Jumat, 27 November 2015

Guru Tidak akan Tergantikan oleh Google


“Ibu, apa arti pencemaran lingkungan itu?” tanya seorang anak kelas dua sekolah dasar pada ibunya.
“Contohnya membuang sampah sembarangan, eh bukan, itu limpah pabrik,” kata ibu muda itu. Ibu ini lulusan perguruan tinggi, masih muda, dan tentu melek media.


Percakapan itu merupakan percakapa banyak anak dan orang tua yang bisa terjadi seperti di atas. Sama sekali tidak salah mengenai pencemaran lingkungan tersebut. Sederhana dan benar bagi anak usia anak kelas dua, namun malah diubah sesuai pola ibu, dan itu justru membuat anak bingung, pabrik itu apa, limbah itu apa, dan pencemaran makin luas jadinya bagi anak seusia itu. Guru akan menjawab yang pertama, membuang sampah sembarangan yang membuat lalat datang dan membawa penyakit.
Sering orang mengatakan, ah gampang jadi guru itu, asal mau. Sama sekali tidak sesederhana itu. Relatif mudah bagi dosen dan guru tingkat lanjut, terutama menengah atas. Guru sekolah dasar sama sekali tidak mudah, bahkan sulit dengan berbagai penilaiannya.
Anak-anak sekolah sekarang sering mengatakan gampang, tanya saja Mbah Google. Di sana ada semua. Dan itu benar, tidak ada yang tidak ada kog. Mulai yang ilmiah ada pula yang hanya iseng dan becanda. Dari yang dibuat oleh kaliber profesor hingga anak yang sedang latihan nulis.

Definisi itu contoh
Berangkat dari penjelasan ibu ke anak tersebut, ternyata tidak mudah menerangkan sesuai dengan kepentingan. Mungkin banyak orang untuk memberikan keterangan dan definisi, pengetahuan, ilmu pengetahuan apapun itu, namun tidak banyak yang bisa mengajar dan memberikan penjelasan dan menerangkan dengan panjang lebar dan bisa dimengerti bukan asal bisa apalagi dengan konsep oleh si penerang. Mampu memberikan contoh sesuai dengan konteks dan keperluan itu tidak gampang.

Mengajar itu untuk orang lain, bukan diri sendiri
Orang pandai itu banyak dan tidak kurang, namun orang yang bisa memberikan sepenuhnya kepada pihak lain itu tertentu. Guru adalah profesi yang memberikan diri pada muridnya. Itu keseluruhan, dan itu tidak mudah. Berbagi ilmu itu bukan hanya otak, namun hati dan itu perlu kecerdasan tertentu.

Ilmu itu perlu kedalaman.
Media, termasuk di dalamnya media digital melimpah informasi. Namun kedalaman hanya ada dari pengajaran. Kemampuan memilah dan memilih itu ada dari pendidikan dan pengajaran. Pinter tanpa pendidikan hanya pengajaran murid tidak akan tumbuh berkembang sesuai dengan jati dirinya. Pinter bukan hanya otak namun hati termasuk di dalamnya. Belajar bukan untuk nilai (A, B, atau 80, 90), namun untuk hidup. Bagaimana hidup lebih baik dan mampu memilih dan memilah yang tidak ada di luar pendidikan oleh seorang guru. Guru memberikan panduan moral, etis, kedalaman, dan skil yang ada di dalam kebersamaan.


Guru vs Google.
Google bersifat komplementer, melengkapi pengajaran yang ada di sekolah dari guru, sama sekali tidak bisa mengambil alih tugas seorang guru. Guru ada di garda terdepan di dalam pendampingan dan pendidikan peserta didik. Google sebagai referensi sangat kaya namun tidak mungkin memberikan penilaian etis, kedalaman, dan pendidikan secara berjenjang dan kontekstual sebagaimana guru berikan.

Hakikat manusia itu bertumbuh dan berkembang bersama yang lain demikian juga dalam pendidikan. Pendidikan tidak bisa lepas dari peran orang lain dan salah satunya adalah guru.

Keberadaanmu tidak akan tergantikan
Dirgahayu Guru!





Tidak ada komentar:

Posting Komentar