Kamis, 31 Desember 2015

Kesederhanaan Seorang Pemimpin


Pimpinan Gereja Katolik Paus Fransiskus memberikan beberapa sikap kepemimpinan yang layak untuk menjadi bahan permenungan bersama. Hal ini bukan soal agama atau siapanya, namun sikapnya yang benar-benar mencerminkan sosok pemimpin yang makin jarang kita temui.
·         Berani hidup berani mati:
Beberapa intelijen negara memberikan informasi bahwa Daesh/ISIS akan membunuhnya. Orang lain atau presiden lain akan bersikap dan memutuskan untuk menambah pasukan pengamanannya, namun apa yang ia lakukan? Ia hanya mengatakan hidup itu milik Tuhan dan saya siap dibunuh dan tidak apa-apa, hanya berdoa kalau dibunuh jangan sakit-sakit. Apa yang ia ungkapkan adalah kesederhanaannya dalam melihat hidup dan Pemilik Hidup. Daesh bukan ancaman baginya sepanjang Tuhan belum menghendaki.
·         Rendah hati
Mau tahu dan empati. Ia tunjukkan saat melihat pengawalnya masih muda berdiri di depan kamarnya. Suatu hari ia berjalan keluar dan baru tahu pengawalnya harus berdiri sekian jam untuk keselamatannya. Ia meminta prajurit itu untuk duduk, dan sama sekali tidak bisa karena birokrasinya demikian. ia berjalan dan memberikan capucino untuk pemuda itu. Birokrasi sangat jauh dari pemikirannya yang sederhana dan apa  adanya.
·         Sabar dan menerima dengan apa adanya
Ia menelpon agen surat khabar yang ada di Argentina. Sampai tiga kali mengulangi panggilannya yang selalu ditutup dan tidak percaya kalau benar ia sebagai paus menelpon dan menyatakan berhenti berlangganan koran karena pindah karya. Bisa saja ia meminta staf untuk melakukan hal yang sangat sederhana itu, namun ia lakukan sendiri karena memang sikap personalnya yang ia pegang teguh. Ucapan terima kasih atas pelayanan langganan selama ini dan maaf karena harus menghentikan kerjasama di antara mereka.
·         Merasa biasa saja
Vatikan negara di dalam kota Roma itu pernah heboh karena keputusan Paus Fransiskus yang memilih bersama sopirnya saja untuk membeli pizza. Sederhana sekali dalam benaknya, hanya beli pizza mosok harus dengan protokoler dan harus membuat lalu lintas harus menyingkir demi dia. Apa yang terjadi? Jalanan macet dan geger karena semua orang ingin berjumpa dengannya. Ingin bebas malah membuat kegaduhan luar biasa. Ia meminta maaf kepada pembesar Kota Roma karena telah merepotkan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Dan itu ditaatinya. Ia tidak merasa hebat dan tidak memikirkan akibatnya bisa demikian hebat.
·         Bersahaja
Saat masih menjadi Uskup di Buenos Aries, Argentina, ia ke mana-mana naik bus umum, masak sendiri di keuskupan yang tidak mewah, dan bukan tinggal di gedung mewah yang disediakan. Bersahajanya juga ditunjukkan saat ada pemilik kedai yang menjadi kesenangannya mendengar paus ingin makan pizzanya namun terjebak macet menghentikan iringiringan protokoler paus dan memberikan pizza, apa yang terjadi, ia hentikan rombongan dan dia terima dengan tangannya sendiri pizza itu dan akan dimakan pada waktunya. Padahal tentu sangat berbahaya di jalan menerima “hadiah” seperti itu. Namun ia tidak memikirkannya. Seorang petugas catatan sipil di USA yang menolak menandatangani surat pernikahan sejenis, ia undang ke kedutaan Vatikan di Washington, dan ia memeluknya. Merasa kaget dan terharu bahwa paus tahu peristiwa itu dan ia diundang, meskipun ia bukan umat Katolik.


Kita tentu patut berbangga memiliki pemimpin sesederhana itu. Teladan dan pemberian diri yang sungguh berarti bagi Gereja semesta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar