Selasa, 17 Februari 2015

Ziarah


Gereja Katolik mengenal kebiasaan yang bernama Ziarah, ziarah rohani yang kebanyakan berkaitan dengan Maria. Apakah kegiatan itu berupa penyembahan? Bukan. Menyembah itu berkaitan dengan merendahkan diri dan mengakui kekuasaan Allah yang mutlak atas segala makhluk.
Maria, sebagai pribadi yang sering kita jadikan obyek ziarah, juga ciptaan seperti kita. Ia bunda kita sehingga kita harus menghormatinya, bukan menyembah. (Youcat no, 144)
Tujuan Ziarah: Perziarahan merupakan suatu peristiwa, sebagai berdoa dengan kakinya dan mengalam dengan semua inderanya, bahwa seluruh hidupnya merupakan suatu perjalanan panjang kepada Allah.
Peringatan: hati-hati pemahaman yang kurang tepat bahwa peziarahan sebagai pembenaran diri di hadapan Allah dengan menyiksa diri dan menghukum diri sendiri.

Masa kini, ziarah sebagai sarana dalam mencari kedamaian dan kesegaran dari tempat suci yang mereka datangi. Sebuah jalan keluar dari rutinitas sehari-hari, menyingkirkan beberapa batu kerikil, dan bergerak menuju Tuhan (Youcat, hak 276).

Jumat, 06 Februari 2015

Kitab Bilangan


Orang Yahudi memberikan nama sesuai dengan kata pertamanya, yang di Indonesiakan, “Dia berkata di padang gurun”. Dalam Bahasa Yunani dikenal dengan nama Numeri yang diikuti dalam Bahasa Latin dan hingga Bahasa Indonesia mengenalnya dengan Bilangan.
Penulis:
Ada anggapan penulis atau penyusun Kitab ini, ialah Musa. Banyak argumen dan disukusi mengenai siapa penulisnya, namun adanya satu kesepakatan asal dari isi Bilangan berasal dari tradisi masa purba atau zaman Musa.
Isi:
·         Sejarah yang dicatat sepanjang 38 tahun, yaitu tahun 2-40 sesudah keluar dari Mesir
·         Peraturan dan hukum, orang Israel memang tidak membedakan hukum upacara agamawi, moral, yuridis, dan sosial sebagaimana hari ini.
·         Musa memiliki peran yang dominan. Dengan segala dinamika, kelemahan dan kekuatannya membimbing bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir
Pesan:
·         Allah tidak pernah berubah dalam kesetiaan-Nya
·         Kekudusan Allah memegang peran penting
·         Ketentuan sangat terperinci dan mendetai, Allah menjalankan kekuasaan atas segalanya dengan hal-hal yang kecil juga
·         Sesaat sebelum masuk tanah terjanji, mereka menyerah dan menyembah dewa-dewa. Tuhan menunjukkan diri bukan hanya Tuhan di padang gurun.
Kristologi Bilangan:
Allah yang setia pada perjanjian-Nya


Sumber: Ensiklopedi Alkitab Masa Kini A-L

Selasa, 03 Februari 2015

Percaya Diri: Saya Bisa Berubah Menjadi Lebih Baik



Ketika kepada kita diajukan pertanyaan apakah ada yang hendak diubah dalam kehidupan kita, banyak yang akan menyatakan iya, ada yang pengin diubah. Unsur yang tidak sesuai dalam kepribadian sering  berperan dalam kegagalan dan ketidakbahagiaan kita. Bisa saja kita memiliki sifat dan kebiasaan berbicara yang menyakiti orang lain dan bisa merusak hubungan yang telah terjalin baik. Tentu di antara kita memiliki kelemahan dan ketidaksesuaian. Pastinya akan bersuka cita kalau kita mendengar ada kuasa yang tersedia untuk mengubah kehidupan kita tersebut.
Kuasa itu ialah kehidupan Ilahiah dalam diri kita. Kuasa luar biasa yang ada dalam diri kita masing-masing, kalau diolah dan difokuskan mampu menghasilkan perubahan yang signifikan dan spektakuler dalam kepribadian kita.

Sumber Kuasa
Manusia hanya bisa menginginkannya, bagaimana mereka memintanya dan kepada siapa? Tepat atau tidak yang dimintai tolong? Dan bagaimana sikap mereka terhadap perubahan tersebut. Menginginkan perubahan tentu menjadi dasar dan motivasi bagi orang yang hendak beranjak maju dalam kepribadian dan kerohanian. Menyadari membutuhkan perubahan, manusia perlu untuk mengingingkan perubahan sebagai motivasi terlebih dahulu. Kemudian kita meminta kepada siapa bantuan tersebut? Sudah tepat belum? Sering manusia terlalu mengandalkan diri sendiri dan sesamanya manusia, yang sering belum tentu banyak membantu. Kita layak memohon kepada yang memiliki kuasa mengubah, yaitu Tuhan Allah sendiri. Meminta kepada yang tepat dan permintaan yang tepat pula sangat membantu orang untuk berubah. Menerima perubahan tersebut dengan penuh syukur dan keterbukaan hati. Orang sering meminta dalam doanya kepada Tuhan Allah untuk apa saja, salah satunya untuk berubah, namun reaksi yang diterima belum tentu dengan rasa syukur malah tidak jarang adalah sungut-sungut karena berbeda dengan apa yang diinginkan. Menerima itu penting.
Setelah mampu menerima perubahan, bisa membantu suadara lain yang berusaha mengatasi kelemahannya. Apa yang  bisa dilakukan? Bisa menggunakan media tulisan, pembicaraan dalam kehidupan sehari-hari, dan banyak sarana yang bisa dipakai. Berkat itu biar mengalir menjadi berkat bagi yang lain juga.

10 Langkah Menuju Kehidupan yang Berubah:
1.        Menyadari bahwa kuasa untuk mengubah kehidupan kita berasal dari iman kepada Kristus
2.        Menyerahkan diri dan segala masalah kita kepada Allah
3.        Mempraktekkan prinsip iman yang rileks, merelakan dan menyerahkan kepada Allah
4.        Meminta kepada Allah, kuasa untuk menjalani kehidupan baru. Percaya bahwa Ia akan memberikannya
5.        Mempelajari Kitab Suci Perjanjian Baru dan menghafalkan sabda Tuhan
6.        Mencoba menanyakan kepada Yesus, lalu coba melakukannya
7.        Biasakan diri berdoa setiap hari, sisihkan waktu secara khusus untuk berdoa dan berikanlah prioritas
8.        Membaca Perjanjian Baru dari awal hingga akhir, dan pelajari ayat-ayat yang menarik serta menginspirasi bagi kita
9.        Memenuhi kesadaran kita dengan pikiran-pikiran yang berpusat pada Kristus.
10.     Mempraktekan kasih serta itikat baik terhadap orang lain.

Kita Bisa Memiliki Kehidupan Keluarga yang Bahagia
Keluarga, baik keluarga inti atauppun keluarga secara luas, merupakan potensi luar biasa untuk kebahagiaan atau sebaliknya. Bisa penuh kasih ataupun kesalahpahaman serta konflik.
Kehidupan keluarga yang diwarnai dan dihidupi dengan kasih sayang serta sikap saling mengasihi akan memperoleh keluarga yang memiliki kehidupan yang paling bahagia di seantero dunia. Berbeda dengan keluarga yang  penuh dengan  kesalahpahaman, perselisihan, dan berbagai konflik, maka terciptalah kondisi keluarga yang tidak sehat, yang terus berefek negatif terhadap kehidupan keluarga tersebut, terutama anak-anak.
Manusia yang menggunakan nalar, intelijensia, ketulusan, bagi semua usia, mampu hidup dengan damai dan dalam hubungan yang penuh sukacita. Sekiranya hal tersebut belum terjadi dalam keluarga kita, kita perlu meyakini bahwa kita mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik sebagaimana kita angankan.
Beberapa langkah untuk menciptakan keluarga bahagia:
1.        Memulai dari diri sendiri
Tentukan dan yakinkan bahwa siapa yang bisa memulai perubahan adalah kita sendiri. Semangat kita akan menjadi kekuatan dan semangat bagi seluruh keluarga.
2.        Menanyakan kepada diri sendiri
Pertanyaan apakah aku memberikan kontribusi terhadap kebahagiaan keluarga atau justru sebaliknya?  Pastikan jawaban itu jujur dan terbuka.
3.        Memberikan koreksi kalau ada sikap tidak percaya atau permusuhan dalam diri sendiri
Memperlakukan semua orang dalam keluarga bukan saja dengan kasih, melainkan juga dengan hormat terhadap pendapat mereka. Memberikan hormat secara tulus.
4.        Anggap dan yakini diri sebagai “sel” kasih dan bersikap penuh kasih
Tidak perlu memberikan proklamasi atas pilihan kita tersebut, namun jalani dengan komitmen tinggi, maka akan terasa oleh seluruh keluarga akan dapat memberikan warna bagi seluruh keluarga.

5.        Mendorong setiap anggota keluarga untuk saling menghormati
Saling menghormati bukan hanya kepada anggota keluarga ke atas, atau kepada orang tua dan kakak dan yang lebih tua semata, namun seluruh anggota keluarga saling menghargai. Kasih yang ada akan menimbulkan iklim kehendak baik.
6.        Bersikap realistis.
Sikap yang berpikir secara logis dan realistis, dalam hal melihat perubahan tidak akan serta merta dan semua orang akan langsung berubah. Bisa saja penolakan dan resistensi yang kuat, berupa kebencian, prasangka, dan itu hanya bisa berkurang secara bertahap.
7.        Mengembangkan iman serta ketergantungan mendalam kepada Allah
Mazmur 127:1b menyatakan, Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya;  ungkapan ini hendak mengajarkan kepada kita dengan iman akan mampu mengatasi situasi dengan iman, bagi yang sering gagal karena tanpa melibatkan iman.
8.        Memulai program doa
Doa akan menumbuhkan semangat kebersamaan dan persekutuan yang lebih mendalam, mengubah keadaan menjadi lebih baik dan menyenangkan.


Kita Bisa Menyenangi Pekerjaan Kita
Perubahan juga berkaitan dengan dengan aspek kehidupan kita lainnya, yaitu pekerjaan. Bisa dengan keluar dan berganti dari pekerjaan lama, atau mengubah kita dalam melihat, menjalankan, dan melibatkan diri dalam pekerjaan kita meskipun itu adalah pekerjaan yang sama.
Cara pertama, dengan keluar memang segala sesuatu yang  lama akan tergantikan dengan yang baru, namun apakah semuanya akan mulus dan baik-baik saja, kan juga belum pasti terjadi. Baru sebatas suasana, rekan, dan lingkungannya, sedangkan secara keseluruhan belum sepenuhnya benar, kalau tidak hati-hati justru sama saja.
Sikap dan kelemahan dan kelebihan yang melakat dalam diri sendiri adalah berkaitan dengan rasa itu, apalagi yang berhubungan dengan kelemahan. Biasanya kelemahan itulah yang membuat kita berpindah. Mengatasi kelemahan dan melihat pekerjaan dengan cara yang baru sebagai solusi. Melihat pekerjaan secara positif dan mengubah diri menjadi lebih baik sebagai sarana pengembangan diri, bukan pekerjaan yang menyesuaikan dengan kita tentunya, tapi kita yang perlu menyesuaikan dengan pekerjaan dan lingkungannya.

Kita Bisa Menyingkirkan Segala Penopang Kepribadian Kita
Sering kita saksikan di sekitar kita orang hanyut dengan Hp dan gadgetnya, baru duduk di Gereja langsung buka smartphone untuk up date, atau melihat notifikasi, demikian pun di tempat lainnya. Ada pula orang pusing kalau tidak merokok, tidak konsentrasi kalau tidak memakai sabu, tidak akan kreatif tanpa menegak alkohol. Obat-obatan, minuman keras, ataupun smartphone sebenarnya menjadi sarana untuk menjadi kompensasi dalam mengatasi rasa rendah diri dan perasaan kecil lainnya.

Sarana-sarana yang digunakan untuk menguatkan diri sebagai penguat bisa disebut sebagai penopang. Penopang perlu dihilangkan dan itu bisa dan bahkan harus. Datang kepada-Nya dan nyatakan kerinduan Anda untuk menghilangkan penopang dan sarana-sarana yang tidak penting itu sebagai perubahan diri Anda dalam Tuhan Yesus.