Pimpinan Gereja Katolik Paus Fransiskus memberikan beberapa
sikap kepemimpinan yang layak untuk menjadi bahan permenungan bersama. Hal ini
bukan soal agama atau siapanya, namun sikapnya yang benar-benar mencerminkan
sosok pemimpin yang makin jarang kita temui.
·
Berani hidup berani mati:
Beberapa intelijen negara memberikan
informasi bahwa Daesh/ISIS akan membunuhnya. Orang lain atau presiden lain akan
bersikap dan memutuskan untuk menambah pasukan pengamanannya, namun apa yang ia
lakukan? Ia hanya mengatakan hidup itu milik Tuhan dan saya siap dibunuh dan
tidak apa-apa, hanya berdoa kalau dibunuh jangan sakit-sakit. Apa yang ia
ungkapkan adalah kesederhanaannya dalam melihat hidup dan Pemilik Hidup. Daesh
bukan ancaman baginya sepanjang Tuhan belum menghendaki.
·
Rendah hati
Mau tahu dan empati. Ia tunjukkan saat
melihat pengawalnya masih muda berdiri di depan kamarnya. Suatu hari ia
berjalan keluar dan baru tahu pengawalnya harus berdiri sekian jam untuk
keselamatannya. Ia meminta prajurit itu untuk duduk, dan sama sekali tidak bisa
karena birokrasinya demikian. ia berjalan dan memberikan capucino untuk pemuda
itu. Birokrasi sangat jauh dari pemikirannya yang sederhana dan apa adanya.
·
Sabar dan menerima dengan apa adanya
Ia menelpon agen surat khabar yang ada di
Argentina. Sampai tiga kali mengulangi panggilannya yang selalu ditutup dan
tidak percaya kalau benar ia sebagai paus menelpon dan menyatakan berhenti
berlangganan koran karena pindah karya. Bisa saja ia meminta staf untuk
melakukan hal yang sangat sederhana itu, namun ia lakukan sendiri karena memang
sikap personalnya yang ia pegang teguh. Ucapan terima kasih atas pelayanan
langganan selama ini dan maaf karena harus menghentikan kerjasama di antara
mereka.
·
Merasa biasa saja
Vatikan negara di dalam kota Roma itu
pernah heboh karena keputusan Paus Fransiskus yang memilih bersama sopirnya
saja untuk membeli pizza. Sederhana
sekali dalam benaknya, hanya beli pizza mosok harus dengan protokoler dan harus
membuat lalu lintas harus menyingkir demi dia. Apa yang terjadi? Jalanan macet
dan geger karena semua orang ingin berjumpa dengannya. Ingin bebas malah
membuat kegaduhan luar biasa. Ia meminta maaf kepada pembesar Kota Roma karena
telah merepotkan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Dan itu
ditaatinya. Ia tidak merasa hebat dan tidak memikirkan akibatnya bisa demikian
hebat.
·
Bersahaja
Saat masih menjadi Uskup di Buenos Aries,
Argentina, ia ke mana-mana naik bus umum, masak sendiri di keuskupan yang tidak
mewah, dan bukan tinggal di gedung mewah yang disediakan. Bersahajanya juga
ditunjukkan saat ada pemilik kedai yang menjadi kesenangannya mendengar paus
ingin makan pizzanya namun terjebak macet menghentikan iringiringan protokoler
paus dan memberikan pizza, apa yang terjadi, ia hentikan rombongan dan dia
terima dengan tangannya sendiri pizza itu dan akan dimakan pada waktunya.
Padahal tentu sangat berbahaya di jalan menerima “hadiah” seperti itu. Namun ia
tidak memikirkannya. Seorang petugas catatan sipil di USA yang menolak
menandatangani surat pernikahan sejenis, ia undang ke kedutaan Vatikan di
Washington, dan ia memeluknya. Merasa kaget dan terharu bahwa paus tahu
peristiwa itu dan ia diundang, meskipun ia bukan umat Katolik.
Kita
tentu patut berbangga memiliki pemimpin sesederhana itu. Teladan dan pemberian
diri yang sungguh berarti bagi Gereja semesta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar