Jumat, 09 Oktober 2015

Mem-bully Tuhan


Judul itu ngawur atau salah? Tidak saya sadar menyematkan judul itu. Bagaimana hari-hari ini, ketika puncak musim kemarau terjadi, semua teriak minta air dan mengehentikan asap yang telah menyebabkan derita. Sebentar lagi akan terjadi hal yang sama, menghentikan hujan agar tidak banjir.
Mengapa membully Tuhan?
Nada yang terucap itu menyalahkan Tuhan, Tuhan harus turun tangan, hanya Tuhan yang mampu, dan seolah Tuhan yang membuat ini semua. Saya yakin tidak lama lagi hal ini terulang dengan namun intensi yang bertolak belakang. Ketika kering dan panas meminta hujan, namun saat hujan khawatir banjir, dan memohon hujan berhenti.
Tuhan telah memberikan yang terbaik, tidak ada yang buruk dari Tuhan. Manusia saja yang karena kesombongan dan kesembronoannya ikut masuk dalam intervensi hukum alam. Mengapa kekeringan berkepanjangan? Pertama, pohon besar tidak ada lagi, sudah sangat sedikit di mana-mana sama saja. Bagaimana ada sumur dan sumber air yang cukup kalau penampungnya dibabat demi keegoisan manusia. Kedua, semua tanah disemen dan aspal, takut kotor dan becek, air tidak kembali ke tempat asalnya, namun lari ke sungai dan laut yang jauh di sana. Tidak  ada cukup asupan untuk sumber air. Ketiga, penyedotan air dalam, hal ini dampak lebih jauh lagi soal daya angkat tanah, tidak heran beberapa tempat telah ambles atau miring. Kontribusi untuk kekeringan, sumber air dangkal kering, karena eksplorasi berlebihan. Keempat, sawah dan lahan terbuka makin sempit untuk bangunan dan pabrik. Selain kebutuhan air meningkat, sumber air tidak cukup adanya suplai untuk menjadi sumber yang melimpah. Ini semua ulah manusia lho, jangan kemudian berbuat seolah-olah Tuhan menghendaki ini terjadi, belum lagi anak-anak kecil diajari untuk berdoa kepada Tuhan mengenai hal ini. Bukan doanya yang salah, namun sikap kita lebih penting berubah dulu.
Musim penghujan menjelang, banjir di beberapa tempat akan terjadi. Pasti akan terdengar lagi untaian doa kepada Tuhan dengan permohonan untuk menghentikan hujan. Padahal sekali lagi manusiannya. Pertama, pohon sebagai penampung luapan air habis. Kedua, semua diaspal dan jalur air tidak tersedia, mau tidak mau hukum alam air akan mencari daratan rendah. Ketiga, perilaku sembrono dan jorok dengan menjadikan sungai sebagai tempat sampah terpanjang dan terbesar. Keempat, alur sungai direkayasa demi kepentingan diri, misalnya agar rumahnya luas, ambil bibir sungai tidak masalah, atau malah menjadi lahan hunian liar.

Berdoa untu penting dan bahkan harus, namun jangan menjadikan itu kita bisa berbuat seenaknya. Kemudian ketika ada hal yang luar biasa dan tidak mampu mengatasi menghadap Tuhan dan memohon untuk menyelesaikannya. Perilaku kita jauh lebih mendesak untuk diperbaiki dan tanpa dimohon pun Tuhan akan menyelesaikan yang kita tidak mampu lakukan.

Rabu, 07 Oktober 2015

Penyelenggaraan Ilahi dan Iman Jembatan Antara Motivator dan Kenyataan Hidup



Salah satu kaos menuliskan HIDUP TIDAK SEINDAH KATA-KATA MOTIVATOR. Dewasa ini banyak orang frustasi menghadapi hidup. tidak heran motivator berbea mahal menjadi daya tarik dalam berbagai bentuk kegiatan, seminar, retret, atau live seperti televisi, pengikut di media sosial juga akan berjubel untuk sekedar mendapatkan “mantra” sakti.
Tidak ada yang salah dengan menggeluti kata-kata motivasi dari motivator handal, sebagai salah satu usaha dan proses untuk menjadi, sah-sah saja dan tidak ada yang salah. Hidup bisa menjadi segar dan bersemangat tentu bagus dan membantu mencapai kehidupan yang lebih baik dan menjanjikan.
Motivator dan Motivasi
Motivator memiliki kehendak batin untuk menularkan semangat bagus untuk orang lain yang sedang lemah, lesu, dan seolah lepas harapan. Biasanya berangkat dari pengalaman sendiri yang telah mengalami sendiri dengan segala daya upaya untuk mencapai apa yang mereka kehendaki. Secara garis besar, motivasi dari para motivator akan berkitan dengan tiga hal besar, motivasi dasar atau semangat penggerak, proses atau jalannya menuju paada tujuan, dan tujuan atau gol itu sendiri. Mereka akan melihat dari ketiga faktor tersebut kalau motivasinya baik dan lurus, menjalankan dengan baik seluruh prosedur dengan kemantapan hati bahwa akan tercapai, tentu saja akan diperoleh hasil gilang gemilang. Bisa dilihat melalui 7 Habit, yang demikian melegenda, kata-kata Andrie Wongso atau Mario Teguh, atau siapapun motivatornya dan apa nama tekniknya akan memiliki tiga unsur pokok tersebut.
Namun mengapa masih ada yang “gagal”? motivator akan melihat dari ketiga unsur tersebut dan bagaimana mereka akan menkaji dan kemudian mengulang suatu proses untuk mendapatkan gol yang terbaik. Revisi pada motivasi dan proses akan berulang. Apakah demikian?

Penyelenggaraan Illahi
Penyelenggaraan Illahi ialah kesediaan Allah dalam membimbing manusia menuju tujuan akhir kehidupan manusia. Peran Allah membimbing manusia menuju pada tujuan akhir tentu menjadi penting tanpa menafikan peran motivasi. Keduanya bukan saling meniadakan namun memberikan gambaran lebih mendalam di mana peran masing-masing.
Iman
Iman merupakan sikap, gaya, dan komunikasi kita berkaitan dengan tawaran kasih Allah yang hadir melalui wahyu Allah. Allah menyapa umat-Nya untuk membawa ke tujuan akhir yaitu berbahagia di surga-Nya yang berupa hidup abadi. Iman itu melihat rencana dan kehendak-Nya di atas segalanya dan di dalamnya termasuk motivasi, proses hidup kita, ataupun juga.
Persoalan Hidup
Pola pikir manusiawai, termasuk di dalam ranah motivasi ataupun psikologi akan mencari “kesalahan” dari ketiga yaitu motivasi dasar, proses, dan hasil. Bagaimana ketiga hal tersebut dilihat, dikupas, dan diadakan evaluasi. Penderitaan akan dilihat apakah pernah ada yang salah, bisa berupa tanah tempat hidup, orang lain termasuk orang tua atau nenek moyang, ada kesalahan-kesalahan yang lain. Kitab Suci juga melaporkan hal yang sama. Yohanes bab 9 ayat dua menyatakan mengenai orang buta, dan para murid bertanya dosa siapa, orang tuanya atau orang buta itu sendiri. Ayat ketiga menyatakan kata Tuhan Yesus yang menjawab bukan dosanya dan juga bukan dosa orang tuanya.
Sering kita temui dalam Kitab Suci ataupun dalam hidup kita sehari-hari. Kisah paling terkenal dan fenomenal dalam hidup kita tentu kisah Ayub. Habakuk mengalami yang mirip bagaimana dia berteriak dan seolah Tuhan Allah diam saja. Yesus mengalami ketika di salib Allah Bapa seolah diam saja. Mungkin ada di antara kita yang mengalami hal yang sama atau menyaksikan sendiri bagaimana hidup baik, saleh, dan tidak pernah menyakiti orang lain namun hidup dalam derita yang tidak tderpikirkan sama sekali dari benak dna perasaan kita. Pemikiran kita akan langsung ke dosa dan kesalahan hingga ke nenek moyang kita. Pola pikir kita mengenai karma, salah dan dosa warisan sebagai kepercayaan Perjanjian Lama atau Hindu, iman kepercayaan lain sering mengganggu dan menggoda kita untuk mendapatkan “pembenar” dan kepuasan hati ada “rasionalisasi atau kambing hitam” atas hidup yang kita nilai gagal.
Yesus tidak ada yang salah dan buruk dalam seluruh rangkaian hidup-Nya kalau hendak dikaji dengan kacamata motivator, demikian juga Ayub dan Habakuk, namun tetap saja terjadi “derita”. Kehendak Allah hendak diwujudnyatakan melalui derita itu, dan Allah diam sebagaimana guru yang tidak mau memberikan jawaban pada muridnya yang bertanya saat ujian.

Kegagalan, persoalan hidup, derita merupakan bagian utuh hidup kita, tidak harus ada kesalahan kita, namun ada rencana Tuhan dan Penyelenggaran Ilahi yang harus diwartakan di sana. Iman membantu kita menyikapi dengan baik, bersyukur, bukan mencari-cari pembenar dan kesalahan kita sendiri atau masa lalu, dan nenek moyang sekalipun. Yesus hadir untuk memampukan kita mengenal kehendak Allah di atas segalanya.
Misteri dalam ranah iman tetap tidak akan pernah terpecahkan oleh kemampuan psikologi dan ilmu ppengetahuan apapun. Itu adalah wewenang dan hak Allah yang hanya DIA-lah yang mempunyai rahasia itu, Anak-pun tidak, hanya Bapa. Allah bisa saja memberikan kepada orang yang baik dengan kehidupan yang tidak ringan, dan itu bukan karena Allah kejam dan tidak adil.