Jumat, 10 Juni 2016

Sertifikat Indeks Integritas Sekolah, Sekolah ini Ujian Sama Sekali Tidak Dijaga


Mendikbud merasa bahwa pendidikan merupakan dasar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu yang paling berperan ada di sekolah. Sertifikat integritas kejujuran dicoba untuk memberikan penghargaan kepada sekolah yang menerapkan kejujuran, salah satunya dalam UN. Apakah hanya UN saja ketidakjujuran itu terjadi di sekolah?
Melihat salah satu sekolah, yang  tidak memerlukan penghargaan dari negara karena kejujurannya, sekolah ini memang menanamkan kejujuran sebagai pondasi hidupnya. Bagaimana mau jadi pemuka kalau, kejujuran dan penghormatan diri sangat lemah? Sekolah ini ada di Kabupaten Magelang bernama SMA Seminari Menengah St. Petrus Kanisius Mertoyudan. Kemauan dan kehendak jauh lebih penting daripada sebuah hadiah berubah sertifikat atau uang saja. Sekolah yang sudah lebih dari 100 tahun ini tidak heran masih menjadi salah satu yang terbaik.
Ujian tidak dijaga, tidak akan nyontek, tekanan bukan pada nilai tapi kualitas. Setiap kali ujian  jarang  dijaga baik oleh guru atau pamong. Mengapa demikian? Karena memang tekanan pada aspek kejujuran dan keterusterangan, bukan pada soal hasil akhir yang tinggi saja. Jumlah nilai itu penting namun bukan yang utama. Proses mendapatkan nilai itu yang diupayakan dengan berbagai cara.
Saringan masuk, nilai bukan mutlak, kemauan belajar jauh lebih penting. Syarat minimal nilai masuk ada, dan tidak lah terlalu tinggi untuk diperbandingkan dengan hasil akhirnya. Bisa dikatakan masuk enam, dan keluar lebih ari delapan itu hal yang sangat normal. Ada yang di bawah nilai batas minimal kalau memang di dalam seleksi bisa dilihat ada kemauan untuk berubah dan berkembang, bisa saja diterima.  Wawancara dengan empat atau lima orang saat mau masuk tentu sangat membantu.
Kejujuran adalah panglima, apalagi soal ujian. Ujian akhir atau ujian nasional hanya salah satu penilaian, mengenai kejujuran tentu jauh lebih penting dan itu justru menjadi panglima di dalam proses pendidikan. Proses panjang bukan hanya sepenggal di ujung proses bernama UN saja. Relasional sehari-hari jauh lebih penting, karena pendidikan berasrama, di mana jelas terlihat bukan hanya di permukaan soal kepribadian, namun kenal luar dalam.
Kerjasama dipupuk pada ranah yang semestinya, bukan saat ujian, dengan kerja rumah (kebidelan dan kepengurusan OSIS, pengurus asrama/rumah, kepanitiaan-kepanintiaan). Semua siswa memiliki tugas harian di asrama dan sekolah semua, jadi kerja sama ada di sini bukan pas ujian malah. Kerjasama yang bermanfaat bukan salah kaprah seperti selama ini.
Keteladanan. Ini sangat penting bagi anak sekolah usia ini, bagaimana yang mereka lihat, saksikan, dan mendampingi itu sangat berperan dan krusial. Tidak heran oleh petinggi Gereja sangat dipilih untuk bisa menjadi pamong sebagai pengasuh di sana. Minimal jangan merusak jiwa anak-anak. Kecerdasan intelektual, kesalehan, dan kepribadian sungguh layak. Guru awam juga banyak digunakan untuk memberikan gambaran utuh sebagai bagian dunia. Mereka ini yang biasanya “memanjakan” karena merasa kasihan dan memberikan kelonggaran karena kasih mereka, kadang tidak tega, kalau ada siswa yang tidur di kelas misalnya.
Kedisiplinan, bangun, mandi, ibadah, sekolah, kerja rumah, saat belajar, makan, tidur, sekolah, diskusi, membaca, latihan berbicara di depan umum, kembali tidur, semua diatur dengan detail. Ini juga untuk melatih diri dalam mengelola waktu untuk kebersamaan dan pribadi. Awal-awal sangat susah, namun setelah itu, semua lancar. Kebiasaan baik yang perlu dengan pembiasaan tentunya.
Curang sama juga keluar dan malu, apalagi kalau urusannya nyontek, konsekuensi yang sangat besar adalah nyontek, apalagi sampai maling, jangan harap hukumannya adalah keluar dan artinya pupus sudah harapan merenda masa depan. Sangat jarang terdengar ada kasus menyontek karena memang menghargai proses bukan hasil. Kekurangan dalam beberapa hal akan dibantu untuk diselesaikan dengan penuh kesadaran. Anak diajak untuk menemukan kelebihan dan kekurangannya untuk kemudian diselesaikan kekurangannya dan dikembangkan kelebihannya.  Pribadi yang sudah tahu kelebihan dan kekurangannya tentu tidak akan perlu lagi menyontek dan tidak jujur waktu ujian.
Kenakalan itu wajar dan terkendali, pengasuhnya sangat paham dinamika karena pernah merasakan yang sama. Melanggar aturan malah sebentuk kebanggaan itu biasa, masih bisa dimengerti sebagai bagian dari eksplorasi usia anak-anak. Menyimpan makanan di dormit (kamar tidur), padahal larangan keras, itu hanya bagian dinamika remaja. Soal ujian bukan lagi main-main itu pelanggaran serius dan jangan harap pernah ketemu di sana.
Apakah sertifikat itu cukup mewakili kualitas kejujuran? Tentu sebagai sarana bisa diapresiasi, soal cukup dan tidak perlu lagi evaluasi. Kehendak tentu jauh lebih penting.

Salam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar