Ketika kepada kita diajukan pertanyaan apakah ada yang hendak diubah
dalam kehidupan kita, banyak yang akan menyatakan iya, ada yang pengin diubah.
Unsur yang tidak sesuai dalam kepribadian sering berperan dalam kegagalan dan ketidakbahagiaan
kita. Bisa saja kita memiliki sifat dan kebiasaan berbicara yang menyakiti
orang lain dan bisa merusak hubungan yang telah terjalin baik. Tentu di antara
kita memiliki kelemahan dan ketidaksesuaian. Pastinya akan bersuka cita kalau
kita mendengar ada kuasa yang tersedia untuk mengubah kehidupan kita tersebut.
Kuasa itu ialah kehidupan Ilahiah dalam diri kita. Kuasa luar biasa
yang ada dalam diri kita masing-masing, kalau diolah dan difokuskan mampu
menghasilkan perubahan yang signifikan dan spektakuler dalam kepribadian kita.
Sumber Kuasa
Manusia hanya bisa menginginkannya, bagaimana mereka memintanya dan kepada
siapa? Tepat atau tidak yang dimintai tolong? Dan bagaimana sikap mereka
terhadap perubahan tersebut. Menginginkan perubahan tentu menjadi dasar dan
motivasi bagi orang yang hendak beranjak maju dalam kepribadian dan kerohanian.
Menyadari membutuhkan perubahan, manusia perlu untuk mengingingkan perubahan
sebagai motivasi terlebih dahulu. Kemudian kita meminta kepada siapa bantuan
tersebut? Sudah tepat belum? Sering manusia terlalu mengandalkan diri sendiri
dan sesamanya manusia, yang sering belum tentu banyak membantu. Kita layak
memohon kepada yang memiliki kuasa mengubah, yaitu Tuhan Allah sendiri. Meminta
kepada yang tepat dan permintaan yang tepat pula sangat membantu orang untuk
berubah. Menerima perubahan tersebut dengan penuh syukur dan keterbukaan hati. Orang
sering meminta dalam doanya kepada Tuhan Allah untuk apa saja, salah satunya
untuk berubah, namun reaksi yang diterima belum tentu dengan rasa syukur malah
tidak jarang adalah sungut-sungut karena berbeda dengan apa yang diinginkan.
Menerima itu penting.
Setelah mampu menerima perubahan, bisa membantu suadara lain yang
berusaha mengatasi kelemahannya. Apa yang
bisa dilakukan? Bisa menggunakan media tulisan, pembicaraan dalam
kehidupan sehari-hari, dan banyak sarana yang bisa dipakai. Berkat itu biar
mengalir menjadi berkat bagi yang lain juga.
10 Langkah Menuju Kehidupan
yang Berubah:
1.
Menyadari bahwa kuasa untuk mengubah kehidupan kita berasal dari iman
kepada Kristus
2.
Menyerahkan diri dan segala masalah kita kepada Allah
3.
Mempraktekkan prinsip iman yang rileks, merelakan dan menyerahkan
kepada Allah
4.
Meminta kepada Allah, kuasa untuk menjalani kehidupan baru. Percaya
bahwa Ia akan memberikannya
5.
Mempelajari Kitab Suci Perjanjian Baru dan menghafalkan sabda Tuhan
6.
Mencoba menanyakan kepada Yesus, lalu coba melakukannya
7.
Biasakan diri berdoa setiap hari, sisihkan waktu secara khusus untuk
berdoa dan berikanlah prioritas
8.
Membaca Perjanjian Baru dari awal hingga akhir, dan pelajari ayat-ayat
yang menarik serta menginspirasi bagi kita
9.
Memenuhi kesadaran kita dengan pikiran-pikiran yang berpusat pada
Kristus.
10. Mempraktekan kasih serta
itikat baik terhadap orang lain.
Kita Bisa Memiliki Kehidupan
Keluarga yang Bahagia
Keluarga, baik keluarga inti atauppun keluarga secara luas, merupakan
potensi luar biasa untuk kebahagiaan atau sebaliknya. Bisa penuh kasih ataupun
kesalahpahaman serta konflik.
Kehidupan keluarga yang diwarnai dan dihidupi dengan kasih sayang serta
sikap saling mengasihi akan memperoleh keluarga yang memiliki kehidupan yang
paling bahagia di seantero dunia. Berbeda dengan keluarga yang penuh dengan kesalahpahaman, perselisihan, dan berbagai
konflik, maka terciptalah kondisi keluarga yang tidak sehat, yang terus berefek
negatif terhadap kehidupan keluarga tersebut, terutama anak-anak.
Manusia yang menggunakan nalar, intelijensia, ketulusan, bagi semua
usia, mampu hidup dengan damai dan dalam hubungan yang penuh sukacita.
Sekiranya hal tersebut belum terjadi dalam keluarga kita, kita perlu meyakini
bahwa kita mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik sebagaimana kita angankan.
Beberapa langkah untuk menciptakan keluarga bahagia:
1.
Memulai dari diri sendiri
Tentukan dan yakinkan bahwa siapa
yang bisa memulai perubahan adalah kita sendiri. Semangat kita akan menjadi
kekuatan dan semangat bagi seluruh keluarga.
2.
Menanyakan kepada diri sendiri
Pertanyaan apakah aku
memberikan kontribusi terhadap kebahagiaan keluarga atau justru sebaliknya? Pastikan jawaban itu jujur dan terbuka.
3.
Memberikan koreksi kalau ada sikap tidak percaya atau permusuhan dalam
diri sendiri
Memperlakukan semua orang
dalam keluarga bukan saja dengan kasih, melainkan juga dengan hormat terhadap
pendapat mereka. Memberikan hormat secara tulus.
4.
Anggap dan yakini diri sebagai “sel” kasih dan bersikap penuh kasih
Tidak perlu memberikan
proklamasi atas pilihan kita tersebut, namun jalani dengan komitmen tinggi,
maka akan terasa oleh seluruh keluarga akan dapat memberikan warna bagi seluruh
keluarga.
5.
Mendorong setiap anggota keluarga untuk saling menghormati
Saling menghormati bukan
hanya kepada anggota keluarga ke atas, atau kepada orang tua dan kakak dan yang
lebih tua semata, namun seluruh anggota keluarga saling menghargai. Kasih yang
ada akan menimbulkan iklim kehendak baik.
6.
Bersikap realistis.
Sikap yang berpikir secara
logis dan realistis, dalam hal melihat perubahan tidak akan serta merta dan
semua orang akan langsung berubah. Bisa saja penolakan dan resistensi yang kuat,
berupa kebencian, prasangka, dan itu hanya bisa berkurang secara bertahap.
7.
Mengembangkan iman serta ketergantungan mendalam kepada Allah
Mazmur 127:1b menyatakan, Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah,
sia-sialah usaha orang yang membangunnya; ungkapan ini hendak mengajarkan kepada kita
dengan iman akan mampu mengatasi situasi dengan iman, bagi yang sering gagal
karena tanpa melibatkan iman.
8.
Memulai program doa
Doa akan menumbuhkan semangat
kebersamaan dan persekutuan yang lebih mendalam, mengubah keadaan menjadi lebih
baik dan menyenangkan.
Kita Bisa Menyenangi
Pekerjaan Kita
Perubahan juga berkaitan dengan dengan aspek kehidupan kita lainnya,
yaitu pekerjaan. Bisa dengan keluar dan berganti dari pekerjaan lama, atau
mengubah kita dalam melihat, menjalankan, dan melibatkan diri dalam pekerjaan
kita meskipun itu adalah pekerjaan yang sama.
Cara pertama, dengan keluar memang segala sesuatu yang lama akan tergantikan dengan yang baru, namun
apakah semuanya akan mulus dan baik-baik saja, kan juga belum pasti terjadi.
Baru sebatas suasana, rekan, dan lingkungannya, sedangkan secara keseluruhan
belum sepenuhnya benar, kalau tidak hati-hati justru sama saja.
Sikap dan kelemahan dan kelebihan yang melakat dalam diri sendiri
adalah berkaitan dengan rasa itu, apalagi yang berhubungan dengan kelemahan.
Biasanya kelemahan itulah yang membuat kita berpindah. Mengatasi kelemahan dan
melihat pekerjaan dengan cara yang baru sebagai solusi. Melihat pekerjaan
secara positif dan mengubah diri menjadi lebih baik sebagai sarana pengembangan
diri, bukan pekerjaan yang menyesuaikan dengan kita tentunya, tapi kita yang
perlu menyesuaikan dengan pekerjaan dan lingkungannya.
Kita Bisa Menyingkirkan
Segala Penopang Kepribadian Kita
Sering kita saksikan di sekitar kita orang hanyut dengan Hp dan gadgetnya, baru duduk di Gereja langsung buka smartphone untuk up date, atau melihat notifikasi,
demikian pun di tempat lainnya. Ada pula orang pusing kalau tidak merokok,
tidak konsentrasi kalau tidak memakai sabu, tidak akan kreatif tanpa menegak
alkohol. Obat-obatan, minuman keras, ataupun smartphone sebenarnya menjadi sarana untuk menjadi kompensasi dalam
mengatasi rasa rendah diri dan perasaan kecil lainnya.
Sarana-sarana yang digunakan untuk menguatkan diri sebagai penguat bisa
disebut sebagai penopang. Penopang perlu dihilangkan dan itu bisa dan bahkan
harus. Datang kepada-Nya dan nyatakan kerinduan Anda untuk menghilangkan
penopang dan sarana-sarana yang tidak penting itu sebagai perubahan diri Anda
dalam Tuhan Yesus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar