Seorang mengeluh kepada Gurunya:
“Bapak mengajar banyak cerita tetapi tidak pernah
menerangkan maknanya kepada kami.”
Jawab sang Guru:
“Bagaimana pendapatmu, Nak, kalau
seseorang menawarkan buah kepadamu, namun mengunyahkannya dahulu bagimu?”
Catatan:
Tak seorangpun
dapat menemukan pengertian yang paling tepat bagi diri sendiri. Sang Guru pun
tidak mampu
Refleksi:
Manusia selalu bertumbuh, ketika kanak-kanak
tentu perlu makan nasi yang lembek, kemudian nasi lunak, dan kemudian nasi
sebagiamana orang dewasa.
Makna hidup diperoleh sepanjang hayat dan
pengalaman akan memperkayanya.
Pengetahuan dan perjumpaan dengan sesama
memampukan mengunyah sendiri hingga memperoleh sari buah itu bagi kesehatannya,
namun tentu perlu waktu sebagai proses hidup.
Kesetiaan pada proses akan memberikan kualitas
hidup yang harus diketemukan...
Guru, orang tua, sesama, dan pengetahuan hanya
lah fasilitator.
NB: * dari: Burung Berkicau,
hal. 13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar