Malam ini, kami, saya dan kakak datang ke kenduri atau
selamatan empat puluh (40) hari paman yang meninggal. Sepulang dari sana,
perjalanan sekitar 25 km. Sambil menikmati sore kami menyusuri jalan Magelan
Semarang, ruas Ambarawa. Menjelang masuk kota Ambarawa, ada kejadian yang
menjengkelkan, namun memberikan arti yang mendalam karena masih banyak orang
baik di sekitar kita.
Jalanan sempit dan berkelok, kendaraan memang kadang ramai
dan ada pula sepi. Pas menjelang dua kilo meter dati kota Ambarawa dari arah
Magelang, kami diklakon dan dipepet bis. Jalan sempit dan berkelok, namun
sangat sepi, bis itu memaksa kakak mau tidak mau turun ke bahu jalan. Bahu
jalan makadam itu cukup dalam dan ada bekas ban dari kendaraan berat yang cukup
dalam. dengan terpaksa roda masuk di lobang itu dan di depan ada batako, mau
tidak mau kami jatuh. Bawaan kami, sepulang dari kenduri jatuh dan pecah. Hal
ini tidak masalah, namanya celaka.
Ada dua anak muda yang memarkir motornya sekitar sepuluh
meter di depan dan menghampiri kami. Menanyakan bagaimana keadaan kami dan
motor kakak. Memang tidak parah-parah amat selain luka lecet dan berantakannya
tas dan kardus yang kami bawa, sedikit asesoris motor yang bengkok. Kepeduliaan
itu ternyata masih ada. Datang dan menyapa untuk menanyakan keadaan dan bis
itu, kalau tidak salah bis antara kota antra provinsi. Anak-anak muda baik hati
ini mengatakan bahwa memang bus tersebut sejak awal, sejak mereka tahu
sepanjang jalan ugal-ugalan.
Sopir bus ini, saya tidak habis pikir mengapa harus memepet
yang membuat kami terjatuh sedangkan jalanan sepi dan kami berjalan di pinggir
dengan kecepatan tidak lebih dari 50 km/jam. Sama sekali tidak ada alasan, dia
bisa ke tengah dan depan pun lengang. Tidak mendahului juga tidak masalah
karena memang jalan sama sekali tidak membuat dia terhambat sama sekali.
Ada orang yang mau menang sendiri, dengan model sopir bis
yang demikian, tidak peduli ada orang celaka. Memaksakan kehendak sedangkan
jalur lain sangat kosong. Bagaimana kalau sopir atau keluarganya yang
mengalaminya? Sopir itu bertanggung jawab dengan membawa penumpang dan sikap
yang demikian apakah tidak akan merugikan banyak pihak dengan sikap demikian
itu? Tuhan membimbing langkah Anda dan di kemudian hari tanpa perlu mencelakakan
orang Anda tersadar.
Namun jauh lebih menyenangkan dan membahagiakan adanya dua
anak muda, yang berhenti dan datang, menyapa, dan memberikan perhatian. Di
tengah dunia yang selalu cuek, menang sendiri, serta apatis, masih ada sosok
muda yang demikian. berkat Tuhan untuk kalian, Anak Muda. Sekali lagi terima
kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar