SIAPA SEBENARNYA YANG CACAT?
Belajar Dari Hidup Di Jalanan
Pengalaman luar biasa dapat
diperoleh di manapun. Ada yang mendapatkan pengalaman dari bangku sekolah,
hingga strata tiga. Orang lain lagi memperolehnya dengan berpindah-pindah
kerja. Masing-masing pribadi pastilah tidak ada yang sama. Tidak jarang di
jalan banyak sekali ilmu, pengetahuan, pengalaman praktis yang bisa diperoleh.
Suatu hari, hujan deras di luar,
ada pengamen masuk ke bis, yang penuh sesak, dari penamapilan dan wajahnya
dapat dipastikan orang ini mabuk. Mulai dengan prolog yang tidak karuan dan
asal atau memang karena mabuk sehingga tidak jelas, kemudian bergumam bukan
menyanyi yang sama tidak jelasnya. Pengamen ini secara postur tubuh gagah,
tidak cacat, anggota tubuhnya lengkap. Penampilan, dari pakaian, kemudian
keseluruhan dirinya, atraksinya sama sekali tidak menarik orang untuk sekedar
memberikan recehnya. Orang ini, menadahkan tangannya dari bangku paling depan
dengan sempoyongan satu demi satu, dan sama sekali tidak mendapatkan
serupiahpun. Dapat diyakini bahwa pengaruh obat atau minuman, dan tidak
mendapatkan apa yang diinginkan, membuat pemuda ini emosi dan mengulangi
pengantar, atraksi yang sama sekali tidak jelas hanya saja makin keras bernada
mengintimidasi. Diulangi aktivitas ‘mengemisnya’ dan kali ini diperlengkapi
dengan pisau. Beberapa terintimidasi dan memberikan bukan receh lagi, tapi
lembaran terkecil yang dimiliki. Tiba pada seorang nenek yang cukup tua dengan
pisau ditempelkan dia memalak, tidak ada yang berbuat, bahkan cucunya yang di
sampingnya pun pura-pura tidak tahu. Termasuk saya, kru bis, dan penumpang bis
yang penuh sesak sama sekali tidak berbuat apa-apa.
Pengalaman senada namun jauh
berbeda makna. Kali ini pengamen ini kedua tangannya sama sekali tidak
semestinya, maaf bengkok dan tidak ada jari-jari yang sama sekali dapat
dikatakan sebagai jari. Begitu naik bis, dia berbasa-basi dengan kru bis,
kemudian membantu penumpang yang berdiri untuk dicarikan tempat agar nyaman. Luar
biasa lagi yang dilakukan pengamen ini, ketika memberikan pengantar dengan
kata-kata religius dan mengedarkan topinya untuk mendapatkan sumbangan. Ketika sampai
pada nenek-nenek, dia tolak dengan keras, “Saya bukan menolak rezeki, tapi
tidak, terima kasih, terima kasih, alhamdulilah.” Penolakan bukan hanya dengan
mulut, tapi juga seluruh bahasa tubuhnya tidak mau menerima uang itu. Nenek tersebut
tetap bersikeras dan ditaruh di dalam topinya.
Cacat Hati
Sebenarnya siapa di sini yang
cacat? Tidak jarang sebagai manusia normal mencari gampang dengan
mengintimidasi nenek-nenek, sedangkan yang maaf benar-benar cacat justru ‘memberikan’
kepada nenek tersebut.
Semua penumpang waktu ada pemabuk
menodong nenek itu termasuk saya sehat, dan tidak cacat tubuh, namun tidak
berbuat apa-apa, termasuk si cucu. Mengapa semua menjadi ‘cacat’ justru bukan
cacat tubuh namun cacat hati, cacat kepribadian. Mari kita renungkan bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar