Senin, 29 Desember 2014

Dirgahayu Guruku


Guru profesi multitalenta, kadang jadi psikolog, suatu hari jadi orator ulung, waktu lain berperan jadi politisi, kesempatan lain dituntut menjadi hakim yang adil dan menyeluruh melihat persoalan kelas dan anak. Pada saat berbeda harus menjadi pelawak handal agar murid tidak tertodur, menjadi sejarawan yang kapabel untuk menerangkan secara menarik mengenai sejarah agar siswanya tidak mengantuk dan tertidur membicara masa lalu. Sosok yang tidak bisa melepaskan statusnya sekejab saja, karena semua mata memandang kualitasnya di manapun dia berada, mau di kelas, di sekolah, di keluarga, dan di masyarakat sekitar.
Peran yang tidak mudah, guru laki-laki harus mampu menjadi seorang ibu yang penuh belas kasih dalam mengasuh siswa siswinya, seorang ibu guru harus berperan tegas menghadapi kebandelan anak-anak yang sedang bertumbuh dan berkembang. Peran yang harus menampilkan sikap antusias dan penuh semangat meskipun hatinya sedang sedih dan pedih menghadapi kenyataan hidup yang sering harus bergulat dengan berbagai persoalan. Mendidik dan mengajar anak-anak yang bukan darah dagingnya, namun kenakalannya sering tidak ketulungan. Kesabaran dan ketelatenannya, melebihi orang tua sendiri.
Mampu menghasilkan seluruh kehidupan bagi anak didiknya, lompatan murid-muridnya yang bisa ribuan lebih tinggi, namun ada juga yang tidak berkembang sama sekali. Menghantar semua anak bangsa untuk menemukan jati diri, dan masa depannya dengan penuh cinta.
Orang paling panjang sabar dan penuh kasih setia, sehingga tidak meninggalkan anak-anaknya menderita dan merana apapun keadaannya. Tidak ada satu gurupun yang tega untuk menelantarkan siswa-siswanya yang bersedih karena tertinggal dari rekan-rekannya. Mengasihi dengan sepenuh hati untuk membimbing yang kurang dan mendampingi yang lebih sehingga tidak merasa terhambat. Bukan kemampuan sepele mengelola kelas yang dinamis.
Ketika banyak orang yang mengeluhkan keberadaan guru yang tega memukul, menendang karena anak yang di hadapi sudah kelewatan, tahukan kita mengapa mereka setega itu? Ada masalah pribadi atau anaknya memang sudah kelewatan? Perkembangan zaman mengubah sikap anak makin seenaknya, emosional guru juga menjadi lebih mudah tersulut, namun guru penuh kasih dan cinta masih jauh lebih banyak dan menjanjikan.
Guru bukan semata-mata mentransfer ilmu, sebagaimana keberadaan google, nuansa pendidikan, adanya pengajaran dari hati, yang membedakan guru dan mesin. Keterbatan dan kelebihan guru adalah wujud interaksi dan dinamika kehidupan yang mewarnai kehidupan dan pertumbuhan seorang pribadi. Tidak ada seorangpun di dunia yang lepas dari peran seorang guru. Mau presiden atau gembala kamping pernah mengenyam tangan dingin seorang guru.
Guru, baik yang terlembagakan dalam sekolah ataupun yang informal ataupun non formal tersebar di seantero bumi. Tugas dan peran yang berbeda-beda di antara mereka, namun semua bertujuan memberikan pencerahan bagi sesama yang memerlukan uluran tangan bagi perkembangan sesama dan yang lebih muda.
Kita semua sebenarnyalah guru minimal untuk diri sendiri, di mana membina diri untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
Selamat bagi para guru yang telah mengabdikan hidup bagi kemajuan generasi muda bangsa. Selamat berjuang dan tekun dalam pengabdian. Berkat melimpah atas pengabdian Anda semua.



Hebatnya Anak Indonesia


Baru saja kita merayakan Pesta Keluarga Kudus. Pesta yang memperingati betapa berartinya Keluarga Kudus bagi perkembangan Gereja umumnya dan keluarga Katolik khususnya. Yesus dalam naungan Maria dan Yoseph sungguh menguduskan Maria dan Yoseph.
Menengok warna dan ragam keluarga kita hari ini, bagiamana keluarga-keluarga dibangun tercermin dalam anak-anak dan generasi muda yang ada. Ciri dan sikap kaum muda saat ini:
·         Tidak tahan banting
Anak-anak tidak tahan banting dan mudah menyerah. Budaya instan dan konsumeris merajai kaum muda sehingga pudah patah arang dan lari pada narkoba, miras, dan tawuran
·         Kurang memiliki hati dan empati
Sikap seenaknya, ada orang berdiri dengan membopong anaknya, di depannya, pas bis sesak. malah asyik nonton film lewat tabletnya, yang penting aku tidak dirugikan.
·         Soliter dan egois, orientasi pada diri
Sikap mementingkan diri sendiri dengan tanpa peduli bahwa merugikan orang lain. Maaf mungkin akan menjadi langka sebagaimana surat bagi anak muda zaman ini. Terima kasih dan syukur yang makin tidak populer dan terkenal.
·         Berorientasi pada hasil bukan proses
Hasil dan materi menjadi pusat dan tujuan, prosesnya tidak penting bahkan hukum rimba, kejahatan tidak peduli lagi, lihat bagaimana anak-anak sekarang membayar temannya untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya, membeli bocoran soal dan jawaban UNAS sebagai hal yang wajar.
·         Sarana dan tujuan kacau balau
Tidak jelasnya pendidikan baik di rumah ataupun sekolah, anak-anak tidak bisa membedakan aman tujuan dan mana sarana. Penting mendesak dan tidak penting tidak mendesak pun sering tumpang tindih. Maka HP dan smartphone  menjadi pegangan utama mengalahkan segalanya. Belajar kalah dengan nilai tinggi.
·         Hilang konsentrasi dan fokus
Berbicaralah pada anak sekarang, akan jarang sekali langsung jalan, dengar, atau mengerti. Fokus terbagi-bagi, konsentrasi terbelah, dan tidak bisa menghayati di sini, saat ini. Semua ada di depan, di belakang, dan di mana-mana bukan di sini dan saat ini.
·         Krisis identitas dan keteladanan
Diri sendiri siapa, hendak mau jadi apa bingung, karena pendidikan dan lingkungan tidak menyediakan sarana untuk itu, Materi menjadi tujuan banyak orang termasuk pada tokoh sehingga anak-anak dan generasi berikut gagal mengambil pembelajaran dari generasi yang lebih tua.
Mengapa demikian hasilnya?
Orang tua sebagai pendidik pertama dan utama telah gagal dalam menerapkan pendidikan. Persaingan dan kompetisi menjadi panglima di dalam keluarga-keluarga. Lihat bagaimana orang tua lebih menghargai anak yang lebih pinter, lebih menurut, lebih mudah dinasihati, dan melupakan anaknya yang nakal, sulit diajari untuk apa saja.
Persaingan telah ditanamkan secara tidak langsung. Contoh tuh adikmu yang penurut, lihat itu kakakmu yang mendapat rangking terus. Litani dan refrein yang selalu diulang oleh bapak atau ibu terekam oleh anak yang berbeda denga  kriteria orang tua.
Orang tua tidak menerima perbedaan dan keunikan anak-anaknya sendiri. Semua anak memiliki keunikan dan talenta yang berbeda. Kalau orang tua hanya membanggakan dan menceritakan anak-anak yang unggul, kasihan yang kurang beruntung, merasa anak tiri dalam keluarganya sendiri. Tidak heran akan menghasilkan anak-anak yang bersikap memberontak dan nakal.
Semua manusia memiliki sikap dasar untuk diakui dan dicintai apa adanya. Bagi yang memperoleh limpahan sayang bisa besar kepala, sedang yang kurang memperoleh kasih sayang,  bisa menjadi minder, nakal, dan  meradang dalam banyak hal.
Negara yang lalai dalam menerapkan pendidikan,  pendidikan berorientasi pada hafalan, menyelesaikan UNAS, dengan menggunakan segala cara, menafikan pelajaran yang tidak menjadi bahan UAN, bahkan sekolah mengusahakan bocoran, telah mendidik anak untuk berorientasi pada hasil bukan proses. Proses tidak baikpun digunakan.

Harapan boleh dikembangkan, bukan menghakimi kekeliruan, namun memperbaiki dan meluruskan kekurangtepatan merupakan sarana memajukan diri, keluarga, Gereja, dan negara.

Jumat, 19 Desember 2014

Positif Tak Ada Masalah yang Terlalu Besar untuk Diatasi



Seorang yang berusia 95 masih penuh vitalitas, ketika ditanyakan bagaimana dia menghadapi suatu masalah? Dia menyatakan bahwa dia bersyukur atas segala permasalahan yang hadir. Masalah yang bisa diatasi membawa kekuatan baru yang berlipat ganda dan makin mampu menghadapi saat masalah lain datang. Perlu diketahui bahwa dengan masalah dan penyelesaiannya merupakan sarana bertumbuh dan berkembang menjadi lebih baik lagi.
Langkah paling awal dan mendasar dalam menghadapi persoalan ialah sikap mental yang positif. Memandang semua persoalan akan bisa diatasi.

Bagaimana memandang fakta, itulah Anda.
Sikap itu lebih penting dari pada sebuah fakta. Itu ialah sikap seorang yang memiliki mental yang positif. Orang dan pribadi yang memiliki sikap mental yang negatif akan menjawab persoalan dengan pernyataan bahwa fakta tidak akan mungkin diubah. Fakta ya fakta tidak mungkin diapa-apakan lagi.
Pribadi yang bermental positif akan menghadapi fakta itu apapun konsekuensinya, paling tidak akan menghindarinya sebaik mungkin, bukan melarikan diri. Sebuah masalah harus diatasi dan pasti akan mampu menyelesaikannya dengan baik. Sikap kreatif bisa juga muncul saat menghadapi permasalahan. memandang dan menilai fakta sangat membantu kita dalam menemukan jalan keluar dari persoalan tersebut.
Orang yang bermental negatif akan kalah oleh fakta yang ada. Fakta  telah mengalahkan keadaan dan segala kemungkinan yang bisa hadir.
Ilustrasi berikut memberika gambaran yang jelas mengenai sikap positif dan negatif seperti berikut:
Dua orang salesman diberi kawasan pemasaran yang sama, namun persiapan yang sama sekali berbeda. Satu salesman tahu banyak mengenai kawasan yang “angker” dan predikiat umum sebagai daerah yang tak dapat diapa-apakan oleh siapapun.
Sales kedua dari luar daerah yang belum tercemari kata orang dan asumsi umum mengenai daerah itu. Apa yang terjadi?
Penjualan luar biasa diperoleh sales kedua yang tidak dibebani dengan pemahaman umum tersebut. Dia mendapatkan konsumen yang luar biasa. Dalam benaknya, ini pasar yang sama sekali belum pernah digarap, beruntungnya mendapatkan lahan sebagus ini. Sikap positifnya membuat dia melakukan tugasnya tanpa gangguan asumsi dan pendapat yang bisa meruntuhkan semangat. Betul terjadi bahwa dia bisa memperoleh nilai penjualan yang fantastis.
Percobaan saja belum dilakukan oleh sales pertama tadi, yang telah memiliki gambaran sangat gamblang dan itu diamini bahkan diyakini kebenarannya, sehingga ia memutuskan mengundurkan diri. Fakta mengenai daerah tersebut telah meruntuhkan semangatnya, bahkan untuk sekedar mencoba. Dna hasilnya sama dengan pemikirannya, yaitu negatif. Pribadi demikian akan membuat rasionalisasi atau pembenaran dengan menyalahkan keadaan, daerah yang sulit dalam arti orang yang tidak mau bekerja sama, atau managemen yang tidak adil dengan menempatkan dirinya ke daerah yang tidak baik.

Tiga Langkah Menuju Sikap Mental yang Positif
Berpikir, bukan reaktif, menghadapi masalah atau kesulitan, manusia secara umum biasanya akan panik, emosional bisa berupa marah, menangis, sedih, atau penuh dengan kebencian. Kondisi jiwa yang sedang emosional biasanya akan menghasilkan perbuatan atau tindakan yang irasional, atau ngawur.
Kita berusaha untuk membiasakan diri tenang dan disiplin diri dalam menghadapi persoalan. Dinginkan kepala dan hati saat menghadapi persoalan seperti apapun keadaannya. Suasana, hati, dan kepala yang panas tidak akan menghasilkan hasil pemikiran yang baik. Kondisi dingin dan sejuklah yang akan memberikan konsep faktual rasional yang akan membawa solusi-solusi yang terbaik bagi masalah yang sedang kita hadapi. Jangan mengizinkan emosi menguasai, namun gunakan energi untuk berpikir.
Thomas Alfa Edison menyatakan bahwa tujuan utama tubuh  ialah membawa otak ke mana-mana. Penemu hebat ini tahu persis bahwa dalam pikiranlah yang bekerja dengan baik dalam keadaan tidak terlalu panas mampu menghasilkan ide-ide cemerlang. Ide-ide inilah yang akan memberikan jalan keluar dari setiap persoalan yang ada. Maka jagalah dengan disiplin dan kendalikanlah aset utama kita, yaitu kepala.
Menjadi pemikir bagaimana, pemikir bagaimana berkebalikan dari pemikir seandainya. Dunia dipenuhi oleh pemikiran seandainya. Seandainya aku begini...seandainya aku tidak mengambil keputusan itu.....seandainya...dan berbagai seandainya yang lain. Terus saja berputar-putar tidak karuan pada ranah penjelasan ke penjelasan.
Pemikir bagaimana tidak menghabiskan energinya untuk hal-hal yang sudah lewat, dia memandang ke depan. Ia mencari solusi yang terbaik, karena ia tahu dan mempercayai bahwa akan ada solusi setiap permasalahan yang ada. Refleksi dalam pemikirannya, apa yang mampu aku lakukan dengan kemunduran ini secara kreatif? Apa pelajaran yang berguna bagi kehidupanku dengan peristiwa ini?
Pribadi yang menganut paham ini, meyakini bahwa nilai dan makna memang tidak mudah secara hakiki. Berandai-andai hanya mengahbiskan tenaga dan lebih baik melakukan sesuatu sebagai hal yang produktif.
Yakini bahwa kita pasti bisa dan pasti bisa, prinsip dinamis ini telah terbukti dengan baik. Banyak orang yang telah melakukannya, sehingga kepastiannya memperoleh nilai yang tinggi. Sangat penting memegang dan meyakini kalau kita mampu, dengan pertolongan Allah, menghadapi serta mengatasi segala masalah. Kata percaya dan bisa terpadu dalam kesatuan perbuatan yang kreatif.
Seorang pria yang merasa hidupnya selalu gagal menemukan dalam sebuah buku, suatu ungkapan yang mengusainya. Petikan itu berbunyi,” Harapkanlah yang terbaik dan dapatkanlah itu.” Ia menemukan pola pikir baru, karena selama ini setiap saat ia membayangkan dan memperkirakan yang terburuk dalam segala rencananya, dan biasanya terjadi.
Kitab Suci banyak memberikan inspirasi yang mampu menghapus citra gagal yang sering hinggap. “Mintalah maka akan diberikan kepadamu, dan ketoklah maka pintu akan dibukakan bagimu,” Mat.7:7). Dan, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban” (2 Tim. 1:7).
Ayat-ayat yang mampu mencuci otak untuk menyingkirkan segala macam keraguan dan rendah diri. Ambilah sikap untuk menyukai apapun yang hendak dilakukan. Kepercayaan kepada diri sendiri amat penting, kalau bukan dari diri kita, mana mungkin akan ada orang lain yang mempercayai kita?
Membangun dan menopang iman kita yang lemah dengan konsep-konsep alkitabiah yang penuh kuasa. Kitab Suci penuh dengan pikiran-pikiran yang menghasilkan iman  yang bisa memperbarui sikap mental kita. Kalau hal itu terjadi maka Anda akan menjadi orang percaya yang dapat mempercayai jalan Anda melalui berbagai masalah.


Masalah adalah mutiara yang sangat mahal
Beberapa waktu yang lampau ada seorang pemuda datang kepada seorang konselor, apa yang dilakukan oleh konselor tersebut ialah memberikan selamat, “Selamat ya, Anda mendapatkan masalah.”
“Lho, kog selamat,” jawab pemuda itu bingung, dia harapkan adalah simpati dan penghiburan. “Pemuda dengan masalahmu itu kamu akan memperoleh kekuatan yang berlipat ganda untuk hidupm di kemudian hari.
Masalah memberikan karunia yang tak ternilai berupa pengetahuan, wawasan, dan pengertian. Ketrampilan menghadapi masalah merupakan bekal yang Tuhan berikan kepada setiap orang untuk semakin mampu dan bertumbuh setiap saatnya.
Janganlah pernah berpikir untuk melawan masalah. Masalah bukan untuk dikeluhkan, saat masalah datang, banyaklah bertanya. Dengan bertanya akan timbul pengetahuan baru bagi kita. Allah menggunakan masalah sebagai metode dalam memberikan pengajaran kepada kita.

Penggalah Masalah Anda
Saudara terkasih, acap kali kita sudah minder dan tidak percaya diri dahulu kalau menghadapi persoalan. Kecenderungan manusia adalah membesar-besarkan masalah yang ada. Menakutkan, bukan karena terlalu besar masalah itu, namun karena pikiran kita yang sudah ketakutan terlebih dahulu dengan masalah yang ada. Padahal itu hanya bayangan kita sendiri.
Salah satu cara yang mendasar adalah memenggal masalahnya, kemudian mengurai itu menjadi lebih kecil. Perasaan takut dan panik perlu dihilangkan dan disingkirkan. Memulaii berpikir jernih dan obyektif akan sangat meringankan. Luruskanlah masalah apa adanya.

Minta Pertolongan Gaib
Siapapun tidak ada yang mampu menyelesaikan persoalannya sendirian, tentu dengan bantuan Allah. Tidak ada masalah yang lebih besar dari kemampuan manusia yang ditopang oleh Allah. Kombinasi kerjasama yang luar biasa besar memampukan manusia menghadapi semua persoalan.
Seorang ibu menderita banyak masalah, salah satunya ialah lumpuj sejak bayi, namun wajahnya tidak menunjukkan keadaan tersebut. Banyak yang bertanya mengapa bisa demikian tegar, dia menjawab, bahwa dia memiliki nomor telepon Allah, dan selalu dijawab, tidak pernah ada kata sibuk dari-Nya.
Nomornya ialah, Yeremia 33:3, “Berserulah, kepada-Ku maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui”.

Saudara terkasih, kita mampu mengatasi segala macam masalah, kalau kita memiliki nomor Allah. Nomor pribadi yang akan memberikan nasihat Ilahi dan pertolongan-Nya selalu tersedia.

Jumat, 12 Desember 2014

surat baptis akte orang Katolik

Tulisan ini bukan untuk meramaikan keadaan, hanya hendak menunjukkan, bukti otentisitas kekatolikan seseorang secara administratif. Beberapa saat ini ramai perbincangan mengenai perpindahan agama atau seseorang yang mengaku sebagai seorang imam Katolik pernah memimpin misa dan sekarang menjadi penganut agama lain, atau menyatakan diri Katolik, namun apakah memiliki bukti seperti itu?
Imam Gereja Katolik, tentu memiliki “SIM”, atau kartu identitas sendiri, dan saya tidak berwenang untuk membahas hal itu. Sebatas yang saya miliki dan sahih minimal adalah “akta lahir” sebagai bukti keanggotaan Gereja, dan itu selalu bisa dirunut ke rujukan yang sangat valid, seperti paroki, kalau pemerintahan ya setingkat kabupaten, ke keuskupan setingkat provinsi, selalu ada dan tidak lama bisa dicari.  Buku baptis demikian namanya, jelas menunjuk, buku ke berapa dicatat, peristiwa “kelahiran” itu, bahkan sampai halaman-halamannya pun jelas, bahkan ada nomornya sekaligus. Apa yang ditulis di sana adalah, tanggal peristiwa kelahiran biologis, tempat kelahiran, “kelahiran” gerejani atau baptis, nama kedua orang tua, nama wali/emban baptis, kemudian pejabat yang membaptis. Peristiwa-peristiwa inisiasi ke dalam keanggotaan gereja seperti komuni pertama dan krisma, yang sekali seumur hidup tidak berulang, seperti orang sunat, dan diizinkan untuk menerima pertama kali komuni ada semua, dicatat lokasi dan waktunya.
Pilihan hidup ada dua yaitu menikah atau selibater dengan menjadi imam, biarawan-biarawati. Kedua-duanya dicatat dalam “akte” itu dengan siapa dan lokasinya di mana, kemudian ada pencatatan lain, dan rujukannya sangat jelas, kalau menikah. Siapa yang memilih untuk menjadi imam, laporan bahkan hingga ke Vatikan, bahkan untuk keluar hanya bisa dinyatakan oleh kepausan, apalagi untuk bisa menikah dengan sah di Gereja Katolik, lebih lagi sulit, kalau tidak boleh disebut mustahil.
Demikian juga bagi yang memilih untuk mengikrarkan kaul kekal, berarti memilih tidak  menikah, ada pula catatan di buku induk paroki, sehingga kalau ada permintaan surat dan administrasi untuk menikah sekretariat akan membuka buku induk ada halangan berkaitan dengan kaul atau imamat tidak, baru bisa untuk mengurus surat menyurat dan administrasi pernikahan. Kaul dan imamat dengan pernikahan tidak akan bisa dengan sendirinya dalam Gereja Katolik. Termasuk halangan pernikahan dan itu bisa dibahas sendiri dalam tulisan yang lain.
Pernikahan di Gereja Katolik ada “undang-undangnya” untuk diumumkan sebanyak tiga kali, ini berkaitan dengan jangan sampai ada halangan pernikahan yang tertabrak, sehingga pernikahan tidak sah. Ini bisa dibahas tersendiri dan kurang berkorelasi dengan tulisan kali ini.
Umat hanya bisa memperoleh salinan seperti milik saya di atas, sedangkan yang asli tersimpan rapi di sekretariat paroki. Kecelakaan yang membuat buku induk dan arsip lainnya hangus telah disiasati dengan adanya komputerisasi administrasi tersebut. Berjenjang up date umat selalu dilakukan, mulai dari tingkat lingkungan atau RT/RW dalam pemerintahan negara, wilayah  setingkat kelurahan/kecamatan, dan berjenjang ke atas. Semua data ada dan rapi, tidak akan membutuhkan waktu lima menit kalau data seperti surat baptis ditunjukkan ke paroki yang namanya jelas tercantum dengan jelas dengan alamatnya tersebut. Akan sedikit rumit jika sudah ada pemekaran paroki yang bersangkutan.
Kecelakaan kecil, manusiawi, lupa mencatat karena bisa saja waktu itu petugasnya sedang sakit, bisa saja, namun secara umum, kekeliruan administrasi gereja Katolik amat kecil. Hanya kasus per kasus.
Sekali lagi ini bukan menghakimi siapapun yang berpindah ke agama lain, bukan, namun hanya saja  administrasi Gereja Katolik tersusun dengan rapi dan baik, apapun aktivitas status keanggotaan itu tercatat, maka kalau ada pemberitaan atau khabar yang berkaitan dengan demikian sangat gampang dicari kebenarannya. Apalagi kalau digunakan untuk propaganda oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Perpindahan agama itu urusan sangat personal pribadi yang bersangkutan. Pihak-pihak yang sering menggunakan bahan-bahan mentah seyogyanya lebih bekerja keras untuk mencari data dan validitas seperti “akte” tersebut sebelum memberitakan yang akan mengakibatkan kehebohan.


Salam Damai.....



Kamis, 27 November 2014

7 Habit Ala Yesus


1.       Proaktif, berarti bahwa ada kesempatan antara aksi dan reaksi, bukan sekedar langsung aktif menjawab. Kesempatan itu bisa akal budi, pemikiran, atau hati nurani, menimbang baik buruk atau moral, dan sebagainya, Yesus melakukan hal ini saat para pemuka jemaat membawa perempuan berzina, apa yang DIA buat ialah, menuliskan di tanah dan menyatakan dosamu diampuni dan pergilah. (Yoh. 8:2-11)
2.       Tujuan akhir, tujuan akhir Yesus ke dunia itu apa? Menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. Tapi datang godaan untuk kekuasaan, materi, nama baik,....Mat. 4:1-11. Godaan itu tidak mengubah pendirian-Nya bahwa bukan itu yang menjadi misi dan visi di dunia ini.
3.       Dahulukan yang utama: Kebangkitan Lazarus, Yoh 11:1-44, bertahan di kota yang sama untuk membuktikan mengenai kebangkitan. Bukan langsung kembali untuk menyembuhkan Lazarus yang sedang sakit, namun “menunggu sudah mati” dan baru  datang. Kembali, padahal baru saja dilempari. Bukan keselamatannya sendiri namun karya dan rencana-Nya. Sikap di taman Getsemani ketika ketakutan dan menyerahkan apa yang menjadi rencana-Nya saja, bukan kehendak Yesus.
4.       Bersikap menang-menang, peristiwa pajak, Luk. 20:20-26. Yesus bersikap jujur mengenai pajak dan apa yang perlu bagi Allah, seratus persen Indonesia dan 100 % Katolik, bahwa untuk kaisar dan Allah itu ada porsi masing-masing, bukan untuk dipertentangkan.
5.       Mengerti baru dimengertià Pemuda kaya Mat. 19:16-26, Yesus mengerti dengan baik apa yang dirasakan anak muda yang kaya tersebut. Dia tentu sayang dengan harta yang dimilikinya itu, maka dia pergi dengan sedih.
6.       Sinergi, peristiwa memberikan makan 5000 orang dengan 2 ikan dan 5 roti. Peristiwa memberikan makan bagi ribuan orang yang berasal dari 2 ikan dan 5 roti ini, mengungkapkan betapa Yesus berempati bagi para murid yang mengikuti-Nya, kemalaman, tidak mungkin membeli makanan. Dan ada anak kecil yang rela berbagi dengan apa yang dimulainya. Gerak hati untuk berbagi sebagai sinergi perasaan sepenanggungan yang perlu membagi apa yang dimiliki kepada sesama.
7.       Asah Gergajià Yesus setiap hendak berkarya selalu mendahuluinya ke tempat sunyi untuk berdoa dan mempersiapkan diri dengan baik. Terkhir sebelum menghadap Bapa, Dia berdoa di Getsemani. Kekuatan diperoleh dengan berdoa dan mempersiapkan diri dengan semaksimal mungkin.



Jumat, 24 Oktober 2014

Keluarga Broken, Pilihan Anak, dan Kenakalan Remaja


Kenakalan remaja, tawuran, balap liar, murid bandel sering dikaitkan dan dihubung-hubungkan dengan kondisi keluarga. Keluarga bermasalah sering membawa akibat bagi anak, pengaruh besar bagi kepribadian anak tidak bisa disangkal. Kepribadian dan kejiwaan keluarga bermasalah akan mewarnai seluruh anggota keluarga, baik itu orang tua yang bersangkutan atau suami istri terutama anak-anak. Anak kehilangan pegangan dan kasih sayang yang tidak berimbang. Sosok dari bapak-ibu yang komplementer memang akan menjadi pincang, karena hanya ada satu sisi, yaitu bapak saja atau ibu saja. Hampir tidak mungkin kedua belah pihak bisa memberikan curahan kasih sayang sebagaimana keluarga “normal.”
Keluarga broken atau bermasalah, bisa masing-masing berkeluarga lagi, atau hanya berpisah tanpa adanya perceraian dengan berbagai alasan. Bagi yang berkeluarga lagi dan mendapatkan kebahagiaan, tentu persoalan tidak akan berkepanjangan. Apabila berkeluarga lagi dan terjadi lagi persoalan, jiwa anak tentu akan lebih menderita.  Keluarga yang bermasalah, namun tidak dalam taraf cerai, masing-masing pihak hidup terpisah, membuat anak masih mendapatkan kesempatan untuk mereguk kasih sayang secara utuh walaupun tidak seideal di dalam keluarga yang lumrah.
Pengaruh atau perebutan hak asuh, biasanya menjadi persoalan berkepanjangan. Gontok-gontokan, perebutan menunjukkan kasih sayang dengan berbagai macam, membuat anak “kebingungan.” Kebingungan ini yang sering membawa efek samping adanya kenakalan remaja. Kenakalan remaja tidak identik dengan keluarga bermasalah, dan sebaliknya. Bukan satu-satunya penghasil kenakalan remaja adalah keluarga bermasalah, dan keluarga bermasalah dengan  pasti menghasilkan anak yang bermasalah juga.

Pilihan Anak.

Anak bisa memilih berdamai dengan apa yang terjadi. Keluarganya boleh pecah, bermasalah, atau ada persoalan, namun anak memutuskan bahwa akan menjalani hidupnya sendiri. Persoalan keluarga tidak mempengaruhi kepribadiannya secara fundamental. Pengaruh tentu ada, namun memotivasinya untuk mengubah keadaan. Anak bisa mencari sosok yang berperan bagi masa depannya, yang tidak bisa diperoleh dari rumah.
Pilihan berbeda bisa pula dipilih oleh anak yang berbeda. Memilih untuk mendapat keuntungan dengan “berkelit” kepada pihak yang satu apabila ada masalah di tempat yang lain. Ada persoalan dengan ibu atau lingkungan tempat ibu hidup lari ke bapak dan sebaliknya.
Pilihan anak ini bukan masalah usia atau pendidikan anak. Namun pilihan yang ada pada jiwa dan kepribadian anak. Sejak awal anak telah mampu memilih untuk mengikuti kata hatinya dalam membangun diri dan masa depannya. Anak yang mampu berdamai dan menerima keadaan keluarganya apa adanya akan menjadi anak yang penuh motivasi, memilih dengan cerdas akan hidupnya, dan bukan anak bermasalah. Cenderung menjadi anak yang sukses di masa depannya karena telah ditempa oleh keadaan dan menentukan pilihannya sejak dini.


 Kenakalan Remaja

Anak yang tidak berdamai terhadap keadaan biasanya akan mencari kompensasi dan pelampiasan. Tindakan kekanak-kanakan,  dengan membuat onar di kelas dan sekolah, jiwa pemberontak baik di keluarga ataupun sekolah bahkan masyarakat, dan mulai meninggalkan tanggung jawabnya.
Anak yang tidak mampu menghadapi keadaan dan mencari pelampiasan. Tingkah aneh-aneh, dari mewarnai rambut, ikut kelompok-kelompok yang tidak jelas, hingga lari dari rumah. Ini pola anak yang tidak tahan terhadap persoalan yang ada di keluarganya.
Anak yang hanya mencari pembenaran atas tingkah dan tindakan buruknya. Anak ini sebenarnya sudah salah dalam pergaulan dan perbuatan, misalnya tulang bolos, free sex, kecanduan game, atau madat, memang pilihannya sendiri, namun berkilah karena tidak ada kasih sayang dari rumah. Kelompok ini biasanya tidak berani sendirian, kalau ramai-ramai semangatnya berlipat ganda. Persoalan keluarga menjadi kambing hitam saja bagi mereka, untuk membenarkan kesalahan pilihan mereka sejak awal. Kesalahan ditimpakan pihak lain untuk membenarkan, minimal menenteramkan diri bahwa dia tidak sepenuhnya bisa dipersalahkan.




Senin, 13 Oktober 2014

Simbol Liturgi dan Aplikasinya Hari Ini


Gereja Katolik memiliki kekayaan yang luar biasa. Beribu simbol., berjuta makna, dan berjuta-juta pemahaman. Simbol perlu pengajaran, simbol perlu penjelasan agar mampu memiliki pehaman yang relatif sama, sehingga tidak menjadi batu sandungan satu sama lain.
Simbol liturgi lilin yang menyala, ada yang memahami bahwa mulai lilin dinyalakan, sudah saatnya untuk memasuki suasana perayaan Ekaristi, kegiatan duniawi seyogyanya ditinggalkah, puasa yang dulunya 24 jam, sudah dimulai, dan itu hingga komuni tidak ada satu jam. Paling lama misa mingguan biasa, pada kisaran 60 menit atau lebih sedikit, bagi orang dewasa belum menimbulkan kelaparan dan kehausan yang amat sangat.
Ironis, ketika pria dewasa, badan gagah, masih muda dalam artian tidak mungkin mengidap suatu penyakit yang akan membawa maut bagi pribadi itu, minum dengan seenaknya, bahkan hingga sampai menjelang komuni, karena saat Doa Syukur Agung.
Bahasa simbol perlu dijelaskan dengan gamblang, karena hari ini, bahasa lugas saja dengan seenanknya dilanggar dan tidak dijalani, apalagi yang berupa simbol, akan dengan mudah dijawab tidak tahu, atau oh begitu ya??
Katekese bagi kaum muda sudah mendesak dilakukan. Pelajaran komuni pertama dan penguatan perlu mendapatkan penekanan, bukan semata sekian kali dan pasti lulus, namun perlu pendampingan post pelaksanaan sehingga benar-benar menjadi umat berkualitas.
Gejala main gatged, smartphone, dan handphone, saatnya bersama Tuhan yang hanya sedikit telah dikorup dengan terang-terangan tanpa merasa berdosa dan mengganggu kiri kanannya yang hendak bersungguh-sungguh beribadat. Fenomena hingga ke pelosok dan hampir merata di semua tempat. Bagi yang belum perlu hati-hati dan perhatian agar tidak terjadi dengan adanya peringatan yang jelas dan ters terang.
Banyaknya umat yang menghadiri misa namun duduk di luar. Kalau katanya panas, sudah banyak yang ber-AC dan kipas angin, kalau alasan karena anak kecil, justru mengajarkan kepada anak untuk mengerti Ekaristi bukan mengajari nonton mobil di parkiran.

Kamis, 02 Oktober 2014

Gua Maria Kerep Ambarawa, Wisata Rohani di tepi Rawa Pening



Bulan Maria datang, dan tempat ziarah makin diminati, salah satu yang paling mudah, ialah Goa Maria Kerep Ambarawa, merupakan tempat wisata rohani bagi penganut Katolik. Goa di sebuah bidang yang relatif tinggi, dengan pemandangan yang luar biasa, ke arah tenggara ada Rawa Pening yang menghijau dengan enceng gondok dan airnya yang menyegarkan. Arah selatan masih mempertontonkan Rawa Pening yang dihiasi sawah yang hijau atau kuning tergatung waktu berkunjung. Pemandangan arah timur menyajikan pemandangan kota Ambarawa dan sedikit kota Salatiga di kejauhan. Sisi timur goa, ada aliran sungai yang menambah kesyahduan ketika merenung.
IMG_6330.JPG
Selain goa, terdapat pula taman yang hijau dan rimbun dengan beraneka tanaman. Rumput taman yang menyegarkan, bunga-bunga yang beraneka ragam warna, bentuk, dan keindahnya memanjakan mata yang letih beraktivitas sepanjang waktu.
IMG_6316.JPGIMG_6352.JPGIMG_6384.JPGIMG_6409.JPGIMG_6456.JPG
Bagi yang hendak melakukan berkemah ada juga tanah lapang yang disediakan untuk itu. Sarana MCK baik, dan tersedia dengan lengkap. Udara yang sejuk membantu memberikan kesegaran baru, keluar dari rutinitas setiap hari yang melelahkan.
Kesegaran air di kolam ataupun di kamar mandi yang disediakan sangat dingin dan segar, membantu relaksasi setelah lelah melakukan perjalanan. Kalau melakukan perjalanan untuk mendapatkan kesegaran, lebih baik jalan kaki saja ketika naik ke goa. Dari jalan raya berjarak sekitar 900 meter dan semua menanjak.
IMG_6387.JPG
Rute yang bisa dicapai, kalau menggunakan anggutan pribadi, dari arah Semarang atau Solo, berbelok di pertigaan Bawen, di terminal Bawen dari arah Solo belok kiri dan lurus hingga Ambarawa, sekitar 4  kilometer, ada terminal Ambarawa, ini terletak setelah kota Ambarawa di depannya belok kanan dan sampai. Pengunjung dari arah Semarang, sampai terminal Bawen belok kanan dan sama dengan pengunjung dari Solo. Dari arah Jogja Magelang, sebelum masuk kota Ambarawa, akan ditemui terminal Ambarawa kemudian belok kiri, dan sampai. Kalau memang hendak mendapatkan kesegaran menyeluruh, kendaraan bisa parkir di kawasan terminal Ambarawa.
Bagi penikmat angkutan umum, kalau dari Solo, turun di terminal Bawen kemudian ganti angkutan arah Ambarawa, ini angkutan Ambarawa-Ungaran, bayar Rp. 2000,00 turun di Museum Palagan Ambarawa, tidak sampai di terminal Ambarawa, berjalan ke arah Magelang, sekitar 100 meter dan berjalan ke arah atas, sama dengan di atas. Pengunjung dari Arah Semarang perlu hati-hati bertanya dahulu kepada awak angkutan, karena bisa bis lewat jalur luar Ambarawa, turun di perempatan jalur lingkar dan ikut angkutan pengunjung dari arah Solo di atas. Kalau bis masuk kota, minta turun di terminal, dna jalan kaki ke atas. Bus dari arah Magelang juga pengunjung patut bertanya bis lewat mana, kalau lewat jalur lingkar, pengunjung minta turun di pom bensin Ngampin dan ganti angudes dengan tarfi Rp. 2.500,00 minta turun di terminal Ambarawa.
IMG_6500.JPGIMG_6502.JPG
IMG_6493.JPG
Kuliner, tidak perlu khawatir, banyak makanan baik berat maupun sedang. Murah meriah, sega pecel, pojok SD PL, ini berdiri di ujung dekat jalan raya, berhimpit dengan dinding pagar SD, dan makanan yang sangat segar dan enak, setelah segar secara rohani. Sayangnya tempat yang ada sering tidak menyukupi dibandingkan dengan pembelinya.
Souvenir dan jajanan untuk oleh-oleh banyak pilihan, dan harga bersaing, di sepanjang perjalanan dari jalan raya hingga tempat tujuan. 


Rabu, 01 Oktober 2014

. Faktor-Faktor untuk Membangun Kesejahteraan Keluarga


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membangun kesejahteraan keluarga, sebagai berikut:
1.        Komunikasi dalam Keluarga
Perkawinan terdiri atas dua pribadi yang berbeda, terpisah, dan memiliki kepribadian, sifat, dan kepribadian masing-masing. Cita-cita perkawinan mesti memiliki harapan untuk memiliki cinta yang abadai dan perkawinan tersebut penuh dengan kebahagiaan, keakraban, dan kemesaraan setiap saat.
Kebahagiaan dan kesatuan tersebut bukan jatuh dari langit, namun perlu diusahakan dan diperjuangkan dalam kehidupan sehari-hari. Perjuangan tersebut perlu dilakukan dengan penuh kesetiaan satu sama lain, saling mencintai, saling memberi perhatian, dengan penuh kerelaan mengesampingkan dan menomorduakan kesenagannya sendiri demi pasangan. Panggilan hidup suami-istri adalah menjadi satu, karena telah dipersatukan oleh Allah dalam sakramen perkawinan. Sabagai salah satu sarana utama yaitu kerelaan berkaitan juga dengan ketrampilan dan teknik berkomunikasi satu sama lain.
Dua pribadi yang berbeda perlu adanya penyesuaian untuk menjadi satu sebagaimana panggilan hidup perkawinan. Komunikasi dapat dilakukan dengan pembicaraan dari hati ke hati, menyediakan waktu untuk rekreasi, mengungkapkan rasa kasih selain hubungan badan saja, dan juga menyediakan waktu berdua ketika sudah mulai memiliki anak. [1]
2.        Cinta Kasih Suami-Istri Bersifat Subur
Cinta kasih suami-istri bersifat subur berkaitan dengan penerusan atau menurunkan dan adanya kelahiran anak maupun dalam arti moral dan spiritual. Kehidupan seksual dan hidup berkeluarga terarah kepada penerusan penciptaan manusia. (Bdk. Kej. 1)[2]
3.        Ekonomi Rumah Tangga
Dewasa ini ekonomi rumah tangga menjadi tolok ukur kesejahteraan keluarga bagi banyak orang. Mestinya ekonomi atau harta benda hanyalah salah satu menakar kadar kesejahteraan keluarga.
Keluarga yang sejahtera kalau dari penghasilan yang tetap itu dapat mencukupi seluruh kebutuhan keluarga yang selalu berubah. Kebutuhan yang mesti tercukupi seperti makan setiap hari dengan rutin, dapat berpakaian pantas, punya tempat kediaman yang layak, mendapatkan pendidikan yang mencukupi, dan bila ada anggota keluarga yang sakit dapat memberikan pengobatan dan perawatan seperlunya.[3]
4.        Peran Anggota Keluarga
Peran masing-masing anggota keluarga tentunya berbeda-beda. Antara ayah, ibu, anak-anak tentunya memiliki fungsi dan tugas masing-masing. Semua berjalan sebagai satu kesatuan yang saling mengisi. Peran yang umum terjadi di masyarakat, bapak lebih banyak berperan ke arah luar, seperti mencari nafkah, sedang ibu menguruh seluruh kebutuhan yang berciri domestik. Keadaan ini bukan matematis yang mesti demikian kalau tidak demikian salah, bukan. Peran berkaitan juga dengan komunikasi, bisa saja ibu dan bapak bertukar peran atau saling melengkapi. Bukan salah kalau ibu juga mencari nafkah, dan ayah juga terlibat dalam urusan rumah tangga. Anak-anak berkewajiban untuk berbakti dan membantu meringankan beban orangtua sebatas kemampuannya.[4]
5.        Kesehatan dalam Keluarga
Kesehatan keluarga memegang peranan yang penting dalam membangun kesejahteraan. Diperparah keadaan masyarakat dan bangsa yangs sedang menghadapi masa yang tidak jelas dengan beaya kesehatan amat mahal. Sarana dan prasarana kesehatan yang disediakan Negara masih memprihatinkan. Kalau ada salah satu saja anggota keluarga yang tidak sehat, kondisi dan keadaan keluarga tersebut tidak nyaman dan bergejolak dalam banyak aspek. Aspek ekonomi, ketenangan dan rutinitas berubah, banyak persoalan timbul kalau ada yang sakit.
6.        Keluarga Berencana
Keluarga berencana dimaksudkan untuk bertanggung jawab atas keluarganya tersebut. Jumlah anak, jarak kelahiran dan berhubungan dengan pendidikan dan pembeayaan yang perlu ditanggung orangtua. Keluarga berencana menjadi tanggung jawab suami-istri sepenuhnya dalam membangun kesejahteraan keluarga.






[1] Gilarso, T (Ed), Membangun Keluarga Kristiani, Pembinaan Persiapan Berkeluarga, Kanisius, Yogyakarta, 1995, p. 42
[2] Op. Cit, Tim KomKel, p. 8
[3] Op. Cit, Gilarso, T (Ed), p. 135
[4] Op. Cit, Hardiwiratno, p. 54

Kesejahteraan Keluarga dan Keluarga Berencana


Ensiklik Humanae Vitae Art. 10:
Orangtua dapat mengambil keputusan yang telah dipertimbangkan secara tulus iklas maau memelihara keluarga yang besar atau juga karena alasan-alasan yang berat, tetapi dengan tetap penuh hormat mentaati hukum  moral, mau menghindari kelahiran baru untuk sementara waktu atau yang tidak ditentukan lamanya.
Kesejahteraan keluarga tidak dapat dilepaskan dari keluarga berencana berkaitan erat dengan moral tanggung jawab. Orangtua berkewajiban untuk merencanakan jumlah anak, hak orangtua untuk merencanakan keluarga, dan anak sebagai anugerah Tuhan. Pembahasan selengkapnya sebagai berikut:
1.        Kewajiban untuk merencanakan jumlah anak
Keluarga yang bertanggung jawab perlu berfikir mengenai jumlah anak. Tanggung jawab hidup berkeluarga selain berfikir mengenai jumlah anak juga berfikir menganai jarak kelahiran anak satu dengan yang lainnya.[1] Banyak faktor yang perlu diperhatikan untuk keluarga bertanggung jawab. Keadaan kesehatan, psikologis, ekonomi, dan keadaan keluarga tersebut. Jumlah anak dalam keluarga merupakan tanggung jawab dan keputusan suami-istri. Perlu dipertimbangkan dengan masak juga mengenai jarak kelahiran satu anak dengan anak berikutnya.
2.        Hak orangtua untuk merencanakan keluarganya
Keluarga berencana bukan semata kewajiban, melainkan juga hak suami-istri. Hal ini perlu ditekankan agar intervensi dari luar termasuk Negara dapat dipahami dengan semestinya oleh keluarga-keluarga, termasuk keluarga Kristiani. Yang menjadi pedoman bagi suami-istri dalam melaksana keluarga berencana adalah tidak boleh ada yang dirugikan.

3.        Anak sebagai anugerah Tuhan
Anak sebagai anugerah Tuhan dapat menimbulkan persoalan ketika berkaitan dengan keluarga berencana. Kalau sebagai anugerah, manusia dapat membatasi kelahirannya? Suami-istri terlibat dalam karya penciptaan generasi baru tersebut. Dalam ikut serta tersebut manusia juga perlu menggunakan akal budinya sehingga tidak membutakan diri terhadap alasan apapun. Ketika berkaitan dengan perkosaan dan terjadi kehamilan, anak tersebut benar-benar anugerah Tuhan, yang bersalah bukan anaknya melainkan pelaku perkosaan tersebut. Atau anugerah Tuhan untuk menelantarkan anak yang dilahirkan tanpa perhitungan akan kemampuan suami-istri dalam berbagai bidang.[2]





[1] Humanae Vitae 10
[2] Op.Cit. Go, Piet, p.130

Pandangan Gereja Mengenai Kesejahteraan Keluarga


Sebagaimana pengertian kesejahteraan keluarga di atas, yang menyatakan kesejahteraan berkaitan dengan kesetiaan kepada Allah. Maka dapat dijelaskan padangaan Gereja sebagai berikut:
1.        Moral Keluarga
    Teks Kitab suci yang menjadi pedoman moral perkawinan dan keluarga dapat disebutkan beberapa, sebagai berikut;
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi (Kej. 1: 27-28).
Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging (Kej. 2:23-24).
Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?"
(Mat. 19-1-12).
Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,  karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh (Ef. 5:22-23).
Ketaatan manusia bukan ketaatan buta terhadap aturan-aturan, karena manusia diciptakan Tuhan sebagai citra-Nya. manusia diperlengkapi dengan akal budi dan kehendak bebas, sehingga dapat berpartisipasi dalam karya Allah hingga mengatasi dunia. [1]
Dalam moral keluarga umat beriman tidak dapat berpuas diri dengan rutinitas pelaksanaan kewajiban. Melainkan juga dijiwai dinamika pengembangan keluarga.
Membangun suatu keluarga berarti mengembangkan cinta kasih antaranggota keluarga, baik suami-istri, antara orangtua-anak, ataupun antara sesama anggota keluarga yang lain. Setiap keluarga Katolik dipanggil untuk melaksanakan tugas pokok ajaran Kritus, yaitu ajaran kasih dalam praktek kehidupan berkeluarga.
Tugas membina dan mengembangkan persekutuan pribadi-pribadi suami-istri  memegang peran penting dalam kaitannya dengan pengembangan keluarga. Perkembangan peran setelah pernikahan berubah menjadi keluarga. Suami-istri mempunyai peran yang lebih besar yaitu sebagai orangtua, ayah dan ibu, sehingga suami-istri harus lebih menyesuaikan diri dengan peran tersebut.
2.        Keluarga Kristiani sebagai Persekutuan Hidup dan Doa
Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakatdan juga Gereja. Anggota keluarga dapat terdiri atas suami-istri atau suami-istri dengan anak-anak, atau ayah dan anak atau ibu dengan anak.
Keluarga sebagai persekutuan hidup dan cinta sebagaimana disebutkan dalam Gaudium et Spes artikel 48 memiliki empat misi, yaitu membentuk komunitas pribadi-pribadi, mengabdi kehidupan, ikut serta dalam pembangunan masyarakat, dan mengambil peran dalam pengutusan Gereja. Artikel 48 dari Gaudium et Spes selengkapnya sebagai berikut:
48. (Kesucian perkawinan dan keluarga)
Persekutuan hidup dan kasih suami-isteri yang mesra, yang diadakan oleh Sang Pencipta dan dikukuhkan dengan hukum-hukumnya, dibangun oleh janji pernikahan atau persetujuan pribadi yang tak dapat di tarik kembali. Demikianlah karena tidakan
manusiawi, yakni saling menyerahkan diri dan saling menerima antara suami dan isteri, timbullah suatu lembaga yang mendapat keteguhannya, juga bagi masyarakat,
berdasarkan ketetapan ilahi. Ikatan suci demi kesejahteraan suami-isteri dan anak
maupun masyarakat itu, tidak tergantung dari manusiawi semata-mata. Allah sendirilah  Pencipta perkawinan, yang mencakup berbagai niali dan tujuan.  Itu semua penting sekali bagi kelangsungan umat manusia, bagi pertumbuhan pribadi serta tujuan kekal masing-masing anggota keluarga, bagi martabat, kelestarian, damai dan kesejahteraan  keluarga sendiri maupun seluruh masyarakat manusia. Menurut sifat kodratinya lembaga  perkawinan sendiri dan cinta kasih suani-isteri tertujukan kepada lahirnya keturunan  serta pendidikannya, dan sebagai puncaknya bagaikan dimahkotai olehnya. Maka dari itu pria dan wanita, yang karena janji perkawinan “bukan lagi dua, melainkan satu daging”  (Mat 19:6), saling membantu dan melayani berdasarkan ikatan mesra antra pribadi dan kerja sama; mereka mengalami dan dari hari ke hari makin memperdalam rasa kesatuan  mereka. Persatuan mesar itu, sebagai saling serah diri antara dua pribadi, begitu pula kesejahteraan anak-anak, menuntut kesetiaan suami isteri yang sepenuhnya, dan menjadikan tidak terceraikannya kesatuan mereka mutlak perlu. Kristus Tuhan melimpahkan berkat-Nya atas cinta kasih yang beraneka ragam itu, yang berasal dari sumber ilahi cinta ksih, dan terbentuk menurut pola persatuan-Nya dengan Gereja. Sebab seperti dulu Allah menghampiri bangsa-Nya dengan perjanjian kasih dan kesetiaan. Begitu pula sekarang Penyelamat umat manusia dan Mempelai Gereja, melalui sakramen perkawinan menyambut suami-isteri kristiani. Selanjutnya Ia tinggal berserta mereka supaya seperti Ia sendiri mengasihi Gereja dan menyerahkan Diri untuknya, begitu pula suami-isteri dengan saling menyerahkan diri saling mengasihi  dengan kesetiaan tank kunjung henti. Kasih sejati suami-isteri ditampung dalam cinta ilahi, dan dibimbing serta diperkaya berkat daya penebusan Kristus serta kegiatan Gereja yang menyelamatkan, supaya suami-isteri secara nyata diantar menuju Allah, lagi pula dibantu dan diteguhkan dalam tugas mereka yang luhur sebagai ayah dan ibu. Oleh karena itu suami-isteri kristiani dikuatkan dan bagaikan dikuduskan untuk tugas kewajiban  maupun martabat status hidup mereka dengan sakramen yang khas. Berkat kekuatannyalah mereka menunaikan tugas mereka sebagai suami-isteri dalam keluarga; mereka dijiwai semangat Kristus, yang meresapi seluruh hidup mereka dengan iman, harapan dan cinta kasih; mereka makin mendekati kesempurnaan mereka dan makin saling menguduskan, dan dengan demikian bersama-sama makin memuliakan Allah. Maka dari itu, mengikuti teladan orang tua dan berkat doa keluarga, anak-anak, bahkan semua yang hidup dilingkungan keluarga, akan lebih mudah menemukan jalan perikemanusiaan, keselamatan dan kesucian. Suami-isteri yang mengemban martabat
serta tugas kebapaan dan keibuan, akan melaksanakan dengan tekun kewajiban memberi pendidikan terutama dibidang keagamaan, yang memang pertama-tama termasuk tugas mereka. serta menguduskan orang tua mereka. Sebab mereka akan membalas budi kepada orangtua dengan rasa syukur terima kasih, cinta mesra serta kepercayaan mereka, dan seperti layaknya bagi anak-anak akan membantu orang tua di saat-saat kesukaran dan dalam kesunyian usia lanjt. Status janda, yang sebagai kelangsungan panggilan berkeluarga ditanggung dengan keteguhan hati, hendaknya dihormati oleh semua orang. Hendaknya keluarga dengan kebesaran jiwa berbagi kekayaan rohani juga dengan keluarga-keluarga lain. Maka dari itu keluarga kristiani, karena berasal dari pernikahan, yang merupakan gambar dan partisipasi perjanjian cinta kasih antara Kristus dan Gereja. Akan menampakkan kepada semua orang kehadiaran Sang Penyelamat yang sungguh nyata di dunia dan hakekat Gereja yang sesungguhnya, baik melalui kasih suami-isteri, melalui kesuburan yang dijiwai semangat berkorban, melalui kesatuan dan kesetiaan, maupun melalui kerja sama yang penuh kasih antara semua anggotanya.
Keluarga harus mengembangkan cinta agar tumbuh menjadi komunitas antarpribadi. Karena cinta merupakan dasar kehidupan keluarga. Cinta suami-istri juga tidak terceraikan karena dituntut untuk mempertahankan kesejahteraan keluarga terutama anak-anak. Perkawinan merupakan lambang cinta Allah dan umat-Nya, Kristus terhadap Gereja-Nya, maka perceraian ditolak dengan tegas oleh Kristus. (bdk. Mat. 19:1-2, Mrk. 10:1-12)




[1] Go, Piet, Moral Perkawinan dan Seksualitas, Dioma, Malang, 1985, p. 130

Pengertian Kesejahteraan Keluarga


Kesejahteraan keluarga dapat dilihat dalam pandangan Negara ataupun Gereja. Negara memberikan batasan mengenai kesejahteraan keluarga seperti tercantum di dalam UU No. 10 tahun 1992, ialah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material secara layak, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras, dan seimbang antaranggota keluarga dan anggota masyarakat, serta lingkungannya.
Keluarga sejahtera menurut Gereja seperti diungkapkan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam Amanat Apostolik Familiaris Consortio seperti berikut
Keluarga Persatuan Pribadi Pribadi Artikel 15
Dalam perkawinan dan dalam keluarga terjalinlah serangkaian hubungan antarpribadi, hidup sebagai suami-istri, hidup sebagai ayah dan ibu, hidup sebagai anak dan sebagai saudara- dan melalui hubungan-hubungan itu setiap pribadi manusia dibawa masuk ke dalam keluarga manusia dan ke dalam keluarga Allah yakni Gereja.
Perkawinan Kristiani dan keluarga Kristiani membangun Gereja sebab dalam keluarga itu pribadi manusia tidak hanya dijadikan ada dan secara bertahap, melalui pendidikan dibawa masuk ke dalam masyarakat manusiawi, tetapi juga melalui kelahiran kembali dalam baptis dan pendidikan iman, anak dibawa masuk ke dalam keluarga Allah, yakni Gereja.
Keluarga manusiawi, yang diretakkan oleh dosa, dipulihkan kembali, kesatuannya oleh daya kuasa penebusan wafat dan kebangkitan Kristus. Perkawinan Kristiani dengan mengambil bagian dalam buah peristiwa penyelamatan ini, merupakan pintu masuk yang kodrati, tempat pribadi manusia diantar ke dalam keluarga besar Gereja.
Perintah yang diberikan kepada pria dan wanita pada awal sejarah untuk  bertumbuh dan bertambah banyak dengan demikian mencapai kebenaran dan perwujudannya yang penuh.
Demikianlah Gereja menemukan dalam keluarga yang lahir dari sakramen dan palungan dan pintu tempat Gereja dapat masuk ke dalam angkatan-angkatan manusia, dan tempat angkatan-angkatan manusia itu pada gilirannya dapat masuk ke dalam Gereja.[1]
Keluarga sejahtera berkaitan dengan kesetiaan kepada rencana Allah sebagai sebuah perkawinan dan keluarga. Allah menghendaki keluarga yang disusun oleh pribadi-pribadi manusia sebagai citra Allah yang diciptakan untuk saling mencintai . Cinta itu diungkapkan antara lain dalam dan melalui tubuh manusia yang harus mengungkapkan pemberian diri Allah secara total dalam penciptaan dan penebusan. Pemberian diri melingkupi kemungkinan akan hadirnya anak-anak. Seksualitas dan prokreasi bukanlah semata-mata biologis. Oleh karena itu, seorang laki-laki dan perempuan saling mencintai dan dalam mengekspresikan cintanya harus di dalam pernikahan yang sah. Dengan demikian, perkawinan merupakan suatu tanda (sakramen) dari cinta Allah kepada umat-Nya. anak-anak sebagai anugerah pernikahan yang berharga, buah pemberian diri timbal balik dari pasangan[2]




[1] Paulus, Yohanes, Keluarga Kristiani dalam Dunia Modern, Kanisius, Yogyakarta, 1993, p. 34-35
[2]Tim Komisi Keluarga KWI, Membangun Keluarga Sejahtera dan Bertanggung Jawab Berdasar Prespektif Agama Katolik,  KomKel KWI dan BKKBN, Jakarta 2008