Jumat, 27 November 2015

Tuhan itu Selalu Hadir


Malam ini, kami, saya dan kakak datang ke kenduri atau selamatan empat puluh (40) hari paman yang meninggal. Sepulang dari sana, perjalanan sekitar 25 km. Sambil menikmati sore kami menyusuri jalan Magelan Semarang, ruas Ambarawa. Menjelang masuk kota Ambarawa, ada kejadian yang menjengkelkan, namun memberikan arti yang mendalam karena masih banyak orang baik di sekitar kita.
Jalanan sempit dan berkelok, kendaraan memang kadang ramai dan ada pula sepi. Pas menjelang dua kilo meter dati kota Ambarawa dari arah Magelang, kami diklakon dan dipepet bis. Jalan sempit dan berkelok, namun sangat sepi, bis itu memaksa kakak mau tidak mau turun ke bahu jalan. Bahu jalan makadam itu cukup dalam dan ada bekas ban dari kendaraan berat yang cukup dalam. dengan terpaksa roda masuk di lobang itu dan di depan ada batako, mau tidak mau kami jatuh. Bawaan kami, sepulang dari kenduri jatuh dan pecah. Hal ini tidak masalah, namanya celaka.
Ada dua anak muda yang memarkir motornya sekitar sepuluh meter di depan dan menghampiri kami. Menanyakan bagaimana keadaan kami dan motor kakak. Memang tidak parah-parah amat selain luka lecet dan berantakannya tas dan kardus yang kami bawa, sedikit asesoris motor yang bengkok. Kepeduliaan itu ternyata masih ada. Datang dan menyapa untuk menanyakan keadaan dan bis itu, kalau tidak salah bis antara kota antra provinsi. Anak-anak muda baik hati ini mengatakan bahwa memang bus tersebut sejak awal, sejak mereka tahu sepanjang jalan ugal-ugalan.
Sopir bus ini, saya tidak habis pikir mengapa harus memepet yang membuat kami terjatuh sedangkan jalanan sepi dan kami berjalan di pinggir dengan kecepatan tidak lebih dari 50 km/jam. Sama sekali tidak ada alasan, dia bisa ke tengah dan depan pun lengang. Tidak mendahului juga tidak masalah karena memang jalan sama sekali tidak membuat dia terhambat sama sekali.
Ada orang yang mau menang sendiri, dengan model sopir bis yang demikian, tidak peduli ada orang celaka. Memaksakan kehendak sedangkan jalur lain sangat kosong. Bagaimana kalau sopir atau keluarganya yang mengalaminya? Sopir itu bertanggung jawab dengan membawa penumpang dan sikap yang demikian apakah tidak akan merugikan banyak pihak dengan sikap demikian itu? Tuhan membimbing langkah Anda dan di kemudian hari tanpa perlu mencelakakan orang Anda tersadar.
Namun jauh lebih menyenangkan dan membahagiakan adanya dua anak muda, yang berhenti dan datang, menyapa, dan memberikan perhatian. Di tengah dunia yang selalu cuek, menang sendiri, serta apatis, masih ada sosok muda yang demikian. berkat Tuhan untuk kalian, Anak Muda. Sekali lagi terima kasih.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar