Kamis, 31 Desember 2015

Kesederhanaan Seorang Pemimpin


Pimpinan Gereja Katolik Paus Fransiskus memberikan beberapa sikap kepemimpinan yang layak untuk menjadi bahan permenungan bersama. Hal ini bukan soal agama atau siapanya, namun sikapnya yang benar-benar mencerminkan sosok pemimpin yang makin jarang kita temui.
·         Berani hidup berani mati:
Beberapa intelijen negara memberikan informasi bahwa Daesh/ISIS akan membunuhnya. Orang lain atau presiden lain akan bersikap dan memutuskan untuk menambah pasukan pengamanannya, namun apa yang ia lakukan? Ia hanya mengatakan hidup itu milik Tuhan dan saya siap dibunuh dan tidak apa-apa, hanya berdoa kalau dibunuh jangan sakit-sakit. Apa yang ia ungkapkan adalah kesederhanaannya dalam melihat hidup dan Pemilik Hidup. Daesh bukan ancaman baginya sepanjang Tuhan belum menghendaki.
·         Rendah hati
Mau tahu dan empati. Ia tunjukkan saat melihat pengawalnya masih muda berdiri di depan kamarnya. Suatu hari ia berjalan keluar dan baru tahu pengawalnya harus berdiri sekian jam untuk keselamatannya. Ia meminta prajurit itu untuk duduk, dan sama sekali tidak bisa karena birokrasinya demikian. ia berjalan dan memberikan capucino untuk pemuda itu. Birokrasi sangat jauh dari pemikirannya yang sederhana dan apa  adanya.
·         Sabar dan menerima dengan apa adanya
Ia menelpon agen surat khabar yang ada di Argentina. Sampai tiga kali mengulangi panggilannya yang selalu ditutup dan tidak percaya kalau benar ia sebagai paus menelpon dan menyatakan berhenti berlangganan koran karena pindah karya. Bisa saja ia meminta staf untuk melakukan hal yang sangat sederhana itu, namun ia lakukan sendiri karena memang sikap personalnya yang ia pegang teguh. Ucapan terima kasih atas pelayanan langganan selama ini dan maaf karena harus menghentikan kerjasama di antara mereka.
·         Merasa biasa saja
Vatikan negara di dalam kota Roma itu pernah heboh karena keputusan Paus Fransiskus yang memilih bersama sopirnya saja untuk membeli pizza. Sederhana sekali dalam benaknya, hanya beli pizza mosok harus dengan protokoler dan harus membuat lalu lintas harus menyingkir demi dia. Apa yang terjadi? Jalanan macet dan geger karena semua orang ingin berjumpa dengannya. Ingin bebas malah membuat kegaduhan luar biasa. Ia meminta maaf kepada pembesar Kota Roma karena telah merepotkan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Dan itu ditaatinya. Ia tidak merasa hebat dan tidak memikirkan akibatnya bisa demikian hebat.
·         Bersahaja
Saat masih menjadi Uskup di Buenos Aries, Argentina, ia ke mana-mana naik bus umum, masak sendiri di keuskupan yang tidak mewah, dan bukan tinggal di gedung mewah yang disediakan. Bersahajanya juga ditunjukkan saat ada pemilik kedai yang menjadi kesenangannya mendengar paus ingin makan pizzanya namun terjebak macet menghentikan iringiringan protokoler paus dan memberikan pizza, apa yang terjadi, ia hentikan rombongan dan dia terima dengan tangannya sendiri pizza itu dan akan dimakan pada waktunya. Padahal tentu sangat berbahaya di jalan menerima “hadiah” seperti itu. Namun ia tidak memikirkannya. Seorang petugas catatan sipil di USA yang menolak menandatangani surat pernikahan sejenis, ia undang ke kedutaan Vatikan di Washington, dan ia memeluknya. Merasa kaget dan terharu bahwa paus tahu peristiwa itu dan ia diundang, meskipun ia bukan umat Katolik.


Kita tentu patut berbangga memiliki pemimpin sesederhana itu. Teladan dan pemberian diri yang sungguh berarti bagi Gereja semesta.

Jumat, 27 November 2015

Guru Tidak akan Tergantikan oleh Google


“Ibu, apa arti pencemaran lingkungan itu?” tanya seorang anak kelas dua sekolah dasar pada ibunya.
“Contohnya membuang sampah sembarangan, eh bukan, itu limpah pabrik,” kata ibu muda itu. Ibu ini lulusan perguruan tinggi, masih muda, dan tentu melek media.


Percakapan itu merupakan percakapa banyak anak dan orang tua yang bisa terjadi seperti di atas. Sama sekali tidak salah mengenai pencemaran lingkungan tersebut. Sederhana dan benar bagi anak usia anak kelas dua, namun malah diubah sesuai pola ibu, dan itu justru membuat anak bingung, pabrik itu apa, limbah itu apa, dan pencemaran makin luas jadinya bagi anak seusia itu. Guru akan menjawab yang pertama, membuang sampah sembarangan yang membuat lalat datang dan membawa penyakit.
Sering orang mengatakan, ah gampang jadi guru itu, asal mau. Sama sekali tidak sesederhana itu. Relatif mudah bagi dosen dan guru tingkat lanjut, terutama menengah atas. Guru sekolah dasar sama sekali tidak mudah, bahkan sulit dengan berbagai penilaiannya.
Anak-anak sekolah sekarang sering mengatakan gampang, tanya saja Mbah Google. Di sana ada semua. Dan itu benar, tidak ada yang tidak ada kog. Mulai yang ilmiah ada pula yang hanya iseng dan becanda. Dari yang dibuat oleh kaliber profesor hingga anak yang sedang latihan nulis.

Definisi itu contoh
Berangkat dari penjelasan ibu ke anak tersebut, ternyata tidak mudah menerangkan sesuai dengan kepentingan. Mungkin banyak orang untuk memberikan keterangan dan definisi, pengetahuan, ilmu pengetahuan apapun itu, namun tidak banyak yang bisa mengajar dan memberikan penjelasan dan menerangkan dengan panjang lebar dan bisa dimengerti bukan asal bisa apalagi dengan konsep oleh si penerang. Mampu memberikan contoh sesuai dengan konteks dan keperluan itu tidak gampang.

Mengajar itu untuk orang lain, bukan diri sendiri
Orang pandai itu banyak dan tidak kurang, namun orang yang bisa memberikan sepenuhnya kepada pihak lain itu tertentu. Guru adalah profesi yang memberikan diri pada muridnya. Itu keseluruhan, dan itu tidak mudah. Berbagi ilmu itu bukan hanya otak, namun hati dan itu perlu kecerdasan tertentu.

Ilmu itu perlu kedalaman.
Media, termasuk di dalamnya media digital melimpah informasi. Namun kedalaman hanya ada dari pengajaran. Kemampuan memilah dan memilih itu ada dari pendidikan dan pengajaran. Pinter tanpa pendidikan hanya pengajaran murid tidak akan tumbuh berkembang sesuai dengan jati dirinya. Pinter bukan hanya otak namun hati termasuk di dalamnya. Belajar bukan untuk nilai (A, B, atau 80, 90), namun untuk hidup. Bagaimana hidup lebih baik dan mampu memilih dan memilah yang tidak ada di luar pendidikan oleh seorang guru. Guru memberikan panduan moral, etis, kedalaman, dan skil yang ada di dalam kebersamaan.


Guru vs Google.
Google bersifat komplementer, melengkapi pengajaran yang ada di sekolah dari guru, sama sekali tidak bisa mengambil alih tugas seorang guru. Guru ada di garda terdepan di dalam pendampingan dan pendidikan peserta didik. Google sebagai referensi sangat kaya namun tidak mungkin memberikan penilaian etis, kedalaman, dan pendidikan secara berjenjang dan kontekstual sebagaimana guru berikan.

Hakikat manusia itu bertumbuh dan berkembang bersama yang lain demikian juga dalam pendidikan. Pendidikan tidak bisa lepas dari peran orang lain dan salah satunya adalah guru.

Keberadaanmu tidak akan tergantikan
Dirgahayu Guru!





Tuhan itu Selalu Hadir


Malam ini, kami, saya dan kakak datang ke kenduri atau selamatan empat puluh (40) hari paman yang meninggal. Sepulang dari sana, perjalanan sekitar 25 km. Sambil menikmati sore kami menyusuri jalan Magelan Semarang, ruas Ambarawa. Menjelang masuk kota Ambarawa, ada kejadian yang menjengkelkan, namun memberikan arti yang mendalam karena masih banyak orang baik di sekitar kita.
Jalanan sempit dan berkelok, kendaraan memang kadang ramai dan ada pula sepi. Pas menjelang dua kilo meter dati kota Ambarawa dari arah Magelang, kami diklakon dan dipepet bis. Jalan sempit dan berkelok, namun sangat sepi, bis itu memaksa kakak mau tidak mau turun ke bahu jalan. Bahu jalan makadam itu cukup dalam dan ada bekas ban dari kendaraan berat yang cukup dalam. dengan terpaksa roda masuk di lobang itu dan di depan ada batako, mau tidak mau kami jatuh. Bawaan kami, sepulang dari kenduri jatuh dan pecah. Hal ini tidak masalah, namanya celaka.
Ada dua anak muda yang memarkir motornya sekitar sepuluh meter di depan dan menghampiri kami. Menanyakan bagaimana keadaan kami dan motor kakak. Memang tidak parah-parah amat selain luka lecet dan berantakannya tas dan kardus yang kami bawa, sedikit asesoris motor yang bengkok. Kepeduliaan itu ternyata masih ada. Datang dan menyapa untuk menanyakan keadaan dan bis itu, kalau tidak salah bis antara kota antra provinsi. Anak-anak muda baik hati ini mengatakan bahwa memang bus tersebut sejak awal, sejak mereka tahu sepanjang jalan ugal-ugalan.
Sopir bus ini, saya tidak habis pikir mengapa harus memepet yang membuat kami terjatuh sedangkan jalanan sepi dan kami berjalan di pinggir dengan kecepatan tidak lebih dari 50 km/jam. Sama sekali tidak ada alasan, dia bisa ke tengah dan depan pun lengang. Tidak mendahului juga tidak masalah karena memang jalan sama sekali tidak membuat dia terhambat sama sekali.
Ada orang yang mau menang sendiri, dengan model sopir bis yang demikian, tidak peduli ada orang celaka. Memaksakan kehendak sedangkan jalur lain sangat kosong. Bagaimana kalau sopir atau keluarganya yang mengalaminya? Sopir itu bertanggung jawab dengan membawa penumpang dan sikap yang demikian apakah tidak akan merugikan banyak pihak dengan sikap demikian itu? Tuhan membimbing langkah Anda dan di kemudian hari tanpa perlu mencelakakan orang Anda tersadar.
Namun jauh lebih menyenangkan dan membahagiakan adanya dua anak muda, yang berhenti dan datang, menyapa, dan memberikan perhatian. Di tengah dunia yang selalu cuek, menang sendiri, serta apatis, masih ada sosok muda yang demikian. berkat Tuhan untuk kalian, Anak Muda. Sekali lagi terima kasih.


Jumat, 09 Oktober 2015

Mem-bully Tuhan


Judul itu ngawur atau salah? Tidak saya sadar menyematkan judul itu. Bagaimana hari-hari ini, ketika puncak musim kemarau terjadi, semua teriak minta air dan mengehentikan asap yang telah menyebabkan derita. Sebentar lagi akan terjadi hal yang sama, menghentikan hujan agar tidak banjir.
Mengapa membully Tuhan?
Nada yang terucap itu menyalahkan Tuhan, Tuhan harus turun tangan, hanya Tuhan yang mampu, dan seolah Tuhan yang membuat ini semua. Saya yakin tidak lama lagi hal ini terulang dengan namun intensi yang bertolak belakang. Ketika kering dan panas meminta hujan, namun saat hujan khawatir banjir, dan memohon hujan berhenti.
Tuhan telah memberikan yang terbaik, tidak ada yang buruk dari Tuhan. Manusia saja yang karena kesombongan dan kesembronoannya ikut masuk dalam intervensi hukum alam. Mengapa kekeringan berkepanjangan? Pertama, pohon besar tidak ada lagi, sudah sangat sedikit di mana-mana sama saja. Bagaimana ada sumur dan sumber air yang cukup kalau penampungnya dibabat demi keegoisan manusia. Kedua, semua tanah disemen dan aspal, takut kotor dan becek, air tidak kembali ke tempat asalnya, namun lari ke sungai dan laut yang jauh di sana. Tidak  ada cukup asupan untuk sumber air. Ketiga, penyedotan air dalam, hal ini dampak lebih jauh lagi soal daya angkat tanah, tidak heran beberapa tempat telah ambles atau miring. Kontribusi untuk kekeringan, sumber air dangkal kering, karena eksplorasi berlebihan. Keempat, sawah dan lahan terbuka makin sempit untuk bangunan dan pabrik. Selain kebutuhan air meningkat, sumber air tidak cukup adanya suplai untuk menjadi sumber yang melimpah. Ini semua ulah manusia lho, jangan kemudian berbuat seolah-olah Tuhan menghendaki ini terjadi, belum lagi anak-anak kecil diajari untuk berdoa kepada Tuhan mengenai hal ini. Bukan doanya yang salah, namun sikap kita lebih penting berubah dulu.
Musim penghujan menjelang, banjir di beberapa tempat akan terjadi. Pasti akan terdengar lagi untaian doa kepada Tuhan dengan permohonan untuk menghentikan hujan. Padahal sekali lagi manusiannya. Pertama, pohon sebagai penampung luapan air habis. Kedua, semua diaspal dan jalur air tidak tersedia, mau tidak mau hukum alam air akan mencari daratan rendah. Ketiga, perilaku sembrono dan jorok dengan menjadikan sungai sebagai tempat sampah terpanjang dan terbesar. Keempat, alur sungai direkayasa demi kepentingan diri, misalnya agar rumahnya luas, ambil bibir sungai tidak masalah, atau malah menjadi lahan hunian liar.

Berdoa untu penting dan bahkan harus, namun jangan menjadikan itu kita bisa berbuat seenaknya. Kemudian ketika ada hal yang luar biasa dan tidak mampu mengatasi menghadap Tuhan dan memohon untuk menyelesaikannya. Perilaku kita jauh lebih mendesak untuk diperbaiki dan tanpa dimohon pun Tuhan akan menyelesaikan yang kita tidak mampu lakukan.

Rabu, 07 Oktober 2015

Penyelenggaraan Ilahi dan Iman Jembatan Antara Motivator dan Kenyataan Hidup



Salah satu kaos menuliskan HIDUP TIDAK SEINDAH KATA-KATA MOTIVATOR. Dewasa ini banyak orang frustasi menghadapi hidup. tidak heran motivator berbea mahal menjadi daya tarik dalam berbagai bentuk kegiatan, seminar, retret, atau live seperti televisi, pengikut di media sosial juga akan berjubel untuk sekedar mendapatkan “mantra” sakti.
Tidak ada yang salah dengan menggeluti kata-kata motivasi dari motivator handal, sebagai salah satu usaha dan proses untuk menjadi, sah-sah saja dan tidak ada yang salah. Hidup bisa menjadi segar dan bersemangat tentu bagus dan membantu mencapai kehidupan yang lebih baik dan menjanjikan.
Motivator dan Motivasi
Motivator memiliki kehendak batin untuk menularkan semangat bagus untuk orang lain yang sedang lemah, lesu, dan seolah lepas harapan. Biasanya berangkat dari pengalaman sendiri yang telah mengalami sendiri dengan segala daya upaya untuk mencapai apa yang mereka kehendaki. Secara garis besar, motivasi dari para motivator akan berkitan dengan tiga hal besar, motivasi dasar atau semangat penggerak, proses atau jalannya menuju paada tujuan, dan tujuan atau gol itu sendiri. Mereka akan melihat dari ketiga faktor tersebut kalau motivasinya baik dan lurus, menjalankan dengan baik seluruh prosedur dengan kemantapan hati bahwa akan tercapai, tentu saja akan diperoleh hasil gilang gemilang. Bisa dilihat melalui 7 Habit, yang demikian melegenda, kata-kata Andrie Wongso atau Mario Teguh, atau siapapun motivatornya dan apa nama tekniknya akan memiliki tiga unsur pokok tersebut.
Namun mengapa masih ada yang “gagal”? motivator akan melihat dari ketiga unsur tersebut dan bagaimana mereka akan menkaji dan kemudian mengulang suatu proses untuk mendapatkan gol yang terbaik. Revisi pada motivasi dan proses akan berulang. Apakah demikian?

Penyelenggaraan Illahi
Penyelenggaraan Illahi ialah kesediaan Allah dalam membimbing manusia menuju tujuan akhir kehidupan manusia. Peran Allah membimbing manusia menuju pada tujuan akhir tentu menjadi penting tanpa menafikan peran motivasi. Keduanya bukan saling meniadakan namun memberikan gambaran lebih mendalam di mana peran masing-masing.
Iman
Iman merupakan sikap, gaya, dan komunikasi kita berkaitan dengan tawaran kasih Allah yang hadir melalui wahyu Allah. Allah menyapa umat-Nya untuk membawa ke tujuan akhir yaitu berbahagia di surga-Nya yang berupa hidup abadi. Iman itu melihat rencana dan kehendak-Nya di atas segalanya dan di dalamnya termasuk motivasi, proses hidup kita, ataupun juga.
Persoalan Hidup
Pola pikir manusiawai, termasuk di dalam ranah motivasi ataupun psikologi akan mencari “kesalahan” dari ketiga yaitu motivasi dasar, proses, dan hasil. Bagaimana ketiga hal tersebut dilihat, dikupas, dan diadakan evaluasi. Penderitaan akan dilihat apakah pernah ada yang salah, bisa berupa tanah tempat hidup, orang lain termasuk orang tua atau nenek moyang, ada kesalahan-kesalahan yang lain. Kitab Suci juga melaporkan hal yang sama. Yohanes bab 9 ayat dua menyatakan mengenai orang buta, dan para murid bertanya dosa siapa, orang tuanya atau orang buta itu sendiri. Ayat ketiga menyatakan kata Tuhan Yesus yang menjawab bukan dosanya dan juga bukan dosa orang tuanya.
Sering kita temui dalam Kitab Suci ataupun dalam hidup kita sehari-hari. Kisah paling terkenal dan fenomenal dalam hidup kita tentu kisah Ayub. Habakuk mengalami yang mirip bagaimana dia berteriak dan seolah Tuhan Allah diam saja. Yesus mengalami ketika di salib Allah Bapa seolah diam saja. Mungkin ada di antara kita yang mengalami hal yang sama atau menyaksikan sendiri bagaimana hidup baik, saleh, dan tidak pernah menyakiti orang lain namun hidup dalam derita yang tidak tderpikirkan sama sekali dari benak dna perasaan kita. Pemikiran kita akan langsung ke dosa dan kesalahan hingga ke nenek moyang kita. Pola pikir kita mengenai karma, salah dan dosa warisan sebagai kepercayaan Perjanjian Lama atau Hindu, iman kepercayaan lain sering mengganggu dan menggoda kita untuk mendapatkan “pembenar” dan kepuasan hati ada “rasionalisasi atau kambing hitam” atas hidup yang kita nilai gagal.
Yesus tidak ada yang salah dan buruk dalam seluruh rangkaian hidup-Nya kalau hendak dikaji dengan kacamata motivator, demikian juga Ayub dan Habakuk, namun tetap saja terjadi “derita”. Kehendak Allah hendak diwujudnyatakan melalui derita itu, dan Allah diam sebagaimana guru yang tidak mau memberikan jawaban pada muridnya yang bertanya saat ujian.

Kegagalan, persoalan hidup, derita merupakan bagian utuh hidup kita, tidak harus ada kesalahan kita, namun ada rencana Tuhan dan Penyelenggaran Ilahi yang harus diwartakan di sana. Iman membantu kita menyikapi dengan baik, bersyukur, bukan mencari-cari pembenar dan kesalahan kita sendiri atau masa lalu, dan nenek moyang sekalipun. Yesus hadir untuk memampukan kita mengenal kehendak Allah di atas segalanya.
Misteri dalam ranah iman tetap tidak akan pernah terpecahkan oleh kemampuan psikologi dan ilmu ppengetahuan apapun. Itu adalah wewenang dan hak Allah yang hanya DIA-lah yang mempunyai rahasia itu, Anak-pun tidak, hanya Bapa. Allah bisa saja memberikan kepada orang yang baik dengan kehidupan yang tidak ringan, dan itu bukan karena Allah kejam dan tidak adil.
  
                          






Minggu, 05 Juli 2015

Kunyahlah Buahmu Sendiri*





Seorang mengeluh kepada Gurunya:
“Bapak mengajar banyak cerita tetapi tidak pernah menerangkan maknanya kepada kami.”

Jawab sang Guru:
“Bagaimana pendapatmu, Nak, kalau seseorang menawarkan buah kepadamu, namun mengunyahkannya dahulu bagimu?”

Catatan:
Tak seorangpun dapat menemukan pengertian yang paling tepat bagi diri sendiri. Sang Guru pun tidak mampu

Refleksi:
Manusia selalu bertumbuh, ketika kanak-kanak tentu perlu makan nasi yang lembek, kemudian nasi lunak, dan kemudian nasi sebagiamana orang dewasa.
Makna hidup diperoleh sepanjang hayat dan pengalaman akan memperkayanya.
Pengetahuan dan perjumpaan dengan sesama memampukan mengunyah sendiri hingga memperoleh sari buah itu bagi kesehatannya, namun tentu perlu waktu sebagai proses hidup.
Kesetiaan pada proses akan memberikan kualitas hidup yang harus diketemukan...
Guru, orang tua, sesama, dan pengetahuan hanya lah fasilitator.








NB: * dari:  Burung Berkicau, hal. 13

Kamis, 02 Juli 2015

Halangan Nikah



Pengumuman Gereja, berkaitan dengan pengumumam perkawinan akan diakhiri dengan “barangsiapa mengetahui halangan pernikahan ini wajib melaporkan kepada pastor paroki,” namun sering orang tidak tahu apa maksudnya. Menurut Hukum Kanonik, halangan pernikahan ada pada K1083-1094, yaitu:
1.    Halangan Nikah Umur (K. 1083)
Kan. 1083 - § 1. Laki-laki sebelum berumur genap enambelas tahun, dan perempuan sebelum berumur genap empatbelas tahun, tidak dapat melangsungkan perkawinan yang sah.
§ 2. Konferensi para Uskup berwenang penuh menetapkan usia yang lebih tinggi untuk merayakan perkawinan secara licit.

Hal ini berkaitan dengan kematangan jiwa dan badan. Hukum Perkawinan Negara Indonesia lebih tinggi, yaitu 19 tahun untuk laki-laki dan 16  tahun untuk perempuan. Lebih baik lebih tinggi agar tidak berurusan dengan hukum negara. Hukum Kanonik berkaitan dengan dunia atau universal, tidak heran kalau pedomannya demikian.

2.    Halangan Nikah Impotensi
Kan. 1084 - § 1. Impotensi untuk melakukan persetubuhan yang mendahului (antecedens) perkawinan dan bersifat tetap (perpetua), entah dari pihak laki-laki entah dari pihak perempuan, entah bersifat mutlak entah relatif, menyebabkan perkawinan tidak sah menurut kodratnya sendiri.
§ 2. Jika halangan impotensi itu diragukan, entah karena keraguan hukum entah keraguan fakta, perkawinan tidak boleh dihalangi dan, sementara dalam keraguan, perkawinan tidak boleh dinyatakan tidak ada (nullum).
§ 3. Sterilitas tidak melarang dan tidak menggagalkan perkawinan, dengan tetap berlaku ketentuan kan. 1098.

Impotensi dalam Kitab Hukum Kanonik tidak sama persis dengan istilah medis. Dalam Hukum Kanonik, impotensi ialah tidak mampu mengadakan hubungan seksual atau persetubuhan dengan catatan sebagai berikut:
a.    Antecedens: sudah ada sejak sebelum pernikahan. Yang muncul kemudian (subsequens), misalnya karena penyakit bukanlah halangan yang bisa membatalkan perkawinan yang sudah dilakukan.
b.    Perpetu et insanabilis: yaitu bila impotensi itu bersifat tetap dan tidak dapat disembuhkan dengan acra yang wajar dan tanpa membahayakan kehidupan.
c.    Absoluta:byaitu jika ketidakmampuan ini menghalangi seseorang untuk melakukan hubungan suami-istri dengan siapapun
d.    Relativa: yaitu jika ketidakmampuan itu hanya kalau persetubuhan harus dilakukan dengan partnernya sendiri (bukan dengan orang lain)

Impotensi berbeda dengan sterilitas, karena orang yang steril atau mandul tetap mempunyai kemampuan untuk melakukan hubungan suami istri, namun tidak mempunyai kemungkinan untuk menghasilkan keturunan.

3.    Halangan Nikah Ligamen atau Ikatan Nikah
Kan. 1085 - § 1. Tidak sahlah perkawinan yang dicoba dilangsungkan oleh orang yang terikat perkawinan sebelumnya, meskipun perkawinan itu belum consummatum.
§ 2. Meskipun perkawinan yang terdahulu tidak sah atau telah diputus atas alasan apapun, namun karena itu saja seseorang tidak boleh melangsungkan perkawinan lagi sebelum ada kejelasan secara legitim dan pasti mengenai nulitas dan pemutusannya.


4.    Halangan Nikah Beda Agama
Kan. 1086 - § 1. Perkawinan antara dua orang, yang diantaranya satu telah dibaptis dalam Gereja katolik atau diterima di dalamnya dan tidak meninggalkannya dengan tindakan formal, sedangkan yang lain tidak dibaptis, adalah tidak sah.
§ 2. Dari halangan itu janganlah diberikan dispensasi, kecuali telah dipenuhi syarat-syarat yang disebut dalam kan. 1125 dan 1126.
§ 3. Jika satu pihak pada waktu menikah oleh umum dianggap sebagai sudah dibaptis atau baptisnya diragukan, sesuai norma kan. 1060 haruslah diandaikan sahnya perkawinan, sampai terbukti dengan pasti bahwa satu pihak telah dibaptis, sedangkan pihak yang lain tidak dibaptis.

Kanon yang menekankan bahwa orang yang dibaptis dan tidak dibaptis tidak bisa menikah dengan sah kecuali dengan dispensasi dari halangan nikah disparitas cultus atau halangan nikah beda agama.
Kanon ini berbeda dengan Kanon 1124-1129 (pembahasan pada tulisan yang akan datang) yang mengatur mengenai pernikahan campur, yaitu perkawinan orang Katolik dan non Katolik. Izin dan bukan dispensasi perkawinan.

5.    Halangan Nikah Tahbisan Suci
Kan. 1087 - Tidak sahlah perkawinan yang dicoba dilangsungkan oleh mereka yang telah menerima tahbisan suci.

Tahbisan suci baik, diakonat, imamat, dan episkopal merupakan halangan yang menggagalkan perkawinan yang coba dilangsungkan, sejauh tahbisan itu diterima dengan sah.



6.    Halangan Nikah Religius
Kan. 1088 - Tidak sahlah perkawinan yang dicoba dilangsungkan oleh mereka yang terikat kaul kekal publik kemurnian dalam suatu tarekat religius.

Kaul publik ialah kaul yang diterima secara resmi atas nama Gereja. Yang menggagalkan pernikahan ialah kaul kekal dalam semua tarekat religius, baik kepausan ataupun keuskupan.

7.    Halangan Nikah Penculikan
Kan. 1089 - Antara laki-laki dan perempuan yang diculiknya atau sekurang-kurangnya ditahan dengan maksud untuk dinikahi, tidak dapat ada perkawinan, kecuali bila kemudian setelah perempuan itu dipisahkan dari penculiknya serta berada di tempat yang aman dan merdeka, dengan kemauannya sendiri memilih perkawinan itu.

Penculikan atau raptus, ialah membawa pergi secara paksa seorang perempuan yang tidak mau dengan tujuan untuk dinikahi. Pembicaraan mengenai penculikan oleh pria karena lazim terjadi, kalau pihak pria yang diculik, kanon ini tidak berlaku.
Penculikan yang menggagalkan ialah yang dengan paksaan, bisa fisik atau moral. Moral dalam hal ini ialah paksaan yang sangat, sehingga perempuan tersebut ketakutan. Tentu berbeda dengan karena rayuan.
Jika, perempuan tersebut mau, namanya fuga atau kawin lari. Hal ini bukan halangan karena keduanya mau sama mau.

8.    Halangan Nikah Kejahatan atau Crimen
Kan. 1090 - § 1. Tidak sahlah perkawinan yang dicoba dilangsungkan oleh orang yang dengan maksud untuk menikahi orang tertentu melakukan pembunuhan terhadap pasangan orang itu atau terhadap pasangannya sendiri.
§ 2. Juga tidak sahlah perkawinan yang dicoba dilangsungkan antara mereka yang dengan kerja sama fisik atau moril melakukan pembunuhan terhadap salah satu dari pasangan itu.

Kejahatan yang merusak perkawinan sah, yaitu dengan pembunuhan jodoh. Ada dua macam yaitu: pertama, salah seorang membunuh pasangannya agar bisa menikah dengan orang lain atau membunuh pasangan dari calon yang hendak dinikahinya sehingga tidak ada halangan ikatan perkawinan. Kedua, kedua calon pasangan baru bekerjasama secara fisik atau moral untuk menghabisi nyawa suami-istri

9.    Halangan Nikah Karena Hubungan Darah atau Consangunitas
Kan. 1091 - § 1. Tidak sahlah perkawinan antara mereka semua yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan ke atas dan ke bawah, baik yang sah maupun yang natural.
§ 2. Dalam garis keturunan menyamping, perkawinan tidak sah sampai dengan tingkat keempat.
§ 3. Halangan hubungan darah tidak dilipatgandakan.
§ 4. Perkawinan tidak pernah diizinkan, jika ada keraguan apakah pihak-pihak yang bersangkutan masih berhubungan darah dalam salah satu garis lurus atau dalam garis menyamping tingkat kedua

Hubungan darah berkaitan dengan K 108 § 1-3. Secara sederhana sebagai berikut:
·         Consangunitas legitima: hubungan darah karena adanya perkawinan yang sah
·         Consangunitas illegitima/naturalis: hubungan darah dari hubungan yang tidak sah, baik diketahui umum ataupun tidak
·         Consangunitas perfecta: hubungan darah dari orangtua yang sama
·         Consangunitas imperfecta: hubungan darah dari ayah atau ibu saja yang sama. (satu saja yang sama ayah atau ibu saja, satu ayah beda ibu atau satu ibu beda ayah, termasuk dalam kanon ini yaitu adanya hubungan darah)
·         Stipes: pokok atau orang yang menurunkan
·         Linea: urut-urutan dari asal-usul atau stipes yang sama. Ada dua yaitu lurus atau linea recta: anak, cucu,cicit, dan seterusnya, bapak-ibu, kakek-nenek, buyut dst. Menyamping atau linea collateralis.
·         Gradus: timgkatan hubungan darah itu dipandang dari hubungan pokok atau pokok/stipes

10. Halangan Nikah Hubungan Semenda
Kan. 1092 - Hubungan semenda dalam garis lurus menggagalkan perkawinan dalam tingkat mana pun.

Kesemendaan ialah persaudaraan yang ada antara suami dengan saudara-saudari istrinya demikian juga dengan istrei dengan saudara-saudari suaminya baik garis lurus ataupun menyamping. Lurus berarti mertua dan menantu atau anak tiri dengan ibu tiri, menyamping berarti ipar

11. Halangan Kelayakan Publik
Kan. 1093 - Halangan kelayakan publik timbul dari perkawinan tidak-sah setelah terjadi hidup bersama atau dari konkubinat yang diketahui umum atau publik, dan menggagalkan perkawinan dalam garis lurus tingkat pertama antara pria dengan orang yang berhubungan darah dengan pih ak wanita, dan sebaliknya.

Kelayakan publik ialah hubungan saudara dari jodoh yang tidak sah atau konkubinat, atau kumpul kebo. Halangan untuk saudara dalam garis lurus berbeda kalau garis menyamping tidak berlaku.

12. Halangan Nikah Pertalian Hukum
Kan. 1094 - Tidak dapat menikah satu sama lain dengan sah mereka yang mempunyai pertalian hukum yang timbul dari adopsi dalam garis lurus atau garis menyamping tingkat kedua.

Pertalian hukum yang dimaksud dalam kanon ini ialah persaudaraan yang muncul karena adopsi, sebagaimana hukum atau undang-undnag negara. Adopsi adalah tindakan hukum mengambil seseorang yang bukan anak/cucunya, dipelihara dan diperlakukan sebagai anak/cucunya sendiri. Ada tiga macam:
·         Paternitas legalis: antara yang mengangkat dan yang diangkat serta keturunannya.
·         Fatrenitas legalis: antara anak angkat dan anak kodrati (anak kandung)
·         Affinitas legalis: antara bapak angkat dengan isteri anak angkat dan kebalikannya.


Demikian uraian secara singkat mengenai halangan-halangan perkawinan sehingga kita bisa mengerti dengan baik apa yang menjadi halangan pernikahan Gerejani, karena beberapa hal berbeda dengan kebanyakan atau pemahaman umum, baik negara ataupun agama yang besar di negara ini. Secara tidak langsung kita bisa terpengaruh budaya dan kepercayaan lain.

Rabu, 01 Juli 2015

Ziarah, antara Selfie dan Devosi



Fenomena ziarah dan tempat ziarah sekarang menjadi trend. Hampir setiap keuskupan, bahkan sekarang hampir semua paroki memiliki tempat ziarah, ada yang berupa Gua Maria, ini yang paling banyak, ada yang gua buatan ataupun alamiah. Tempat doa yang baru-baru ini menjamur di banyak tempat. Ada pula Candi sebagaimana Ganjuran, atau makam, seperti kerkof, seperti di Muntilan, di mana ada makam Rm. Sanjaya, atau bisa pula Kapel Sakramen Mahakudus.
Tujuan berziarah ialah, berdoa dengan kakinya, dan mengalami dengan semua indranya bahwa seluruh hidupnya merupakan suatu perjalanan panjang kepada Allah (Youcat 276).
Devosi yaitu, devotio, devovere, yang berasal dari bahasa Latin yang berarti kebaktian, pergorbanan, penyerahan, kesalehan, cibta bakti. Dengan demikian, devosi dapat dimengerti sebagai, sikap hati dan perwujudannya, dalam mana seseorang mengarahkan diri kepada seseorang atau sesuatu yang dijunjung tinggi dan dicintai. Dalam Gereja Katolik, devosi dipahami sebagai bentuk penghayatan dan pengungkapan iman Kristiani di luar liturgi resmi (Liturgi, Martasudjita, 143).
Selfie, kegiatan mengabadikan gambar diri sendiri dengan obyek yang dipilih menggunakan kamera, bisa kamera dari gadget atau smartphone, yang diambil sendiri.
Kegiatan berziarah ialah berdoa pada dasarnya. Apa artinya, bahwa ziarah sebagai bentuk devosi berarti pula berdoa, bersembah bakti, dan pengungkapan diri kepada pribadi yang dihormati, bis Ibu Maria, Sakramen Mahakudus, atau yang lainnya. Kegiata utama tentu berdoa dan ungkapan hati, dalam hal ini menjalin relasi dengan Tuhan melalui Maria, Sakramen Mahakudus, atau yang lainnya.
Kemajuan teknologi terutama teknologi komunikasi dalam hal ini kamera di dalam smartphone, makin canggih dan murah membuat orang berziarah justru makin memberikan perhatian kepada diri sendiri dalam hal selfie, dan up date status melalui media sosial.
Relasi dengan Tuhan Allah melalui doa dan ziarah terpinggirkan dengan kegiatan kita yang asyik dengan potret sana-potret sini, up date status. Berdoanya hanya sepersepuluh atau sedikit saja waktu dan perhatian kita dibandingkan dengan waktu kita untuk mengabadikan dan mengabarkan diri sendiri.
Silfie tidak ada yang salah pada dasarnya, namun menjadi keprihatinan kalau kegiatan itu justru lebih utama dan porsi jauh lebih banyak. Belum lagi mengganggu kegiatan umat lainnya yang perlu ketenangan dan keheningan di dalam doa mereka.
Tujuan dan definisi ziarah jelas sepadan dengan devosi yaitu berdoa dan sembah bakti kepada Tuhan tentunya, kalau kita berpusat pada diri sendiri, Tuhan tersingkir, berarti kita perlu merenungkan kegiatan dan aktivitas kita kembali, apakah sudah tepat atau belum. Jangan-jangan motivasi baik kita dengan halus dan lembut dibelokkan kuasa jahat tanpa kita sadari? Kita dijauhkan terhadap Tuhan di mana Dia kita cari, karena keasyikan kita akan cinta diri yang berlebihan.






Sabtu, 06 Juni 2015

Komuni Suci


Bapa Konsili Vatikan II menyatakan bahwa Komuni Suci merupakan Puncak Keikutsertaan dalam Perayaan Ekaristi (SC. 55). Makna Komuni ialah partisipasi umat beriman secara sakramental dalam rupa roti dan atau anggur dalam karya penebusan Kristus yang dikenangkan dalam Perayaan Ekaristi atau dihadirkan pada saat Doa Syukur Agung diucapkan oleh imam da diamini umat. Makna kedua ialah, menyambut Tubuh dan atau Darah Kristus. Melihat begitu agungnya makna yang akan diterima, perlu kiranya kita menyiapkan hati dan budi dengan sebaik mungkin.
Bisa kita bayangkan bagaimana kita menyiapkans segala sesuatunya ketika mengetahui akan kehadiran tamu yang agung bagi kita, apalagi ini Tubuh dan atau Darah Tuhan sendiri. Fenomena menarik saat ini ialah adanya berkat bagi anak-anak yang belum menerima komuni. Hal ini bagus dna baik, bagi tumbuh kembang anak. Anak diajari untuk menerima berkat Tuhan dari tangan imam.
Perlu dicermati beberapa hal:
·         Orang tua akan dan sedang menerima Tubuh Kristus, nilai keagungannya jangan dinomorduakan demi anaknya yang akan menerima berkat dari imam. Sangat tidak sebanding dengan yang sedang diterima dengan mengantar anak mengantri ke depan untuk menerima berkat.
·         Bijaksana apabila orang tua, duduk dulu, berdoa sejenak, baru mengantar anak. Menjadi lucu dan ironis ketika anak ngambeg orang tua malah marah, menerima Tubuh Kristus dengan kemarahan.
·         Ada pula yang langsung mengantar anaknya, kapan bersyukur atas karunia agung itu? Berkat anak hanya pastoral, bukan suatu keharusan, doa syukur bagi kehadiran Tuhan  jauh lebih penting dan utama.
·         Bagi Gereja dan petugas pastoral kelihatannya perlu mencari formula yang paling bagus mengenai tindakan pastoral bagus ini agar tidak menurunkan kualitas penerima dan penerimaan Komuni. Pastoral berkaitan dengan efisiensi waktu memang penting, namun juga penting bahwa Komuni jauh lebih bermakna dan penting.
·         Keluarga-keluarga muda yang “memilih” Misa di luar, namun Komuni dengan gagah perkasa, tanpa merasa bersalah. Beberapa hal yang memprihatinkan pilihan demikian.
o   “Memisahkan” anak dari Misa yang sebenarnya, anak bukan dikenalkan dengan Gereja, namun gedung gereja dan parkirannya. Dengan demikian mendidik anak merasa benar kalau besar nanti kalau Misa di luar
o   Orang tua tidak mau susah mendiamkan anak yang rewel, memilih di luar.
o   Gereja Katolik yang menuntut kedewasaan umatnya memang sering membuat prihatin dengan pilihan-pilihan umatnya.
o   Ekaristi itu dari awal hingga akhir sebagia satu kesatuan, memang Komuni sebagai puncaknya, namun bukan berarti bahwa Komuni saja tujuannya.
Artikel ini, bukan hendak menyindir atau mengajari semua umat beriman, namun fenomena memprihatinkan ini juga keprihatinan bersama yang perlu dicermati, direnungkan, dan kemudian memperbaiki diri agar mampu menerima Tubuh Kristus dengan selayaknya.BD. eLeSHa.  



Minggu, 17 Mei 2015

Tujuh Kecerdasan Manusia


Pendidikan dan pemahaman masyarakat Indonesia, anak yang cerdas, smart itu yang pinter dalam bidang matematika, kulaih di teknik, jurusan ilmu pasti, dan meminggirkan ilmu sosial dan sejenisnya. Tidak heran fakultas kedokteran, teknik mesin, sipil, atau arsitektur menjadi fakultas favorit dan mahal. Manusia oleh Sang Pencipta sebenarnya dianugerah kemampuan dan talenta yang unik.
Thomas Amstrong melihat ada tujuh kecerdasan manusia, dan dalam diri masing-masing orang ada kesemuanya, itu hanya saja ada satu atau dua yang paling menonjol dan beberapa yang lemah.
1.       Word Smart:Kecerdasan Verbal atau Berbahasa
Kecerdasan dalam hal ini sering kita jumpai,  yang sering bermain-main dengan kata dan kalimat, tentu salah satu ciri yang paling mudah dikenali. Demikian juga mengapa beberapa orang lebih cepat mengerti suatu bahasa, baik bahasa asing atau bahasa daerah. Hal ini berkiatan dengan kecerdasan ini. Merangkai kata menjadi kalimat yang menarik, menyenangkan, menghibur, dan tentu saja menghanyutkan. Orator, stand up comedian, penulis, penerjemah, merupakan orang-orang yang cerdas dalam bidang ini.
2.       Picture Smart: Berfikir dengan Mata Pikiran
Orang-orang yang antusias dalam melihat semua yang berbentuk gambar, lukisan, ataupun model-model. Pelukis bisa memindahkan pemandangan atau orang dengan sedemikian hidup dan membuat banyak orang kagum. Pengamatan hingga mendetail terhadap sesuatu, bahkan hingga sekecil-kecilnya dapat ia tangkap. Kecerdasan ini biasanya paling berkembang bagi pelukis, desain grafis, arsitek, dan pekerja-pekerja seni pertunjukan dan sejenisnya.
3.       Music Smart: Mengoptimalkan Pikiran Melodis
Ada orang yang mudah sekali menerima masukan berupa musikalitas. Mendengar lagu sekali saja langsung terekam dengan baik. Mendengar tintik hujan bisa menjadi lagu dengan begitu indahnya. Bagi orang yang rendah kecerdasan melodisnya, hujan ya hujan saja. Pribadi seperti ini misalnya diminta belajar ilmu sosial akan dibuat lagu yang menyenangkan baginya, dan dengan mudah akan terekam. Orang demikian akan bekerja dan tekun dalam bidang musik, penyanyi, penari, dan sejenisnya.
4.       Body Smart: Menggunakan Kecerdasan Kinestetik
Mengapa Messi bisa meliuk-liuk membawa bola dengan melewati pemain sebesar dan setangguh Boateng? Atau Michael Jordan, bisa melayang dengan memasukkan bola sehingga tenar dengan Air Jordan-nya? Olah tubuh dan kemampuan kinestetiknya cerdas. Berkat latihan tekun dan rajin maka bisa menguasai teknik demikian tinggi. Pesenam dapat melipat-lipat tubuhnya dengan enteng, atau free styler bisa melompat dan membuat bola mengikutinya dengan indah, hal ini bukti kecerdasan bidang ini. Pekerjaan pada bidang olah raga, free styler, bela diri, dan sejenisnya.
5.       Logic Smart: Menghitung Kemampuan Kinestetik
Mengapa ada orang yang akan tekun main catur atau berhitung kalkulus seperti orang makan, karena kecerdasan logic-nya tinggi. Bagi sebagian orang menjengkelkan, baginya menyenangkan dan menantang. Ilmuwan dalam bidang ini seperti Einstein, Pascal, merupakan contoh pribadi cerdas dalam hal ini. Tentu akan bingung orang harus mengatur bagaimana pesawat agar tidak bertabrakan di langit sana, namun bagi yang cerdas bidang ini akan dengan ringan di jalankan.
6.       People Smart: Mempertinggi Kemampuan Bersosialisasi
Orang yang populer, tenar, mudah bergaul, dan kalau omong dengan mudah didengarkan orang lain, merupakan pribadi yang tinggi kemampuan bersosialisasi. Tenaga pemasaran memerlukan kemampuan ini, juga pejabat publik, atau politisi. Apa yang disampaikan itu bisa dengan mudah mempengaruhi orang untuk tertarik dan mendengarkan. Memahami orang lain untuk bisa menyelami dan mengerti pribadi lain. Kemampuan tinggi untuk bisa berlaku demikian. Konselor, memerlukan kecerdasan ini, juga motivator.
7.       Self Smart: Mengembangkan Kecerdasan Intrapribadi
Diri sejati sebagai sumber kreativitas batin, vitalitas, spontanitas, dan kesejahteraan emosi seseorang. Pribadi yang mengenal diri sendiri dengan baik, manusia batiniah, yang telah menemukan jati dirinya. Pribadi yang spiritualitasnya tinggi, merupakan ciri kelompok ini.

Semua manusia memiliki ketujuhnya, namun bagaimana pengembangan dan penerapan dalam kehidupannya yang paling menentukan.  Tidak ada orang bodoh, namun lemah dan belum terolah dengan semestinya dalam bidang-bidang yang ia geluti. Bagaimana Thomas Alfa Edison, Einstein di nilai bodoh oleh gurunya, namun menjadi pembeda bagi dunia.

Salam Damai
Sumber: Thomas Amstrong, Multiple Intelligence


Sabtu, 18 April 2015

Bentuk Doa


Gereja mengenal dua bentuk doa:
Pertama, Puji Syukur, ungkapan syukur atas berkat dan ada-nya Tuhan. Tidak semata karena ungkapan berterima kasih saja. Lebih dari itu, di mana kita bersyukur memiliki Tuhan sebaik Tuhan Allah. Ungkapan syukur dan heran atas kebaikan Tuhan. Apa yang diungkapkan dalam lagu Kemuliaan atau Gloria, Kami bersyukur kepada-Mu karena kemuliaan-Mu yang besar. Gereja bersyukur atas kemuliaan bukan karena anugerah yang telah diterima. Syukur atas Tuhan, syukur atas ada Tuhan, syukur kebaikan Tuhan. Tentu saja kebaikan Tuhan itu diketahui melaluai anugerah-Nya. Puji Syukur berarti memuliakan kebaikan dan keluhuran Tuhan.
Kedua, Permohonan, sering bahwa manusia itu jatuh dalam kemalangan dan memohon kepada Allah untuk memperhatikan kerendahan hamba-Nya (Luk. 1:48). Doa permohonan bukan minta-minta. Pertama-tama ialah memohon pengampunan dan belas kasih Tuhan, sebab dosa manusia adalah sumber kemalangan manusia terbesar.

Sumber:

Iman Katolik

Halangan Komuni


Suatu hari, kerabat bertanya, karena ada pengumuman dari Gereja Paroki-nya “Bagi yang Sedang Berhalangan, Dilarang Menerima Komuni”, kebingungannya, mengapa hari raya saja, Pekan Suci dan Natal. Jika itu adalah larangan yang berkaitan dengan ekskomunikasi. Beberapa ibu yang seide menerjemahkan itu sebagai larangan karena khas perempuan yaitu menstruasi. Apakah ada larangan perempuan yang sedang menstruasi?
Larangan menyambut Komuni Suci ada dalam Kanon dari Kitab Hukum Kanonik, sebagai acuan yang paling sah dalam Hukum Gereja menyatakan:
Kan. 915 - Jangan diizinkan menerima komuni suci mereka yang terkena ekskomunikasi dan interdik, sesudah hukuman itu dijatuhkan atau dinyatakan, serta orang lain yang berkeras hati membandel dalam dosa berat yang nyata.

Hukum menyatakan bahwa yang dilarang ialah, pribadi yang terkena hukuman ekskomunikasi dan interdik. Ekskomunikasi ialah hukuman yang melarang yang terkena hukuman untuk merayakan dan menerima sakramen apapun bentuknya.Penghalangan kedua dinyatakan siapa yang terkena interdik, suatu bentuk hukuman gerejawi yang melarang yang terkena hukuman untuk menjadi pelayan dan menerima sakramen dan sakramentali.
Siapa yang terkena hukuman ekskomunikasi dan interdik? Hidup dalam perkawinan yang tidak sah, kaul kekal, kaul kekal, dan hukuman berat lainnya secara jelas.
Pengumuman itu bukan ditujukan untuk perempuan yang sedang menstruasi. Namun apabila ada perempuan yang merasa diri tidak pantas, bisa saja menghayati untuk tidak menerima Komuni Suci, yang jelas itu bukan halangan dari Hukum Gereja, hanya kepercayaan pribadi. Menstruasi bukan suatu dosa.

Sumber:
Umat Bertanya, Romo Pid Menjawab
Ekaristi

KHK

Senin, 02 Maret 2015

Bagaimana Cara Mengatasi Kekuatiran


1.        Kebiasaan. Kekuatiran yang berkembang dengan berjalannya waktu. Dan setiap kebiasaan yang dapat dibentuk juga dapat diubah. Jadi, langkah pertamanya ialah mengubah kebisaan kuatir kita.
2.        Mencekik. Itulah arti dasar dari kata kuatir, mencekik. Kekuatiran bisa meniadakan energi alami serta keefektivan kita. Janganlah mencekik diri sendiri dengan berbagai kekuatiran.
3.        Bodoh. Itulah kekuatiran. Buang-buang energi mental secara bodoh. Telah dihitung bahwa kira-kita 40% dari kekuatiran kita adalah berkaitan dengan masa lalu, 50% menyangkut masa yang akan datang, dan 10%-nya menyangkut masalah-masalah hari ini. Sembilan puluh dua persen dari kekuatiran itu tidak terjado, hanya kekuatiran saja. Tentu dengan delapan persen ini bisa kita selesaikan.
4.        Melupakan. Cara efektif untuk tidak menguatirkan kesalahan-kesalahan di masa lalu ialah menjadi terampil dalam melupakan. Sudah lewat, ya sudah, jadi lupakan itu. Setiap hari ucapkanlah,”Aku melupakan apa yang sudah ada di belakangku dan mengarahkan diri kepada ada yang ada di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Filipi. 3:13-14).
5.        Membiarkan. Willam  James, seorang psikolog dan filsuf besar menyatakan,”Inti kejeniusan adalah mengetahui yang mana yang bisa dibiarkan”. Ketika si pencemas belajar membiarkan, perhatiannya berkurang, ketegangannya mereda, dan sikap barunya bisamelewatinya. Hal ini penting dalam penyembuhan kekuatiran.
6.        Masa Depan. Mulai menghentikan bintik hitam di masa depan. Lihat dan yakini masa depan yang cerah dan gilang gemilang, di mana Allah menyaksikannya. Tidak perlu kuatir apa yang mungkin terjadi, menciptakan kejadian baik melalui iman.
7.        Menenangkan Diri. Sikap tenang akan mengusir kecemasan. Yakini bahwa Allah menjaga kita tetap tenang dan damai.
8.        Mengosongkan. Pikiran bisa dikosongkan, termasuk dengan kekuatiran. Hilangkan kekuatiran, salah satu alternatif yang bisa dilakukan ialah dengan keyakinan mengumandangkan, “Kukosongkan pikiranku dari kecemasan dan segala kekuatiran.”
9.        Mengisi. Kekosongan bukan didiamkan begitu saja, namun juga perlu diisi dengan hal yang berdaya guna. Mengidi dengan hal positif.

10.     Kehadiran. Hadirkanlah Tuhan Allah, dan sirna kekuatiran.

Cara Menghadapi Kesulitan

1.        Tegaskanlah. Tegaskanlah terus hingga kita percaya bahwa pertolongan Allah akan memampukan kita dalam menghadapi kesulitan, sebesar apapun.
2.        Tenang. Janganlah panik, karena menghadapi kesulitan dan sadari bahwa kesulitan tidak akan pernah dapat ditangani dengan emosi. Menjaga ketenangan menjadi penting.
3.        Organisasikan. Mengorganisasikan kesulitan yang sedang dihadapi. Penggal dan pelajari unsur-unsurnya. Nanti kita akan peroleh wawasan baru dan jalan keluar tentunya.
4.        Berfikir. Menerapkan selalu pemikiran yang masuk akal.
5.        Mengapa Aku? Jangan pernah berpikir mengapa aku? Atau merasa terintimidasi dan tertekan ketika kesulitan datang. Memang demikianlah kehidupan ini, yang penuh dengan dinamika. Cepat atau lambat, semua orang akan mengalami kesulitan.
6.        Kesabaran. Melatih kesabaran, setiap kesulitan pasti akan bisa ditangani, namun pasti membutuhkan waktu.
7.        Penerimaan. Penerimaan itu penting. Nyatakan kepada Allah bahwa kalau kita memang harus menjalani kesulitan ini. Kita akan menerima kehendak-Nya dan mengetahui kalau Ia akan memberikan kekuatan kepada kita, sepanjang yang kita perlukan.
8.        Belajar. Mencari nilai pelajaran dalam sebuah kesulitan sebagai bekal untuk menangani kejadian serupa lain kali.
9.        Lebih besar. Menegaskan setiap hari, “Allah itu lebih besar daripada apapun yang mungkin terjadi padaku”.

10.     Merelakan dan Menyerahkan kepada Allah. Jika kita telah melakukan segala yang dapat kita lakukan, alangkah baiknya kita menyerahkan kesulian kita ke dalam tangan Allah dengan penuh keyakinan bahwa IA akan menunjukkan solusinya kepada kita.