1.
Kebiasaan. Kekuatiran yang berkembang
dengan berjalannya waktu. Dan setiap kebiasaan yang dapat dibentuk juga dapat
diubah. Jadi, langkah pertamanya ialah mengubah kebisaan kuatir kita.
2.
Mencekik. Itulah arti dasar dari kata
kuatir, mencekik. Kekuatiran bisa meniadakan energi alami serta keefektivan
kita. Janganlah mencekik diri sendiri dengan berbagai kekuatiran.
3.
Bodoh. Itulah kekuatiran.
Buang-buang energi mental secara bodoh. Telah dihitung bahwa kira-kita 40% dari
kekuatiran kita adalah berkaitan dengan masa lalu, 50% menyangkut masa yang
akan datang, dan 10%-nya menyangkut masalah-masalah hari ini. Sembilan puluh
dua persen dari kekuatiran itu tidak terjado, hanya kekuatiran saja. Tentu
dengan delapan persen ini bisa kita selesaikan.
4.
Melupakan. Cara efektif untuk tidak
menguatirkan kesalahan-kesalahan di masa lalu ialah menjadi terampil dalam
melupakan. Sudah lewat, ya sudah, jadi lupakan itu. Setiap hari ucapkanlah,”Aku
melupakan apa yang sudah ada di belakangku dan mengarahkan diri kepada ada yang
ada di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu
panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Filipi. 3:13-14).
5.
Membiarkan. Willam James, seorang psikolog dan filsuf besar
menyatakan,”Inti kejeniusan adalah mengetahui yang mana yang bisa dibiarkan”.
Ketika si pencemas belajar membiarkan, perhatiannya berkurang, ketegangannya
mereda, dan sikap barunya bisamelewatinya. Hal ini penting dalam penyembuhan
kekuatiran.
6.
Masa Depan. Mulai menghentikan bintik
hitam di masa depan. Lihat dan yakini masa depan yang cerah dan gilang
gemilang, di mana Allah menyaksikannya. Tidak perlu kuatir apa yang mungkin
terjadi, menciptakan kejadian baik melalui iman.
7.
Menenangkan Diri. Sikap tenang akan mengusir
kecemasan. Yakini bahwa Allah menjaga kita tetap tenang dan damai.
8.
Mengosongkan. Pikiran bisa dikosongkan,
termasuk dengan kekuatiran. Hilangkan kekuatiran, salah satu alternatif yang
bisa dilakukan ialah dengan keyakinan mengumandangkan, “Kukosongkan pikiranku dari kecemasan dan segala kekuatiran.”
9.
Mengisi. Kekosongan bukan didiamkan begitu
saja, namun juga perlu diisi dengan hal yang berdaya guna. Mengidi dengan hal
positif.
10.
Kehadiran. Hadirkanlah Tuhan Allah, dan
sirna kekuatiran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar