Sabtu, 06 Juni 2015

Komuni Suci


Bapa Konsili Vatikan II menyatakan bahwa Komuni Suci merupakan Puncak Keikutsertaan dalam Perayaan Ekaristi (SC. 55). Makna Komuni ialah partisipasi umat beriman secara sakramental dalam rupa roti dan atau anggur dalam karya penebusan Kristus yang dikenangkan dalam Perayaan Ekaristi atau dihadirkan pada saat Doa Syukur Agung diucapkan oleh imam da diamini umat. Makna kedua ialah, menyambut Tubuh dan atau Darah Kristus. Melihat begitu agungnya makna yang akan diterima, perlu kiranya kita menyiapkan hati dan budi dengan sebaik mungkin.
Bisa kita bayangkan bagaimana kita menyiapkans segala sesuatunya ketika mengetahui akan kehadiran tamu yang agung bagi kita, apalagi ini Tubuh dan atau Darah Tuhan sendiri. Fenomena menarik saat ini ialah adanya berkat bagi anak-anak yang belum menerima komuni. Hal ini bagus dna baik, bagi tumbuh kembang anak. Anak diajari untuk menerima berkat Tuhan dari tangan imam.
Perlu dicermati beberapa hal:
·         Orang tua akan dan sedang menerima Tubuh Kristus, nilai keagungannya jangan dinomorduakan demi anaknya yang akan menerima berkat dari imam. Sangat tidak sebanding dengan yang sedang diterima dengan mengantar anak mengantri ke depan untuk menerima berkat.
·         Bijaksana apabila orang tua, duduk dulu, berdoa sejenak, baru mengantar anak. Menjadi lucu dan ironis ketika anak ngambeg orang tua malah marah, menerima Tubuh Kristus dengan kemarahan.
·         Ada pula yang langsung mengantar anaknya, kapan bersyukur atas karunia agung itu? Berkat anak hanya pastoral, bukan suatu keharusan, doa syukur bagi kehadiran Tuhan  jauh lebih penting dan utama.
·         Bagi Gereja dan petugas pastoral kelihatannya perlu mencari formula yang paling bagus mengenai tindakan pastoral bagus ini agar tidak menurunkan kualitas penerima dan penerimaan Komuni. Pastoral berkaitan dengan efisiensi waktu memang penting, namun juga penting bahwa Komuni jauh lebih bermakna dan penting.
·         Keluarga-keluarga muda yang “memilih” Misa di luar, namun Komuni dengan gagah perkasa, tanpa merasa bersalah. Beberapa hal yang memprihatinkan pilihan demikian.
o   “Memisahkan” anak dari Misa yang sebenarnya, anak bukan dikenalkan dengan Gereja, namun gedung gereja dan parkirannya. Dengan demikian mendidik anak merasa benar kalau besar nanti kalau Misa di luar
o   Orang tua tidak mau susah mendiamkan anak yang rewel, memilih di luar.
o   Gereja Katolik yang menuntut kedewasaan umatnya memang sering membuat prihatin dengan pilihan-pilihan umatnya.
o   Ekaristi itu dari awal hingga akhir sebagia satu kesatuan, memang Komuni sebagai puncaknya, namun bukan berarti bahwa Komuni saja tujuannya.
Artikel ini, bukan hendak menyindir atau mengajari semua umat beriman, namun fenomena memprihatinkan ini juga keprihatinan bersama yang perlu dicermati, direnungkan, dan kemudian memperbaiki diri agar mampu menerima Tubuh Kristus dengan selayaknya.BD. eLeSHa.  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar