Jumat, 30 Januari 2015

Hukuman Mati Menurut Gereja Katolik


Berbicara mengenai hukum positif suatu negara akan bisa pula berbenturan dengan keyakinan Gereja, apalagi kalau Gereja memiliki anggota yang kecil pada suatu negara. Wajar kalau negara memiliki pandangan yang mirip-mirip dengan kebanyakan kepercayaan di negara tersebut. Catatan dari Gereja Katolik engenai hal ini, yaitu, hukuman yang dikenakan oleh negara harus memenuhi empat kriteria agar patut dan adil:
1.       Harus dapat menebus kejahatan tersebut
2.       Negara bermaksud untuk memulihkan ketertiban umum dna menjamin keamanan bagi warga negara
3.       Hukuman tersebut harus dapat memperbaiki pihak yang bersalah
4.       Hukuman harus sesuai dengan tingkat keseriusan kejahatan[1]
Unsur adil saja bagi Gereja masih kurang harus patut, dengan demikian menafikan balas dendam dan hukuman yang semena-mena. Hukum balas dendam dan semena-mena tidak akan memberikan tertib hukum dengan baik.
Secara spesifik mengapa Gereja menolak Hukuman Mati? (Youcat 381). Pandangan ini diwakili oleh pernyataan Paus Yohanes Paulus II, St. Louis, 27 Januari 1999, bertolak dari Kateksimus Gereja Katolik 2266-2267 menyatakan, setiap negara berhak untuk menghukum kejahatan dengan pantas. Dalam Evangelium Vitae (1995), Paus tidak menyatakan bahwa penerapan hukuman mati sebagai hukuman yang tidak dapat diterima dan tidak sah. Mengambil hidup dari seorang pelaku kriminal adalah takaran yang ekstrem hanya dapat dipertimbangkan oleh negara “bilamana benar-benar perlu”. Hal ini dilakukan jika satu-satunya cara untuk melindungi masyarakat hanya dengan membunuh pelaku kriminal tersebut. Paus Yohanes Paulus II menambahkan bahwa hal tersebut, sangatlah jarang, bahkan mungkin tidak ada.
Dengan demikian, hukuman mati seyogyanya menjadi pilihan terakhir bagi suatu negara untuk menghukum pelaku kejahatan. Hukuman mati bisa dilakukan ketika jalan lain sudah tidak ada. Satu-satunya jalan untuk melindungi ketertiban umum dan keamanan bersama. (Youcat, 381)



[1] Youcat, 215

Kamis, 29 Januari 2015

Markus, Penginjil Pertama


Tepatkah menyebut Injil menurut Markus? Tidak salah, namun tidak pula sepenuhnya tepat. Anggapan kalau menyebut Injil Menurut Markus berarti penulisnya adalah Markus. Padahal tidak sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan, karena Injil tidak pernah menuliskan penyusunnya.
Kapan kemungkinan penulisan atau penyusunan Injil Markus? Injil Markus ditulis setelah kematian Petrus di Roma pada masa penganiayaan Nero, pada sekitar yahun 64-65 M. Penulisan Injil ini di Roma, menurut Klemens dari Aleksandria
Mengapa Markus sering disebut sebagai Penginjil pertama?
Karena kebanyakan isi dari Injil Mateus dan Injil Lukas ada dalam Injil Markus. Bisa saja Injil Markus yang menyingkat dari kedua Injil lainnya itu, namun alasannya jauh dari logis, kalau Mateus dan Lukas yang menambahkan beberapa bahan tulisannya sesuai dengan kebutuhan mereka berdua, dan sidang pembaca yang menjadi sasaran pewartaannya.
Bahasa Yunani Mateus dan Lukas lebih baik dan elegan dari pada tulisan Markus. Lebih logis menyebut kalau Markus lebih dahulu menulis dan Mateus dan Lukas memperbaiki tulisan yang dirasa tidak bagus dan pas. Lucu dan jelek sekiranya Markus yang mengambil sumber dari kedua Injil dan malah makin buruk berbahasanya.
Markus menggunakan varian sulit yang tidak terdapat dalam Mateus dan Lukas. Mateus dan Lukas telah menjembatani kesulitas-kesulitan pemahaman dengan penjelasan yang makin memudahkan penerimaan pembacanya.
Teologi Markus paling sederhana. dibandinkan Mateus yang menggunakan kata Yesus sebagai Tuhan sebanyak 50 kali, dan Lukas jauh lebih sering, Markus hanya menyebut Kurios enam kali.
Pembaca Markus, atau jemaat Markus, Jemaat Kristen Non Yahudi. Hal ini nampak dari penggunaan penjelasan mengenai tradisi Yahudi. Penjelasan demikian tentunya tidak diperlukan bagi orang Yahudi.
Gagasan Teologi Markus
Mesias, Yesus sejak awal oleh Markus sudah dinyatakan sebagai yang diurapi sebagaimana Mrk.1:11-15. Peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis dan suara yang menyatakan Yesus adalah “Anak-Ku”.
Rahasia Mesias, Yesus adalah Kristus, Anak Allah. Sejak awal Yesus tidak menunjukkan bahwa Dia Putera Allah, sering Dia menegur ketika ada yang hendak menyatakan siapa DIA.  Lihat. Mrk. 3:11-12; 1:43-44; 5:43; 7:36 dst.
Mesias yang Menderita, gambaran mesias yang ada dalam benak dan tradisi Yahudi ialah raja yang penuh kuasa. Yesus berbeda, Dia menampilkan dan menekankan bahwa Mesias itu Menderita, Anak Manusia yang bukan raja, dan bukan melawan penjajahan Romawi. Mesias adalah Manusia yang tersalib sebagai bagian dari rencana Allah bagi hidup-Nya. (Mrk.8:31;9:30-32 dst)
Anak Allah, pewartaan Markus juga menekankan Yesus Anak Allah. Sejak awal kitabnya Markus sudah menunjukkan kemanusiaan dan Keallahan Yesus melalui peristiwa pembaptisan. Slain itu juga nampak dalam Mrk. 3:11; 5:7 dst.

Struktur Injil Markus
A.      Introduksi (1:1-1:15
B.      Pelayanan Di Galilea (1:16-8:26)
C.      Perjalanan Ke Yudea (8:31-10:52)
D.      Pelayanan Di Yudea ( 11:1-14)
E.       Sengsara dan Kebangkitan (14:12-16)

Injil Markus dalam Liturgi
Selama berabad-abad, bacaan Misa hanya Mateus dan Lukas, sesudah Konsili Vatikan II lah dengan pembaharuan Liturgi Markus masuk dalam bacaan Ekaristi  hari Minggu.Injil Markus oleh Gereja diperdengarkan dala, lingkaran tahun Liturgi untuk tahun B.