A. Usaha
untuk Membangun Kedewasaan Seksualitas yang Sehat
Seksualitas merupakan komponen hakiki dari
kepribadian manusia, yakni sebagai cara berada, cara mengungkapkan diri kepada
yang lain, cara mengkomunikasikan diri, cara merasakan, mengekspresikan dan
menghidupi cinta manusiawinya. Manusia mendapatkan ciri atau karakteristik
pribadinya melalui seksualitasnya, pada taraf biologis, psikologis, dan
spiritual, membuat pribadi manusia
tersebut sebagai laki-laki dan perempuan. [1]
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk membangun
kedewasaan seksualitas anak sebagai berikut:
1.
Anak
Dididik Mengenai Seksualitas Sejak Dini.
Pendidikan seksualitas perlu dimulai sedini mungkin.
Cara menanamkan pengetahuan seksualitas
dapat menggunakan pengalaman hidup sehari-hari Ketika anak dilahirkan,
pendidikan seksualitas dimulai. Orangtua mencintai, memelihara, bermain
bersama, tertawa dengan anak. Saat anak merasa lapar, orangtua dengan rela dan
penuh perhatian memberikan makan, bahkan menyuapi, waktu anak buang air besar
atau kecil, orangtua membersihkan dengan senang hati, dan tidak menampakkan
sikap jijik sehingga anak nyaman kembali. [2]
Mengajarkan bahwa tubuh antara laki-laki dan
perempuan berbeda bisa dilakukan melalui pengalaman ketika memandikan dan
mengganti popok adik bayi. Kalau tidak memiliki bayi sendiri, anak bisa diajak
untuk berkunjung ke tempat sanak kerabat yang sedang memiliki bayi. Dengan
mengamati bayi yang sedang mandi dan mengganti popok anak belajar bahwa
tubuhnya berbeda.
Kejadian tidak sengaja, saat orangtua mandi dan anak
masuk ke kamar mandi yang kebetulan lupa dikunci, sehingga anak melihat
orangtua sedang telanjang, tidak perlu disikapi dengan bentakkan dan kepanikan.
Kejadian tersebut dapat dijadikan sarana pembelajaran. Hal ini akan memberikan
kepada anak kesempatan untuk memenuhi rasa keingintahuannya dengan cara yang
sungguh wajar. Namun mandi bersama dengan orangtua yang berjenis kelamin
berbeda sebaiknya ditinggalkan kecuali anak masih sangat kecil. Anak dapat
terangsang secara seksual, dan perasaan aneh yang dirasakan dapat menimbulkan
kegelisahan hebat.[3]
Belajar dari alam sangat membantu anak. Memang tidak
dapat menggantikan secara tepat mengenai anak untuk mengetahui dirinya.
Peristiwa kucing yang sedang kawin, menyusui kerap dijumpai bahkan di kota
sekalipun. Dengan menyaksikan peristiwa alam tersebut orangtua dapat memberikan
pelajaran yang terbaik pada anak. Pengalaman dan penjelasan mengenai hewan dan
tanaman menggugah minat alamiah anak untuk
belajar mengenai manusia.
2.
Anak
dididik sesuai dengan perkembangan umur
Perkembangan seksualitas berjalan seiring dengan
perjalanan hidup manusia. Seksualitas merupakan bagian manusia yang tumbuh dan
perlu dibina. Pendidikan seksualitas manusia menurut tingkat umur selengkapnya
sebagai berikut:
Sering timbul pertanyaan usia berapa anak dapt
diberi pendidikan seksual? Anak dapat diberi pendidikan seksual mulai usia
sekitar 2,5 tahun. Anak dapat mulai diberi pendidikan dengan mengenalkan
perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan. Dapat juga dijelaskan dengan
terus terang mengenai perbedaan alat kelamin dari kedua jenis kelamin tersebut.
Sambil membersihkan alat kelamin anak demi kesehatan dijelaskan perbedaan
tersebut.
Biasanya anak usia ini juga bertanya mengenai adik
yang masih ada dalam kandungan atau dirinya berasal dari mana. Belum perlu
diuraikan segala hal yang berkaitan dengan hal tersebut. Dengan bijaksana dapat
dikatakan bahwa kandungan atau adik atau anak
berasal dari kasih sayang ayah yang memberikan ibu hadiah seorang adik.
Hadiah tersebut bukan hanya untuk ibu saja namun juga untuk anggota keluarga
yang lain. Dengan jawaban ini anak memiliki pemikiran positif terhadap
keberadaan adiknya. Adik bukan hanya milik bapak ibu namun juga milikknya.
Dengan demikian sikap iri yang biasanya timbul dapat dikurangi.
Sikap menerima adik secara positif ini dapat pula
dibina dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengelus-elus perut ibu
yang makin membesar. Anak dapat juga didorong untuk berbicara dengan adiknya
yang masih ada di dalam kandungan ibu.
Anak usia 3-4 tahun biasanya bertanya mengapa anak
perempuan memakai rok sedang anak lain memakai celana. Jawaban sederhana perlu
diberikan, misalnya, anak perempuan memakai rok, dan anak laki-laki mengenakan
celana. Biasanya anak akan meneruskan pertanyaannya dengan kalimat apa anak
laki-laki dan perempuan itu? Penjelasan sederhana sesuai dengan tingkat umur
anak bisa dikatakan bahwa alat kelamin anak laki-laki ada di luar, dan anak
perempuan memiliki alat kelamin di dalam.
Pada usia 8-10 tahun, anak biasanya
mampu membedakan anak dengan lawan jenisnya. Perkembangan pengetahuan mengenai
seks anak usia ini pesat. Pengetahuan anak diperoleh dari media. Orangtua tidak
perlu berbohong berbicara mengenai seksualitas dengan anak. Orangtua perlu
memberikan jawaban yang memuaskan anak agar anak tidak mencari jawaban dari sumber
lain yang belum tentu dijamin kebenarannya.
Anak di atas 10 tahun perlu didorong
agar tidak mengucapkan kata-kata jorok. Orangtua perlu mendidik anak agar
melihat seks sebagai suatu yang baik, bukan hal yang kotor, bukan bahan
lelucon. Sebaliknya kalau anak sudah terlebih dahulu membicaran dengan nada
yang kurang baik, orangtua tidak perlu marah ataupun panic melainkan meluruskan
dan memberikan pedampingan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar