Kita ini di dunia hanya sementara, tidak heran banyak
digaungkan peribahasa yang lebih mengingatkan betapa sejenaknya kita di dunia
ini, urip mung mampir ngombe. Hidup
itu hanya sejenak, hanya singgah untuk minum. Lha mana ada minum mampir, dan
hanya minum kog. Mana ada minum itu lama?
Jika hidup itu hanya sementara? Berarti ada yang abadi dong?
Iya, benar yaitu hidup abadi. Maka, apa yang perlu kita lakukan adalah,
persiapan hidup kekal itu, mati sebagai gerbang menuju hidup abadi, dan apakah
mati itu bisa dengan rela dihadapi?
Ada sebuah renungan yang bisa dilakukan untuk menghadapi
hidup ini yang hanya sejenak. Mati itu suatu kepastian, dan tidak ada satu
orang pun yang mati bukan?
Melakukan fantasi mengenai mayat. Kita kan pasti akan
mengalami, dan itu dibayangkan dalam bentuk renungan untuk menghayati hidup.
Ada sembilan tahap dan setiap tahap itu bisa dibayangkan
dengan detail dan penuh kesadaran dalam diri sendiri sebagai obyek itu selama
kurang lebih satu menit.
1.
Mayat, kita membayangkan diri kita telah menjadi
mayat yang dingin dan kaku.
Setampan, secantik, setenar kita, akan
tetap saja nanti kaku dan dingin bukan? Semua kembali menjadi sama. Tidak ada
yang berbeda.
2.
Badan kita berubah menjadi biru.
Badam hitam, putih, sawo matang, presiden
atau rakyat jelata, mati ya tetap saja membiru dan tidak lagi ada embel-embel
seksi atau macho kog.
3.
Daging mulai melepuh dan retak/pecah-pecah
Semahal apapun perawatan dan seserius
apapun usaha untuk awet muda, segar, tetap saja daging itu membusuk dan diawali
dengan melepuh dan akhirnya pecah berantakan.
4.
Beberapa bagian mulai membusuk
Sekuat apapun badan kita, sekeren artis
Hollywood atau menjadi rebutan lawan jenis, namun di dalam tanah tetap saja
akan membusuk karena alam menghendaki demikian.
5.
Seluruh tubuh menjadi busuk dan rusak
Lihat kita juga akan merasakan badan kita
ini nantinya akan busuk dan rusak lho. Mengapa harus berlebihlebihan akan diri
dan menyakiti orang lain?
6.
Kerangka mulai nampak dengan beberapa gumpalan
daging lembek yang masih menempel di beberapa bagian tubuh
Beberapa bagian dengan daging yang tebal
dan liat akan lebih tahan dan akhirnya yang rentan akan lenyap lebih dulu. Di
sana waktu membuktikan, ada kerangka yang menyusun kita tanpa tertutup lagi
dengan kulit dan daging, apalagi nama, jabatan kita bukan?
7.
Sekarang tinggal kerangka dan daging sama sekali
telah membusuk dan hilang.
Daging itu cepat sekali membusuk, semua
telah habis. Tinggal tulang belulang yang tidak lagi menampilkan semaraknya
kita bukan?
8.
Yang tinggal hanya seonggok tulang belulang yang
telah merapuh.
Di sana tinggal onggokan kerangka kita.
Coba bayangkan bagaimana kalau yang kita lihat itu belulang kita? Apa yang kita perjuangkan, kita tekuni, kita
jalani, semuanya kan sementara dan ujungnya adalah kembali ke tanah.
9.
Semua tulang akhirnya kembali menjadi tanah.
Semua telah usai, dan itulah hidup kita.
Dari tanah kembali ke tanah.
Berjuang
dan berproses itu bagian manusia, namun tentu tidak boleh meninggalkan
rancangan Tuhan, apapun agama kita. Di sanalah kita ingat kematian kita. Apapun
yang kita usahakan di dunia ini sementara saja. Dengan memfantasikan mayat,
kita jadi sadar artinya badan kita, dunia ini, dan usaha terus menerus di dalam
Tuhan. Sementara tentu bukan yang kekal, bagaimana kita memberikan porsi untuk
yang kekal itu sangat penting.
Menghargai
hidup karena tentu kita tidak mau hidup kekal di dalam keadaan tidak bahagia
karena di dunia ini hanya mengeluh, menciptakan permusuhan, dan lebih suka akan
yang tidak baik. Hidup kekal itu tetap harus diusahakan dan diupayakan, bukan
dengan hidup seenaknya sendiri tentu saja.
Berfantasi
mayat bukan hendak mengajak menjadi apatis dan seenaknya sendiri, toh nanti
akan jadi tanah juga, bukan itu. Kita sadar sebagai manusia itu sama.
Salam
Dasar
Inspirasi: Antony de Mello, Sadhana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar