Judul itu ngawur atau salah? Tidak saya sadar menyematkan
judul itu. Bagaimana hari-hari ini, ketika puncak musim kemarau terjadi, semua
teriak minta air dan mengehentikan asap yang telah menyebabkan derita. Sebentar
lagi akan terjadi hal yang sama, menghentikan hujan agar tidak banjir.
Mengapa membully Tuhan?
Nada yang terucap itu menyalahkan Tuhan, Tuhan harus turun
tangan, hanya Tuhan yang mampu, dan seolah Tuhan yang membuat ini semua. Saya yakin
tidak lama lagi hal ini terulang dengan namun intensi yang bertolak belakang. Ketika
kering dan panas meminta hujan, namun saat hujan khawatir banjir, dan memohon
hujan berhenti.
Tuhan telah memberikan yang terbaik, tidak ada yang buruk
dari Tuhan. Manusia saja yang karena kesombongan dan kesembronoannya ikut masuk
dalam intervensi hukum alam. Mengapa kekeringan berkepanjangan? Pertama, pohon besar
tidak ada lagi, sudah sangat sedikit di mana-mana sama saja. Bagaimana ada
sumur dan sumber air yang cukup kalau penampungnya dibabat demi keegoisan
manusia. Kedua, semua tanah disemen dan aspal, takut kotor dan becek, air tidak
kembali ke tempat asalnya, namun lari ke sungai dan laut yang jauh di sana. Tidak
ada cukup asupan untuk sumber air.
Ketiga, penyedotan air dalam, hal ini dampak lebih jauh lagi soal daya angkat
tanah, tidak heran beberapa tempat telah ambles atau miring. Kontribusi untuk
kekeringan, sumber air dangkal kering, karena eksplorasi berlebihan. Keempat,
sawah dan lahan terbuka makin sempit untuk bangunan dan pabrik. Selain kebutuhan
air meningkat, sumber air tidak cukup adanya suplai untuk menjadi sumber yang
melimpah. Ini semua ulah manusia lho, jangan kemudian berbuat seolah-olah Tuhan
menghendaki ini terjadi, belum lagi anak-anak kecil diajari untuk berdoa kepada
Tuhan mengenai hal ini. Bukan doanya yang salah, namun sikap kita lebih penting
berubah dulu.
Musim penghujan menjelang, banjir di beberapa tempat akan
terjadi. Pasti akan terdengar lagi untaian doa kepada Tuhan dengan permohonan
untuk menghentikan hujan. Padahal sekali lagi manusiannya. Pertama, pohon
sebagai penampung luapan air habis. Kedua, semua diaspal dan jalur air tidak
tersedia, mau tidak mau hukum alam air akan mencari daratan rendah. Ketiga,
perilaku sembrono dan jorok dengan menjadikan sungai sebagai tempat sampah
terpanjang dan terbesar. Keempat, alur sungai direkayasa demi kepentingan diri,
misalnya agar rumahnya luas, ambil bibir sungai tidak masalah, atau malah
menjadi lahan hunian liar.
Berdoa untu penting dan bahkan harus, namun jangan
menjadikan itu kita bisa berbuat seenaknya. Kemudian ketika ada hal yang luar
biasa dan tidak mampu mengatasi menghadap Tuhan dan memohon untuk
menyelesaikannya. Perilaku kita jauh lebih mendesak untuk diperbaiki dan tanpa
dimohon pun Tuhan akan menyelesaikan yang kita tidak mampu lakukan.