Rabu, 30 April 2014

Macam Apakah Aku di dalam Organisasi???

Kehidupan berorganisasi, jalannya organ-organ penyusunnya secara sinergis merupakan dambaan yang ideal bagi anggotanya. Ada dua bagian atau oknum yang selalu ada di dalam kelompok atau organisasi yang sering menjadi duri atau pengganjal.
1.     Kelompok atau seksi yang tidak dibentuk tetapi selalu bekerja
Di manapun orang-orang seperti ini selalu ada, yaitu kelompok atau pihak atau oknum pencela. Tidak ada satu organisasi yang membentuk seksi atau komisi pencela, tapi selalu ada oknum-oknum macam ini. Bahasa gaul anak muda zaman sekarang omdo, omong doang. Kelompok ini biasa bicara banyak, keras, dan tidak bekerja apa-apa. Energi yang ada tidak digunakan untuk bekerja. Proses dan jalannya organisasi tidak tahu, karena entah di mana dan ngapain saja, pas saatnya evaluasi dan pembagian insentif merasa paling  berjasa. Menjengkelkan tentunhya ada benalu seperti ini, lebih menjengkelkan kalau oknum seperti ini lebih banyak dibandingkan yang bekerja dan banting tulang.
2.     Kelompok atau seksi yang dibentuk tetapi tidak bekerja
Di manapun tipikal seperti ini juga ada. Diajak kerja dan jalan ada saja alasannya. Atau mengeluh karena bukan bidang yang dia inginkan, tidak terampil bagian ini, coba aku diberi job yang lain. Alasan lain job desc tidak jelas, tumpang tindih, nanti malah ribut dengan teman. Semua itu hanya dalih untuk menghindari keja dan aktivitas yang harus dilakukan. Orang model ini juga banyak omong dan besar dalam berargumentasi untuk mencela, biasanya dua kelompok ini berkolaborasi dalam menghambat jalannya organisasi dan aktivitas bersama.

Kepemimpinan yang tegas, lugas, dan efektif diperlukan untuk menghilangkan benalu-benalu seperti itu. Memberatkan jalannya roda organisasi dan kegiatan setiap saat diganduli oknum-oknum model begitu. Parasit memang diciptakan Tuhan sebagai salah satu kelengkapan rantai makanan yang harus terjadi sehingga siklus alam berjalan sebagaimana adanya. Keberadaan manusia model ini sebenarnya ada manfaatnya juga. Pemimpin yang efektif akan mengembangkan potensi banyak omongnya untuk menjadikan orang-orang ini sebagai humas, atau negosiator, dengan lebih dahulu tahu benar kemampuannya. Menjadi repot sekali kalau manusia-manusia macam itu ada dan dominan di organisasi yang masa kerjanya pendek seperti OSIS.

Selasa, 29 April 2014

Refleksi menjelang 2 Mei


Undang-Undang Dasar mengamanatkan bahwa bangsa memiliki tanggung jawab untuk  mencerdaskan kehidupan bangsa. Zaman modern melihat kecerdasan dalam beberapa dimensi, yaitu secara emosi, intelektual atau kemampuan otak dan berpikir, dan kecerdasan spiritual. Kemajuan program-program pembangunan khususnya bidang pendidikan perlu mendapatkan apresiasi. Pertama-tama gerakan wajib belajar 9 tahun dan menuju 12 tahun dengan sudah mulai banyak atas beaya negara, dengan jargon politis pendidikan gratis. Program yang banyak membantu warga negara. Kedua, program sertifikasi, yang secara tidak langsung memperbaiki kualitas dan kesejahteraan guru dan keluarganya. Guru dituntut untuk meningkatkan kualifikasi sebagai syarat mendapatkan tunjangan sertifikasi merupakan harapan besar bagi kemajuan pendidikan nasional. Kesejahteraan yang makin baik tentu menjadikan guru makin profesional dan semangat mengajar. Keterpihakan negara dengan alokasi belanja negara yang mencapai 20%, membantu peningkatan kualitas pendidikan sebagaimana idealnya.
Kebahagian dan apresiasi yang tinggi tidak boleh melupakan tragedi dan keprihatinan-keprihatinan yang masih melingkupi dunia pendidikan nasional. Beberapa hal dapat dilihat sebagai berikut;
Masih sangat hangat persoal Ujian Nasional untuk siswa SMA, banyak terjadi persoalan. Mulai distribusi yang salah, baik salah mata pelajaran, keliru jenjang pendidikan, ataupun ada yang kurang dan lebih. Isu jual beli jawaban, yang tentu masih saja jawaban klasik dari pihak kementrian yang bersikukuh, tidak ada kebocoran, padahal belum melakukan evaluasi dan pengecekan secara menyeluruh. Terlebih fatal dan aneh, adalah melibatkan polisi di dalam mengawasi pelaksanaan ujian. Dua sisi sama-sama merugikan, segi siswa yang dijaga oleh polisi terinternalisasi oleh anak perasaan dicurigai dan disamakan dengan pencuri, perampok, teroris, dan pelaku kriminal lainnya. Guru sosok yang tidak bisa dipercaya. Pihak kepolisian, ada dua catatan besar, pertama lembaran kelam kepolisian mengenai peranan menjaga amanat masih kalah jauh di bandingkan guru sebenarnya. Kepercayaan yang salah alamat. Kedua pekerjaan kepolisian masih menumpuk dengan adanya tahapan pemilu, lebih penting dan mendesak mengamankan pemilu dari pada ujian nasional. Atau memang ada yang hendak disembunyikan dengan kebijakan aneh tersebut? Agar tahapan pemilu menjadi longgar pengamanannya?
Kekerasan fisik di sekolah pelayaran, kekerasan seksual di sekolah internasional merupakan catatan negatif yang perlu perhatian. Kejadian penyiksaan atas nama pembinaan, meski bukan di sekolah yang menjadi ranah kementerian pendidikan, merupakan lembaran hitam dunia pendidikan. Anak-anak sekolah melakukan pembunuhan dengan alasan sangat sepele. Urusan percintaan, iri, sakit hati, dan alasan sangat memilukan.
Mengapa?
·         Orientasi pada hasil, bukan proses
Siswa-siswi sekolah sekarang tahunya pendidikan adalah lulus Ujian Nasional. Orientasi pada hasil akhir bukan proses pendidikan itu sendiri. Ada seorang murid iseng menulis di bangku kelasnya, ngapain belajar karena pasti lulus. Lulus menjadi tujuan sehingga bisa menafikan proses yang panjang. Apakah sepenuhnya salah murid tersebut? Bukan. Sistem yang dipakai bertahun-tahun seperti itu, sehingga kekaburan orientasi dan visi menjadi wajar tanpa pernah disadari.
·         Penekanan pada intelektual, dan mengesampingkan segi emosional dan spiritual.

Kekerasan dan arrogansi terjadi karena banyaknya beban tugas dan kurikulum yang memiliki tugas mengasah otak itu meletihkan tanpa keseimbangan segi emosi dan hati melalui spiritualitas. Pengetahuan seni dan spiritual berpusat pada pengetahuan intelektual belum masuk pada tataran aplikatif yang mengembangkan hati dan empati bagi sesama.

Sabtu, 26 April 2014

Hati-hati dengan roh jahat.....

Suatu hari rekan share, kalau anak dan istrinya komplain karena merasa waktunya untuk keluarga tidak ada, saking sibuknya kegiatan di gereja. Rekan ini memang bercerita dengan banyak berdoa dan kegiatan kegerejaan benar-benar mengubah tabiatnya, yang dulunya brangasan[1] dan temperamental, menjadi tenang dan sabar. Pengakuan ini bukan jual kecap nomor satu, namun banyak pengakuan dari rekan-rekan yang lain, memberikan penilaian yang sama.
Suatu waktu, seorang ibu bercerita badannya capek semua, mulai pagi hingga petang ikut persekutuan doa ini, kemudian pulang menghadiri ibadat arwah, dan paginya merencanakan menghadiri novena di suatu goa Maria, dan hari berikutnya sudah ada program ke luar kota untuk persekutuan doa yang lain.
Beberapa hal perlu mendapatkan perhatian, apabila ada hal berikut dirasakan dengan dominan:
·         Ada komplain dan itu berulang dari orang-orang terdekat yang merasa “dirugikan’, kalau tidak ada roh jahat di sana tentu tidak akan ada yang merasa dirugikan dan melakukan protes.
·         Ada perasaan yang tidak membawa damai. Misalnya merasa kecapekan dan di rumah marah-marah terus. Kan aneh hidup doa yang banyak kog membawa perasaan tidak tenang dan damai
·         Ada perasaan yang berlebihan mengenai dirinya. Merasa memiliki gereja, dan orang yang tidak aktif sebagai “kafir”.
·         Perasaan berdosa berlebihan kalau ada halangan sehingga tidak dapat memenuhi salah satu syaratnya. Misalnya, karena pasangannya sakit, tidak bisa datang novena yang kedelapan, membuat menyesal berlebihan dan menganggap sia-sia ketujuh doa yang sudah dilakukan.
·         Kecewa ketika doa “tidak terkabul”, pemahaman yang perlu diluruskan karena rahmat Tuhan, tidak berkaitan dengan usaha manusia. Rahmat Tuhan diberikan Cuma-Cuma karena kasih dan cinta-Nya kepada anak-anak-Nya.
·         Aktivitas rohani malah mengasingkan dirinya dengan lingkungannya. Doa seharusnya membawa pribadi makin dekat dengan Tuhan dan sesama. Setiap diajak kegiatan keluarga dan kemasyarakatan selalu ada alasan kalau sedang ada acara gereja. Saat salib itu yang horisontal dan vertikal tidak lagi seimbang perlu mendapatkan perhatian.
Hati-hati kalau sudah seperti ini, roh jahat sudah membawa aktivitas positif kita pada rencananya yang sangat sesat, karena kita tidak sadar sudah dirayu dan berhasil dengan baik. Jangan-jangan sudah dibelokkan dan ajak untuk mengikutinya.
Perlu dipahami bersama Tuhan ada, justru di dalam hati kita. Novena baik, jalan salib baik, ziarah mulia, devosi-devosi luar biasa nilainya, waspadai kalau sudah mulai ada bibit-bibit yang negatif menumpang, apalagi kalau menimbulkan perselisihan, pertentangan, dan pertikaian mengenai hidup kerohanian kita.



[1] Gampang terpancing emosinya

Jumat, 25 April 2014

Kesepian: mati dalam hidup


Kesepian dan sepi sangat berbeda. Setiap melihat dan memandang panti jompo, akan didapatkan pemandangan kaum tua baik bapak ataupun ibu, yang duduk di kursi atau kursi roda dengan tatapan kosong. Tidak semua memang, kebanyakan memiliki pandangan yang hampa. Ketika ada yang memasuki pintu gerbang, mata-mata itu bersinar, namun dengan cepat akan meredup. Harapan yang datang adalah sanak suadaranya sirna. Secercah harapan tadi membinarkan cahaya kehidupan di matanya. Seorang rekan yang merasa dikucilkan teman-temannya, sama sekali tidak dilibatkan dalam bincang-bincang, kalau sedang ada percakapan dan menimpali tidak ada respons sama sekali. Saudara tersebut  mengatasi dengan SMS-an  dengan dirinya sendiri melalui HP memakai nomer lain. Itu adalah bentuk kesepian. Kesepian mematikan gairah hidup yang diwakili cahaya mata yang berbinar terang. Mata yang redup menandakan tiadanya roh dan jiwa yang berkobar. Mati di dalam hidup tentu sangat menyakitkan. Belanda mengasingkan tokoh-tokoh besar bangsa ini, agar kesepian dan memiskinkan ide dan kebesaran hatinya. Nelson Mandela 27 tahun diasingkan agar merasakan kesepian, namun sepi itu menghasilkan kebesaran jiwa yang luar biasa.
Kuasa jahat melihat manusia paling tidak bisa kesepian. Oleh karena itu dia meminta izin kepada Allah, untuk mencobai Ayub. Harta benda dan anak-anak Ayub dimusnahkan semua. Ayub masih setia dan taat, roh jahat masih memiliki agenda kalau ditimpakan penyakit tentu akan berubah, dan Ayub masih bersikap sama. Kuasa gelap tahu kalau rekan-rekannya menjauh tentu Ayub akan menghujat Allah. Apalagi kalau rekan-rekannya justru menganjurkan dan menjelek-jelekan Allah sebagai penyebabnya.
Perjanjian Baru memiliki contoh kesepian yang menyakitkan melalui Tuhan Yesus yang “merasakan” bahkan Bapa-Nya-pun meninggalkan-Nya. Saat kesendirian-Nya, murid yang setiap hari ke sana ke mari bersama, belajar, menggembara dari desa ke desa selalu di dekat-Nya, malah tidur.
Mekanisme mengatasi kesepian beranekaragam. Saudara saya tadi melalui sms-an dengan nomornya sendiri. Sekarang ini banyak orang yang kesepian, oleh karena itu asyik dengan dunia maya, teman virtual yang tidak jarang mengasingkan dirinya dengan lingkungannya. Kesepian bukan berkurang justru akan menjadi saat ada halangan untuk terhubung dengan yang maya itu.
Ayub dalam kesepian dan kepedihannya tetap mempercayai Allah berkuasa atas hidupnya. Kesedihan dan kesepiannya dia timpakan atas kehidupannya, hari kelahirannya, dan sama sekali tidak menghujat atau menggugat kuasa Allah. Ayub tidak menyalahkan Allah atas jalan hidupnya.

Yesus menjawab kepedihan atas kesepian-Nya dengan mengembalikan hal itu kepada yang memberi. "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Dia berserah total kepada Bapa-Nya yang telah memberikan semuanya tersebut.

Rabu, 23 April 2014

Sudah Adilkah Distribusi Kekayaan Negeri Ini?

Bangsa Indonesia paling anti dengan komunis dan kapitalis. Semua dianggap terlarang, haram, dan tidak boleh hidup di tengah bangsa ini. Negeri yang katanya menganut paham Pancasila di mana ada Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Komunis yang memiliki paham sama rata sama rasa sudah diharamkan hidup di negara ini sejak akhir tahun enampuluhan. Paham kapitalis memang secara langsung, terang-terangan, dan secara faktual dilarang. Ekonomi Pancasila dan kerakyatan yang sering digembar-gemborkan pesohor negeri ini.
Apakah ini sudah menggambarkan keadilan Pancasila itu? Saat ada seorang caleg, yang merupakan anggota DPR yang terhormat dari komisi hukum, seorang artis, pengacara, menyatakan bahwa dia hanya mengeluarkan lima ratus juta, sebagai beaya menjadi caleg. Bukan mempermasalahkan apakah digunakan sebagai money politic,  atau beaya hotel, pesawat, dan akomodasi lainnya. Ada lagi seorang pejabat tinggi negara membanting jam tangannya, yang diakui sebagai barang palsu. Barang palsu seorang pejabat yang berharga lima juta rupiah, hanya dibanting dan ditinggalkan begitu saja. Mengapa pejabat ini membanting jam seharga lima juta? Karena beliau tidak terima dikatakan menggunakan jam tangan seharga satu miliart rupiah. Perlu direnungkan adalah kalau benar tidak memakai arloji satu miliar rupiah mengapa harus membanting yang seharga lima juta?
Di saat yang sama, ada seorang ibu yang membuang bayinya yang kembar dan baru dilahirkan karena tidak punya uang atau alasan ekonomis mengapa ibu itu harus membunuh. Ada anak negeri yang untuk makan dan memberi makan anak-anaknya harus mengais sisa dari bungkus nasi yang dibuang karyawan pabrik.

Memang hak caleg dan pejabat tersebut menggunakan harta dan uangnya sendiri. Berpikir positif bahwa harta mereka tentu sah dan sudah dilaporkan ke KPK, namun alangkah bijaksana dan arif saat menampilkan kekayaannya tersebut tidak terkesan pamer dan menghambur-hamburkan di tengah keprihatinan bangsa ini, yang masih banyak yang berkekurangan.

Selasa, 22 April 2014

Anak, di mana engkau dapat berlindung?


Media massa mengabarkan betapa tidak amannya masyarakat kita bagi anak-anak. Mulai dari tenaga kependidikan, tenaga non kependidikan di sekolah, aparat negara (polisi, DPRD), pendidik spiritual (apapun agama dan kepercayaannya), orang terdekat (paman, bapak, ibu, kakak, kerabat, teman orang tua, kakek, tetangga), rekan sebaya (anak maupu remaja), bahkan dunia maya (FB, Twitter), kekerasan seksual ataupun non seksual, mengapa itu semua terjadi?
Mentalitas pihak dewasa perlu perbaikan. Anak memerlukan bantuan orang dewasa untuk dapat masuk ke dalam dunia. Hal yang bersifat kodrati. Tidak ada satu manusiapun yang tidak ada yang mendidik. Bahkan legenda Tarzan sekalipun dibina dan dididik oleh induk pengasuhnya, meski itu hewan. Ketergantungan anak ini dimanfaatkan orang dewasa, yang lebih kuat bisa bersama-sama ataupun sendiri, mengeksploitasi keberadaan anak. Berarti yang perlu diperbaiki adalah mentalitas kaum dewasa.
Moralitas yang lemah. Bangsa ini masih kacau mana kebaikan dan mana keburukan. Banyak contoh dipertontonkan oleh media, istimewanya televisi, bahwa keburukan bisa ‘seolah-olah, baik dan benar’ dinyatakan dengan bahasa tubuh yang meyakinkan, penuh percaya diri, bahkan dengan menggunakan istilah-istilah keagamaan dan abhkan bersumpah/janji. Penyaji itu kebanyakkan  public figure, baik artis, pengacara, pejabat negara, ada juga tokoh agama, dengan sebutan-sebutan penghormatan yang tinggi dalam keagamaan, dan itu ditonton oleh rekan-rekan muda yang belum memiliki screening moralitas yang matang. Apa yang disajikan itu sudah benar adanya dalam penilaian mereka.
Penghormatan atas kepemilikan dan orang lain yang rendah. Ketika berhadapan dengan kepemilikan, bangsa ini memiliki kecenderungan ketika milikku, menjadi obsesif dan protektif, sedang saat milik orang lain membiarkan dan cenderung mengarahkan, contoh kalau dilewati saluran  tegangan tinggi listrik jangan lewat kampungku, lewat tempat lain. Paradigma dan pola pikir demikian menjadikan penghargaan atas kepemilikan dan orang lain menjadi rendah. Contoh lain, saat berkendara, bagaimana yang penting aku selamat dan cepat, entah orang lain, mau selamat atau tidak.
Penghargaan hak hidup yang buruk. Hak hidup kurang dihayati dan dihargai sebagaimana mestinya. Berita sungguh memilukan, calon ibu muda belum genap dua puluh tahun sedang hamil tua, merencanakan dan menjadi pelaku pembunuhan ibu mertuanya, hanya karena sering dimarahi. Marah dalam hal ini versi anak tersebut. Anak dibuang, dibunuh, dan dibuang, merupakan bukti konkret lemahnya penghargaan atas hak hidup. Hak hidup padahal merupakan hak asazi yang sejak awal sudah seharusnya menjadi bagian hidup manusiawi.
Masyarakat yang permisif atas kesalahan komunal. Benar dan salah kalau itu kerabatku, tetanggaku, saudaraku itu pasti benar. Pemberitaan banyak menyajikan berita ini. Saat digusur melawan dengan berbagai cara sering tidak jarang dengan kekerasan. Jelas-jelas tindakan itu salah, dan mengganggu kepentingan umum. Pengeroyokan aparat negara dan merusak fasilitas negara karena dilakukan bersama-sama akhirnya tidak diselesaikan dengan semestinya.
Hal-hal tersebut, tidak terkecuali menimpa anak-anak. Penghormatan atas hidup anak, kepemilikan masa depan anak, dirampas karena mentalitas, moralitas, dan sikap permisif atas kesalahan orang-orang dewasa, yang seharusnya melindungi, mendidik, dan mengembangkan anak-anak.


Senin, 21 April 2014

Indahnya Damai....



Ia yg rebah, di pangkuan perawan suci, bangkit setelah tiga hari, melawan mati.
Ia yg lemah, menghidupkan harapan yg nyaris punah.
Ia yang maha lemah, jasadnya menanggungkan derita kita.
Ia yang maha lemah, deritanya menaklukkan raja-raja dunia.
Ia yang jatuh cinta pada pagi, setelah dirajam nyeri.
Ia yang tengadah ke langit suci, terbalut kain merah
       kirmizi: Cintailah aku!
Mereka bertengkar tentang siapa yang mati di palang kayu.
Aku tak tertarik pada debat ahli teologi.
Darah yang mengucur itu lebih menyentuhku.
Saat aku jumawa dengan imanku, tubuh nyeri yang tergeletak di kayu itu, terus mengingatkanku: Bahkan Ia pun         menderita, bersama yang nista.
Muhammadku, Yesusmu, Krisnamu, Buddhamu, Konfuciusmu – mereka semua guru-guruku, yang mengajarku  tentang Kehidupan.
Kalian mudah puas diri, pongah, jumawa, bagai burung Merak. Terbiasa Menghakimi.
Tubuh yang mengucur darah di kayu itu, bukan burung merak.
Ia mengajar kita, tentang cinta, untuk mereka yang disesatkan dan dinista.
Penderitaan kadang mengajarmu tentang iman yang rendah hati.
Huruf-huruf dalam kitab suci, kerap membuatmu merasa paling suci.
Ya, Jesusmu adalah juga Jesusku.
Ia telah menebusku dari iman yang tinggi hati.
Ia membuatku cinta pada yang dinista!
Semoga Semua Hidup Berbahagia dalam kasih Tuhan . 

SELAMAT. HARI. RAYA. PASKAH. 2014.
[Puisi tersebut dibuat cendekiawan NU Ulil Abshara Abdala) 

Minggu, 20 April 2014

Salib,Budaya Kekerasan yang Dipaksa Berhenti oleh Yesus


Salib hukuman yang paling keji, kejam, mempermalukan, tiada batas, dan sangat menakutkan. Semua berbau kekerasan dan pertumpahan darah. Budaya kekerasan lebih dari  dua ribu tahun lalu yang hendak diputuskan dengan cinta kasih Tuhan, hari-hari ini masih demikian kuat bahkan makin beragam bentuk.
Saya tergelittik tulisan di helm yang dikenakan seorang pengendara, “SENGGOL  BACOK”... memang ini hanya guyon, joke,  dan tulisan iseng penghias penutup kepala semata. Melihat fenomena kekerasan yang hidup di dunia ini, perlu berhati-hati juga dengan adanya tulisan tersebut. Bisa saja memang menggambarkan orang tersebut, kalau dirinya, atau motornya, apalagi helm dan kepalanya yang tersenggol, pelakunya  akan di bacok. Tentu sangat menakutkan kalau hanya persoalan sepele menyenggol saja akan dibacok (dilukai dengan ditebas memakai senjata tajam).
Budaya kekerasan sedang menghiasi media massa, bagaimana gadis disiksa, disetrum, dismupal mulutnya, dibunuh, dan dibuang begitu saja, pelakunya sama-sama masing sangat belia. Pembunuhan pedagang bakso dan mayatnya dimasukkan ke dalam mesin pendingin, pembunuhan sepasang suami istri, pembunuhan beberapa orang dan semuanya dimasukkan ke dalam karung. Belum lagi komentar-komentar yang meliputi sekitar pembunuhan-pembunuhan tersebut. Dari sekian banyak peristiwa, yang menyatakan dan memberikan pengampunan baru satu. Lainnya adalah hujat dan tuntuan setimpal. Hukum mata ganti mata, nyawa ganti nyawa justru yang makin menggejala.
Yesus, saat perjamuan terakhir mengajarkan dengan  mencuci kaki murid-muridnya. Tindakan yang berkebalikan dari budayanya, melayani dan bukan minta dilayani. Saat di taman Getsemani, semua pasukan dipersenjatai dengan persenjataan lengkap DIA mempertanyakan itu untuk apa? Salah satu murid-Nya dapat mendesak pasukan penyergap dan memotong telinga prajurit itu, apa yang dilakukan-Nya? DIA kembalikan kuping itu. Jelas bahwa apa yang DIA bawa adalah kasih dan damai. Kasih dan damai secara konsekuen dan jelas, sama sekali tidak ada kekerasan dibalas dengan kekerasan. Puncaknya adalah ketika DIA memohonkan ampun karena para pelaku itu bagi-NYA tidak tahu apa yang sedang dilakukan.

Budaya kasih perlu ditumbuhkembangkan untuk mengatasi budaya kekerasan yang makin marak. Harapan itu sudah dimulia, mari kita wujudnyatakan......

Sabtu, 19 April 2014

Yudas: Impian Tak Sampai

Penghianatan Yudas merupakan peristiwa naluriah manusia. Yudas menganggap Yesus sebagai Mesias. Mesias dalam misi Yesus yang disalah mengerti Yudas yang memiliki latar belakang berbeda dari kehendak Bapa.
Allah mengutus Yesus untuk menjadi Mesias dalam arti membebaskan manusia dari perbudakan dosa. Dosa yang sudah diabdi manusia di seluruh dunia. Kekerasan, kebencian, sikap saling curiga, dan aneka kejahatan menjadi darah daging manusia. Dunia sudah dikuasai manusia yang membawa kepada kehancuran.
Yudas sebagai pejuang bangsa Romawi memiliki pemikiran pembebasan bangsanya dari penjajahan Romawi. Penjualan Yudas merupakan pemenuhan janji Salib untuk Yesus. Paket yang tidak bisa dipisahkan dan digagalkan. Menarik adalah sesal Yudas, saat melihat Yesus dengan setia memanggul salib. Sesal Yudas ditandai dengan mengembalikan uang, dan puncaknya adalah bunuh diri.
Sesal yang sangat mendalam disertai rasa malu, gagal, dan kecewa mendalam, karena semua impian dan cita-citanya hancur berantakan, dipuncaki dengan bunuh diri. Banyak orang tua, ketika kecewa, malu putrinya hamil akan menyarankan putrinya aborsi.
Malu, aib, nama baik yang tercemar sebenarnya sementara. Tidak akan ada orang yang mengingatnya dalam waktu lama. Perbaikan kualitas kehidupan dan kebaikan diperbanyak akan membawa orang melupakan apa yang sudah pernah terjadi. Aborsi tindakan permanen, pembunuhan terhadap bayi yang sama sekali tidak berdosa, trauma dari ibu yang melakukan aborsi merupakan tindakan yang tidak dapat ditarik kembali, diulangi, dan diperbaiki.
Kecewa, malu, sedih, dan rasa buruk lainnya, sering membuat orang mengambil keputusan yang salah, dan malah menambah sesal berkepanjangan, dan bahkan bisa saja menjadi maut abadi.

Hati-hati, mengambil keputusan ketika sedang sedih, malu, kecewa, ragu-ragu, dan tidak nyaman dalam hidup.

Rabu, 16 April 2014

Dunia Pendidikan, Riwayatmu Kini...

Kembali dunia pendidikan diguncang persoalan non pendidikan, yang menjadi sorotan dan pusat pemberitaan adalah sekolah, bahkan salah satu TV, menyitir pendapat seorang yang peduli kepada anak-anak, akan menutup sekolah (meskipun untuk sementara). Dalam pemberitaan yang sama juga dinyatakan bahwa sekolah tersebut melarang orang tua murid untuk mendampingi atau mengawasi anak-anak selama di sekolah.
Kedua pendapat mengenai penutupan sekolah dan larangan orang tua mendampingi yang terkesan dipersalahkan dapat kita ambil pembelajaran sebagai berikut:
1.      Penutupan sekolah
Sangat tidak proporsional, meskipun alasan adalah UU PA, mengapa? Karena pelaku adalah karyawan outserching, bukan bagian dari sekolah secara langsung. Sekolah bersalah tidak dapat disangkal, karena lalai dalam menerima dan mempekerjakan pekerja dari pihak ketiga, yang ternyata “cacat”, bisa disimpulkan tidak melakukan pengecekan secara mendalam. Kalau sekolah ditutup, berapa anak yang dikorbankan, dari kelas satu hingga kelas, enam dan calon murid. Sekolah model begini, pasti sudah mengadakan seleksi penerimaan calon siswa baru. Bagaimana nasib mereka?
Akan berbeda kalau pelaku tersebut adalah guru, staf tenaga kependidikan secara langsung dalam arti benar-benar staf dan karyawan di sekolah tersebut, bukan  dari pihak ketiga. Katakutan berlebihan dan kurang mendasar jika ada wacana penutupan.  
2.      Orang tua mendampingi anak di sekolah
Sekolah merupakan lembaga yang diberi mandat untuk mendampingi anak menuju kedewasaan. Salah satu kedewasaan adalah kemandirian. Perlu diketahui orang tua terkadang berlebihan ketika diizinkan mendampingi anak. Keleluasaan sekolah dalam kegiatan belajar mengajar bisa terganggu karena berbagai protes dari orang tua yang kurang mengerti persis dengan pedagogi.
Kebijakan sekolah melarang orang tua mendampingi anak di sekolah sudah tepat. Orang tua sudah mendaftarkan dan pasti menandatangani surat pernyataan yang pada dasarnya mempercayakan sepenuhnya anaknya untuk dididik di sekolah tersebut, berarti bahwa sepenuhnya tanggung jawab sekolah, dan tidak bisa dipersalahkan mengenai kebijakan tersebut.

Masyarakat terutama media perlu belajar tenang dan tidak reaktif. Ada ranah masing-masing untuk menyelesaikan. Media kalau tidak hati-hati bisa menjadi provokator yang memperkeruh suasana. Hal ini terjadi karena pemahaman para awak media yang tidak mengerti dengan baik persoalan yang sedang dilaporkan sehingga banyak menimbulkan masalah. Banyak persoalan menjadi keruh bukan karena hendak merusak suasana, dan unsur kesengajaan, namun karena pengetahuan dalam persoalan yang sedang digali masih kurang. Perlu dipikirkan tim pendukung mengenai data dan informasi ilmiah termasuk undang-undang, dan apapun yang secara langsung berkaitan dengan materi yang hendak disajikan secara menyeluruh. Sehingga tidak menyatakan sesuatu yang kontraproduksi dengan apa yang sebenarnya hendak dituju, yaitu memberikan pemberitaan yang sesuai dengan kaidah-kaidah pemberitaan.

Selasa, 15 April 2014

Kebaikan Laiknya Buang Air....

Kebaikan seperti orang buang air. Semua orang tentu pernah merasakan kebutuhan untuk baung air, baik besar ataupun kecil. Tentu bisa membayangkan bagaimana rasanya.  Sakit, tidak enak, tidak nyaman, dan bergegas-gegas untuk bersegera dipenuhi hajatnya tersebut.
Kebaikan pada dasarnya demikian. Kebaikan kalau ditahan-tahan atau tidak dilakukan akan membuat hidup tidak nyaman, ada yang mengganjal, perlu dilakukan bergegas-gegas atau harus sesegera mungkin.
Hajat yang sudah mendesak akan menimbulkan rasa yang beraneka ragam, dapat disimpulkan dengan singkat tidak enak. Setelah dilakukan tentu lega, nyaman, dan plong.
Demikian juga dengan kabaikan. Kebaikan yang dilakukan dengan tulus dan sepenuh hati, dapat dipastikan akan memberikan perasaan nyaman, tenang, dan puas. Kebaikan yang ditahan-tahan, tidak rela, masih sayang atau eman, akan membuat hati nurani tidak enak, merasa kurang, ada yang mendesak untuk dilakukan dan perlu penyaluran.
Setelah buang air, tentu tidak ada yang mengharapkan kembalinya. Tidak perlu mengharapkan kabaikan yang sudah dilakukan, karena akan ada kebaikan yang setara akan diberikan oleh Kebaikan Sejati yang melihat  apa yang sudah kita lakukan. Prinsip pamrih, do ut des (memberi biar mendapat), tidak perlu mampir dalam benak kita.
Secara alamiah, setelah dikeluarkan tentu ada naluri untuk kembali memberi masukan. Setelah buang hajat tentu tubuh memerlukan makan dan minum lagi.
Sama  dengan  kebaikan, setelah diberikan tentu akan ada masukan untuk terus memiliki kebaikan-kebaikan yang perlu untuk didistribusikan. Selalu ada bahan kebaikan yang lain untuk dibagikan.
Ketika kebaikan mengharapkan balasan atau imbalan, malah tidak melegakan, justru menyakitkan. Kesakitan yang timbul, karena kehendak yang tidak sampai, berarti belum sampai pada kebaikan yang semestinya.
Hasil buang hajat, akan memberikan banyak kebaikan pada lingkungan, misalnya untuk pupuk.
Kebaikan demikian juga akan memberikan manfaat bagi yang menerima, tanpa mengurangi apapun yang dimiliki sang pemberi kebaikan. Apa yang kau berikan akan kamu dapatkan berkali lipat.


Pendidikan Nasional Nasibmu Kini.........

Fenomena aneh terjadi saat ujian nasional 2014, paling tidak untuk tingkat SMA/K yang sudah berlangsung dua  hari. Mulai dari soal kurang, tertukar, dan tidak tahu mengapa bisa seribet ini. Ada soal politis entah kepentingan apa.
Beberapa hal yang memalukan justru dilakukan oleh pendidiknya sendiri.
1.     Ujian diawasi dengan CCTV
Pemberitaan media massa hari-hari ini berkaitan dengan UN SMA yang menggeser pemberitaan pileg. Meskipun kedua-duanya sama saja buruknya. Anak siswa adalah anak negeri yang hidupnya dipenuhi dengan kecurigaan yang justru dilakukan para pejabat yang sangat tidak jujur. CCTV, ada dan diadakan untuk mengawasi lingkungan agar berjalan dengan semestinya, ada yang menyebutnya kamera pengawas. Pengawasan akan tindak kejahatan, pertanyaan yang timbul adalah sudah serendah itukah siswa-siswa bangsa ini? Sehingga sudah ada guru pengawas, untuk SMA pengawas independent dari perguruan tinggi, dan tahun ini ada polisi, masih ditambah kamera pengawas.
2.     Ujian ada polisi yang masuk ke sekolah
Secara psikologis, anak remaja-dewasa awal melihat polisi pasti akan was-was, apalagi dengan seragam coklatnya. Ujian pasti menimbulkan ketegangan. Kehadiran polisi menambah ketengangan yang kontraproduksi dengan apa yang hendak dicapai dengan ujian. Polisi masih banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan tidak perlulah mengurusi “kenakalan anak” ujian, kasihan pekerjaan rumahnya makin menumpuk.
Apa yang hendak dituju dengan model pengawasan seperti itu?
1.     Memang siswa kita ini maling?
CCTV dan polisi identik atau kasarnya digunakan untuk mengawasi maling. Memangnya murid-murid kita ini maling? Ketegasan guru dan kewibaan penjaga cukup untuk mengawasi anak ujian, tidak perlu seheboh dengan CCTV dan polisi segala. Sesuatu yang dalam bahasa remaja lebay. Kepercayaan dan sedikit kewaspadaan lebih dari cukup untuk menertibkan siswa agar berlaku tertib dan jujur.
2.     Kejujuran itu suatu proses bukan sesaat semata
Kejujuran itu suatu proses, bukan sesaat hanya ujian akhir saja. Bagaimana kejujuran berjalan seiring berjalan dengan kehidupan belajar mengajar? Lihat saja dari proses penerimaan, ini merupakan proses awali, siswa diajari untuk mengandalkan nilai (angka) semata yang tinggi, kalau kurang masih ada jalan suap, saling sikut dengan metode penerimaan yang mengandalkan nilai (angka). Dalam perjalanan bersekolah, kejujuran dalam mengerjakan tugas, tanggung jawab, dan keteladanan itu ada tidak. Apakah komponen kependidikan bersikap jujur dan adil? Anak perlu keteladanan dan pembelajaran, bukan tuntutan dan kecurigaan semata. Bagaimana anak murid dapat jujur dalam ujian akhir kalau setiap hari dalam ujian sekolah, ujian harian menyontek, diskusi itu menjadi sarana mencapai angka nilai tinggi.

Mengapa terjadi?
1.     Sistem yang buruk
Sistem pendidikan harus diakui jelek dan gagal, perlu revolusi besar-besaran. Bertahun-tahun kelulusan ditentukan oleh angka nilai yang tinggi. Mungkin produk kelulusan dengan model ini, saat ini sudah mulai menjadi guru. Gonta ganti kurikulum tanpa adanya evaluasi mendalam dan perbaikan atas kekurangan, mengganti bukan memperbaiki, silih berganti.
2.     Orientasi pendidikan pada nilai (mark) sebatas angka, bukan nilai (value)
Nilai berorientasi pada angka (mark), bukan value, kuantitas bukan kualitas. Nilai tinggi tidak berkorelasi linier terhadap kualitas peserta didik. Orientasi ini sudah saatnya ditinggalkan dan berani mengubah paradigma mimpi angka tinggi. Angka nilai sekarang memang tinggi, namun  dengan kualitas sama saja, bahkan kalau berani mengakui semakin menurun.
3.     Penghargaan akan hasil akhir bukan proses karena budaya instan
Sekolah sekarang, tidak menghargai proses sama sekali. Bisa saja anak tidak perlu bersekolah, menghafal kunci jawaban dan nilai sempurna pasti lulus (Memang untuk tahun ini sudah mulai bertobat dan ditinggalkan, dengan hanya 30% nilai UN menjadi salah satu komponen kelulusan).  Budaya instan, dimulai dari mie sekarang sudah masuk ke dunia pendidikan. Semua ingin cepat dan sekejap. Tidak mau bersusah-susah semua menghendaki finis.
Keindahan ada pada proses dan perjalanan, kalau finis dan hasil akhir itu memang indah adalah bonus dan penghargaan tambahan sebagai kegembiraan dan penghargaan kerja keras atas proses yang berjalan.

Adakah keteladanan dari lingkungan?
Orang tua. Banyak orang tua yang kurang mengerti pendidikan akan menuntut anaknya mendapatkan angka (mark) yang tinggi. Tidak mau tahu apapun yang penting nilainya tinggi.
Ada sebuah sharing dari ibu yang merupakan perempuan karier, sudah capek-capek ngajari, nilainya cuma enam. Budaya menuntut anak seperti diri orang tuanya. Orientasi angka nilai kuantitas bukan kualitas masih tinggi pada pola pikir masyarakat bangsa Indonesia.
Demi memperoleh nilai tinggi anak dijejali dengan berbagai les, dan lebih parah akan “dimanjakan” pula, pekerjaan rumah dikerjakan oleh guru lesnya. Anak lepas tanggung jawab dan dididik tidak jujur secara halus.
Tingkatan paling parah, anak dibelikan kunci jawaban, meskipun secara tidak langsung. Saat anak minta uang yang diluar kewajaran untuk persiapan ujian nasional, orang tua perlu waspada.
Guru dan kepala sekolah. Sekolah tertentu, demi mempertahankan nama baik, prestise,  menghalalkan segala cara. Proses seleksi, tindak ketidakjujuran sudah dimulai. Orientasi angka nilai, dan suap mulai diajarkan kepada anak untuk berlaku yang sama. Kegiatan belajar mengajar selama tiga tahun merupakan medan penanaman nilai kejujuran yang sangat ideal. Sudah dilakukan atau belum. Atau malah anak “dibiarkan” tidak jujur. Ujian diawasi dengan baik, atau hanya formalitas. Penekanan karakter kejujuran dalam kurikulum PPR sebenarnya dapat dilakukan di semua mata pelajaran. Namun pada implementasi jauh dari harapan. Sekolah, dalam hal ini guru dan kepala sekolah untuk menutupi atau menyangkal kegagalan pendidikannya dengan menyerahkan pengawasan kepada CCTV dan polisi.
Seandainya, kejujuran itu diajarkan sejak awal, ujian tidak dijaga pun anak tidak akan berlaku curang. Adakah sekolah demikian? Ada dan banyak sebenarnya.
Pejabat. Ketidakjujuran justru dimulai dari pejabatnya. Bagaimana para pejabat yang tidak konsisten, berlaku curang dengan terang-terangan, dan menghalalkan segala cara demi mencapai hasil akhir, tidak pernah menghargai proses.
Media massa. Sudah saatnya media massa menghentikan booming pemberitaan kecurangan ujian. Para pewarta media perlu mendapatkan terobosan menayangkan sekolah yang tidak perlu pengawasan dan siswanya menjalankan dengan jujur dan bertanggung jawab. Pemberitaan pejabat buruk juga perlu pelan-pelan dikurangi dan lebih memberikan porsi kebaikan karakter bangsa ini yang tidak kurang banyak.

Malam menang kelam, ada hari esok dengan fajar dan mentari yang bersinar terang.

Sabtu, 12 April 2014

Guru tiada berdaya, di mana PGRI????


Salah satu tugas guru adalah mengadakan evaluasi. Sejak di bangku kuliah kependidikan, mahasiswa pendidikan tentu melewati ujian mata kuliah evaluasi pendidikan. Cara membuat soal yang baik, bagaimana kriteria soal tersebut, apakah sudaah baik dan benar? Bagaimana  dan seberapa banyak soal tersebut dapat diselesaikan oleh siswa? Mata kuliah yang tidak mudah karena melibatkan kemampuan berhitung yang lumayan rumit. Padahal dalam kenyataannya evaluasi salah satunya ujian akhir malah tidak boleh dilakukan oleh guru.
Bangsa ini sama sekali tidak menghargai keberadaan guru, oleh karena itu naskah ujian dibuat entah oleh siapa, yang paling tidak memegang kelas hanya untuk satu jam saja belum tentu pernah.  Panitia bentukan negara dengan anggaran besar ini, melucuti tugas guru. Siapa mengajar siapa menguji, baru terjadi di negara ini.
Beberapa tahun ini, makin aneh-aneh saja kebijakan berkaitan dengan ujian. Tahun-tahun lalu ujian dijaga aparat negara dalam arti polisi, kemudian diganti dari perguruan tinggi. Lho negara yang tidak jujur kog ditimpakan ke sekolah. Berarti guru sudah sangat rendah kredibilitas kejujurannya.
Sekarang, soal saja ditaruh di markas polisi. Duuuuh makin paranoid saja, atau memang makin rendah kualitas guru bangsa kita? Menjaga soal di dalam kardus saja tidak dipercaya. Kebocoran sangat kecil ada di pihak sekolah, kecuali sekolah itu sudah mengkhianati dirinya sendiri baik sebagai pribadi pengelolanya, ataupun secara kelembagaan melalui visi misi yang pasti tidak akan ada salah satunya untuk mengajak anak didik menjadi anak yang tidak jujur dan menipu diri sendiri dan seluruh bangsa.
Di mana PGRI
Persatuan Guru Republik Indonesia ada di mana? Mana suara dan gaungnya untuk membela kepentingan guru untuk menjaga harkat dan martabat sebagai guru yang diberi gelas pahlawan tanpa tanda jasa.
Jangan sampai nantinya diberi lagi label pahlawan yang tidak pernah berjasa.
Jangan-jangan guru Indonesia nanti diganti oleh google...

Guru tidak menguji, guru tidak menjaga, dan selalu dicurigai curang, membocorkan soal.....

Senin, 07 April 2014

Mari Kita Renungkan....

Keadaan negeri ini sedang pada kondisi yang tidak menggembirakan. Beberapa waktu lalu harga beras dan cabe sungguh di luar kemampuan kebanyakan saudara-saudari kita. Persoalan politik yang tidak kunjung usai. Sebentar lagi anak sekolah dan orangtua pasti diliputi kecemasan dan ketidaktenangan saat menhadapi ujian akhir.  Ujian masuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi juga tidak kalah membuat jantung berdebar. Uang sekolah yang semakin tidak terjangkau, sistem penerimaan yang tidak jelas. Ujian akhir dan ujian masuk sekolah penuh ketidakjujuran. Para pemuka agama yang mau menyuarakan kritik kenabian malah dikatakan sebagai pembohong. Kebenaran dapat dikalahkan oleh kuasa dan uang.

Persoalan negeri ini juga persoalan kita sebagai umat Katolik. Memasuki masa puasa kita dapat merenungkan keprihatinan ini bersama-sama. Dokumen Konsili Vatikan II tentang Gereja dalam duna modern Gaudium et Spes, KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka. Sebab persekutuan mereka terdiri dari orang-orang, yang dipersatukan dalam Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam  peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa, dan telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang. Maka persekutuan mereka itu mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya.
Pendahuluan dari dokumen ini menyajikan kepada kita segala persoalan Negara, masyarakat merupakan persoalan kita juga Gereja. Ketidakjujuran, kemiskinan, jual beli kasus, hokum dijungkirbalikan demi kelompok, saling tuduh, saling jegal merupakan persoalan kita bersama. Televisi, surat kabar setiap ahri dipenuhi dengan hal-hal tersebut. Belum lagi persoalan pornografi dan akibat yang mengikutinya. Perselingkuhan, gambar dan film porno, kawin cerai demikian marak. Beberapa solusi yang ditawarkan tidak menyelesaikan persoalan, dan bahkan tidak jarang malah membuat persoalan yang baru.

Persoalan demi persoalan selalu saja hadir dan timbul tenggelam setiap hari. Masalah yang satu belum selesai, atau bahkan tidak diselesaikan, malah ditutupi dengan perkara baru. Masyarakat pelupa menjangkiti kita termasuk juga kita selaku warga Gereja. Akar masalah kita, kalau mau jujur adalah pendidikan yang tidak memiliki visi, atau kalau ada sudah disandera oleh kepentingan elit, baik agama tertentu, atau politik tertentu. Konsili Vatikan II melalui Dekret tentang Pendidikan Kristen, terutama artikel 3, menyatakan orangtua karena sudah menyalurkan rahmat kehidupan baru kepada anak-anak, orangtua menjadi pendidik yang pertama dan utama. Ini berarti orangtua karena kodrat memiliki tanggung jawab besar untuk mendidik anak-anak. Konsekuensi yang tidak ringan bagi keluarga Katolik. Apalagi dengan perkembangan zaman yang ‘mengharuskan’ orangtua untuk lebih banyak di luar rumah. Pendidikan anak secara langsung ataupun tidak, mau ataupun tidak sedikit banyak pasti terganggu. Fenomena anak menjadi “anak pembantu” apalagi di kota besar semakin memprihatinkan. Banyak persoalan di sana. Pola makan, pola pengasuhan, pola pendidikan dapat dipastikan  tidak sebaik apa yang seharusnya diberikan kepada anak. Hubungan kekerabatan, bahkan antara anak dan orangtua, anak dengan anak semakin pudar. Nilai social melemah dan digantikan kepentingan, seperti teknologi. Perbincangan di waktu senggang makin berkurang. Pendidikan  oleh orangtua diserahkan kepada pihak lain, biasanya sekolah atau bimbingan belajar. Orangtua sudah melepaskan tanggung jawab yang demikian besar dalam pendidikan anak.
Keadaan di rumah ini diperparah dengan keadaan di luar. Masyarakat ataupun lembaga pendidikan sebagai pihak yang seharusnya ngompliti pendidikan anak, juga tidak kalah buruknya. Dapat disaksikan bagaimana ujian akhir sekolah yang dinamakan ujian akhir nasional, demikian mencemaskan anak-anak sekolah. Sekolah yang sejatinya menggembirakan malah menjadi tempat yang menakutkan, bukan pendidikan yang dicapai namun hasil akhri nilai UAN, cukup atau tidak. Banyak kecurangan dilakukan untuk mendapatkan nilai yang cukup. Nilai yang mana? Apakah keutamaan itu menyertai, seperti kejujuran, keadilan, keberanian? Jawabannya tidak.
Masyarakat tidak kalah menakutkannya. Anak-anak disuguhi pertikaian elit politik yang tidak jelas juntrungnya, tidak jelas apa dan mau dibawa ke mana itu semua. Pihak-pihak yang berkepentingan hanya mengedepankan kepentingan, keuntungan, dan sesuatu yang sepele, demi kelompoknya, demi kekuasaan.
Bagaimana kita selaku orang Katolik bersikap? Kata Mgr. Soegiyopranoto, kita harus menjadi 100% Katolik dan 100% Indonesia. Ini sejalan dengan amanat Gaudium et Spes. Apa yang dapat kita lakukan? Kita berbuat untuk dan mulai dari diriku masing-masing. Kalau kita masing-masing dapat jujur, dapat adil terhadap diri, lama-lama kita dapat menjadi Negara yang adil makmur seperti yang diharapkan para pendiri bangsa ini. Misalnya saja kita menerima hak kita sesuai dengan  kewajiban kita. Apa yang bukan hak kita, dengan tegas kita tolak. Beranikah kita?
Dalam masa puasa ini marilah kita mulai semua ini dari diri kita masing-masing, pribadi per pribadi.
Bersama berkat Tuhan kita dapat menjalankan itu semua. Dan selamat berpuasa.



Bangsa yang Sehat....

Badan yang sehat dapat dilihat dari kulit. Kulit yang cerah, tidak keriput, tidak kusam, tidak banyak noda, tentu dapat dinyatakan sebagai salah satu ciri badan yang sehat. Masih banyak lagi ciri badan yang sehat lainnya, seperti tidak mengidap penyakit, semua organ tubuh dapat bekerja dengan semestinya. Parameter dan pusat kesehatan tubuh jelas dan banyak di sekitar kita.
Bangsa yang sehat salah satunya dapat dilihat dari cara warga negaranya berbahasa. Contoh paling konkrit adalah bahasa reporter televisi. Televisi memegang peran penting bagi pemberian contoh berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal-hal kecil dan tidak disadari, karena sudah terbiasa berbahasa dengan asal-asalan, dipakai pembawa berita dan acara televisi. Kalau itu siaran langsung dan tidak ada narasi terlebih dahulu masih bisa dimaklumi. Aneh dan menunjukkan pemakaian bahasa dengan tidak baik, dapat dilihat dari penggunaan kata dalam laporannya. Induk hewan dikatakan sebagai orang tua, contoh,” Orangtua gajah yang melahirkan berusia 20 tahun....” ini memberitakan gajah atau jenis makhluk hidup baru? Contoh lain, “Hewan yang meninggal, merupakan....” memang tidak salah, mati, tewas, meninggal, wafat, mangkat artinya sama sebagai tidak bernyawa, namun pemilihan kata berkaitan dengan rasa berbahasa.

Kebanggaan berbahasa secara baik dan benar memang sudah jauh dari harapan. Banyak menyisipkan kata bahasa asing, dalam percakapan atau bahasa tulis, pemilihan kata yang tidak tepat, penggunaan kata tidak baku, merupakan komunikasi sehari-hari yang semakin menggejala di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Minggu, 06 April 2014

Waspadailah Lingkungamu, dan Jauhkanlah Curigamu


Sore yang cerah di puncak  musim penghujan merupakan berkat tersendiri. Januari, hujan sehari-hari, ada mentari yang cukup terik hingga mentari pulang ke peraduannya, sungguh membahagiakan. Suasana yang cerah menggerakan hati untuk mensyukuri dan membawa pada keadaan reflektif, betapa beruntungnya hidup di bumi pertiwi katulistiwa ini. Kaya dan indah yang tidak dapat disangkal oleh siapapun dan sampai kapanpun.
Cerahnya bumi menambah semaraknya terminal  yang makin ramai, karena bis yang berlalung lalang, teriak kru bis dan calo penumpang, ditingkahi oleh pengumuman dari pengelola terminal untuk mengatur jalannya aktivitas agar lancar untuk semua pihak. Menggelitik pendengaran ialah pengumuman dari pengelola terminal,”Kepada seluruh penumpang, dimohon hati-hati terhadap orang yang baru saja dikenal!! Sekian dan terima kasih.”
Teringat sepuluh lima belas tahun lalu, saat HP belum begitu banyak dan murah seperti saat ini dan kendaraan roda dua belum merajai jalanan, lebih banyak orang menggunakan angkutan umum, bincang-bincang di perjalanan merupakan hal yang mengasyikkan dan membunuh sepi. Percakapan dari yang hanya omong kosong dan basa-basi hingga curhat, dan bahkan ada yang sampai ke pelaminan alias menikah.
Berkaitan dengan pengumuman tersebut memang tidak ada yang salah dan bahkan sekilah logis, benar, dan membantu. Sepertinya  tidak ada yang salah, karena mengingatkan orang atau penumpang agar bertindak hati-hati, sehingga tidak menjadi korban kejahatan. Sebenarnya jauh lebih bijaksana kalau anak bangsa ini dididik dengan kritis dan cerdas untuk tidak menjadi paranoid dan curiga, yang perlu dikembangkan adalah sikap hati-hati dan waspada bukan curiga.

Pelajaran untuk saling curiga, bukan waspada yang dikedepankan. Manusia menjadi serigala bagi yang lain. Sudah selayaknya, pendidikan dan pergaulan manusiawi adalah manusia menjadi manusia bagi yang lain, manusia adalah sesama bukan musuh bagi satu sama lain. Mari kita ciptakan semangat saling mengenal dan mencintai dan bukan mencurigai.

Jumat, 04 April 2014

Crime Because There's Opportunity ...


The phrase appears to be true and there is no question that gives input to the caution . Jargon that well known by Bang Napi in a TV show about the crime . " Beware .... " and so on . Crime is present due to chance , true or not ?
I dare say WRONG . Crime there is a chance or not , should not happen if people appreciate other people and their possessions . This is a sick nation . Crime packaged in such a way , even as if the other person who is not careful .
Crime out of the heart , means the intention of the person. Chance to be triggered , not just the cause . One great chance that it exaggerated the cause , because his life is due . Due to me greedy , I want to have as a result of someone else's , my intention appears to thieves , to deceive . I'm having exams that education never attended , and no one ever cheated , because honesty and conscience really guarded . If the jargon of crime as an opportunity , an opportunity when we test so wide , why we did not cheat ? Because we have a heart and a conscience that does not want us shame with harsh measures .
It is back to the surface of memory , while any officer , whether authorized or not true , check the gas tube , at home parents . The officer said the existence of fraud , because of the chance not because intentions .....

My poor country , why evil can be packed as if actually someone else who is not careful ? ? Let us think ?

Kualitas Remaja Indonesia

Tayangan iklan pembersih muka, menampilkan gadis-gadis muda yang fresh, bening, dan unyu bahasa gaul zaman sekarang, salah satu yang paling menggelitik adalah, iklan yang menggambarkan kebahagiaan ABG.  Dalam iklan tersebut dikatakan enaknya jadi remaja, bisa belanja di mall dengan ibu, nonton bareng dan rame-rame dengan teman, serta nginap di rumah rekan. Penggambaran yang segar, ceria, semangat, dan penuh vitalitas. Kesegaran remaja yang mewarnai dunia sepertinya.
Fisik dan tampilan remaja anak negeri ini sangat tidak kalah dengan remaja dari negara maju lainnya. Bisa disaksikan di pusat-pusat perbelanjaan, gedung-gedung bioskop, rumah makan cepat saji, jalan-jalan di kota yang mengadakan acara car free day, tempat-tempat hiburan, gadis-gadis muda ataupun remaja laki-laki modis, semangat, penuh dengan asesoris baik busana ataupun media komunikasi, mulai dari HP, tablet, i-phone, telinga ditutupi dengan headset, yang selalu up date.
Tampilan yang modern ini sayangnya tidak sebanding dengan kemampuan remaja kita. Kompas melaporkan bahwa remaja Indonesia memiliki kemampuan Matematika dan Sains pada peringkat 64 dari 65 negara peserta survey. Satu tingkat lebih baik dari pada negara Peru. Skor rata-rata matematika remaja Indonesia  375 dibandingkan dengan  rata-rata Organization for Economic Cooperation and Development 494, rata-rata kemampuan sains 382 sedang OECD 496, dan kemampuan membaca 382, sedang rata-rata OECD 501.
Ironi ini disebabkan anak remaja sekarang menjadi korban oleh media massa dan pengusaha sebagai konsumen yang potensial untuk digoda dengan perkembangan dan perubahan mode yang  demikian cepat. Usia remaja yang bercorak eksploratif, tanpa pendidikan dan pendampingan yang semestinya hanya membebek pada arus dunia. Arus populer yang ada berkaitan dengan yang artifisial, baju, busana, sepatu, alat komunikasi, asecoris menjadi kiblat bagi kaum muda. Kalau memakai baju, sepatu, HP, paling baru berarti menjadi anak modern dan paling gaul. Berkaitan yang substansial malah terbabaikan dan terlupakan.

Bukti konkret dan nyata sudah ada, bagaimana kita hendak menyikapi hasil ini? Apakah mencari kambing hitam terus? Atau bangkit dan memperbaiki diri?