Bapa Konsili Vatikan II
menyatakan bahwa Komuni Suci merupakan Puncak Keikutsertaan dalam Perayaan
Ekaristi (SC. 55). Makna Komuni ialah partisipasi umat beriman secara
sakramental dalam rupa roti dan atau anggur dalam karya penebusan Kristus yang
dikenangkan dalam Perayaan Ekaristi atau dihadirkan pada saat Doa Syukur Agung
diucapkan oleh imam da diamini umat. Makna kedua ialah, menyambut Tubuh dan atau
Darah Kristus. Melihat begitu agungnya makna yang akan diterima, perlu kiranya
kita menyiapkan hati dan budi dengan sebaik mungkin.
Bisa kita bayangkan bagaimana
kita menyiapkans segala sesuatunya ketika mengetahui akan kehadiran tamu yang
agung bagi kita, apalagi ini Tubuh dan atau Darah Tuhan sendiri. Fenomena menarik
saat ini ialah adanya berkat bagi anak-anak yang belum menerima komuni. Hal ini
bagus dna baik, bagi tumbuh kembang anak. Anak diajari untuk menerima berkat
Tuhan dari tangan imam.
Perlu dicermati beberapa hal:
·
Orang tua akan dan sedang menerima Tubuh
Kristus, nilai keagungannya jangan dinomorduakan demi anaknya yang akan
menerima berkat dari imam. Sangat tidak sebanding dengan yang sedang diterima
dengan mengantar anak mengantri ke depan untuk menerima berkat.
·
Bijaksana apabila orang tua, duduk dulu, berdoa
sejenak, baru mengantar anak. Menjadi lucu dan ironis ketika anak ngambeg orang
tua malah marah, menerima Tubuh Kristus dengan kemarahan.
·
Ada pula yang langsung mengantar anaknya, kapan
bersyukur atas karunia agung itu? Berkat anak hanya pastoral, bukan suatu
keharusan, doa syukur bagi kehadiran Tuhan jauh lebih penting dan utama.
·
Bagi Gereja dan petugas pastoral kelihatannya
perlu mencari formula yang paling bagus mengenai tindakan pastoral bagus ini
agar tidak menurunkan kualitas penerima dan penerimaan Komuni. Pastoral
berkaitan dengan efisiensi waktu memang penting, namun juga penting bahwa
Komuni jauh lebih bermakna dan penting.
·
Keluarga-keluarga muda yang “memilih” Misa di
luar, namun Komuni dengan gagah perkasa, tanpa merasa bersalah. Beberapa hal
yang memprihatinkan pilihan demikian.
o
“Memisahkan” anak dari Misa yang sebenarnya,
anak bukan dikenalkan dengan Gereja, namun gedung gereja dan parkirannya. Dengan
demikian mendidik anak merasa benar kalau besar nanti kalau Misa di luar
o
Orang tua tidak mau susah mendiamkan anak yang
rewel, memilih di luar.
o
Gereja Katolik yang menuntut kedewasaan umatnya
memang sering membuat prihatin dengan pilihan-pilihan umatnya.
o
Ekaristi itu dari awal hingga akhir sebagia satu
kesatuan, memang Komuni sebagai puncaknya, namun bukan berarti bahwa Komuni
saja tujuannya.
Artikel ini, bukan hendak
menyindir atau mengajari semua umat beriman, namun fenomena memprihatinkan ini
juga keprihatinan bersama yang perlu dicermati, direnungkan, dan kemudian
memperbaiki diri agar mampu menerima Tubuh Kristus dengan selayaknya.BD. eLeSHa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar