Selasa, 25 Maret 2014

Pejabat tanpa Etika

Suatu pagi bincang pagi salah satu TV menyajikan pembicaraan mengenai pembayaran denda untuk membebaskan salah satu TKI yang divonis mati di luar negeri, seorang pejabat dari kementerian luar negeri menyatakan, negara tidak akan membayar denda untuk pelaku kriminal. Alasan pejabat ini mengeluarkan komentar tersebut, ialah pernyataan dan fakta hukum bahwa pelaku pembunuhan tersebut mengakui pembunuhan dan pencurian.
Beberapa hari lalu, pelaku kriminal lain dari negara tetangga, memperoleh, grasi, remisi, dan bahkan pembebasan bersyarat. Apa yang ditunjukkan dari dua contoh peristiwa tersebut? Diplomasi dan usaha keras negara dalam membela dan melindungi warga negara.
Diplomat kita malah memberikan pertanyaan yang sangat melukai anak negerinya, padahal dia dibayar secara tidak langsung adalah dari  keringat dan darah TKI tersebut. Bukannya berusaha dengan keras untuk membantu paling tidak mengusahakan keringanan. Kalau Australia dapat berbuat banyak mengapa kita tidak?
Melihat cara berbicara yang hanya berisi pertahanan diri, menunjukkan bukti masa lalu,  dan berlindung di balik fakta hukum, tidak ada empati dan simpati pada keluarga, apalagi terpidana, dapat dipastikan tidak akan mampu berdiplomasi di depan diplomat asing.
Apa yang terjadi?
Kemampuan diplomasi yang perlu ditingkatkan. Sikap inlander, yang melekat kuat nyata diperlihatkan kalau melihat bule masih memuja lihat perfilman, model Indonesia begitu memuja bule, kebanggaan menggunakan bahasa asing yang disisipkan dalam bahasa Indonesia, menghadapi negara tertentu dengan takut-takut karena berkaitan dengan keimanan. Iman dengan negara sebenarnya jauh berbeda, ini perlu perubahan paradigma berpikir bangsa ini.
Keterberpihakan dan pilihan masih sebatas materi, kemanusiaan menjadi impian dan masih perlu perjuangan. Selalu yang dibicarakan adalah uang atau materinya, bukan bagaimana keluarga yang kehilangan anak, orangtua, saudara, dan anggota keluarganya.
Kebiasaan pejabat negara yang mencari kambing hitam, dan membenarkan diri. Tidak pernah ada warga negara yang salah, yang salah adalah sistem. Sistem yang korup, tidak bertanggung jawab masih dominan. Ironisnya mereka inilah yang di depan kalau ada prestasi atau ada kebanggaan yang ditorehkan oleh salah satu warganya. Ketika menderita entah kemana, ketika sukses ada di depan. Mental seperti ini sudah harus dibuang jauh-jauh.
Pendidikan  yang memprihatinkan. Pendidikan dijejali dengan pengertian-pengertian, dan hafalan semata, bukan berciri solutif, hasil yang diperoleh adalah lari dari tanggung jawab dan mencari kambing hitam, karena lepas dari hafalannya.


Doit atau Kemanusiaan

Pengalaman yang sungguh memprihatinkan, saat akhir pekan, bis antarkota mesti penuh. Malam itu ada sebuah keluarga dengan dua anak kecil, duduk di bangku masing-masing bapak dengan anak, ibu dengan anaknya yang kecil, sebuah keluarga yang hangat dan harmonis. Pada suatu halte ada ibu yang naik dengan anak gadisnya yang kelihatan pucat, lemas, dan membungkuk. Ibu itu meminta pada bapak tersebut, apakah bisa memangku anaknya, dengan spontan dijawab ,” Bayar sendiri kog.” Ibu ini menjawab, “Kalau saya tidak masalah tapi anak saya baru sakit juga bayar dan berdiri.”
Apakah yang dapat dipetik dari pengalaman ini. Bukan untuk menghakimi bapak yang tidak mau memberikan bangkunya untuk anak sakit ini. Padahal sepuluh tahun lalu, tidak perlu diminta pasti akan diberikan dengan rela, tempat duduk di bis seperti itu. Bapak tersebut tidak bersalah, hak sepenuhnya karena sudah duduk dan pasti akan membayar. Alangkah bijaksananya kalau hal tersebut untuk memberi pembelajaran pada anaknya yang masih kecil. “Nak, Papa pangku ya, bangkunya untuk kakak yang sedang sakit.”
Pasti hal itu akan terekam pada hati dan budi anak untuk memiliki sikap empati, simpati, dan mau berbagi. Dengan pilihan bapak tersebut, apa yang terekam pada anak adalah, ini hakku karena membayar, aku tidak perlu memberikan apa yang aku punyai. Sekali lagi itu tidak salah, karena membayar layak untuk duduk.
Sikap untuk berbagi, memberi, peduli, dan melepaskan makin sulit ditemui. Materi, nilai uang begitu kuat menguasai manusia, sehingga kemanusian menjadi tersingkirkan. Kepentingan pribadi, keluarga, kelompok lebih utama dibandingkan kepentingan bersama. Pamrih, do ut des, memberi biar diberi, tidak ada makan siang yang gratis menjadi iman bagi kebanyakan masyarakat saat ini.
Ketika berkaitan dengan keakuan akan diperjuangkan sampai darah penghabisan. Bagaimana pola pikir, kebiasaan, dan paradigma itu sudah saatnya diubah dan digantikan. Apa yang akan aku terima kalau aku berlaku pada posisi sebaliknya? Hak selalu berkaitan dengan kewajiban. Apa yang terjadi saat ini, adalah hak terlebih dahulu, sedang kewajiban sering diabaikan.


Rabu, 19 Maret 2014

Sekolah atau Kenduri

Apa namanya, saya sungguh bingung mau memberikan nama akan peristiwa hari ini. Pagi-pagi salah satu sahabat yang baru setahun  menjadi guru, share, dan cenderung curhat, mengeluh, saat dia salah membuat kunci jawaban untuk ujian, ketika mengatakan hendak memperbaiki kekeliruan tersebut mendapat jawaban tidak perlu, yang penting nilai delapan keatas.
Permainan nilai dengan tujuan adalah kelulusan. Pendidikan negara ini masih berorientasi kepada kelulusan semata, dan belum menjadi bekal hidup. Anak yang tekun, rajin, belajar dengan serius tidak akan berbeda dengan siswa, yang hanya menyelipkan buku terlipat di saku celana, merokok, tidur di kelas, dan bahkan yang tidak pernah masuk sekalipun.
Saya ingat, waktu kelas dua SMP sekian dasa warsa lalu, salah satu guru menjelaskan beda kenduri dan sekolah. Beliau waktu itu mengatakan, “Kalau kamu itu kenduri, mau main kartu, minum-minum, tidur, ngobrol, atau merokok, hasilnya sama, satu besek (waktu itu) atau kota nasi dengan lauk pauk, makanan yang berisi sama persis. Bahkan yang tidak berangkat pun kadang masih diantar ke rumah dengan rupa yang persis sama”. Namun kata beliau selanjutnya,”Sekolah bukan kenduri, kalau kamu sekolah, tidak serius, tidak belajar, tidak berusaha, apa yang kamu dapatkan akan berbeda. Perolehan orang yang belajar tergantung dengan usaha, keseriusan, dan kerja keras masing-masing orang atau individu itu.”
Apa yang terjadi sekarang? Nilai ambang bawah adalah misalnya delapan, kita ambil contoh adalah ini, anak yang mendapat nol, satu, dua dan seterusnya akan mendapatkan nilai minimal delapan, berarti ada penambahan nilai, delapan, tujuh, enam dan seterusnya. Kita telaah lagi, kalau siswa mendapat nilai delapan, masih ada kemungkinan dinaikan jadi sembilan, atau sembilan koma lima, kalau mendapat sembilan koma sekian, mau diberi nilai berapa? Sepuluh, sebelas, atau berapa?

Sekolah sekarang sudah bergeser sama dengan kenduri, kata almarhum bapak guru yang membedakan kenduri dan sekolah itu masih lekat di dalam benak saya, ternyata sudah hilang dari dunia pendidikan yang sangat fundamental ini. 

Selasa, 18 Maret 2014

Betapa Kayanya Negeriku

Berita-berita media massa hari-hari ini sungguh menggembirakan hati. Makin banyak orang makmur dan kaya. Mulai dari kegiatan kampanye yang menggunakan helikopter pribadi, hari ini di Jawa, esok di Sumatera, lusa di Sulawesi dengan fasilitas tentunya kelas atas, ada PNS yang memberikan souvenir pernikahan berupa i.phone. Belum lagi para caleg yang menyediakan uang Rp.100.000.000 ,00 untuk calon legeslatif tingkat dua, tentu makin membesar untuk tingkat selanjutnya, apalagi tingkat pusat, tentu nol sembilan dan lebih untuk wakil rakyat di tingkat pusat. Pengusaha lain ketika tersangkut kasus korupsi ketahuan memiliki lebih dari lima puluh mobil dengan banyak yang memiliki kualifikasi mewah.
Namun, media yang sama juga menyajikan kontradiksi yang amat memilukan. Ibu di Ibukota negara Indonesia, yang memiliki orang kaya raya seperti di atas, dengan sembilan anak, makan dari mengais sisa makan karyawan pabrik, di suatu kawasan industri. Bisa dibayangkan nasib dan kesehatan kesembilan anak, dan ibu anak ini seperti apa. Media yang lain, menyuguhkan anak yang dieksplotasi oleh bapak kandung dan ibu tiri untuk menjadi pengamen dengan penghasilan harus mencapai Rp.40.000,00, anak usia 3.5 tahun. Satu lagi generasi muda kehilangan masa emasnya.
Negara membeayai pemekaran pasukan pengamanan presiden guna mengamankan para presiden dan wakil presiden yang sudah tidak lagi berkuasa, dengan mahal. Harga kebakaran hutan yang harus dibayarkan untuk memadamkan juga tidak murah. Hanya untuk golongan tertentu dan sangat sempit sekian besar uang dengan mudah dianggarkan.
Ironisnya, masih melimpah ruah juga orang yang tidak beruntung, masih di bawah garis kesejahteraan, untuk sesuap nasipun masih harus menunggu bekas atau buangan orang lain.

Mari kita renungkan, kekayaan negara ini sudah terdistribusi dengan baik atau masih perlu perjuangan dan kepedulian bersama.

Sabtu, 15 Maret 2014

Guru dan Pendidikan Nasional

Dunia pendidikan dan guru merupakan pilar bangsa. Tidak ada satupun manusia yang tidak mengalami pendidikan. Pendidik merupakan pekerjaan yang luhur mulia. Semua manusia memiliki peran sebagai pendidik bagi yang lain. Masyarakat yang semakin kompleks mempercayakan pendidikan generasi muda kepada guru sebagai pemegang peran membina generasi muda yang masih memerlukan banyak bekal sebelum memasuki masyarakat secara purna.
Sudah sewajarnya kalau pelaku pendidikan dalam hal ini adalah guru memperoleh penghargaan yang tinggi, karena perannya tersebut. Alangkah naifnya iklan salah satu partai besar yang sejak awal sudah mengikrarkan pemimpin umumnya menjadi calon presiden. Iklan tersebut menyebutkan “guru dan pedagang......”  kata sambung “dan” berarti ada hubungan yang setara atau sejajar. Apapun latar belakang pemikirannya, guru dan pedagang adalah sama. Bukan hendak meremehkan profesi pedagang, namun mengajak berpikir bagaimana guru dan pedagang dipersamakan.
Dunia pendidikan dan guru yang memegang peran penting dalam pembangunan,  di negara Indonesia masih  menjadi pelengkap dan belum dihargai sebagaimana mestinya. Di Sulawesi, salah satu sekolah menengah di sana disegel oleh kelompok yang mengaku sebagai pemilik tanah. Anak-anak sekolah dan guru tidak bisa mengadakan kegiatan belajar mengajar, lebih memprihatinkan lagi, para murid sedang mengadakan ujian tengah semester. Di mana keberadaan negara yang seharusnya memberikan jaminan keamanan kepada anak didik? Perasaan terintimidasi, tertekan tentu terjadi dalam diri anak, apalagi hari sebelumnya sempat dipaksa pulang oleh sekelompok orang yang mengusir murid dari sekolahnya sendiri.
Negara dan pejabat ada di mana ketika anak menuntut ilmu malah diusir, kemudian sekolahnya dipalang, dan hari berikutnya diberi barikade dengan batu. Negara sudah lalai dengan pendidikan. Persoalan tanah bukan pembenar untuk mengusir anak sekolah dari tempat dia belajar. Persoalan jual beli tidak ada sangkut pautnya dengan kegiatan belajar mengajar kecuali memang iklan salah satu partai politik itu benar adanya, bahwa guru dan pedagang....

Atau memang pejabat bangsa ini melihat dan memaknai sekolah sama dengan pasar, guru dengan pedagang?

Jumat, 14 Maret 2014

Cerita Rakyat Mendidik Anak

Cerita anak menemani tidur di Indonesia memberi gambaran umum bagaimana pendidikan karakter ditanamkan sejak kecil. Ceritera turun temurun, dari kakek-nenek moyang, orang tua, anak, cucu dan entah sampai kapan. Anak paling suka diberi cerita oleh orang tua, meskipun sekarang kelihatannya makin langka dan jarang yang melakukannya. Saat ini paling mudah membacakan buku cerita yang banyak beredar di toko-toko buku. Buku-buku yang diterbitkan kebanyakan adalah terjemahan.
Tulisan ini bukan hendak menghakimi cerita rakyat dengan membandingkan dengan cerita terjemahan. Sama sekali tidak masuk kepada tataran ini.  Dua cerita yang sebenarnya adalah identik, namun ada sedikit perbedaan namun besar sekali akibatnya bagi anak-anak yang merekam cerita melalui fantasi usia-usia tersebut.
Perlombaan binatang. Di dalam cerita rakyat Indonesia, adalah pelanduk atau kancil yang jawara dalam banyak hal. Suatu hari kancil menantang siput untuk  berlomba lari. Kancil merasa pasti akan menang, karena gerak siput atau keong sama sekali tidak sebanding dengan kelincahan dan kecepatannya berlari. Ternyata pencerita pada awal dulunya memiliki maksud bahwa kesombongan kancil harus dihentikan, dengan memilihi cara, bahwa, keong atau siput tersebut dengan cerdik menempatkan sekawanan rekannya di pos-pos tertentu. Setiap kancil memanggil siput mesti akan mendapat jawaban karena memang ada keong yang sedang nyanggong  di tempat itu. Kancil panik dan lari sekencang-kencangnya, dan di garis finispun tetap ada keong yang sudah melampaui garis finis.
Cerita terjemahan, menggunakan kelinci sebagai binatang yang lincah dan cepat dalam berlari. Hewan yang lamban dan tidak mungkin akan menang yaitu kura-kura. Semua pasti paham dan sepakat kalau kura-kura tidak akan menang melawan kelinci dalam hal kecepatan. Apa yang penceritakan gunakan untuk mengalahkan kelinci adalah kesombongan dan kepercayaan diri yang berlebihan yang ada pada kelinci itu sendiri. Kelinci, karena sudah merasa pasti menang, istirahat dan jatuh tertidur. Apa yang terjadi? Kura-kura menang karena kelinci terbangun ketika kura-kura sudah sampai garis akhir.
Kesombongan dikalahkan oleh rasa percaya dirinya sendiri yang berlebihan. Tindak hati-hati dan waspada menjadi berkurang, dan pihak yang sama sekali tidak memiliki peluang berkesempatan mengambil alih. Berbeda dengan kesombongan dikalahkan dengan kelicikan, tindak tidak adil, dan siasat penuh muslihat.

Bagaimana anak-anak mau dibangun? Penuh muslihat atau nilai-nilai keutamaan yang ditanamkan sejak dini?

Senin, 10 Maret 2014

Budaya Plastik Mental Daun

Suatu hari, ada seorang tokoh yang mengatakan bahwa bangsa kita sudah beralih kepada budaya plastik, namun masih berpegang erat pada budaya daun pisang. Hal ini benar-benar menggelitik, apa iya?
Ternyata memang benar dan ironis sekali. Bagaimana sekarang ini, hampir seluruhnya berbungkus plastik. Bungkus yang ribuan tahun baru akan terurai, karena bakteri pengurai alami tidak mampu mengubah partikel plasitik. Ini menjadi persoalan yang sangat besar sebenarnya.
Dahulu kala, saat semua bungkus dari daun pisang, semua praktis, setelah makan, untuk lap mulut dan tangan langsuang saja dibuang dari jendela atau pintu dapat dipastikan akan ada yang mendaur ulang. Kambing, sapi, babi, cacing akan beramai-ramai menyatap dan akan menguraikannya untuk kita dan alam. Alam dan manusia malah bersyukur dengan daur hidup alami yang saling menguntungkan ini.
Mentalitas yang sama masih digunakan untuk produk yang sangat berbeda dalam sifat dan karakternya tersebut. Memperlakukan limbah plastik sama persih dengan daun pisang, selesai dikonsumsi isinya, langsung saja buang, entah ke mana. Sampah plastik berserakan di mana-mana, tidak pandang tempat, waktu, dan suasana. Plastik merajai kehidupan manusia, karena relatif lebih murah, praktis, lebih indah, bersih, meski higienisnya masih perlu penelitian lebih mendalam. Segi praktis, estetis, dan praktis paling populer dikemukankan sebagai alasan mengapa memilih plastik. Persoalan adalah budaya post pemakaian, budaya membuang sampah yang belum berubah, sungai menjadi tempat sampah terpanjang, budaya bahwa orang lain akan menyelesaikan persoalan, sedang kita semaunya menciptakan masalah.
Apa yang dapat dilakukan? Minimal dari diri kita sendiri, buat sesedikit mungkin menggunakan plastik. Misalnya menggunakan tas untuk belanja, bukan harus selalu baru dari toko. Belanjaan yang masih dapat masuk ke kantong atau saku, tidak usah dibungkus plastik lagi oleh toko. Penggunaan produk daur ulang dan bisa dipakai berulang. Membuang sampah pada tempatnya, dan membiasakan diri dengan pola hidup sehat dan peduli lingkungan

Plastik sangat berbeda dengan daun pisang, maka bersikap sesuai dengan produknya. Produk alam tentu lain dengan hasil manusia.

Sabtu, 08 Maret 2014

Puasa

Rabu Abu, merupakan awal masa puasa bagi Gereja Katolik. Gereja menetapkan puasa adalah makan kenyang hanya satu kali dalam sehari. Banyak joke, atau becanda yang mengatakan makan kenyang sekali dalam arti makan kenyang banget. Makan kenyang hanya sekali dalam bahasa Jawa pas sekali dengan istilah  nyuda tadhah, mengurangi takaran, kalau selama ini kenyang adalah satu piring, berarti dalam masa puasa hanya makan setengah piring, yang satu piring penuh hanya satu kali. Ini adalah soal makan dan mengurangi makan, kemudian hari puasa wajib adalah Rabu Abu dan Jumat Agung, dua kali saja.
Semua agama memiliki tradisi puasa masing-masing, dan menurut model dan aturan yang tentunya berbeda-beda. Mari kita lihat ajaran Yesaya mengenai berpuasa:
1.       Melepaskan semua urusan dan mengarahkan hati dan budi kepada Tuhan
Manusia memiliki kecenderungan untuk menjalani rituali dengan a hingga z yang benar-benar tiada yang terlewatkan, namun masih memiliki pamrih dan motivasi. Dengan berpuasa dan lapar-haus, Tuhan mesti akan menambahkan hasil kerjaku berlipat-lipat. Mengikuti ritual dan liturgi namun masih ber-BBM-an, SMS-an, FB-an.
2.       Berlaku adil dan toleran
Berpuasa, merupakan saat untuk tahu penderitaan sesama, oleh karena itu lucu dan naif kiranya dengan berpuasa, masih juga memaksa-maksa orang lain untuk berlaku seperti yang mereka pikirkan.
3.       Membina sikap damai dan penuh persaudaraan
Damai dan persaudaraan makin menipis, dalam masa puasa bagaimana suasana dan perasaan damai itu tercipta dan makin nyata, bukan malah mengumpat ketika ada kendaraan menyerobot jalannya.
4.       Bukan semata ritual-ritual jasmaniah, dengan muka, tanda-tanda yang dapat dilihat orang.
Lapar memang mudah menyulut emosi, wajah sulit ceria dan cerah, atau adanya abu di dahi itukah yang Tuhan kehendaki dari puasa manusiawi? Itu semua mudah dan ringan, Tuhan menghendaki hati yang berubah dan berkembang menuju kebaikan.
5.       Mengatasi penindasan
Tindak nyata dalam melawan tindakan dunia yang menyesatkan. Bukan hanya ritual keagamaan yang dimaksudkan, namun aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Banyak keprihatianan dalam hal kesewenang-wenangan menuntut keberanian bertindak secara nyata dan konkret.
6.       Mewartakan kebenaran dan keadilan
Kebenaran dan keadilan bukan semata uang dan kekuasaan seperti saat ini, masa puasa mengajak umat beriman untuk membela kebenaran dan keadilan yang sudah terporakporandakan karena kemauan manusia pada kekuasaan dan materi. Berani membela hal itu melebihi apapun.
7.       Mau berbagi baik makanan, pakaian, tempat tinggal, dan banyak lagi
Dewasa ini, materi dan kekuasaan sudah menjadi sesembahan mayoritas manusia. Bagaimana sedang berpuasa, namun membuang makanan karena tidak suka, membakar pakaian hanya karena sudah ketinggalan mode, berpikir proyek mana lagi yang bisa menghasilkan uang.
Perbagi dalam penderitaan dan kesusahan, dalam bahasa Jawa tijitibeh, tiba siji tiba kabeh,  ini yang sedang menggejala, puasa bukan demikian. Berbagi terhadap yang membutuhkan, banyak orang butuh makanan, perhatian, tempat tinggal, dukungan, dan sebagainya.
8.       Menjauhkan fitnah dan dengki
Kekuasaan dan materi kadang membuat manusia gelap mata, sehingga ketika ada kesuksesan pihak lain, akan membuat orang frustasi. Frustasi akan menimbulkan dengki, dan berujung pada fitnah.


Mari kita renungkan bersama, apakah puasaku selama ini semata hanya sampai tataran menahan haus dan lapar, ataukah sudah mampu untuk mengoyakkan hati dan bukan semata bajuku?

Ujian Akhir Nasional Menjelang

Ujian Akhir Nasional menjelang, proses belajar sekian lama berada pada puncaknya. Belajar merupakan suatu proses panjang. Sekolah dasar di Indonesia berarti enam tahun, sekolah lanjutan tiga tahun kali dua. Proses, berarti berjalan, suatu rangkaian tindakan. Sekolah atau belajar, ujian merupakan bagian yang sangat kecil. Dapat dibayangkan perjalanan enam tahun, dan tiga tahun dibandingkan tiga empat hari yang begitu “menakutkan”.
Mengapa ujian begitu menakutkan?
Banyaknya kepentingan yang sama sekali lepas dari budaya dan dunia pendidikan, mari kita simak kepentingan-kepentingan yang memboceng seperti NICA mendompleng tentara Sekutu:
1.       Politik
Fenomena politik menjadi raja di raja pada pemerintahan saat ini tidak dapat disangsikan lagi. Para raja-raja kecil, yang sama sekali tidak tahu menahu mengenai pendidikan mengintervensi dunia pendidikan. Banyaknya iming-iming untuk gubernur dan bupati berkaitan dengan kelulusan siswa sekolah, membuat mereka gelap mata. Menekan kepala-kepala sekolah untuk meluluskan siswanya sebanyak mungkin.
2.       Kebanggaan semu
Kelulusan 100% merupakan jargon dalam promosi sekolah, dan orang tua belum banyak yang kritis melihat spanduk dan iklan-iklan yang ditawarkan sekolah untuk menarik siswa baru. Hampir semua sekolah baik yang favorit ataupun sama sekali tidak terdengar bahkan tempatnyapun, sekarang selalu mengatakan lulus 100%.
3.       Taruhan jabatan
Promosi dan degradasi jabatan terutama kepala sekolah, kepala dinas, kepala wilayah pendidikan berkaitan dengan angka kelulusan. Apa artinya? Kalau sekolahnya, atau wilayahnya banyak yang tidak lulus, maka dapat dipastikan jabatannya akan melayang.
4.       Prestasi palsu
Angka minimal kelulusan dari tahun ke tahun selalu naik. Apakah hal itu benar-benar menunjukkan kualitas lulusan siswa sekolah. Sama sekali tidak. Logis sekali sebenarnya kalau nilai minimal kelulusan ditambah, akan ada anak yang tidak mampu mencapai nilai minimal tersebut. Fakta yang terjadi 100% lulus, masih sama saja. Memang ini bukan riset yang valid, namun kemampuan anak sama sekali tidak ada perubahan, kalau mau jujur, dengan satu, dua dekade lalu, kemampuan siswa-siswi sekarang jauh sekali (berkaitan dengan kemampuan dalam pendidikan, bukan kemajuan teknologi informasi).
5.       Pemahaman bahwa pendidikan bergantung pada ujian
Ujian merupakan puncak proses pendidikan semua tentu sepakat. Harusnya sepakat pula bahwa ujian hanya satu bagian kecil dari proses panjang pendidikan. Sekolah atau belajar untuk hidup bukan untuk nilai yang diperoleh dalam ujian semata. Sayang sekali proses panjang itu akan digagalkan atau disukseskan hanya sekejap.

Banyaknya kepentingan tersebut, menjadikan siswa sebagai kurban. Tekanan-tekanan dari atas ke bawah, siswa yang paling bawah tentu tergencet dan tidak bisa apa-apa. Guru yang tahu persis kondisi psikologis siswa tidak bisa berbuat banyak. Bahasa kekuasaan sudah menindas anak-anak negerinya sendiri.
Apa yang dilakukan kadang sangat irrasional.  Fenomena aneh yang sama sekali lepas dari proses belajar mengajar. Mendatangkan tokoh-tokoh agama, ahli hypnoteraphy, meminta doa restu kepada guru-guru di jenjang sebelumnya, berdoa sambil menangis meraung-raung. Itu semua benar tidak ada yang salah. Sama sekali tidak salah, namun tidak tepat. Berdoa sudah seharusnya berjalan seiring dengan  proses kegiatan berlajar, sepanjang hidup doa seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Guru level sebelumnya, pasti akan mendoakan, itu tidak pernah tidak dilakukan seorang guru bagi anak didiknya. Hypnoteraphy  yang dijadikan alasan adalah untuk meningkatkan daya ingat siswa. Mengapa bukan saat MOS sehingga daya serap anak tinggi sejak awal, yang akan menghasilkan siswa benar-benar cerdas, bukan nilai tinggi UAN semata. Ketegangan yang normal mengapa harus ditambah dengan kegiatan-kegiatan yang tidak semestinya, justru menambah beban siswa, bahkan ada yang menangis meraung-raung hingga pingsan.
Lebih memedihkan kalau guru bahkan kepala sekolah mengoordinasikan soal bocoran. Kejujuran macam apa yang diajarkan dunia pendidikan kalau demikian. Siswa diajari kecurangan, bahkan oleh kepala sekolah dan gurunya sendiri. Moral yang ditanamkan sepanjang proses pendidikan dihancurleburkan sesaat dan itu benar-benar efektif.

Mengapa semua itu dilakukan?
Proses yang seharusnya dijalankan selama kegiatan belajar mengajar tidak dapat terlaksana sebagaimana mestinya. Kelulusan menjadi tolok ukur kualitas dan prestasi sekolah. Sepanjang proses kegiatan belajar mengajar buruk sekalipun, kemudian membeli soal dan dibocorkan kepada siswa, dapat dipastikan nilai murid menjadi tinggi, dan kelulusan 100%. Budaya instan memasuki dunia pendidikan.

Apakah akan demikian terus dunia pendidikan kita? Jangan lupa pendidikan merupakan dasar dan fondasi bangsa. Kalau dasarnya penuh lobang dan keropos, apa yang akan terjadi di atasnya tentunya dapat diperkirakan.



Polisi Di Balik Terali Besi Pos Polisi




Saat masuk kota Palembang, saya heran dengan rumah yang diperlengkapi teralis demikian tinggi, dan rapat. Mengapa demikian? Suatu hari penjelasan itu saya dapat dari perbincangan oleh orang yang jauh lebih dahulu hidup di sana. Teralis dibuat untuk melindungi rumah dan penghuninya, karena saking rawan dan tidak amannya kota Palembang waktu itu, sekitar tahun delapanpuluhan hingga akhir sembilanpuluhan. Keanehan itu menjadi wajar ketika mengetahui alasannya ialah melindungi diri dari ketidakamanan.
Teralis digunakan pula di penjara-penjara. Manusia yang melanggar hukum dipisahkan dari dunianya dan diambil kebebasannya, dengan dimasukkan di balik jeruji besi. Kalau demikian tidak mungkin pos polisi yang diperlengkapi teralis itu untuk merampas kebebasannya karena melanggar hukum.
Hari-hari ini, pos polisi diperlengkapi dengan teralis. Kalau analisis alasannya adalah sama dengan rumah-rumah di kota Palembang, karena tidak aman, berarti pos polisi sangat tidak aman. Polisi yang di dalamnya merasa terancam dan perlu diperlengkapi dengan keamanan tambahan, yaitu teralis.
Tugas polisi salah satunya adalah pengayom. Pengayom berarti orang yang mengayomi, melindungi. Lha bagaimana kalau dirinya sendiri saja “ketakutan” mau melindungi yang lain. Apalagi beberapa waktu yang lalu, ada anjuran polisi menemani polisi. Ini perintah atau anjuran yang sangat aneh, kalau tidak boleh dikatakan naif. Bagaimana pengayomnya adalah orang-orang yang sedang ketakutan, minimal secara psikologis.  

Bagaimana yang mau dilindungi? Merasa aman? Atau justru jauh lebih takut dan merasa tidak aman? 

Sabtu, 01 Maret 2014

Gorengan versus BB

Gorengan  versus BB

Suatu siang yang panas, keluar dari kelas ada siswa yang mengatakan dengan bangga, bahwa dia anak Tuhan karena berani mengembalikan BB yang dia ketemukan. Siswa ini menyatakan bahwa bapaknya juga sering melakukan hal yang sama. Pengalaman yang luar biasa di zaman ini, bagi ABG seusia itu, tentunya dia juga pengin memilikinya. Saya tanya, dia mendapat apa? Dia mengakatakan tidak diberi apa-apa, malah kepanasan, menelpon orang yang punya menunggu lama pula.
Cerita ini hanya diceritakan kepada saya, dan selesai. Mengagetkan suatu hari anak yang sama ini, ketahuan mengambil jajanan seharga Rp.2000,00 dan ketahuan. Semua guru tahu cerita ini. Saya mendengar belakangan, dan saat mendengar tersebut saya katakan perihal dia mengembalikan BB tersebut. Kedua peristiwa tersebut saya jadikan pengantar dalam pelajaran di semua kelas yang saya ajar. Pas masuk kelas siswa tersebut, dia tahu dan menolak. Saya katakan bahwa bukan persoalan dia malu, namun bahwa perbuatan yang tidak banyak diketahui orang lebih bernilai, apalagi gorengan tersebut toh dibayar saat itu juga, saat ketahuan.

Peristiwa buruk dengan cepat menyebar dan langsung lahir hakim-hakim yang hebat-hebat, namun untuk kebaikan, saat ini masih memprihatinkan. Kebaikan kurang diwartakan dengan besar-besaran, berbanding dengan keburukan yang malah mendapat porsi besar di benak kita bersama.