Sabtu, 01 Februari 2014

SIAPA SEBENARNYA YANG CACAT?

SIAPA SEBENARNYA YANG CACAT?

Belajar Dari Hidup Di Jalanan
Pengalaman luar biasa dapat diperoleh di manapun. Ada yang mendapatkan pengalaman dari bangku sekolah, hingga strata tiga. Orang lain lagi memperolehnya dengan berpindah-pindah kerja. Masing-masing pribadi pastilah tidak ada yang sama. Tidak jarang di jalan banyak sekali ilmu, pengetahuan, pengalaman praktis yang bisa diperoleh.
Suatu hari, hujan deras di luar, ada pengamen masuk ke bis, yang penuh sesak, dari penamapilan dan wajahnya dapat dipastikan orang ini mabuk. Mulai dengan prolog yang tidak karuan dan asal atau memang karena mabuk sehingga tidak jelas, kemudian bergumam bukan menyanyi yang sama tidak jelasnya. Pengamen ini secara postur tubuh gagah, tidak cacat, anggota tubuhnya lengkap. Penampilan, dari pakaian, kemudian keseluruhan dirinya, atraksinya sama sekali tidak menarik orang untuk sekedar memberikan recehnya. Orang ini, menadahkan tangannya dari bangku paling depan dengan sempoyongan satu demi satu, dan sama sekali tidak mendapatkan serupiahpun. Dapat diyakini bahwa pengaruh obat atau minuman, dan tidak mendapatkan apa yang diinginkan, membuat pemuda ini emosi dan mengulangi pengantar, atraksi yang sama sekali tidak jelas hanya saja makin keras bernada mengintimidasi. Diulangi aktivitas ‘mengemisnya’ dan kali ini diperlengkapi dengan pisau. Beberapa terintimidasi dan memberikan bukan receh lagi, tapi lembaran terkecil yang dimiliki. Tiba pada seorang nenek yang cukup tua dengan pisau ditempelkan dia memalak, tidak ada yang berbuat, bahkan cucunya yang di sampingnya pun pura-pura tidak tahu. Termasuk saya, kru bis, dan penumpang bis yang penuh sesak sama sekali tidak berbuat apa-apa.
Pengalaman senada namun jauh berbeda makna. Kali ini pengamen ini kedua tangannya sama sekali tidak semestinya, maaf bengkok dan tidak ada jari-jari yang sama sekali dapat dikatakan sebagai jari. Begitu naik bis, dia berbasa-basi dengan kru bis, kemudian membantu penumpang yang berdiri untuk dicarikan tempat agar nyaman. Luar biasa lagi yang dilakukan pengamen ini, ketika memberikan pengantar dengan kata-kata religius dan mengedarkan topinya untuk mendapatkan sumbangan. Ketika sampai pada nenek-nenek, dia tolak dengan keras, “Saya bukan menolak rezeki, tapi tidak, terima kasih, terima kasih, alhamdulilah.” Penolakan bukan hanya dengan mulut, tapi juga seluruh bahasa tubuhnya tidak mau menerima uang itu. Nenek tersebut tetap bersikeras dan ditaruh di dalam topinya.

Cacat Hati
Sebenarnya siapa di sini yang cacat? Tidak jarang sebagai manusia normal mencari gampang dengan mengintimidasi nenek-nenek, sedangkan yang maaf benar-benar cacat justru ‘memberikan’ kepada nenek tersebut.

Semua penumpang waktu ada pemabuk menodong nenek itu termasuk saya sehat, dan tidak cacat tubuh, namun tidak berbuat apa-apa, termasuk si cucu. Mengapa semua menjadi ‘cacat’ justru bukan cacat tubuh namun cacat hati, cacat kepribadian. Mari kita renungkan bersama.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar