Salah satu kaos menuliskan HIDUP
TIDAK SEINDAH KATA-KATA MOTIVATOR. Dewasa ini banyak orang frustasi menghadapi
hidup. tidak heran motivator berbea mahal menjadi daya tarik dalam berbagai
bentuk kegiatan, seminar, retret, atau live
seperti televisi, pengikut di media sosial juga akan berjubel untuk sekedar
mendapatkan “mantra” sakti.
Tidak ada yang salah dengan
menggeluti kata-kata motivasi dari motivator handal, sebagai salah satu usaha
dan proses untuk menjadi, sah-sah saja dan tidak ada yang salah. Hidup bisa
menjadi segar dan bersemangat tentu bagus dan membantu mencapai kehidupan yang
lebih baik dan menjanjikan.
Motivator dan Motivasi
Motivator memiliki kehendak batin untuk menularkan semangat bagus
untuk orang lain yang sedang lemah, lesu, dan seolah lepas harapan. Biasanya
berangkat dari pengalaman sendiri yang telah mengalami sendiri dengan segala
daya upaya untuk mencapai apa yang mereka kehendaki. Secara garis besar,
motivasi dari para motivator akan berkitan dengan tiga hal besar, motivasi
dasar atau semangat penggerak, proses atau jalannya menuju paada tujuan, dan
tujuan atau gol itu sendiri. Mereka akan melihat dari ketiga faktor tersebut
kalau motivasinya baik dan lurus, menjalankan dengan baik seluruh prosedur
dengan kemantapan hati bahwa akan tercapai, tentu saja akan diperoleh hasil
gilang gemilang. Bisa dilihat melalui 7
Habit, yang demikian melegenda, kata-kata Andrie Wongso atau Mario Teguh,
atau siapapun motivatornya dan apa nama tekniknya akan memiliki tiga unsur
pokok tersebut.
Namun mengapa masih ada yang “gagal”? motivator akan melihat dari
ketiga unsur tersebut dan bagaimana mereka akan menkaji dan kemudian mengulang
suatu proses untuk mendapatkan gol yang terbaik. Revisi pada motivasi dan
proses akan berulang. Apakah demikian?
Penyelenggaraan Illahi
Penyelenggaraan Illahi ialah
kesediaan Allah dalam membimbing manusia menuju tujuan akhir kehidupan manusia.
Peran Allah membimbing manusia menuju pada tujuan akhir tentu menjadi penting
tanpa menafikan peran motivasi. Keduanya bukan saling meniadakan namun
memberikan gambaran lebih mendalam di mana peran masing-masing.
Iman
Iman merupakan sikap, gaya, dan
komunikasi kita berkaitan dengan tawaran kasih Allah yang hadir melalui wahyu
Allah. Allah menyapa umat-Nya untuk membawa ke tujuan akhir yaitu berbahagia di
surga-Nya yang berupa hidup abadi. Iman itu melihat rencana dan kehendak-Nya di
atas segalanya dan di dalamnya termasuk motivasi, proses hidup kita, ataupun juga.
Persoalan Hidup
Pola pikir manusiawai, termasuk di dalam ranah motivasi ataupun
psikologi akan mencari “kesalahan” dari ketiga yaitu motivasi dasar, proses,
dan hasil. Bagaimana ketiga hal tersebut dilihat, dikupas, dan diadakan
evaluasi. Penderitaan akan dilihat apakah pernah ada yang salah, bisa berupa
tanah tempat hidup, orang lain termasuk orang tua atau nenek moyang, ada
kesalahan-kesalahan yang lain. Kitab Suci juga melaporkan hal yang sama.
Yohanes bab 9 ayat dua menyatakan mengenai orang buta, dan para murid bertanya
dosa siapa, orang tuanya atau orang buta itu sendiri. Ayat ketiga menyatakan
kata Tuhan Yesus yang menjawab bukan dosanya dan juga bukan dosa orang tuanya.
Sering kita temui dalam Kitab Suci ataupun dalam hidup kita
sehari-hari. Kisah paling terkenal dan fenomenal dalam hidup kita tentu kisah
Ayub. Habakuk mengalami yang mirip bagaimana dia berteriak dan seolah Tuhan
Allah diam saja. Yesus mengalami ketika di salib Allah Bapa seolah diam saja.
Mungkin ada di antara kita yang mengalami hal yang sama atau menyaksikan
sendiri bagaimana hidup baik, saleh, dan tidak pernah menyakiti orang lain
namun hidup dalam derita yang tidak tderpikirkan sama sekali dari benak dna
perasaan kita. Pemikiran kita akan langsung ke dosa dan kesalahan hingga ke
nenek moyang kita. Pola pikir kita mengenai karma, salah dan dosa warisan
sebagai kepercayaan Perjanjian Lama atau Hindu, iman kepercayaan lain sering
mengganggu dan menggoda kita untuk mendapatkan “pembenar” dan kepuasan hati ada
“rasionalisasi atau kambing hitam” atas hidup yang kita nilai gagal.
Yesus tidak ada yang salah dan buruk dalam seluruh rangkaian hidup-Nya
kalau hendak dikaji dengan kacamata motivator, demikian juga Ayub dan Habakuk,
namun tetap saja terjadi “derita”. Kehendak Allah hendak diwujudnyatakan
melalui derita itu, dan Allah diam sebagaimana guru yang tidak mau memberikan
jawaban pada muridnya yang bertanya saat ujian.
Kegagalan, persoalan hidup, derita merupakan bagian utuh hidup kita,
tidak harus ada kesalahan kita, namun ada rencana Tuhan dan Penyelenggaran
Ilahi yang harus diwartakan di sana. Iman membantu kita menyikapi dengan baik,
bersyukur, bukan mencari-cari pembenar dan kesalahan kita sendiri atau masa
lalu, dan nenek moyang sekalipun. Yesus hadir untuk memampukan kita mengenal
kehendak Allah di atas segalanya.
Misteri dalam ranah iman tetap tidak akan pernah terpecahkan oleh
kemampuan psikologi dan ilmu ppengetahuan apapun. Itu adalah wewenang dan hak
Allah yang hanya DIA-lah yang mempunyai rahasia itu, Anak-pun tidak, hanya
Bapa. Allah bisa saja memberikan kepada orang yang baik dengan kehidupan yang
tidak ringan, dan itu bukan karena Allah kejam dan tidak adil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar