Memento Mori (Ingatlah akan Kematianmu)!
Pagi-pagi mendapat khabar duka. Sepupu yang masih relatif
muda, usia 61 tahun. Masih banyak yang lebih tua dan sudah menderita banyak
penyakit, namun masih diberi hidup oleh yang kuasa. Kematian dan kehidupan
hanya dipisahkan oleh sebuah tirai yang sangat tipis. Tadi masih segar bugar
karena memang kontraknya di dunia ini telah habis yang sudah, tidak bisa
apa-apa.
Salah satu hal yang bisa mengingatkan akan kematian kita
adalah dengan merenungkan “Pemakaman Kita”. Kita bisa membayangkan bagaimana
jika itu yang dimakamkan adalah kita.
Gambarkan dan bayangkan yang di atas meja, di peti, atau di
keranda itu adalah badan kita. Bisa dibayangkan secara mendetail apa yang
dikenakan, bisa kain kafan, atau jas, atau kebaya, atau baju yang kita
kehendaki. Bayangkan secara detail apa yang Anda saksikan itu adalah Anda.
Perhatikan dengan baik, khususnya wajah Anda dengan ekspresinya.... Bergeraklah
dan perhatikan bagaimana orang yang datang melayat Anda, berjalanlah dan
lihatlah masing-masing yang hendak menghantar ke pemakaman Anda, secara
perlahan dan lihat wajahnya....Berhentilah pada setiap orang, dan perhatikanlah
apa pikiran dan perasaan mereka....
Dengarkanlah kotbah dari pemuka agama, apapun agama
Anda...Siapa yang memberikan kotbah
itu...Apa yang dikatakan tentang Anda?....Apakah Anda dapat menerima apa ucapan
baik yang diucapkan? ....Kalau Anda merasa tidak menerima, perhatikanlah
hambatan apa yang menyebabkannya.... Hal baik mana dari yang dikatakan itu bisa
Anda terima? Bagaimana rasanta mendengarkan kata-kata itu?
Perhatikanlah sekali lagi wajah tetamu yang hadir, saudara,
sahabat, dan teman Anda.... Gambarkan semua kenangan baik akan mereka ceritakan
satu di antara yang lain, jika mereka pulang ke rumah, seusai pemakaman....
Bagaimana rasa Anda sekarang? Apa ada yang Anda ingin katakan kepada mereka
masing-masing, sebelum mereka pulang?....Pesan terakhir sebagai jawaban pada
pikiran dan perasaan mereka terhadap Anda, jawaban yang mungkin tidak sampai
pada mereka sekarang ini?...
Sekarang upacara telah usai. Dalam angan-angan Anda di atas
makam, tempat tubuh Anda dimakamkan, dengan pandangan mengikuti semua sahabat,
kerabat, teman, pergi meninggalkan tempat kuburan. Sekarang bagaimana
perasaannya?... Sambil berdiri di situ, kembali lihat kembali hidup Anda dengan
segala pengalamannya.... Apakah semua itu layak dihargai?...
Sadarilah kembali hidup Anda
sekarang, masih ada di ruangan ini, dan faktanya Anda masih hidup dan
masih diberi waktu...
Pikirkan saudara-saudara semuanya itu dengan pola pikir
sekarang....
Apakah ada perubahan dengan latihan tersebut?
Kenangkanlah diri Anda sendiri....
Apakah Anda melihat diri sendiri atau memiliki perasaan yang
lain dengan latihan ini?
Latihan ini hendak menyajikan bagaimana kita melihat diri
kita dengan menjaga jarak. Bagaimana ketika kita becermin tentu harus ada jarak
sehingga bisa melihat pantulan diri kita di permukaan kaca. Apa yang hendak
kita dengar dari ungkapan duka itu, yang diucapkan oleh pemuka agama,
perwakilan keluarga, atau rekan kita. Apakah kita suka dengan ungkapan mereka.
Biasanya sejelek apapun di acara pemakaman akan ditampilkan kebaikan saja. Di
sanalah kita hendak mengetahui apa yang paling baik. Ungkapan itu apakah benar
yang kita dengar sesuai dengan kenyataan hidup kita. Apakah kita suka dengan
“puja-puji” itu? Atau yang bisik-bisik di antara tetamu itu penuh duka dan
mengenang dengan kebaikan? Atau malah mereka mengutuki dan menyukuri kepergian
kita?
Masih ada waktu untuk mengubah, sepanjang kita masih bernafas,
tentu kita senang dan masih bisa berubah. Nasihat, peringatan, dan keadaan yang
berbeda bisa menjadikan kita berubah menjadi baik. Tidak jarang kita berfikir bahwa ah nanti
saja kalau sudah pensiun dan tua banyak amal dan berbuat baik, lha memangnya
tahu kalau akan hingga tua?
Hidup ini saat ini dan di tempat ini. Tadi adalah sejarah
dan nanti adalah berkah.
Salam.
Sumber Inspirasi: Antony de Mello, Sadhana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar