Dunia pendidikan belum juga beranjak dan ada titik terang mau dibawa ke mana dan mau seperti apa. Persoalan mendasar pendidikan masih saja beljum tersentuh, selain malah soal lain, seperti politis, agama, dan tetek bengek yang jauh dari dunia pendidikan itu sendiri. Guru Pendidik dan Arsitek Jiwa Tidak bisa disangkal bahwa guru sebagai arsitek jiwa, anak-anak bahan mentah yang mau dibentuk sesuai maunya guru yang menjalankan program pendidikan nasional. Mengapa arsitek? Arsitek itu pembentuk bangunan dari nol menjadi sebuah bentuk yang abstrak dalam pemikiran. Demikian juga guru akan menjadikan murid sebagai bahan mentah menjadi orang. Membentuk menjadi maunya negara atas generasi mudanya. Artinya pendidikan harusnya menjadi pembentuk seperti yang dikehendaki sistem pendidikan nasional, bukan semau-maunya sendiri oleh lembaga pendidikan. Bahwa lembaga pendidikan memiliki visi dan misi tentu harus searus, sejalan, dan mendukung visi misi pendidikan nasional. Tidak bisa pihak lain mengintervensi bahwa mengambil alih atau mengganti sistem pendidikannya sendiri. Peran Penting Guru di Tengah Arus Keblinger Massal Masalah dunia pendidikan seolah tidak pernah ada habisnya. Persoalan datang silih berganti. Mulai dari ujian nasional dengan berbagai problematikanya, ganti menteri ganti buku, ide-ide yang tidak membangun namun justru melemahkan pendidikan secara perlahan, politisasi dan perebutan kepentingan di dalam dunia pendidikan, dan banyak lagi. Salah satu hal yang menjadi permasalahan dan menjadikan keblinger adalah beban guru yang begitu tinggi tidak dibarengi dengan kemampuan, kesiapan kualitas guru, dan kesejahteraan yang terjamin. Kelihatannya menjadi guru itu mudah, ringan, dan banyak libur atau waktu luangnya. Apakah demikian? “Beban” Guru Ini bukan soal pemaknaan kerja atau profesi saja, namun banyak hal yang harus ditanggung oleh seorang guru yang jarang dimengerti orang yang tidak berkecimpung di dalamnya. Soal administrasi pendidikan. Hal yang tidak kecil dan ringan, di mana seorang guru harus melengkapi dirinya dengan berbagai macam lembaran (syarat ini itu lho), perangkat pembelajaran, RPP, kartu soal, kisi-kisi, dan banyak lagi. Penilaian,ini jelas soal tanggung jawab seorang profesional, namun unsur politis jangan dilupakan, di mana peran penguasa soal pembatasan nilai minimal bisa terjadi. Ini bukan soal yang rigan. Belum lagi jika penilaian itu melebar ke mana-mana sesuai kepentingan politis penguasa saja. Peran berlipat seorang guru,sebagai bagian keluarga, masyarakat, dan tentu pribadi. Bagaimana mereka dituntut sebagai seorang ibu atau ayah, di mana juga tidak bisa melepaskan sosok seorang anggota masyarakat (masuk dalam penilaian sebagai profesional untuk mendapatkan tunjangan dan sebagainya), namun masih juga melakukan tugas yang begitu banyak. Ingat bagaimana kalau ada anak nakal, perkelahian pelajar, masih lagi dikungkung dengan HAM, UU soal pendidikan tanpa kekerasan dan sebagainya yang makin naif, lucu, dan keblinger. Soal “beban” itu masih panjang lagi jika mau dikupas, namun jiwa, roh, dan spirit guru yang memang “berbeda” dengan profesi lainnya, sering membentuk guru menjadi pribadi yang komplit, komplementer, dan bisa menyiasati itu semua. Seorang teman mengatakan kalkulator seorang guru tidak bisa dipahami pakai nalar, berkaitan dengan ekonomi keluarga. Bagaimana gaji yang selalu sama namun bisa untuk mengatasi banyak hal, kelihatannya ini berkaitan dengan kreativitas di dalam menciptakan suasana pengajaran yang menyenangkan. Segi ekonomi, dari aspek sosialitas juga demikian saya rasa bagaimana mereka bisa membagi peran sebagai keluarga, masyarakat, dan seorang profesional. Jarang melihat keluarga guru itu buruk berkeluarga dan bermasyarakat. “Beban” itu menjadi hilang, tidak terasa, dan menjadi wajar karena memang jiwa dan rohnya yang sudah disiapkan oleh Sang Pencipta. Apapun yang dilakukan, dipikirkan toh mampu menjadi sesuatu yang lebih baik. Kesehatan, kesejahteraan, dan kualitas keluarga dan bermasyarakat, bukan soal materi namun bagaimana sumbangsih dalam arti yang lain jelas lebih terasa dan menjadi pembeda, kehadiran, pemikiran, dan banyak hal positif lainnya. Guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru, dijadikan panutan dan keteladanan mampu dijalani sehingga beban seberapapun tidak lagi dijadikan bahan untuk mengeluh, menggerutu, dan sejenisnya. Pemberian diri telah mengalahkan apa yang seolah beban sangat berat tersebut. Peran Pemerintah Pemerintah sebagai pemangku kebijakan bisa menjadi inisiator untuk melepaskan banyak beban yang selama ini ditanggung guru dengan berbagai keputusan dan kebijakannya. Pertama, kekerasan terhadap dan oleh guru itu makin marak, bagaimana hukum bisa melindungi guru sehingga bisa mengekspresikan dirinya dengan bebas tanpa takut HAM, kriminalisasi, dikeroyok murid dan sebagainya. Hal ini negara abai dan guru seolah selalu disalahkan dan dikalahkan. Memukul murid dikatakan guru melakukan kekerasan, anak nakal, bagaimana guru mendidik, diberi tugas katanya gur membebani murid. Kedua,beberapa tugas tambahan sebagai ini itu di sekolah seharusnya bisa dikurangi dengan bantuan negara untuk menciptakan sistem yang bisa merigankan guru dengan kinerjanya. Salah satunya tidak gonta-ganti kurikulum dan buku. Ketiga,kesejahteraan guru tidak semata finansial. Ingat sejahtera bukan semata gaji dan sertifikasi, namun juga sikap menghormati, menghargai, dan melindungi, selama ini masih jauh dari harapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar