Rabu, 01 Juli 2015

Ziarah, antara Selfie dan Devosi



Fenomena ziarah dan tempat ziarah sekarang menjadi trend. Hampir setiap keuskupan, bahkan sekarang hampir semua paroki memiliki tempat ziarah, ada yang berupa Gua Maria, ini yang paling banyak, ada yang gua buatan ataupun alamiah. Tempat doa yang baru-baru ini menjamur di banyak tempat. Ada pula Candi sebagaimana Ganjuran, atau makam, seperti kerkof, seperti di Muntilan, di mana ada makam Rm. Sanjaya, atau bisa pula Kapel Sakramen Mahakudus.
Tujuan berziarah ialah, berdoa dengan kakinya, dan mengalami dengan semua indranya bahwa seluruh hidupnya merupakan suatu perjalanan panjang kepada Allah (Youcat 276).
Devosi yaitu, devotio, devovere, yang berasal dari bahasa Latin yang berarti kebaktian, pergorbanan, penyerahan, kesalehan, cibta bakti. Dengan demikian, devosi dapat dimengerti sebagai, sikap hati dan perwujudannya, dalam mana seseorang mengarahkan diri kepada seseorang atau sesuatu yang dijunjung tinggi dan dicintai. Dalam Gereja Katolik, devosi dipahami sebagai bentuk penghayatan dan pengungkapan iman Kristiani di luar liturgi resmi (Liturgi, Martasudjita, 143).
Selfie, kegiatan mengabadikan gambar diri sendiri dengan obyek yang dipilih menggunakan kamera, bisa kamera dari gadget atau smartphone, yang diambil sendiri.
Kegiatan berziarah ialah berdoa pada dasarnya. Apa artinya, bahwa ziarah sebagai bentuk devosi berarti pula berdoa, bersembah bakti, dan pengungkapan diri kepada pribadi yang dihormati, bis Ibu Maria, Sakramen Mahakudus, atau yang lainnya. Kegiata utama tentu berdoa dan ungkapan hati, dalam hal ini menjalin relasi dengan Tuhan melalui Maria, Sakramen Mahakudus, atau yang lainnya.
Kemajuan teknologi terutama teknologi komunikasi dalam hal ini kamera di dalam smartphone, makin canggih dan murah membuat orang berziarah justru makin memberikan perhatian kepada diri sendiri dalam hal selfie, dan up date status melalui media sosial.
Relasi dengan Tuhan Allah melalui doa dan ziarah terpinggirkan dengan kegiatan kita yang asyik dengan potret sana-potret sini, up date status. Berdoanya hanya sepersepuluh atau sedikit saja waktu dan perhatian kita dibandingkan dengan waktu kita untuk mengabadikan dan mengabarkan diri sendiri.
Silfie tidak ada yang salah pada dasarnya, namun menjadi keprihatinan kalau kegiatan itu justru lebih utama dan porsi jauh lebih banyak. Belum lagi mengganggu kegiatan umat lainnya yang perlu ketenangan dan keheningan di dalam doa mereka.
Tujuan dan definisi ziarah jelas sepadan dengan devosi yaitu berdoa dan sembah bakti kepada Tuhan tentunya, kalau kita berpusat pada diri sendiri, Tuhan tersingkir, berarti kita perlu merenungkan kegiatan dan aktivitas kita kembali, apakah sudah tepat atau belum. Jangan-jangan motivasi baik kita dengan halus dan lembut dibelokkan kuasa jahat tanpa kita sadari? Kita dijauhkan terhadap Tuhan di mana Dia kita cari, karena keasyikan kita akan cinta diri yang berlebihan.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar