Baru saja kita merayakan Pesta Keluarga Kudus. Pesta yang memperingati
betapa berartinya Keluarga Kudus bagi perkembangan Gereja umumnya dan keluarga
Katolik khususnya. Yesus dalam naungan Maria dan Yoseph sungguh menguduskan
Maria dan Yoseph.
Menengok warna dan ragam keluarga kita hari ini, bagiamana
keluarga-keluarga dibangun tercermin dalam anak-anak dan generasi muda yang
ada. Ciri dan sikap kaum muda saat ini:
·
Tidak tahan banting
Anak-anak tidak tahan banting dan mudah menyerah. Budaya instan dan
konsumeris merajai kaum muda sehingga pudah patah arang dan lari pada narkoba,
miras, dan tawuran
·
Kurang memiliki hati dan empati
Sikap seenaknya, ada orang berdiri dengan membopong anaknya, di depannya,
pas bis sesak. malah asyik nonton film lewat tabletnya, yang penting aku tidak
dirugikan.
·
Soliter dan egois, orientasi pada diri
Sikap mementingkan diri sendiri dengan tanpa peduli bahwa merugikan orang
lain. Maaf mungkin akan menjadi langka sebagaimana surat bagi anak muda zaman
ini. Terima kasih dan syukur yang makin tidak populer dan terkenal.
·
Berorientasi pada hasil bukan proses
Hasil dan materi menjadi pusat dan tujuan, prosesnya tidak penting bahkan
hukum rimba, kejahatan tidak peduli lagi, lihat bagaimana anak-anak sekarang
membayar temannya untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya, membeli bocoran soal
dan jawaban UNAS sebagai hal yang wajar.
·
Sarana dan tujuan kacau balau
Tidak jelasnya pendidikan baik di rumah ataupun sekolah, anak-anak tidak
bisa membedakan aman tujuan dan mana sarana. Penting mendesak dan tidak penting
tidak mendesak pun sering tumpang tindih. Maka HP dan smartphone menjadi pegangan utama mengalahkan segalanya.
Belajar kalah dengan nilai tinggi.
·
Hilang konsentrasi dan fokus
Berbicaralah pada anak sekarang, akan jarang sekali langsung jalan,
dengar, atau mengerti. Fokus terbagi-bagi, konsentrasi terbelah, dan tidak bisa
menghayati di sini, saat ini. Semua ada di depan, di belakang, dan di mana-mana
bukan di sini dan saat ini.
·
Krisis identitas dan keteladanan
Diri sendiri siapa, hendak mau jadi apa bingung, karena pendidikan dan
lingkungan tidak menyediakan sarana untuk itu, Materi menjadi tujuan banyak
orang termasuk pada tokoh sehingga anak-anak dan generasi berikut gagal
mengambil pembelajaran dari generasi yang lebih tua.
Mengapa demikian hasilnya?
Orang tua sebagai pendidik pertama dan utama telah gagal
dalam menerapkan pendidikan. Persaingan dan kompetisi menjadi panglima di dalam
keluarga-keluarga. Lihat bagaimana orang tua lebih menghargai anak yang lebih
pinter, lebih menurut, lebih mudah dinasihati, dan melupakan anaknya yang
nakal, sulit diajari untuk apa saja.
Persaingan telah ditanamkan secara tidak langsung. Contoh tuh
adikmu yang penurut, lihat itu kakakmu yang mendapat rangking terus. Litani dan
refrein yang selalu diulang oleh bapak atau ibu terekam oleh anak yang berbeda
denga kriteria orang tua.
Orang tua tidak menerima perbedaan dan keunikan anak-anaknya
sendiri. Semua anak memiliki keunikan dan talenta yang berbeda. Kalau orang tua
hanya membanggakan dan menceritakan anak-anak yang unggul, kasihan yang kurang
beruntung, merasa anak tiri dalam keluarganya sendiri. Tidak heran akan
menghasilkan anak-anak yang bersikap memberontak dan nakal.
Semua manusia memiliki sikap dasar untuk diakui dan dicintai
apa adanya. Bagi yang memperoleh limpahan sayang bisa besar kepala, sedang yang
kurang memperoleh kasih sayang, bisa menjadi
minder, nakal, dan meradang dalam banyak
hal.
Negara yang lalai dalam menerapkan pendidikan, pendidikan berorientasi pada hafalan,
menyelesaikan UNAS, dengan menggunakan segala cara, menafikan pelajaran yang
tidak menjadi bahan UAN, bahkan sekolah mengusahakan bocoran, telah mendidik
anak untuk berorientasi pada hasil bukan proses. Proses tidak baikpun
digunakan.
Harapan boleh dikembangkan, bukan menghakimi kekeliruan,
namun memperbaiki dan meluruskan kekurangtepatan merupakan sarana memajukan
diri, keluarga, Gereja, dan negara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar