Kamis, 30 Januari 2014

Kedewasaan Seksual


A.      Usaha untuk Membangun Kedewasaan Seksualitas yang Sehat
Seksualitas merupakan komponen hakiki dari kepribadian manusia, yakni sebagai cara berada, cara mengungkapkan diri kepada yang lain, cara mengkomunikasikan diri, cara merasakan, mengekspresikan dan menghidupi cinta manusiawinya. Manusia mendapatkan ciri atau karakteristik pribadinya melalui seksualitasnya, pada taraf biologis, psikologis, dan spiritual, membuat pribadi  manusia tersebut sebagai laki-laki dan perempuan. [1]
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk membangun kedewasaan seksualitas anak sebagai berikut:
1.        Anak Dididik Mengenai Seksualitas Sejak Dini.
Pendidikan seksualitas perlu dimulai sedini mungkin. Cara menanamkan  pengetahuan seksualitas dapat menggunakan pengalaman hidup sehari-hari Ketika anak dilahirkan, pendidikan seksualitas dimulai. Orangtua mencintai, memelihara, bermain bersama, tertawa dengan anak. Saat anak merasa lapar, orangtua dengan rela dan penuh perhatian memberikan makan, bahkan menyuapi, waktu anak buang air besar atau kecil, orangtua membersihkan dengan senang hati, dan tidak menampakkan sikap jijik sehingga anak nyaman kembali. [2]
Mengajarkan bahwa tubuh antara laki-laki dan perempuan berbeda bisa dilakukan melalui pengalaman ketika memandikan dan mengganti popok adik bayi. Kalau tidak memiliki bayi sendiri, anak bisa diajak untuk berkunjung ke tempat sanak kerabat yang sedang memiliki bayi. Dengan mengamati bayi yang sedang mandi dan mengganti popok anak belajar bahwa tubuhnya berbeda.
Kejadian tidak sengaja, saat orangtua mandi dan anak masuk ke kamar mandi yang kebetulan lupa dikunci, sehingga anak melihat orangtua sedang telanjang, tidak perlu disikapi dengan bentakkan dan kepanikan. Kejadian tersebut dapat dijadikan sarana pembelajaran. Hal ini akan memberikan kepada anak kesempatan untuk memenuhi rasa keingintahuannya dengan cara yang sungguh wajar. Namun mandi bersama dengan orangtua yang berjenis kelamin berbeda sebaiknya ditinggalkan kecuali anak masih sangat kecil. Anak dapat terangsang secara seksual, dan perasaan aneh yang dirasakan dapat menimbulkan kegelisahan hebat.[3]
Belajar dari alam sangat membantu anak. Memang tidak dapat menggantikan secara tepat mengenai anak untuk mengetahui dirinya. Peristiwa kucing yang sedang kawin, menyusui kerap dijumpai bahkan di kota sekalipun. Dengan menyaksikan peristiwa alam tersebut orangtua dapat memberikan pelajaran yang terbaik pada anak. Pengalaman dan penjelasan mengenai hewan dan tanaman menggugah minat alamiah anak untuk  belajar mengenai manusia.
2.        Anak dididik sesuai dengan perkembangan umur
Perkembangan seksualitas berjalan seiring dengan perjalanan hidup manusia. Seksualitas merupakan bagian manusia yang tumbuh dan perlu dibina. Pendidikan seksualitas manusia menurut tingkat umur selengkapnya sebagai berikut:
Sering timbul pertanyaan usia berapa anak dapt diberi pendidikan seksual? Anak dapat diberi pendidikan seksual mulai usia sekitar 2,5 tahun. Anak dapat mulai diberi pendidikan dengan mengenalkan perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan. Dapat juga dijelaskan dengan terus terang mengenai perbedaan alat kelamin dari kedua jenis kelamin tersebut. Sambil membersihkan alat kelamin anak demi kesehatan dijelaskan perbedaan tersebut.
Biasanya anak usia ini juga bertanya mengenai adik yang masih ada dalam kandungan atau dirinya berasal dari mana. Belum perlu diuraikan segala hal yang berkaitan dengan hal tersebut. Dengan bijaksana dapat dikatakan bahwa kandungan atau adik atau anak  berasal dari kasih sayang ayah yang memberikan ibu hadiah seorang adik. Hadiah tersebut bukan hanya untuk ibu saja namun juga untuk anggota keluarga yang lain. Dengan jawaban ini anak memiliki pemikiran positif terhadap keberadaan adiknya. Adik bukan hanya milik bapak ibu namun juga milikknya. Dengan demikian sikap iri yang biasanya timbul dapat dikurangi.
Sikap menerima adik secara positif ini dapat pula dibina dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengelus-elus perut ibu yang makin membesar. Anak dapat juga didorong untuk berbicara dengan adiknya yang masih ada di dalam kandungan ibu.
Anak usia 3-4 tahun biasanya bertanya mengapa anak perempuan memakai rok sedang anak lain memakai celana. Jawaban sederhana perlu diberikan, misalnya, anak perempuan memakai rok, dan anak laki-laki mengenakan celana. Biasanya anak akan meneruskan pertanyaannya dengan kalimat apa anak laki-laki dan perempuan itu? Penjelasan sederhana sesuai dengan tingkat umur anak bisa dikatakan bahwa alat kelamin anak laki-laki ada di luar, dan anak perempuan memiliki alat kelamin di dalam.
Pada usia 8-10 tahun, anak biasanya mampu membedakan anak dengan lawan jenisnya. Perkembangan pengetahuan mengenai seks anak usia ini pesat. Pengetahuan anak diperoleh dari media. Orangtua tidak perlu berbohong berbicara mengenai seksualitas dengan anak. Orangtua perlu memberikan jawaban yang memuaskan anak agar anak tidak mencari jawaban dari sumber lain yang belum tentu dijamin kebenarannya.
Anak di atas 10 tahun perlu didorong agar tidak mengucapkan kata-kata jorok. Orangtua perlu mendidik anak agar melihat seks sebagai suatu yang baik, bukan hal yang kotor, bukan bahan lelucon. Sebaliknya kalau anak sudah terlebih dahulu membicaran dengan nada yang kurang baik, orangtua tidak perlu marah ataupun panic melainkan meluruskan dan memberikan pedampingan.



[1] KomKel KWI, BKKBN, UNFPA, Pendampingan Orangtua dalam Pendidikan Seksualitas Remaja, Jakarta, 2000, Hal. 51
[2] Wuryani, Esti, Menjawab Pertanyaan-Pertanyaan Anak Anda tentang Seks, Grasindo, Jakarta, 2004, hal. 15-16
[3] Ibid. hal. 30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar