Hampir sebulan Pemkot Surabaya,
telah menutup Gang Dolly yang melegenda. Apapun hasilnya patut diapresiasi
dengan baik. Sekian ribu pekerja seksual komersial, sekian banyak pemetik
rezeki di tengah hiruk pikuk kawasan merah terbesar di kawasan Asia Tenggara
ini. Banyak motivasi melatarbelakangi para “pekerja” yang ada di sana. Sekarang
mereka ke mana? Beberapa masih bersikukuh, beberapa membuka lembaran baru, dan
banyak yang tidak karuan lagi entah mau apa dan ke mana.
Istilah vulgar ialah pelacur bagi
pekerja di lokalisasi Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan arti lacur, sebagai buruk laku. Bagaimana
tingkah profesi lain yang buruk laku pula?
Waktu yang bersamaan muncul
banyak pelacur-pelacur lain, yang ini jauh lebih nista bagi saya. Pelacur
politik yang malam ini memeluk A, pagi berikutnya memeluk B. Ideologi yang bisa
bergantu sebagaimana Kompas melaporkan mengenai bunga Dolly yang mengatakan
memangnya ada perempuan yang mau tidur setiap saat ganti laki-laki. Lha ini
para politikus yang menjadi anggota dewan yang katanya terhormat, berganti
ideologi, atau memang tidak punya ideologi dengan gampangnya. Siapa yang
mengguntungkan akan sama platform-nya.
Orientasi kekuasaan dan yang membuat kenyang, ideologi, idealisme, dan
perjuangan sama sekali tidak ada, ujung-ujungnya kekuasaan dan kursi.
Lebih terhormat pekerja Dolly
yang bekerja demi sesuap nasi demi anak-anaknya di kampung, dibandingkan para
politisi yang berpikir karena kerakusan, keserakahan, ketamakan, dan pemenuhan
rasa lapar yang tidak pernah haus akan uang dan materi. Berteriak ideologi,
lewat waktu ideologi yang bertolak belakang pun aku diklaim sama. Sama-sama di
dalam mencari kuasa.
Lebih mengiris hati ialah pelacur
ilmiah. Di mana ketika ilmu pengetahuan dilacurkan oleh para ilmuwan yang berkomplot
dengan kekuasaan di dalam menimbun pundi-pundi uang. Metode ilmiah dipakai
untuk memenuhi syahwat kekuasaan dan kerakusan uang dan materi.
Media sebagai sarana untuk
menyatakan kebenaran dan memberikan pemahaman obyektif sudah digunakan
kekuasaan baik itu politik atau uang, alangkah lebih mulia pelacur bercucur
keringat demi makan dan sekolah anak-anaknya? Media melacurkan diri demi
kekuasaan dan aman akan kelangsungan serta keberadaannya.
Pelacur hukum, selalu memeluk
uang, harta, kuasa. Bukankah keadilan akan terlacurkan oleh pilihan aparat-aparat
hukum yang tidak pernah puas dengan gelimang uang di depan mata mereka? Di mana
keadilan kalau demikian. Bagi yang miskin dan bukan bagi yang kaya. Dewi buta
sudah mengedipkan mata bergenit ria demi uang, kekuasaan, dan materi.
Ketika Kramat Tunggak ditutup,
Dolly ditutup, pelacur politik, pelacur akademis, media pelacur, hukum yang
dilacurkan pelakunya, merajalela, siapa
yang akan menutup mereka? Nurani masing-masing ketika memiliki filter yang
jernih akan karya mereka berkarya demi manusia dan kemanusiaan, bukan akan harta,
materi, dan uang, Dolly politik Kramat Tunggal akademis akan musnah.
Salam damai..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar