sebagai fasilitator sehingga murid yang berperan aktif, namun berbicara dan berdiri sudah merupakan “kodrat“ seorang guru. Kesehatan guru yang tidak baik, akan tumbang atau minimal kehabisan suara. Jangan dipandang mudah juga mengendalikan kelas, apalagi bagi pengajar jenjang pendidikan rendah, semakin rendah semakin sulit di dalam mengelola kelas.
3.       Kreatif
Kreatif merupakan syarat mutlak guru. Bagaimana menghidupkan suasana kelas biar aktif, atau mendiamkan kelas agar pelajaran dapat berjalan dengan ideal. Guru yang tidak kreatif akan membuat siswa bosa, kalau bosan akan dapat dipastikan murid membuat ulah. Tindakan anak yang bosan sering tidak dapat diperkirakan, kadang kreatifnya luar biasa. Mengatasi kreatifitas murid, guru harus lebih kreatif. Kreatif mengggunakan cara agar kegiatan belajar mengajar menjadi lancar dan dipahami murid dengan baik. Kemampuan siswa per kelas sudah berbeda-beda, apalagi satu sekolah. Agar mampu memberikan pendidikan bagi seluruh anak, guru berpikir keras menemukan cara yang terbaik bagi seluruh anaknya.
4.       Sabar
Panjang sabar merupakan syarat paling mendasar bagi guru. Menghadapi anak yang beraneka ragam jenis kemampuan, perilaku, tindak tandu, bukan persoalan mudah. Kemarahan, emosional, dan ringan tangan untuk menampar akan berhadapan dengan polisi, pengadilan, dan Komnas HAM. Kesabaran mendidik dan menerangkan pelajaran bagi sekian banyak taraf kemampuan.
5.       Tegas
Tegas bukan berarti keras dan kasar menghadapi kelas. Anak ada yang bisa dinasihati dengan lembut, ada yang harus tegas, dan itu harus dimiliki guru. Kalau guru itu lemah lembut namun tidak mampu tegas akan dipermainkan murid, namun jangan lupa kelembutan tetap dibutuhkan bagi anak yang lain dan penting bagi kelas yang dinamis.
6.       Psikolog handal
Psikolog profesional belum tentu mampu mengelola kelas sehingga terjadi kegiatan belajar mengajar dengan baik. Menghadapi anak yang dinilai nakal, apakah cukup dengan memanggil orang tua, atau menyidang di guru BP? Tidak cukup dengan tindakan demikian, apalagi menghadapi orang tua yang mengatakan,”..... buat apa memanggil kami, kalau sudah membayar mahal, masih lagi mengganggu kami...” itu sering terdengar. Ada anak yang berbuat usil, mengganggu rekan, guru yang lemah, kelas hanya untuk mencari perhatian. Namun ada juga yang nakal karena pendidikan atau lingkungan yang buruk. Bagaimana meminta anak yang cerewet minta ampun saat diterangkan, namun seribu bahasa ketika diminta menjawab pertanyaan. Atau sebaliknya, pendiamnya minta ampun dan asyik dengan dirinya sendiri, harus dilibatkan di dalam kelas dengan baik.
7.       Profesional
Menguasai pelajaran yang menjadi bidang studinya, lebih sulit lagi guru kelas bagi Sekolah Dasar. Penguasaan materi akan membantu penilaian anak akan kemampuan dan kewibawaan guru di mata siswa.  
8.       Tahu banyak
Guru agen perubahan, kalau guru ditanya sesuatu dan menjawab tidak tahu akan mematikan kreativitas peserta didik. Kegiatan membaca dan menambah ilmu di luar bidang yang menjadi bidangnya sangat penting. Kadang anak didik bertanya di luar bidang yang kita ajarkan. Tahu bukan berarti harus ahli atau profesional. Tahu banyak membantu anak juga gemar ilmu.
9.       Kekinian
Perkembangan ilmu teknologi dan pengetahuan saat ini begitu cepat. Tahu hal yang up to date sangat penting bagi guru. Teknologi informasi meski tidak memiliki, paling tidak guru tahu ada barang itu dan tidak gagap kalau muridnya membawa. Misalnya tablet, smartphone, dan sebagainya. Murid lebih canggih dalam bidang ini, jangan sampai guru bisa dikelabui oleh murid dengan kemajuan yang terlambat diikuti  oleh guru.
10.   Menggeluti apa yang belum tentu disukai
Mengerjakan apa yang tidak disukai bisa terjadi bagi guru. Misalnya ketika kelas kosong dan kebetulan guru yang ada dan tidak mengajar hanya satu-satunya, padahal sama sekali tidak suka dengan mata pelajaran tersebut, mau tidak mau harus mau. Membaca, menulis, dan berbicara di depan umum, tiga hal pokok yang harus dikuasai guru, dan hal itu banyak yang awalnya terpaksa dan tidak suka.
Profesi yang sedang menjadi trend  dan begitu banyak peminat di daftar pekerjaan idaman saat ini, namun pernah tidak terpikirkan sebelumnya begitu kompleknya tanggung jawab dan kemampuan seorang guru itu?

Salam Damai....

Jumat, 15 Agustus 2014

Dunia Makin Tua

Dunia ternyata makin tua, manusia yang dibekali dengan perikemanusiaan malah kehilangan kemanusiaannya, dan sungguh tega melakukan perbuatan membunuh ibunya. Anak dan pacarnya membunuh ibunya sendiri kemudian memasukkan ke dalam kopor. Saat menjadi janin, dia disimpan di dalam kandungan ibunya, malah membalas dengan menyimpan jasad ibu yang dibunuhnya di dalam kopor.
Keterlaluan lagi anak gadisnya diperkosa, dihamili, dipaksa menikah dengan pria lain, dan kembali diperkosa bertahun-tahun. Seorang bapak yang kehilangan kemanusiaannya dan anaknya sendiri digaulinya bertahun-tahun dengan ancaman gergaji. Di mana hati dan perasaannya ketika memaksa, mengancam, dan menggauli buah hatinya sendiri? Nafsu mengalahkan akal budinya, dan menurunkan derajad kemanusiaan menjadi hewan yang hanya mengikuti nafsu dan naluri semata. Bahkan anak sendiri menjadi korban kebejadan yang amat sangat seperti ini.
Ketika manusia kehilangan kemanusiaannya, justru binatang, memiliki naluri yang naik kelas sehingga memiliki rasa “kemanusiaan,” bagaimana hal ini bisa terjadi?  Anak singa bisa mengenali penjaganya, ini bukan singa di kebun binatang, namun di hutan, dan membawa penjaga itu ke depan jasad induknya yang mati.
Manusia diciptakan dengan akal budi untuk semakin manusia dengan hidup bersama dengan yang lain. Cerita-cerita tersebut malah berlaku sebaliknya dan menjadi “hewan” yang instingtif. Memenuhi kepuasan dna kebutuhannya berdasar instingnya. Ketika manusia mengedepankan insting manusia sudah jatuh kepada taraf hewani, bukan manusia lagi.
Tuhan tidak memberikan rasa dan pemikiran setinggi manusia kepada hewan, namun laporan di atas sungguh menjadi cermin bagi manusia agar semakin memberikan banyak waktu untuk menengok ke dalam diri sendiri sehingga malu untuk berbuat keji bahkan kalah dengan hewan seperti ini. Apakah manusia sudah kekurangan lahan lagi sehingga mengambil alih kedudukan hewan?
Marilah kita renungkan!!!
Salam Damai...


Selasa, 12 Agustus 2014

Euthanasia Menurut Ajaran Gereja Katolik


Beberapa hari terakhir media ramai melaporkan masalah seorang lulusan pasca sarjana yang mengajukan peninjauan hukum berkaitan dengan perundangan yang mengatur suntik mati. Beberapa persoalan yang dapat menjadi pembelajaran bersama bagi kita. Kalau tidak salah, orang ini memakai nama baptis, misalnya dia Katolik sungguh ironis, karena apa?
Gereja Katolik membahas mengenai hal ini dalam Dokumen Gereja secara khusus yang berjudul Deklarasi tentang Euthanasia. Mempercepat kematian bagi Gereja Katolik dapat dilihat dalam dua cara, yaitu euthanasia pasif dan euthanasia aktif.
Euthanasia aktif, atau euthanasia langsung yang meliputi pengakhiran hidup orang yang cacat, sakit, atau mereka yang dekat dengan kematian lewat suatu tindakan atau tidak melakukan tindakan yang diperlukan, secara aktif dan terencana.
Euthanasia pasif, kalau pengobatan yang sia-sia dihentikan atau sama sekali tidak dimulai. Mirip-mirip dengan ini yaitu euthanasia tidak langsung, di mana kalau obat penangkal sakit memperpendek hidupnya.
Gereja Katolik berpendapat bahwa euthanasia aktif sangat jelas, “Tak sesuatu pun atau tak seorang pun dapat membiarkan seorang manusia  yang tak bersalah dibunuh, entah dia itu janin atau embrio, anak atau dewasa, orang jompo atau pasien yang tidak dapat sembuh ataupun orang yang sedang sekarat. Selanjutnya tak seorangpun diperkenankan meminta perbuatan pembunuhan ini, entah untuk dirinya sendiri, entah untuk orang lain yang dipercayakan kepadanya....Juga tidak ada penguasa yang dengan sah dapat memerintahkannya atau mengizinkan tindakan semacam itu” (Kongregasi untuk Ajaran Iman, Deklarasi mengenai Euthanasia, 5 Mei 1980).
Tidak dibenarkan mengakhiri hidup orang hanya karena kasihan atau rasa iba. Penderitaan harus diringankan bukan dengan pembunuhan, melainkan dengan pendampingan oleh seorang teman.


Pustaka:
Kompendium Katekismus Gereja Katolik, Kanisius, Yogyakarta, 2009

Konferensi Waligereja Indonesia, Iman Katolik, Buku Informasi dan Referensi, Kanisius, Yogyakarta, 2005

Rabu, 06 Agustus 2014

Kitab Suci Kita Unik dan Menarik


Kitab Suci sudah saatnya menjadi dan sebagai buku saku bagi umat beriman. Mau tidak mau, suka tidak suka, dan rela tidak rela, kita terutama umat Katolik belum begitu akrab dengan Kitab Suci. Ada lelucon dari salah seorang dosen liturgi apa yang dibawa umat itu menunjukkan gerejanya. Kalau membawa Kitab Suci jelas itu adalah orang atau jemaat Gereja Protestan, jika membawa Madah Bhakti atau Puji Syukur pasti itu umat  Gereja Katolik, kalau tidak bawa apa-apa itu frater. Paham kita sering salah, terkadang kita juga salah paham mengenai Kitab Suci kita, karena teologi yang sering kita dengar lebih nyaring hasil pengajaran mayoritas yang progresif dan mau tidak mau kita ikut mendengar. Hampir semua acara televisi maupun media yang lain tidak pernah lepas dari pengajaran mayoritas, yang sering tidak sama bahkan beberapa berbeda secara mendasar.
Saat berbicara mengenai Kitab Suci, umat Katolik sering kalah fasih dibandingkan saudara Kristen yang lain. Alasan ketidakakraban umat Katolik dengan Kitab Suci berkaitan dengan sejarah Gereja. Hasil perpecahan besar di dalam Gereja menjadikan Gereja Katolik pernah melarang pembacaan Kitab Suci. Meskipun larangan membaca tersebut sudah cabut, namun budaya membaca Kitab Suci masih memprihatinkan hingga saat ini.
Sebelum membaca Kitab Suci lebih jauh, perlulah kiranya kita mengerti dengan lebih baik mengenai wahyu dan iman kita. Umat beriman dapat memahami wahyu sebagai sarana Allah untuk mendekati manusia. Inisiatif pendekatan berasal dari Allah. Allah dalam mendekati manusia bahkan menganugerahkan diri-Nya kepada manusia.
Penulis Kitab Suci Kita
Alkitab bukan sebagaimana Al Qoran yang diberikan secara utuh kepada Rasul Muhamad. Penulis Kitab Suci kita ialah Allah sekaligus manusia. Kata kunci yang perlu dipegang ialah sekaligus.
1.      Allah sebagai Penulis
Siapa yang bersabda dan berfirman? Pasti semua akan sepakat ialah Allah. Kalau demikian siapa yang menulis pastilah Allah. Tidak bisa disangsikan lagi.
2.      Manusia sebagai Penulis
Allah memakai manusia untuk menuliskan apa yang akan dikonsumsi manusia. Oleh karena itu di sini para penulis dipakai sebagai sarana oleh Allah. Manusia, baik itu Markus, Mateus, dan yang lain-lain bukan pula hanya menjadi   semacam pena bagi Allah, pasif dan tidak memiliki kebebasan manusiawi. Manusia seutuhnya, oleh karena itu gaya bahasa, gaya penulisan, isi sesuai benar dengan kemampuan para penulis tersebut. Zaman, lingkungan, budaya, taraf pengetahuan yang telah dicapai oleh orang-orang tersebut, pada waktu dan tempat itu, sangat mewarnai tulisan Kitab Suci.
Sumber Inspirasi Orang Kristiani
Berbahagialah menjadi orang Katolik karena memiliki inspirasi yang up to date yaitu melalui tradisi. Tradisi melengkapi Kitab Suci sebagai Wahyu tertulis dan menjadi inspirasi yang selalu mengikuti dinamika dan perjalanan sejarah manusia. Nyata, konkret, dan faktual manusia selalu berkembang, sedang Kitab Suci telah usai dengan adanya kanon Kitab Suci sekian abad lampau. Pembicaraan mengenai medis, perkembangan teknologi, isu-isu zaman modern mendapatkan pemahaman Wahyu dalam terang Tradisi.
Berakhirnya masa atau zaman rasuli, berakhir pula fase konstitusi  wahtu, yaitu kurun waktu ketika wahyu dibentuk, dan mulailah fase kontinuitas  wahyu, yakni periode di mana wahyu yang telah dibentuk itu diteruskan kepada generasi berikut turun-temurun.[1]
1.      Kitab Suci
Kita mengenal juga Kitab Suci sebagai Alkitab. Alkitab berasal dari bahasa Latin, biblia yang berarti gulungan atau buku. Kumpulan ayat-ayat suci yang ada selama lebih dari seribu tahun dan piagam iman, baik bagi orang Kristen maupun orang Yahudi. Alkitab Kristen jauh lebih luas daripada Kitab Suci Yahudi karena berisi juga keempat Injil, surat-surat Santo Paulus, dan tulisan-tulisan lain dari Gereja Perdana.[2]
Benar dalam pemahaman Katolik dalam memandang Alkitab ialah setiap hal yang harus diketahui manusia mengenai Allah dan jalan keselamatan termuat dalam Kitab Suci dengan kepastian yang tidak dapat salah.[3] Sejauh berkaitan dengan keselamatan bukan sejauh menyangkut hal yang profan-historis ataupun ilmiah.[4] Jaminan kebenaran mengenai Allah dan keselamatan karena karya Roh Kudus sebagai inspirator dalam penulisan Alkitab.
Kitab Suci tidak dimaksudkan untuk menyampaikan kepada kita informasi sejarah atau penemuan ilmiah. Tidak pula boleh dilupakan bahwa para penulis atau pengarang Kitab Suci hidup pada waktu dan situasi tertentu. Mereka membagikan budaya dari dunis sekitar mereka yang sering pula diliputi kesalahan-kesalahan.
2.      Tradisi
Tradisi atau lengkapnya Tradisi Apolistik merupakan pewarisan Kristus, yang diturunkan sejak awal kekristenan melalui khotbah, kesaksian, institusi, ibadah, dan tulisan-tulisan yang diilhami. Para Rasul mewariskan apa yang sudah mereka terima dari Kristus dan belajar dari Roh Kudus kemudia berlanjut kepada pengganti-pengganti mereka, para uskup, dan melalui mereka kepada semua generasi sampai akhir dunia.[5]
Ciri khas tradisi ialah dalam meneruskan wahyu secara integral, lebih hidup, dan lebih intensif. Ada kenyataan yang tidak mungkin tertulis sebagaimana ada dalam Kitab Suci, seperti suasana pergaulan dengan Tuhan.[6]
3.      Magisterium
Magisterium berasal dari bahasa Latin magister yang berarti guru. Kuasa mengajar untuk menyampaikan iman, untuk menafsirkannya dengan bantuan Roh Kudus, dan untuk melindunginya dari pemalsuan.[7] Konsili Vatikan II dalam Konstitusi mengenai Sabda Allah, Dei Verbum  artikel 12, menyatakan,
karena Allah dalam Kitab Suci bersabda melalui manusia secara manusia, maka untuk menangkap apa yang oleh Allah mau disampaikan kepada kita, penafsir Kitab Suci harus menyelidiki dengan cermat, apa yang sebenarnya mau disampaikan oleh para penulis suci, dan apa yang mau ditampakkan oleh Allah dengan kata-kata mereka.
Kitab Suci ditulis dalam Roh Kudus dan harus dibaca dan ditafsirkan dalam Roh itu juga. bdk DV. 12
Tugas mengajar oleh para uskup sama dengan pewartaan para rasul yaitu menyampaikan dan meneruskan wahyu. Perbedaan pelayanan mereka ialah, para rasul selain meneruskan wahyu juga merupakan penerima wahyu itu sendiri secara langsung. Para uskup bertugas untuk menjaga dan menafsirkan segalanya yang telah mereka terima dari para rasul tanpa menambah, mengurangi, ataupun mengubahnya. Meskipun demikian bukan berarti statis dan mandeg, namun dikembangkan  sepenuhnya agar dengan demikian justru dapat dijaga sebagai kenyataan hidup yang diwujudkan dalam setiap situasi dan kondisi waktu serta tempat.[8]

Bagaimana Memahami Kitab Suci
Cara yang benar untuk membaca atau memahami Kitab Suci ialah membaca dengan sikap iman, dengan kata lain membaca dengan bantuan Roh Kudus. Di bawah bimbingan-Nya, pesan Allah sampai kepada manusia. Kitab Suci adalah Sabda Allah dan di dalamnya Allah berkomunikasi dengan kita.
1.      Doa
Kitab Suci merupakan surat panjang yang ditulis oleh Allah bagi kita masing-masing. Oleh karena itu harus menyambut Kitab Suci dengan rasa cinta dan hormat yang besar. Memohon penerangan Roh Kudus dan bantuan Allah agar mengerti dengan hati dan budi yang jernih.
2.      Sharing/Pendalaman Kitab Suci
Adanya sharing dan Pendalaman Kitab Suci di lingkungan-lingkungan membantu banyak pihak di dalam memahami Kitab Suci, karena jauhnya hirarkhi gerejani yang kadang menjadikan umat “melupakan” Kitab Suci.
3.      Lectio Divina
Bacaan singkat dari Kitab Suci. Hal ini bisa diambil dari bacaan harian atau temaa-tema khusus seperti masa-masa liturgi.
4.      Bacaan Harian/Calendarium
Berbahagialah umat Gereja Katolik yang memiliki satu pedoman bacaan harian. Di seluruh dunia akan mendengarkan sabda Tuhan yang sama untuk hari yang sama. Pedoman itu ada di dalamcalendarium, atau kalender liturgi. Kalender liturgi membagi bacaan di dalam tiga tahun A,B,C, dan bacaan harian tahun I dan II. Dengan memakai pedoman calendarium, umat Katolik akan menyelesaikan seluruh Kitab Suci paling tidak dalam waktu tiga tahun.
Kitab Suci itu unik, menarik, menyenangkan, dan menggembirakan ketika kita mau untuk membacanya, menyelami, dan merenungkannya. Marilah kita cintai Kisah Kasih Allah yang begitu besar dengan penuh cinta pula. 




[1] Syukur, Nico, Teologi Sistematika 1, Kanisius, Yogyakarta, 2004, hal. 36
[2] Youcat Indonesia, Katekismus Populer, Kanisius, Yogyakarta, 2012, hal. 22
[3] ibid
[4] Syukur, Nico, op.cit, hal. 104
[5] Kompendium Katekismus Gereja Katolik, Kanisius, Yogyakarta, 2009, hal. 18
[6] Syukur, Nico, op.cit, hal. 37
[7] Youcat, op.cit, hal. 21
[8] Syukur, Nico, op.cit, hal. 112-113

Selasa, 05 Agustus 2014

Katolik itu Ateis


Membaca salah satu arikel di Kompasiana yang mengupas masalah TV One yang mengangkat acara pertobatan salah satu ustad dengan judul, Dulunya Ateis sekarang menjadi ustad. Saudara Fenusa As, membahas kontroversi salah satu televisi berita tersebut. Bagi saya seorang Katolik menjadi bangga sekali lagi saya bangga, setelah berkali-kali saya membanggakan kekatolikan saya. Karena sama sekali tidak ada reaksi apapun, baik yang pernyataan memaksa meminta maaf yang biasa mengemuka, mendatangi dengan banyak preman dan pengikut yang tidak sedikit massa bayaran, banyak yang lebih gawat menuntut ke pengadilan dan menuntut pembredelan. Setahu saya juga memang tidak ada pernyataan apapun menjawab persoalan tersebut oleh managemen televisi yang bersangkutan.

Apakah itu ateis?
ate.is /ateis/ n orang yg tidak percaya akan adanya Tuhan: kelompok - tidak akan mengambil bagian dl suatu upacara agama,  demikian Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan definisi ateis.  
Kamus sebagai rujukan dan satu-satunya kesamaan yang harus diyakini oleh seluruh bangsa Indonesia telah memberikan arti yang sangat jelas. Orang atau kelompok yang tidak percaya adanya Tuhan. Dengan demikian acara di televisi tersebut salah dalam memberikan judul dan bisa menyesatkan semakin banyak orang, kalau tidak boleh dikatakan menghasut dan menyebarkan kebencian yang ada pasal pidana yang dapat dikenakan kepada pembuat acara tersebut. Bandingkan dengan Saudara Arswendo Admowiloto dengan kasus Monitor beberapa tahun yang lalu.
Pembahasan ini menyangkut iman Katolik, setelah berbangsa dengan pedoman kamus usai saya bahas, Katolik mengajarkan kepada umatnya untuk,”kasihilah Tuhan Allahmu dengan sepenuh hatimu, dengan segenapo jiwamu......” (Mat. 22:37, Mrk. 12:30.33, Luk.10:27). Di sini saya bukan pewartaan apa apapun namanya, namun hendak menyajikan fakta bahwa Tuhan Allah memiliki kedudukan istimewa bahkan melebihi apapun itu, apakah layak disebut sebagai ateis?
Penjelasan secara leksikal bahasa berdasar pada kamus, kemudian pembahasan Kitab Suci menunjukkan bahwa Katolik jelas-jelas merupakan agama yang meyakini adanya Tuhan. Menjadi aneh ketika Katolik dikatakan sebagai ateis dan ditonton jutaan orang yang menyaksikan TV One waktu itu memahami demikian. Bagaiamana sekolah sekian puluh tahun memberikan pembelajaran agama, adanya Rumah Sakit Katolik, bisa berjalan dan berkarya tanpa bertentangan dengan Pancasila sama sekali. Aneh, bodoh, naif, atau bebal?????
Jika sekiranya adalah pemahaman iman atau agama tokoh tersebut sebagai ateis silakan saja, namun alangkah lebih bijaksana ketika tidak menyampaikan agama lama dan terkesan mendiskreditkan keberadaan agama lain.







Senin, 04 Agustus 2014

Masih Ada Harapan

Hari ini sungguh menggembirakan. Baru saja lebaran usia, ada dua pejabat negara ini yang memiliki pola pikir sangat-sangat berbeda di komunitas pejabat Indonesia yang berkutat sekitar ketakutan melanggar HAM, berkelit dan berkedok dengan birokrasi dan prosedural, pencitraan dan kepura-puraan.
1.       Ignasius Jonan, dirut PT. KAI, yang menyatakan keberaniannya untuk menolak subsidi kereta api jarak jauh. Naik kereta selama 12 jam kog bayar Rp. 50.000,00, bandingkan dengan taksi, kota-kota saja sudah Rp. 75.000,00. Nampak pemikiran yang jauh kedepan mengatasi keborosan anggaran negara yang tidak tepat sasaran. Beliau juga menyatakan subsidi masih bisa diberikan untuk kereta jarak dekat. Pemikiran baru dengan orientasi perbandingan moda darat lainnya, ada sinergi bukan hanya bidangku dan bidang lain urusanmu. Belum banyak pembangunan di Indonesia dengan pola pikir sinergis demikian. Alasan yang dikemukakan pun logis bukan sok logis dan mengatasnamakan rakyat. Kinerja PT.KAI juga kelihatan perubahan secara signifikan, semua kereta, bahkan ekonomi, sudah berpendingin, tidak lagi ada yang beriri, semua fasilitas di stasiun gratis, dan sangat manusiawi serta bersih. Pelayanan sudah prima dibandingkan plat merah lainnya.
2.       Basuki Tjahaya Purnama, selama ini semua pejabat akan mengutuk urbanisasi. Pemikiran calon kuat DKI 1 ini jauh berbeda. Urbanisasi kalau bisa untuk membangun mengapa tidak. Bukan berbicara hambatan namun peluang yang dikedepankan. Potensi urban untuk meringankan beban pekerja yang ada, kesempatan untuk membangun dengan tenaga yang ada, dan kesempatan untuk berkembang bersama. Pandangan soal preman yang menguasai lapak-lapak PKL, bahkan ini bukan hanya preman jalanan, preman berseragam dan berdasi juga banyak.

Media-media perlu lebih banyak mengedepankan peristiwa-peristiwa seperti ini sebagai berita utama, dibandingkan kecurangan, sak wasangka, kecurigaan, iri hati, kedengkian, dan hal-hal negatif lainnya. Keburukan yang akan berbuah caci maki dan saling hujat yang sangat kontra produktif dengan pembangunan. Budaya aduluhung yang dibangga-banggakan sudah jauh berganti budaya kekerasan dan kecurigaan.