Mendikbud merasa bahwa pendidikan merupakan dasar bagi kehidupan
berbangsa dan bernegara. Salah satu yang paling berperan ada di sekolah.
Sertifikat integritas kejujuran dicoba untuk memberikan penghargaan kepada
sekolah yang menerapkan kejujuran, salah satunya dalam UN. Apakah hanya UN saja
ketidakjujuran itu terjadi di sekolah?
Melihat salah satu sekolah, yang tidak memerlukan penghargaan dari negara
karena kejujurannya, sekolah ini memang menanamkan kejujuran sebagai pondasi
hidupnya. Bagaimana mau jadi pemuka kalau, kejujuran dan penghormatan diri
sangat lemah? Sekolah ini ada di Kabupaten Magelang bernama SMA Seminari
Menengah St. Petrus Kanisius Mertoyudan. Kemauan dan kehendak jauh lebih
penting daripada sebuah hadiah berubah sertifikat atau uang saja. Sekolah yang
sudah lebih dari 100 tahun ini tidak heran masih menjadi salah satu yang
terbaik.
Ujian tidak dijaga,
tidak akan nyontek, tekanan bukan pada nilai tapi kualitas. Setiap kali
ujian jarang dijaga baik oleh guru atau pamong. Mengapa
demikian? Karena memang tekanan pada aspek kejujuran dan keterusterangan, bukan
pada soal hasil akhir yang tinggi saja. Jumlah nilai itu penting namun bukan
yang utama. Proses mendapatkan nilai itu yang diupayakan dengan berbagai cara.
Saringan masuk, nilai
bukan mutlak, kemauan belajar jauh lebih penting. Syarat minimal nilai
masuk ada, dan tidak lah terlalu tinggi untuk diperbandingkan dengan hasil
akhirnya. Bisa dikatakan masuk enam, dan keluar lebih ari delapan itu hal yang
sangat normal. Ada yang di bawah nilai batas minimal kalau memang di dalam
seleksi bisa dilihat ada kemauan untuk berubah dan berkembang, bisa saja
diterima. Wawancara dengan empat atau
lima orang saat mau masuk tentu sangat membantu.
Kejujuran adalah
panglima, apalagi soal ujian. Ujian akhir atau ujian nasional hanya salah
satu penilaian, mengenai kejujuran tentu jauh lebih penting dan itu justru
menjadi panglima di dalam proses pendidikan. Proses panjang bukan hanya
sepenggal di ujung proses bernama UN saja. Relasional sehari-hari jauh lebih
penting, karena pendidikan berasrama, di mana jelas terlihat bukan hanya di
permukaan soal kepribadian, namun kenal luar dalam.
Kerjasama dipupuk
pada ranah yang semestinya, bukan saat ujian, dengan kerja rumah (kebidelan
dan kepengurusan OSIS, pengurus asrama/rumah, kepanitiaan-kepanintiaan). Semua
siswa memiliki tugas harian di asrama dan sekolah semua, jadi kerja sama ada di
sini bukan pas ujian malah. Kerjasama yang bermanfaat bukan salah kaprah
seperti selama ini.
Keteladanan. Ini
sangat penting bagi anak sekolah usia ini, bagaimana yang mereka lihat,
saksikan, dan mendampingi itu sangat berperan dan krusial. Tidak heran oleh
petinggi Gereja sangat dipilih untuk bisa menjadi pamong sebagai pengasuh di
sana. Minimal jangan merusak jiwa anak-anak. Kecerdasan intelektual, kesalehan,
dan kepribadian sungguh layak. Guru awam juga banyak digunakan untuk memberikan
gambaran utuh sebagai bagian dunia. Mereka ini yang biasanya “memanjakan”
karena merasa kasihan dan memberikan kelonggaran karena kasih mereka, kadang
tidak tega, kalau ada siswa yang tidur di kelas misalnya.
Kedisiplinan, bangun,
mandi, ibadah, sekolah, kerja rumah, saat belajar, makan, tidur, sekolah,
diskusi, membaca, latihan berbicara di depan umum, kembali tidur, semua diatur
dengan detail. Ini juga untuk melatih diri dalam mengelola waktu untuk
kebersamaan dan pribadi. Awal-awal sangat susah, namun setelah itu, semua
lancar. Kebiasaan baik yang perlu dengan pembiasaan tentunya.
Curang sama juga
keluar dan malu, apalagi kalau urusannya nyontek, konsekuensi yang sangat
besar adalah nyontek, apalagi sampai maling, jangan harap hukumannya adalah
keluar dan artinya pupus sudah harapan merenda masa depan. Sangat jarang
terdengar ada kasus menyontek karena memang menghargai proses bukan hasil.
Kekurangan dalam beberapa hal akan dibantu untuk diselesaikan dengan penuh
kesadaran. Anak diajak untuk menemukan kelebihan dan kekurangannya untuk
kemudian diselesaikan kekurangannya dan dikembangkan kelebihannya. Pribadi yang sudah tahu kelebihan dan
kekurangannya tentu tidak akan perlu lagi menyontek dan tidak jujur waktu
ujian.
Kenakalan itu wajar dan terkendali, pengasuhnya sangat paham
dinamika karena pernah merasakan yang sama. Melanggar aturan malah sebentuk
kebanggaan itu biasa, masih bisa dimengerti sebagai bagian dari eksplorasi usia
anak-anak. Menyimpan makanan di dormit (kamar tidur), padahal larangan keras,
itu hanya bagian dinamika remaja. Soal ujian bukan lagi main-main itu
pelanggaran serius dan jangan harap pernah ketemu di sana.
Apakah sertifikat itu cukup mewakili kualitas kejujuran?
Tentu sebagai sarana bisa diapresiasi, soal cukup dan tidak perlu lagi
evaluasi. Kehendak tentu jauh lebih penting.
Salam.