Koor dan fungsinya, beberapa waktu terakhir, sering
mendapatkan pesan, melalui media sosial, baik secara pribadi ataupun grup
mengenai kejengkelan beberapa pihak atas perilaku umat dan koor. Secara langsung
pun pernah ada umat yang “menggerutu” karena koor yang dinilai seolah “jualan”
agar nanti laku disewa untuk pernikahan biasanya.
Apreasiasi tinggi dengan maraknya koor, paduan suara,
berbagai kelompok mulai berkembang bukan hanya lingkugan atau wilayah. Berbagai
kelompok ada yang mulai ambil peran dalam tugas liturgi. Baik berupa kelompok
lingkungan, vokla grup, ataupun kelompok kategorial gerejani, dan sebagainya.
Salah satu santo menyatakan kalau menyanyi merupakan dua
kali doa, artinya bahwa dengan nyanyian, menjadi semarak dan megah perayaan
liturgi Gerejani. Tidak ada yang salah dengan koor dan lagu-lagunya. Namun mengapa
Rm. Magnis Suseno sampai membuat artikel di majalah Hidup, atau video Rm.
Tedjasuksmana yang “menghentikan” misa demi menegur umat?
Beberapa hal yang sering menjadi abai adalah, koor
seolah-olah adalah pusat di dalam liturgi, sehingga imam harus menunggu mereka “konser”.
Kemeriahan dan kemegahan misa tidak salah dengan adanya koor dan nyanyian yang
indah dan merdu, namun, tugas koor adalah mengiringi misa. Ingat mengiringi, pusat dan tokoh utama
adalah Yesus yang hadir dalam alter
Christi dalam diri imam. Imam sebagai pelayan utama misa yang paling utama
semua adalah membantu.
Ada waktu-waktu hening,
sehingga bukan malah menjadi waktunya tampil dengan gegap gempita, mereka para
kelompok koor biasanya mengambil masa sesudah komuni. Jelas bukan tempatnya,
memang sangat strategis, namun bukan itu tujuan adanya kelompok koor. Saat hening,
meresapkan kehadiran Tuhan, iringan musik instrumentalia sangat teduh dan sahdu
justru lebih bermanfaat dan berfaedah.
Kecenderungan mendengarkan keindahan adalah memberikan apresiasi dengan tepuk tangan. Kembali hal
yang perlu disadari bahwa apreasiasi penting namun jangan melupakan kehadiran
Tuhan dalam tabernakel aplagi jika sudah sambut komuni. Kesempatan untuk “bersama”
Tuhan secara intim dana private, jangan malah “dikacaukan” dengan hal-hal yang artifisial
seperti menikmati lagu dan memberikan apresiasi yang merusak suasana misa dan
keheningan di dalam perayaan Ekaristi.
Salah satu tujuan koor adalah menyemangati umat bersama-sama di dalam perayaan Ekaristi, melalui
nyanyian, menyemangati bukan mengambil alih, dengan demikian pemilihan lagi
menjadi penting. Buku panduan baik Puji Sykur atau Madah Bhakti lebih dari
cukup, bukan berarti antilagu lain, bukan namun bahwa umat kenal dan bisa ikut bernyanyi.
Umat bukan penonton, dalam perayaan
Ekaristi.
Mengiringi,
artinya adalah menyertai atau mengikuti, adanya kebersamaan, bukan yang dominan
dan mengambil alih, suara organ seyogyanya adalah lirih, bukan menderu seperti
jika konser dan memenuhi seluruh gedung gereja. musik liturgi bukan demikian. Kembali
ini saatnya untuk bersama-sama. Adanya kebersamaan bukan tampil solo atau
menampilkan diri sendiri lepas dari keseluruhan pentas yang namanya perayaan Ekaristi.
Artikel ini bukan kritik atau menghujat keberadaan koor
namun bagaimana bertugas dengan semestinya. Semua ada peran masing-masing, dan
Misa itu gawe bersama bukan hanya koor atau imam, atau umat sendirian. Semua menjadi
satu di dalam Ekaristi. Dalam Dokumen Konsili Vatikan II dinyatakan umat,
seluruh yang hadir itu diharapkan untuk secara sadar dan aktif, ada keterlibatan dengan penuh serta tidak ada yang
hanya diam dan bahkan mengantuk.
Patut beryukur bahwa Gereja itu tidak penuh dengan larangan
apalagi ancaman dosa dan neraka, namun bukan berarti bisa seenak-enaknya
sendiri. Ada komitmen bersama, ada waktu dan kesempatan yang bisa menjadi ajang
pelayanan dan itu tidak boleh menjadi sarana untuk kepentingan diri dan
kelompok saja.
022018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar