Jumat, 24 Oktober 2014

Keluarga Broken, Pilihan Anak, dan Kenakalan Remaja


Kenakalan remaja, tawuran, balap liar, murid bandel sering dikaitkan dan dihubung-hubungkan dengan kondisi keluarga. Keluarga bermasalah sering membawa akibat bagi anak, pengaruh besar bagi kepribadian anak tidak bisa disangkal. Kepribadian dan kejiwaan keluarga bermasalah akan mewarnai seluruh anggota keluarga, baik itu orang tua yang bersangkutan atau suami istri terutama anak-anak. Anak kehilangan pegangan dan kasih sayang yang tidak berimbang. Sosok dari bapak-ibu yang komplementer memang akan menjadi pincang, karena hanya ada satu sisi, yaitu bapak saja atau ibu saja. Hampir tidak mungkin kedua belah pihak bisa memberikan curahan kasih sayang sebagaimana keluarga “normal.”
Keluarga broken atau bermasalah, bisa masing-masing berkeluarga lagi, atau hanya berpisah tanpa adanya perceraian dengan berbagai alasan. Bagi yang berkeluarga lagi dan mendapatkan kebahagiaan, tentu persoalan tidak akan berkepanjangan. Apabila berkeluarga lagi dan terjadi lagi persoalan, jiwa anak tentu akan lebih menderita.  Keluarga yang bermasalah, namun tidak dalam taraf cerai, masing-masing pihak hidup terpisah, membuat anak masih mendapatkan kesempatan untuk mereguk kasih sayang secara utuh walaupun tidak seideal di dalam keluarga yang lumrah.
Pengaruh atau perebutan hak asuh, biasanya menjadi persoalan berkepanjangan. Gontok-gontokan, perebutan menunjukkan kasih sayang dengan berbagai macam, membuat anak “kebingungan.” Kebingungan ini yang sering membawa efek samping adanya kenakalan remaja. Kenakalan remaja tidak identik dengan keluarga bermasalah, dan sebaliknya. Bukan satu-satunya penghasil kenakalan remaja adalah keluarga bermasalah, dan keluarga bermasalah dengan  pasti menghasilkan anak yang bermasalah juga.

Pilihan Anak.

Anak bisa memilih berdamai dengan apa yang terjadi. Keluarganya boleh pecah, bermasalah, atau ada persoalan, namun anak memutuskan bahwa akan menjalani hidupnya sendiri. Persoalan keluarga tidak mempengaruhi kepribadiannya secara fundamental. Pengaruh tentu ada, namun memotivasinya untuk mengubah keadaan. Anak bisa mencari sosok yang berperan bagi masa depannya, yang tidak bisa diperoleh dari rumah.
Pilihan berbeda bisa pula dipilih oleh anak yang berbeda. Memilih untuk mendapat keuntungan dengan “berkelit” kepada pihak yang satu apabila ada masalah di tempat yang lain. Ada persoalan dengan ibu atau lingkungan tempat ibu hidup lari ke bapak dan sebaliknya.
Pilihan anak ini bukan masalah usia atau pendidikan anak. Namun pilihan yang ada pada jiwa dan kepribadian anak. Sejak awal anak telah mampu memilih untuk mengikuti kata hatinya dalam membangun diri dan masa depannya. Anak yang mampu berdamai dan menerima keadaan keluarganya apa adanya akan menjadi anak yang penuh motivasi, memilih dengan cerdas akan hidupnya, dan bukan anak bermasalah. Cenderung menjadi anak yang sukses di masa depannya karena telah ditempa oleh keadaan dan menentukan pilihannya sejak dini.


 Kenakalan Remaja

Anak yang tidak berdamai terhadap keadaan biasanya akan mencari kompensasi dan pelampiasan. Tindakan kekanak-kanakan,  dengan membuat onar di kelas dan sekolah, jiwa pemberontak baik di keluarga ataupun sekolah bahkan masyarakat, dan mulai meninggalkan tanggung jawabnya.
Anak yang tidak mampu menghadapi keadaan dan mencari pelampiasan. Tingkah aneh-aneh, dari mewarnai rambut, ikut kelompok-kelompok yang tidak jelas, hingga lari dari rumah. Ini pola anak yang tidak tahan terhadap persoalan yang ada di keluarganya.
Anak yang hanya mencari pembenaran atas tingkah dan tindakan buruknya. Anak ini sebenarnya sudah salah dalam pergaulan dan perbuatan, misalnya tulang bolos, free sex, kecanduan game, atau madat, memang pilihannya sendiri, namun berkilah karena tidak ada kasih sayang dari rumah. Kelompok ini biasanya tidak berani sendirian, kalau ramai-ramai semangatnya berlipat ganda. Persoalan keluarga menjadi kambing hitam saja bagi mereka, untuk membenarkan kesalahan pilihan mereka sejak awal. Kesalahan ditimpakan pihak lain untuk membenarkan, minimal menenteramkan diri bahwa dia tidak sepenuhnya bisa dipersalahkan.




Senin, 13 Oktober 2014

Simbol Liturgi dan Aplikasinya Hari Ini


Gereja Katolik memiliki kekayaan yang luar biasa. Beribu simbol., berjuta makna, dan berjuta-juta pemahaman. Simbol perlu pengajaran, simbol perlu penjelasan agar mampu memiliki pehaman yang relatif sama, sehingga tidak menjadi batu sandungan satu sama lain.
Simbol liturgi lilin yang menyala, ada yang memahami bahwa mulai lilin dinyalakan, sudah saatnya untuk memasuki suasana perayaan Ekaristi, kegiatan duniawi seyogyanya ditinggalkah, puasa yang dulunya 24 jam, sudah dimulai, dan itu hingga komuni tidak ada satu jam. Paling lama misa mingguan biasa, pada kisaran 60 menit atau lebih sedikit, bagi orang dewasa belum menimbulkan kelaparan dan kehausan yang amat sangat.
Ironis, ketika pria dewasa, badan gagah, masih muda dalam artian tidak mungkin mengidap suatu penyakit yang akan membawa maut bagi pribadi itu, minum dengan seenaknya, bahkan hingga sampai menjelang komuni, karena saat Doa Syukur Agung.
Bahasa simbol perlu dijelaskan dengan gamblang, karena hari ini, bahasa lugas saja dengan seenanknya dilanggar dan tidak dijalani, apalagi yang berupa simbol, akan dengan mudah dijawab tidak tahu, atau oh begitu ya??
Katekese bagi kaum muda sudah mendesak dilakukan. Pelajaran komuni pertama dan penguatan perlu mendapatkan penekanan, bukan semata sekian kali dan pasti lulus, namun perlu pendampingan post pelaksanaan sehingga benar-benar menjadi umat berkualitas.
Gejala main gatged, smartphone, dan handphone, saatnya bersama Tuhan yang hanya sedikit telah dikorup dengan terang-terangan tanpa merasa berdosa dan mengganggu kiri kanannya yang hendak bersungguh-sungguh beribadat. Fenomena hingga ke pelosok dan hampir merata di semua tempat. Bagi yang belum perlu hati-hati dan perhatian agar tidak terjadi dengan adanya peringatan yang jelas dan ters terang.
Banyaknya umat yang menghadiri misa namun duduk di luar. Kalau katanya panas, sudah banyak yang ber-AC dan kipas angin, kalau alasan karena anak kecil, justru mengajarkan kepada anak untuk mengerti Ekaristi bukan mengajari nonton mobil di parkiran.

Kamis, 02 Oktober 2014

Gua Maria Kerep Ambarawa, Wisata Rohani di tepi Rawa Pening



Bulan Maria datang, dan tempat ziarah makin diminati, salah satu yang paling mudah, ialah Goa Maria Kerep Ambarawa, merupakan tempat wisata rohani bagi penganut Katolik. Goa di sebuah bidang yang relatif tinggi, dengan pemandangan yang luar biasa, ke arah tenggara ada Rawa Pening yang menghijau dengan enceng gondok dan airnya yang menyegarkan. Arah selatan masih mempertontonkan Rawa Pening yang dihiasi sawah yang hijau atau kuning tergatung waktu berkunjung. Pemandangan arah timur menyajikan pemandangan kota Ambarawa dan sedikit kota Salatiga di kejauhan. Sisi timur goa, ada aliran sungai yang menambah kesyahduan ketika merenung.
IMG_6330.JPG
Selain goa, terdapat pula taman yang hijau dan rimbun dengan beraneka tanaman. Rumput taman yang menyegarkan, bunga-bunga yang beraneka ragam warna, bentuk, dan keindahnya memanjakan mata yang letih beraktivitas sepanjang waktu.
IMG_6316.JPGIMG_6352.JPGIMG_6384.JPGIMG_6409.JPGIMG_6456.JPG
Bagi yang hendak melakukan berkemah ada juga tanah lapang yang disediakan untuk itu. Sarana MCK baik, dan tersedia dengan lengkap. Udara yang sejuk membantu memberikan kesegaran baru, keluar dari rutinitas setiap hari yang melelahkan.
Kesegaran air di kolam ataupun di kamar mandi yang disediakan sangat dingin dan segar, membantu relaksasi setelah lelah melakukan perjalanan. Kalau melakukan perjalanan untuk mendapatkan kesegaran, lebih baik jalan kaki saja ketika naik ke goa. Dari jalan raya berjarak sekitar 900 meter dan semua menanjak.
IMG_6387.JPG
Rute yang bisa dicapai, kalau menggunakan anggutan pribadi, dari arah Semarang atau Solo, berbelok di pertigaan Bawen, di terminal Bawen dari arah Solo belok kiri dan lurus hingga Ambarawa, sekitar 4  kilometer, ada terminal Ambarawa, ini terletak setelah kota Ambarawa di depannya belok kanan dan sampai. Pengunjung dari arah Semarang, sampai terminal Bawen belok kanan dan sama dengan pengunjung dari Solo. Dari arah Jogja Magelang, sebelum masuk kota Ambarawa, akan ditemui terminal Ambarawa kemudian belok kiri, dan sampai. Kalau memang hendak mendapatkan kesegaran menyeluruh, kendaraan bisa parkir di kawasan terminal Ambarawa.
Bagi penikmat angkutan umum, kalau dari Solo, turun di terminal Bawen kemudian ganti angkutan arah Ambarawa, ini angkutan Ambarawa-Ungaran, bayar Rp. 2000,00 turun di Museum Palagan Ambarawa, tidak sampai di terminal Ambarawa, berjalan ke arah Magelang, sekitar 100 meter dan berjalan ke arah atas, sama dengan di atas. Pengunjung dari Arah Semarang perlu hati-hati bertanya dahulu kepada awak angkutan, karena bisa bis lewat jalur luar Ambarawa, turun di perempatan jalur lingkar dan ikut angkutan pengunjung dari arah Solo di atas. Kalau bis masuk kota, minta turun di terminal, dna jalan kaki ke atas. Bus dari arah Magelang juga pengunjung patut bertanya bis lewat mana, kalau lewat jalur lingkar, pengunjung minta turun di pom bensin Ngampin dan ganti angudes dengan tarfi Rp. 2.500,00 minta turun di terminal Ambarawa.
IMG_6500.JPGIMG_6502.JPG
IMG_6493.JPG
Kuliner, tidak perlu khawatir, banyak makanan baik berat maupun sedang. Murah meriah, sega pecel, pojok SD PL, ini berdiri di ujung dekat jalan raya, berhimpit dengan dinding pagar SD, dan makanan yang sangat segar dan enak, setelah segar secara rohani. Sayangnya tempat yang ada sering tidak menyukupi dibandingkan dengan pembelinya.
Souvenir dan jajanan untuk oleh-oleh banyak pilihan, dan harga bersaing, di sepanjang perjalanan dari jalan raya hingga tempat tujuan. 


Rabu, 01 Oktober 2014

. Faktor-Faktor untuk Membangun Kesejahteraan Keluarga


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membangun kesejahteraan keluarga, sebagai berikut:
1.        Komunikasi dalam Keluarga
Perkawinan terdiri atas dua pribadi yang berbeda, terpisah, dan memiliki kepribadian, sifat, dan kepribadian masing-masing. Cita-cita perkawinan mesti memiliki harapan untuk memiliki cinta yang abadai dan perkawinan tersebut penuh dengan kebahagiaan, keakraban, dan kemesaraan setiap saat.
Kebahagiaan dan kesatuan tersebut bukan jatuh dari langit, namun perlu diusahakan dan diperjuangkan dalam kehidupan sehari-hari. Perjuangan tersebut perlu dilakukan dengan penuh kesetiaan satu sama lain, saling mencintai, saling memberi perhatian, dengan penuh kerelaan mengesampingkan dan menomorduakan kesenagannya sendiri demi pasangan. Panggilan hidup suami-istri adalah menjadi satu, karena telah dipersatukan oleh Allah dalam sakramen perkawinan. Sabagai salah satu sarana utama yaitu kerelaan berkaitan juga dengan ketrampilan dan teknik berkomunikasi satu sama lain.
Dua pribadi yang berbeda perlu adanya penyesuaian untuk menjadi satu sebagaimana panggilan hidup perkawinan. Komunikasi dapat dilakukan dengan pembicaraan dari hati ke hati, menyediakan waktu untuk rekreasi, mengungkapkan rasa kasih selain hubungan badan saja, dan juga menyediakan waktu berdua ketika sudah mulai memiliki anak. [1]
2.        Cinta Kasih Suami-Istri Bersifat Subur
Cinta kasih suami-istri bersifat subur berkaitan dengan penerusan atau menurunkan dan adanya kelahiran anak maupun dalam arti moral dan spiritual. Kehidupan seksual dan hidup berkeluarga terarah kepada penerusan penciptaan manusia. (Bdk. Kej. 1)[2]
3.        Ekonomi Rumah Tangga
Dewasa ini ekonomi rumah tangga menjadi tolok ukur kesejahteraan keluarga bagi banyak orang. Mestinya ekonomi atau harta benda hanyalah salah satu menakar kadar kesejahteraan keluarga.
Keluarga yang sejahtera kalau dari penghasilan yang tetap itu dapat mencukupi seluruh kebutuhan keluarga yang selalu berubah. Kebutuhan yang mesti tercukupi seperti makan setiap hari dengan rutin, dapat berpakaian pantas, punya tempat kediaman yang layak, mendapatkan pendidikan yang mencukupi, dan bila ada anggota keluarga yang sakit dapat memberikan pengobatan dan perawatan seperlunya.[3]
4.        Peran Anggota Keluarga
Peran masing-masing anggota keluarga tentunya berbeda-beda. Antara ayah, ibu, anak-anak tentunya memiliki fungsi dan tugas masing-masing. Semua berjalan sebagai satu kesatuan yang saling mengisi. Peran yang umum terjadi di masyarakat, bapak lebih banyak berperan ke arah luar, seperti mencari nafkah, sedang ibu menguruh seluruh kebutuhan yang berciri domestik. Keadaan ini bukan matematis yang mesti demikian kalau tidak demikian salah, bukan. Peran berkaitan juga dengan komunikasi, bisa saja ibu dan bapak bertukar peran atau saling melengkapi. Bukan salah kalau ibu juga mencari nafkah, dan ayah juga terlibat dalam urusan rumah tangga. Anak-anak berkewajiban untuk berbakti dan membantu meringankan beban orangtua sebatas kemampuannya.[4]
5.        Kesehatan dalam Keluarga
Kesehatan keluarga memegang peranan yang penting dalam membangun kesejahteraan. Diperparah keadaan masyarakat dan bangsa yangs sedang menghadapi masa yang tidak jelas dengan beaya kesehatan amat mahal. Sarana dan prasarana kesehatan yang disediakan Negara masih memprihatinkan. Kalau ada salah satu saja anggota keluarga yang tidak sehat, kondisi dan keadaan keluarga tersebut tidak nyaman dan bergejolak dalam banyak aspek. Aspek ekonomi, ketenangan dan rutinitas berubah, banyak persoalan timbul kalau ada yang sakit.
6.        Keluarga Berencana
Keluarga berencana dimaksudkan untuk bertanggung jawab atas keluarganya tersebut. Jumlah anak, jarak kelahiran dan berhubungan dengan pendidikan dan pembeayaan yang perlu ditanggung orangtua. Keluarga berencana menjadi tanggung jawab suami-istri sepenuhnya dalam membangun kesejahteraan keluarga.






[1] Gilarso, T (Ed), Membangun Keluarga Kristiani, Pembinaan Persiapan Berkeluarga, Kanisius, Yogyakarta, 1995, p. 42
[2] Op. Cit, Tim KomKel, p. 8
[3] Op. Cit, Gilarso, T (Ed), p. 135
[4] Op. Cit, Hardiwiratno, p. 54

Kesejahteraan Keluarga dan Keluarga Berencana


Ensiklik Humanae Vitae Art. 10:
Orangtua dapat mengambil keputusan yang telah dipertimbangkan secara tulus iklas maau memelihara keluarga yang besar atau juga karena alasan-alasan yang berat, tetapi dengan tetap penuh hormat mentaati hukum  moral, mau menghindari kelahiran baru untuk sementara waktu atau yang tidak ditentukan lamanya.
Kesejahteraan keluarga tidak dapat dilepaskan dari keluarga berencana berkaitan erat dengan moral tanggung jawab. Orangtua berkewajiban untuk merencanakan jumlah anak, hak orangtua untuk merencanakan keluarga, dan anak sebagai anugerah Tuhan. Pembahasan selengkapnya sebagai berikut:
1.        Kewajiban untuk merencanakan jumlah anak
Keluarga yang bertanggung jawab perlu berfikir mengenai jumlah anak. Tanggung jawab hidup berkeluarga selain berfikir mengenai jumlah anak juga berfikir menganai jarak kelahiran anak satu dengan yang lainnya.[1] Banyak faktor yang perlu diperhatikan untuk keluarga bertanggung jawab. Keadaan kesehatan, psikologis, ekonomi, dan keadaan keluarga tersebut. Jumlah anak dalam keluarga merupakan tanggung jawab dan keputusan suami-istri. Perlu dipertimbangkan dengan masak juga mengenai jarak kelahiran satu anak dengan anak berikutnya.
2.        Hak orangtua untuk merencanakan keluarganya
Keluarga berencana bukan semata kewajiban, melainkan juga hak suami-istri. Hal ini perlu ditekankan agar intervensi dari luar termasuk Negara dapat dipahami dengan semestinya oleh keluarga-keluarga, termasuk keluarga Kristiani. Yang menjadi pedoman bagi suami-istri dalam melaksana keluarga berencana adalah tidak boleh ada yang dirugikan.

3.        Anak sebagai anugerah Tuhan
Anak sebagai anugerah Tuhan dapat menimbulkan persoalan ketika berkaitan dengan keluarga berencana. Kalau sebagai anugerah, manusia dapat membatasi kelahirannya? Suami-istri terlibat dalam karya penciptaan generasi baru tersebut. Dalam ikut serta tersebut manusia juga perlu menggunakan akal budinya sehingga tidak membutakan diri terhadap alasan apapun. Ketika berkaitan dengan perkosaan dan terjadi kehamilan, anak tersebut benar-benar anugerah Tuhan, yang bersalah bukan anaknya melainkan pelaku perkosaan tersebut. Atau anugerah Tuhan untuk menelantarkan anak yang dilahirkan tanpa perhitungan akan kemampuan suami-istri dalam berbagai bidang.[2]





[1] Humanae Vitae 10
[2] Op.Cit. Go, Piet, p.130

Pandangan Gereja Mengenai Kesejahteraan Keluarga


Sebagaimana pengertian kesejahteraan keluarga di atas, yang menyatakan kesejahteraan berkaitan dengan kesetiaan kepada Allah. Maka dapat dijelaskan padangaan Gereja sebagai berikut:
1.        Moral Keluarga
    Teks Kitab suci yang menjadi pedoman moral perkawinan dan keluarga dapat disebutkan beberapa, sebagai berikut;
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi (Kej. 1: 27-28).
Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging (Kej. 2:23-24).
Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?"
(Mat. 19-1-12).
Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,  karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh (Ef. 5:22-23).
Ketaatan manusia bukan ketaatan buta terhadap aturan-aturan, karena manusia diciptakan Tuhan sebagai citra-Nya. manusia diperlengkapi dengan akal budi dan kehendak bebas, sehingga dapat berpartisipasi dalam karya Allah hingga mengatasi dunia. [1]
Dalam moral keluarga umat beriman tidak dapat berpuas diri dengan rutinitas pelaksanaan kewajiban. Melainkan juga dijiwai dinamika pengembangan keluarga.
Membangun suatu keluarga berarti mengembangkan cinta kasih antaranggota keluarga, baik suami-istri, antara orangtua-anak, ataupun antara sesama anggota keluarga yang lain. Setiap keluarga Katolik dipanggil untuk melaksanakan tugas pokok ajaran Kritus, yaitu ajaran kasih dalam praktek kehidupan berkeluarga.
Tugas membina dan mengembangkan persekutuan pribadi-pribadi suami-istri  memegang peran penting dalam kaitannya dengan pengembangan keluarga. Perkembangan peran setelah pernikahan berubah menjadi keluarga. Suami-istri mempunyai peran yang lebih besar yaitu sebagai orangtua, ayah dan ibu, sehingga suami-istri harus lebih menyesuaikan diri dengan peran tersebut.
2.        Keluarga Kristiani sebagai Persekutuan Hidup dan Doa
Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakatdan juga Gereja. Anggota keluarga dapat terdiri atas suami-istri atau suami-istri dengan anak-anak, atau ayah dan anak atau ibu dengan anak.
Keluarga sebagai persekutuan hidup dan cinta sebagaimana disebutkan dalam Gaudium et Spes artikel 48 memiliki empat misi, yaitu membentuk komunitas pribadi-pribadi, mengabdi kehidupan, ikut serta dalam pembangunan masyarakat, dan mengambil peran dalam pengutusan Gereja. Artikel 48 dari Gaudium et Spes selengkapnya sebagai berikut:
48. (Kesucian perkawinan dan keluarga)
Persekutuan hidup dan kasih suami-isteri yang mesra, yang diadakan oleh Sang Pencipta dan dikukuhkan dengan hukum-hukumnya, dibangun oleh janji pernikahan atau persetujuan pribadi yang tak dapat di tarik kembali. Demikianlah karena tidakan
manusiawi, yakni saling menyerahkan diri dan saling menerima antara suami dan isteri, timbullah suatu lembaga yang mendapat keteguhannya, juga bagi masyarakat,
berdasarkan ketetapan ilahi. Ikatan suci demi kesejahteraan suami-isteri dan anak
maupun masyarakat itu, tidak tergantung dari manusiawi semata-mata. Allah sendirilah  Pencipta perkawinan, yang mencakup berbagai niali dan tujuan.  Itu semua penting sekali bagi kelangsungan umat manusia, bagi pertumbuhan pribadi serta tujuan kekal masing-masing anggota keluarga, bagi martabat, kelestarian, damai dan kesejahteraan  keluarga sendiri maupun seluruh masyarakat manusia. Menurut sifat kodratinya lembaga  perkawinan sendiri dan cinta kasih suani-isteri tertujukan kepada lahirnya keturunan  serta pendidikannya, dan sebagai puncaknya bagaikan dimahkotai olehnya. Maka dari itu pria dan wanita, yang karena janji perkawinan “bukan lagi dua, melainkan satu daging”  (Mat 19:6), saling membantu dan melayani berdasarkan ikatan mesra antra pribadi dan kerja sama; mereka mengalami dan dari hari ke hari makin memperdalam rasa kesatuan  mereka. Persatuan mesar itu, sebagai saling serah diri antara dua pribadi, begitu pula kesejahteraan anak-anak, menuntut kesetiaan suami isteri yang sepenuhnya, dan menjadikan tidak terceraikannya kesatuan mereka mutlak perlu. Kristus Tuhan melimpahkan berkat-Nya atas cinta kasih yang beraneka ragam itu, yang berasal dari sumber ilahi cinta ksih, dan terbentuk menurut pola persatuan-Nya dengan Gereja. Sebab seperti dulu Allah menghampiri bangsa-Nya dengan perjanjian kasih dan kesetiaan. Begitu pula sekarang Penyelamat umat manusia dan Mempelai Gereja, melalui sakramen perkawinan menyambut suami-isteri kristiani. Selanjutnya Ia tinggal berserta mereka supaya seperti Ia sendiri mengasihi Gereja dan menyerahkan Diri untuknya, begitu pula suami-isteri dengan saling menyerahkan diri saling mengasihi  dengan kesetiaan tank kunjung henti. Kasih sejati suami-isteri ditampung dalam cinta ilahi, dan dibimbing serta diperkaya berkat daya penebusan Kristus serta kegiatan Gereja yang menyelamatkan, supaya suami-isteri secara nyata diantar menuju Allah, lagi pula dibantu dan diteguhkan dalam tugas mereka yang luhur sebagai ayah dan ibu. Oleh karena itu suami-isteri kristiani dikuatkan dan bagaikan dikuduskan untuk tugas kewajiban  maupun martabat status hidup mereka dengan sakramen yang khas. Berkat kekuatannyalah mereka menunaikan tugas mereka sebagai suami-isteri dalam keluarga; mereka dijiwai semangat Kristus, yang meresapi seluruh hidup mereka dengan iman, harapan dan cinta kasih; mereka makin mendekati kesempurnaan mereka dan makin saling menguduskan, dan dengan demikian bersama-sama makin memuliakan Allah. Maka dari itu, mengikuti teladan orang tua dan berkat doa keluarga, anak-anak, bahkan semua yang hidup dilingkungan keluarga, akan lebih mudah menemukan jalan perikemanusiaan, keselamatan dan kesucian. Suami-isteri yang mengemban martabat
serta tugas kebapaan dan keibuan, akan melaksanakan dengan tekun kewajiban memberi pendidikan terutama dibidang keagamaan, yang memang pertama-tama termasuk tugas mereka. serta menguduskan orang tua mereka. Sebab mereka akan membalas budi kepada orangtua dengan rasa syukur terima kasih, cinta mesra serta kepercayaan mereka, dan seperti layaknya bagi anak-anak akan membantu orang tua di saat-saat kesukaran dan dalam kesunyian usia lanjt. Status janda, yang sebagai kelangsungan panggilan berkeluarga ditanggung dengan keteguhan hati, hendaknya dihormati oleh semua orang. Hendaknya keluarga dengan kebesaran jiwa berbagi kekayaan rohani juga dengan keluarga-keluarga lain. Maka dari itu keluarga kristiani, karena berasal dari pernikahan, yang merupakan gambar dan partisipasi perjanjian cinta kasih antara Kristus dan Gereja. Akan menampakkan kepada semua orang kehadiaran Sang Penyelamat yang sungguh nyata di dunia dan hakekat Gereja yang sesungguhnya, baik melalui kasih suami-isteri, melalui kesuburan yang dijiwai semangat berkorban, melalui kesatuan dan kesetiaan, maupun melalui kerja sama yang penuh kasih antara semua anggotanya.
Keluarga harus mengembangkan cinta agar tumbuh menjadi komunitas antarpribadi. Karena cinta merupakan dasar kehidupan keluarga. Cinta suami-istri juga tidak terceraikan karena dituntut untuk mempertahankan kesejahteraan keluarga terutama anak-anak. Perkawinan merupakan lambang cinta Allah dan umat-Nya, Kristus terhadap Gereja-Nya, maka perceraian ditolak dengan tegas oleh Kristus. (bdk. Mat. 19:1-2, Mrk. 10:1-12)




[1] Go, Piet, Moral Perkawinan dan Seksualitas, Dioma, Malang, 1985, p. 130

Pengertian Kesejahteraan Keluarga


Kesejahteraan keluarga dapat dilihat dalam pandangan Negara ataupun Gereja. Negara memberikan batasan mengenai kesejahteraan keluarga seperti tercantum di dalam UU No. 10 tahun 1992, ialah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material secara layak, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras, dan seimbang antaranggota keluarga dan anggota masyarakat, serta lingkungannya.
Keluarga sejahtera menurut Gereja seperti diungkapkan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam Amanat Apostolik Familiaris Consortio seperti berikut
Keluarga Persatuan Pribadi Pribadi Artikel 15
Dalam perkawinan dan dalam keluarga terjalinlah serangkaian hubungan antarpribadi, hidup sebagai suami-istri, hidup sebagai ayah dan ibu, hidup sebagai anak dan sebagai saudara- dan melalui hubungan-hubungan itu setiap pribadi manusia dibawa masuk ke dalam keluarga manusia dan ke dalam keluarga Allah yakni Gereja.
Perkawinan Kristiani dan keluarga Kristiani membangun Gereja sebab dalam keluarga itu pribadi manusia tidak hanya dijadikan ada dan secara bertahap, melalui pendidikan dibawa masuk ke dalam masyarakat manusiawi, tetapi juga melalui kelahiran kembali dalam baptis dan pendidikan iman, anak dibawa masuk ke dalam keluarga Allah, yakni Gereja.
Keluarga manusiawi, yang diretakkan oleh dosa, dipulihkan kembali, kesatuannya oleh daya kuasa penebusan wafat dan kebangkitan Kristus. Perkawinan Kristiani dengan mengambil bagian dalam buah peristiwa penyelamatan ini, merupakan pintu masuk yang kodrati, tempat pribadi manusia diantar ke dalam keluarga besar Gereja.
Perintah yang diberikan kepada pria dan wanita pada awal sejarah untuk  bertumbuh dan bertambah banyak dengan demikian mencapai kebenaran dan perwujudannya yang penuh.
Demikianlah Gereja menemukan dalam keluarga yang lahir dari sakramen dan palungan dan pintu tempat Gereja dapat masuk ke dalam angkatan-angkatan manusia, dan tempat angkatan-angkatan manusia itu pada gilirannya dapat masuk ke dalam Gereja.[1]
Keluarga sejahtera berkaitan dengan kesetiaan kepada rencana Allah sebagai sebuah perkawinan dan keluarga. Allah menghendaki keluarga yang disusun oleh pribadi-pribadi manusia sebagai citra Allah yang diciptakan untuk saling mencintai . Cinta itu diungkapkan antara lain dalam dan melalui tubuh manusia yang harus mengungkapkan pemberian diri Allah secara total dalam penciptaan dan penebusan. Pemberian diri melingkupi kemungkinan akan hadirnya anak-anak. Seksualitas dan prokreasi bukanlah semata-mata biologis. Oleh karena itu, seorang laki-laki dan perempuan saling mencintai dan dalam mengekspresikan cintanya harus di dalam pernikahan yang sah. Dengan demikian, perkawinan merupakan suatu tanda (sakramen) dari cinta Allah kepada umat-Nya. anak-anak sebagai anugerah pernikahan yang berharga, buah pemberian diri timbal balik dari pasangan[2]




[1] Paulus, Yohanes, Keluarga Kristiani dalam Dunia Modern, Kanisius, Yogyakarta, 1993, p. 34-35
[2]Tim Komisi Keluarga KWI, Membangun Keluarga Sejahtera dan Bertanggung Jawab Berdasar Prespektif Agama Katolik,  KomKel KWI dan BKKBN, Jakarta 2008

Proses Pendampingan Persiapan Perkawinan


Proses pendampingan persiapan perkawinan, untuk jangka panjang sebenarnya tidak ada proses secara khusus, karena pendidikan sehari-hari dalam keluarga sebenarnya sudah merupakan pendampingan persiapan perkawinan. Keteladanan yang diberikan orangtua bagi anak-anak di dalam hidup berkeluarga, terutama cinta kasih secara langsung maupun tidak langsung merupakan pendampingan bagi anak menuju perkawinan kelak di kemudian hari.[1]
Persiapan jangka dekat prosesnya terjadi di dalam pendidikan formal seperti di sekolah, atau secara informal melalui pendampingan di dalam kegiatan di Gereja melalui katekese mengenai sakramen-sakramen termasuk di dalamnya sakramen perkawinan. Anak-anak dan kaum muda didampingi untuk menghayati kehidupan sakramen khususnya sakramen perkawinan sehingga nantinya dapat dirayakan dengan sikap batin yang benar-benar mendalam dan menghayati dengan kesadaran penuh dari batin pribadi tersebut.
Secara formal, anak-anak dan kaum muda diberi bekal agar mengerti dirinya sebagai pria dan wanita. Pria dan wanita dengan kehidupan seksualitasnya masing-masing. Anak-anak dibantu membentuk kepribadiaan yang mampu mencintai Tuhan, sesama dan dirinya sebagai anggota Gereja yang memiliki tugas perutusan untuk memberikan keteladanan dan kesaksian hidup Kristen melalui kehidupan keluarga. Anak muda dibantu untuk memahami arti cinta yang benar dalam hubungannya dengan hidup perkawinan.[2]
Persiapan akhir, memiliki proses yang relatif lebih baku. Dalam masa persiapan ini, calon mempelai menjalankan pemeriksaan kanonik yang dilakukan pastor paroki, kursus persiapan perkawinan yang dilakukan beberapa pertemuan oleh tim pendampingan keluarga.[3]






[1] Hardiwiratno, Op.Cit p. 186
[2] Idem, p. 188
[3] Idem, p. 192

Materi Persiapan Perkawinan 2



Moral Perkawinan. Calon pasangan, perlu dibekali pengertian mengenai moral, moral secara umum, moral perkawinan. Hal ini untuk membekali calon mempelai dengan ajaran mendasar antara yang boleh dilakukan dan tidak sebagai manusia angota masyarakat ataupun anggota Gereja. Tema ini juga membahas mengenai Kitab Suci dan ajaran Gereja mengenai penciptaan, manusia sebagai citra Allah, laki-laki dan perempuan saling melengkapi.
Norma moral kristiani, membahas mengenai moral sebagai pedoman atau ajaran tentang yang baik dan buruk halal-haram, yang mengatur sikap batin dan perilaku manusia. Atau dengan kata lain sebagai pedoman bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sesuai dengan maksud Tuhan Pencipta Yang Mahabaik.
Ukuran untuk menilai tentang baik buruknya sikap dan tindakan manusiawi pada dasarnya ada dua, yaitu hati nurani dan norma. Hati nurani ialah, pedoman atau guru yang berasal dari dalam diri sendiri yang akan memberitahukan kepada pribadi manusia tersebut apa yang harus dilakukan, menuntut kepada pribadi manusia untuk berbuat baik dan menjauhi yang buruk, kemudian menilai perbuatan manusiawi sebelum, selama, dan setelah berbuat.
Norma tingkah laku diterima dari luar, dari pendidikan oleh orangtua, dari lingkungan, masyarakat sekitarm adat istiadat, kebiasaan, hukum negara, dan ajaran agama. Ada ajaran norma yang hanya menunjukkan mana yang biasa, atau normal, mana yang tidak dapat diterima oleh lingkungan. Ada juga yang mewajibkan kepada pribadi-pribadi untuk melakukan sesuatu yang disertai sanksi kalau tidak melakukanya.
Sumber moral kristiani ada dua yaitu, kitab suci dan ajaran gereja, sebagai pedoman atau prinsip umum yang diberikan kepada umat manusia yang berasal dari “atas”. Sumber yang kedua, penalaran akal budi manusia, dilengkapi dengan pengalaman dan ilmu pengetahuan, yang berasal dari “bawah”.
Moral perkawinan bermaksud memberikan pedoman apa yang harus dilakukan supaya perkawinan betul-betul sesuai dengan maksud Tuhan Pencipta dengan menghindari dosa dan penyelewengan.
Pokok ajaran kitab suci dan ajaran gereja mengenai perkawinan: Kitan suci mengawali pengajarannya dengan kisah penciptaan. Bab awal dalam Kitab Kejadian menunjukkan maksud Allah yang sebenarnya dengan manusia dan dunia. Allah menciptakan semuanya baik dan mencerminkan  sesuatu dari keagungan Allah. Kasih Allah merupakan sumber kehidupan.
Kitab suci juga mengajarkan bahwa Allah menciptakan manusia menurut citra-Nya dan gambaran-Nya sendiri sebagai pria dan wanita. Allah menciptakan manusia dalam rupa pria dan wanita, dua jenis kelamin dengan daya tarik antara keduanya.
Pria dan wanita diciptakan untuk saling melengkapi sebagai teman hidup dan menempuh jalan hidup bersama. Allah menciptakan Hawa dan menghantarkannya kepada Adam sebagai teman sepadan, sebagai penolong pasangannya. Nampak bahwa Allah menciptakan keduanya dalam kesamaan harkat, derajad, dan martabat pria dan wanita.
Allah menciptakan manusia sebagai pria dan wanita agar saling melengkapi dalam kesatuan keluarga. Keluarga sebagai satu unit yang baru. Berkaitan dengan keluarga, ikatan keluarga ditinggalkan untuk membentuk keluarga sendiri, berarti cinta kasihnya lebih ke arah keluarganya sendiri tanpa melupakan dan menghilangkan hormat kepada orangtua. [5]
Komunikasi. Keluarga merupakan ikatan yang dibangun oleh dua orang dengan kepribadian, kebiasaan, sifat, dan masih banyak pembawaan dari masing-masing pribadi yang menyusunnya. Untuk dapat menjadi bangunan yang kokoh berupa perkawinan membutuhkan komunikasi sebagai sarana membangun keluarga. Proses penyesuaian, tahap demi tahap untuk dapat membangun relasi dan komunikasi dalam keluarga.
Bentuk komunikasi dalam keluarga dapat dibedakan dalam empat bahasa komunikasi. Komunikasi dalam bentuk verbal dan non verbal yang masing-masing terdiri atas dua kelompok juga. Komunikasi verbal yaitu komunikasi dari kepala ke kepala, dan hati ke hati, sedang komunikasi non verbal, komunikasi melalui bahasa tubuh dan hubungan seks.
Kelompok komunikasi yang pertama, dari kepala ke kepala, komunikasi kelompok ini ialah segala bentuk omong-omong dari basa-basi, saling memberikan informasi, cerita apa yang dilihat dan dialami, membicarakan urusan sehari-hari. Pembicaraan sehari-hari, saling tukar pendapat dan gagasan. Hal ini dinamakan diskusi (bertukar isi kepala), hasil dari diskusi dapat berupa kompromi, mengalah, atau toleransi dengan membiarkan saja pihak lain dengan pemikirannya tanpa dihalang-halangi.
Komunikasi bentuk kedua termasuk komunikasi verbal yaitu  dari hati ke hati. Bentuk dari komunikasi dari hati ke hati yaitu dengan mengutarakan apa yang ada dalam hati masing-masing dan perasaan-perasaan yang ada yang dinamakan sebagai dialog. Dalam dialog, pasangan suami istri saling tukar perasaan dan isi hati, bukan adu pendapat dan pemikiran lagi. Atas dasar saling percaya dan terbuka untuk saling menerima, maka dapat saling mengungkapkan isi hati dan perasaan. Saling mengerti dengan hati saling memahami isi hati pasangan.
Dalam dialog tidak ada kalah dan menang, dalam dialog juga tidak ada tuduhan, yang ada adalah pengungkapan perasaan. Dalam dialog tidak aka nada pertikaian dan perselisihan. Karena berbicara mengenai rasa sering tidak mudah dapat dijembatani dengan surat atau dalam bentuk tertulis.
Bahasa badan. Komunikasi yang lebih intim ini komunikasi diungkapkan dengan ungkpan cinta, perhatian, dan kasih sayang satu sama lain tidka dengan kata-kata melainkan dengan banyak cara lain. Ungkapan tersebut bisa berupa pandangan mata, senyuman, sentuhan, belaian tangan, duduk berdampingan, gandengan tangan, pijat-pijatan, rangkulan, ciuman, dekapan, dan masih banyak yang lain.
Bahasa badan atau bahasa tubuh ini penting untuk membangun keintiman dan menciptakan suasana akrab dan mesra. Bahasa badan memberikan rasa aman, nyaman, terlindungi, diperhatikan, dan menambah keakraban. Bahasa badan ini tujuannya bukan untuk kea rah rangsangan seksual, maka tidak menjadi persoalan ketika dilihat anak-anak. Seperti ciuman sayang, atau ungkapan cinta yang lain.
Hubungan seks, atau hubungan badan. Komunikasi paling intim, mendalam, menyeluruh, dan personal, sebagai perwujudan nyata dalam bersatu padu dengan jiwa dan raga. Hubungan seks bukan semata biologis yang dilakukan dengan alat kelaminnya, melainkan juga psikologis, emosional, dan juga spiritual, yang menyangkut seluruh kepribadian manusiawi dan tidak dapat dipisahkan dengan keseluruhan keadaan relasi suami-istri dan suasana keluarga.[6]
Faal Pria dan Wanita.  Calon pasangan perlu dikenalkan mengenai faal antara laki-laki dan wanita. Pengetahuan mengenai alat-alat reproduksi antara laki-laki dan perempuan diajarkan untuk dikenali dan dimengerti dengan baik oleh kedua belah pihak.
Perlu juga pengetahuan mengenai  kehamilan untuk diketahui baik oleh calon ibu  ataupun calon bapak. Berbagai pengetahuan berkaitan dengan kehamilan perlu dberikan.
Penyesuaian Seksual. Hidup perkawinan merupakan lembaga di mana terjadi sahnya hubungan seksual atau hubungan badan. Calon mempelai perlu dibekali mengenai kehidupan seksual. Hubungan khas suami-istri ini merupakan komunikasi yang memerlukan banyak pengorbanan, penyesuaian, diskusi  yang mendalam. Tanpa adanya bekal yang memadai akan menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Ekonomi Rumah Tangga. Ekonomi memegang peran yang cukup penting di dalam keluarga. Mengatur keuangan keluarga bukan persoalan yang mudah. Calon mempelai perlu dibekali kemampuan untuk mengelola keuangan keluarga dengan baik.
Pokok masalah ekonomi rumah tangga. Cepat atau lambat setiap keluarga  harus mandiri, mencari makan sendiri, bayar kebutuhan rumah tangga seperti listrik, sewa rumah, punya perabot rumah tangga, pada suasa saat akan mendapatkan anak. Selanjutnya anak harus bersekolah dari jenjang ke jenjang.
Suatu waktu akan menghadapi keadaan kurang menguntungkan dengan mengalami sakit, perlu obat, perlu rekreasi, ditarik aneka sumbangan, baik lingkungan masyarakat, lingkungan Gereja, ataupun sekolah anak. Perbaikan rumah, alat transportasi, pajak, dan masih banyak lagi.
Kebutuhan selalu bertambah, padahal penghasilan tidak secepat dan sebesar kebutuhan. Oleh karena itu keluarga apalagi keluarga muda perlu memegang prinsip-prinsip pengaturan keuangan dalam rumah tangga.
Persoalan semua rumah tangga berkaitan dengan bagaimana mau memenuhi kebutuhan keluarga yang selalu berkembang dengan penghasilan yang masuk relatif tetap tersebut? Persoalan tersebut dapat dijawab dengan menambah penghasilan dan mengurangi pengeluaran. Namun apakah dengan mudah dan demikian saja dilakukan? Jawabanya pasti tidak. Keluarga-keluarga lebih baik memikirkan bagaimana mengatur ekonomi rumah tangganya dengan bijaksana. Mampu mengatur ekonomi rumah tangga berarti, mampu mengatur pengeluaran sesuai dengan pemasukan dan sesuai dengan perencanaan yang sudah dibuat. Keluarga juga perlu untuk mampu mengadakan pilihan dan seleksi atas kebutuhan, mana yang benar-benar dibutuhkan, dan mana yang perlu dan kurang perlu pada saat ini. Kebijaksanaan keluarga juga dibutuhkan dalam mengadakan tabungan untuk mewujudkan keinginan dan kebutuhan  masa mendatang yang sudah direncanakan. Keluarga bijaksana akan mampu mengatur keuangan sedemikian rupa sehingga tidak terjebak hutang dan mudah membeli sesuatu dengan cara kredit.


[1] Op.Cit, Gilarso, p. 9
[2] Hadiwardoyo, Purwa, Surat-Surat Suami-Istri Katolik, Kanisius, Yogyakarta, 2003, p.11
[3] Idem, p. 23
[4] Op.Cit, Gilarso, p.24-25
[5]  Idem, p. 30-35
[6] Idem, p. 49-50



Materi Persiapan Perkawinan 1


Materi atau bahan yang dibahas dan diberikan kepada calon pengantin kadang-kadang berbeda satu tempat dengan tempat yang lain. Dalam buku Membangun Keluarga Kristiani, memberikan gambaran beberapa bahasan yang perlu diberikan sebagai berikut:
Perkawinan dalam Pandangan Katolik. Dalam pembahasan mengenai tema ini, calon pasangan suami istri diberi pengetahuan mengenai pandangan Katolik mengenai perkawinan. Pengertian perkawinan Kristiani, hakikat perkawinan Gerejani, tujuan perkawinan, syarat-syarat, ciri-ciri, halangan-halangan perkawinan, tugas suami istri yang dikehendaki oleh Gereja Katolik.
Perkawinan dapat dimengerti sebagai persekutuan hidup antara seorang laki-laki dan seorang wanita, atas dasar ikatan cinta kasih yang total, dengan persetujuan bebas dari keduanya yang tidak dapat ditarik kembali. [1] persekutuan berarti bahwa perkawinan menjadikan kedua mempelai menjadai satu daging yang didasari persetujuan yang tidak boleh dikarenakan paksaan atau desakan dengan alasan apapun.
Pada hakikatnya perkawinan merupakan persekutuan menyeluruh antara dua pribadi, sekaligus sakramen sebagai lambang kehadiran Allah melalui keluarga tersebut yang termasuk ke dalam lembaga hukum.[2]
Tujuan perkawinan menurut Konsili Vatikan II, khususnya melalui Gaudium et Spes, yaitu untuk kesejahteraan suami-istri, kesejahteraan anak-anak, dan kesejahteraan seluruh masyarakat. Tujuan dan urutan di sini bukan mengandaikan bahwa perkawinan memiliki tujuan nomor satu untuk kesejahteraan suami-istri dan mengalahkan kesejahteraan anak, tidak demikian. Tidak ada pertentangan dan justru malah perlu diusahakan agar seiring dan sejalan. [3]
Ciri perkawinan Kristiani yaitu monogam dan tak terceraikan. Monogam berarti satu laki-laki dengan satu wanita. Dengan demikian cinta kasih yang ada utuh dan tidak terbagi. Hal tersebut juga sebagai cerminan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki martabat yang sama. Monogam dalam perkawinan kristiani berarti mengesampingkan paham poligami dan poliandri. Poliandri berarti bahwa satu perempuan memiliki beberapa suami sekaligus, sedang poligami, seorang laki-laki memiliki istri lebih dari satu sekaligus.
Tak terceraikannya perkawinan kristiani dikarenakan Allah sendiri yang menyatukan suami-istri melalui perjanjian yang diikrarkan dengan bebas. Cinta sejati adalah cinta yang setia dalam keadaan apapun dan bagaimanapun. Dasar biblis dari ciri ini yaitu Markus 10:9 yang menyatakan “Apa yang telah disatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia.” perceraian membuktikan bahwa suami dan istri gagal memgembangkan cinta sejati.
Psikologi Keluarga. Psikologi keluarga penting di dalam membangun mahligai perkawinan, karena keluarga merupakan penyatuan dua pribadi yang berbeda. Beberapa perbedaan perlu adanya penyesuaian agar dapat menjadi keluarga yang sehat.
Beberapa sub tema dalam tema Psikologi keluarga, antara lain, perbedaan laki-laki dan perempuan, tahap-tahap perkembangan manusia, kedewasaan pribadi sebagai laki-laki dan perempuan, pandangan perkawinan antara laki-laki dan perempuan, sebab-sebab kegagalan membangun perkawinan baik sebelum ataupun setelah pernikahan.
Perbedaan antara laki-laki dan perempuan merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri, dan secara kodrat sudah melekat pada setiap pribadi. Dalam perkawinan perbedaan tersebut harus dikelola untuk menjadi satu sebagai kesatuan yang bersifat saling melengkapi, sebagaimana Allah menciptakan laki-laki dan wanita untuk saling melengkapi satu sama lain.
Perbedaan fisiologis/biologis:
NO
PRIA
NO
WANITA
1.       
Tubuh: menonjolkan garis-garis lurus, tegak,kuat, dan kekar yang melambangkan keperkasaan dan kekuatan
1
Tubuh: lebih menonjolkkan garis-garis melingkar, bulat, lambang kelembutan, kasih sayang, dan perasaan aman
2.       
Dada lapang, bahu lebar, untuk bekerja dan untuk melindungi yang lemah
2
Bahu relative kecil dan melengkung buah dada berkembang dan menggelembung
3.       
Pinggul agak kecil disbanding dengan bahu
3
Pinggang kecil tapi tulang pinggul menonjol bulat
4.       
Kaki kokoh, kuat, tegak lurus, tampak otot-ototnya
4
Karena tulang pinggul lebih besar, paha besar, dan kaki meruncing ke bawah
5.       
Lengan dan tangan penuh otot, kekar, kuat, dan keras
5
Lengan dan tangan lembut dan lemas
6.       
Suara besar. Ada jakun di leher
6
Suara kecil merdu. Leher rata
7.       
Alat kelamin terletak di luar rongga tubuh
7
Alat kelamin tersembunyi di dalam rongga tubuh
8.       
Bulu rambut pada muka (kumis), pada kulit kaki, lengan, dada
8
Tidak ada rambut di dada dan kulit

Perbedaan laki-laki dan wanita juga meliputi bidang psikologis. Dari perbedaan inilah sering timbul perselisihan, karena orang lebih suka berpikir berdasar pada diri sendiri dan mengandaikan orang lain mengerti seperti yang dipikir, dirasa, dan dilakukan dirinya sendiri.

Perbedaan psikologis sebagai berikut:
NO
PRIA
NO
WANITA
1
Pola dasar pandangan pada dunia/ objek
1
Pola dasar pandangan ke dalam terarah pada subyek/manusia
2
Suka menjelajah dan menyelidiki alam sekitar
2
Lebih gemar tinggal di rumah, memelihara, dan merawat
3
Suka “membongkar dan membangun” pria mmbangun dunia menjadi rumah tempat tinggal (membangun a house)
3
Suka menyayangi dan memelihara. Wanita pandai menciptakan suasana di rumah menjadi tempat tinggal yang membuat orag kerasan (membuat suatu home)
4
Suka bekerja di luar, mencari nafkah dan menguasai dunia
4
Perhatian lebih untuk pribadi sesama manusia (anak)
5
Suka mencoba, mencari dan melihat-lihat
5
Butuh diperhatikan, senang dilihat dan   dicari
6
Aktif, mengambil inisiatif, suka mengkritik dan memprotes
6
Reaktif, menanggapi, lebih tabah dan mudah menerima
7
Intelek dan rasio lebih utama, dapat menggendalikan perasaan dengan akalnya
7
Emosi dan perasaan lebih menonjol dan hal itu mempengaruhi pikirannya
8
Lebih melihat kenyataan objektif, terarah pada garis-garis besar, lebih teguh dalam keputusan
8
Perhatian sampai detil-detil (hal-hal kecil), cenderung intuitif, mudah mengubah keputusan

Tahap perkembangan pria dan wanita dalam hal ini berkaitan dengan perubahan dan reaksi kejiawaan. Tahap perkembangan besar dalam diri manusiawi yaitu tahap kanak-kanak sampai masa pubertas, dna masa pubertas sampai dengan. Pada masa kanak-kanak hamper tidak ada perkembangan yang khusus, artinya masing-masing jenis belum merasa tertarik kepada jenis lain. Perkembangan terutama pada pengenalan akan dirinya sendiri, dalam kelompok dan jenis. Namun sejak awal, perbedaan ini sudah Nampak. Pada umur SD, hal ini sering nampak dalam bentuk persaingan dan suka saling mengganggu.
Fase pubertas sampai dewasa. Masa ini ditandai dengan mulainya gejala ketidakmantapan perasaan: mulai suka melamun, malas, menyendiri, bergumul dengan dirinya sendiri untuk menemukan harkat dirinya sebagai laki-laki atau perempuan.
Menjelang mulainya haid/menstruasi anak perempuan perlu adanya penjelasan dan bimbingan, agar dapat menerima diri dengan wajar, termasuk proses yang etrjadi di dalam tubuhnya. Haid pertama yang kurang mendapat bimbingan dan penjelasan akan menjadi beban berat baginya.

Bagi anak laki-laki, bimbingan dan pengarahan juga benar-benar diperlukan. Pengalaman seksual anak laki-laki cenderung ke arah menyenangkan dan menggairahkan. Karena cara hidupnya lebih terarah “ke luar”, biasanya anak laki-laki lebih banyak mendengar dan melihat di luar. Kalau informasi yang diperoleh tidak benar, tidak lengkap, dan bahkan menyesatkan tentunya berbahaya bagi perkembangan pribadi anak.[4]