Senin, 14 Juli 2014

Dolly Vs Senayan

Hampir sebulan Pemkot Surabaya, telah menutup Gang Dolly yang melegenda. Apapun hasilnya patut diapresiasi dengan baik. Sekian ribu pekerja seksual komersial, sekian banyak pemetik rezeki di tengah hiruk pikuk kawasan merah terbesar di kawasan Asia Tenggara ini. Banyak motivasi melatarbelakangi para “pekerja” yang ada di sana. Sekarang mereka ke mana? Beberapa masih bersikukuh, beberapa membuka lembaran baru, dan banyak yang tidak karuan lagi entah mau apa dan ke mana.
Istilah vulgar ialah pelacur bagi pekerja di lokalisasi Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan arti lacur, sebagai buruk laku. Bagaimana tingkah profesi lain yang buruk laku pula?
Waktu yang bersamaan muncul banyak pelacur-pelacur lain, yang ini jauh lebih nista bagi saya. Pelacur politik yang malam ini memeluk A, pagi berikutnya memeluk B. Ideologi yang bisa bergantu sebagaimana Kompas melaporkan mengenai bunga Dolly yang mengatakan memangnya ada perempuan yang mau tidur setiap saat ganti laki-laki. Lha ini para politikus yang menjadi anggota dewan yang katanya terhormat, berganti ideologi, atau memang tidak punya ideologi dengan gampangnya. Siapa yang mengguntungkan akan sama platform-nya. Orientasi kekuasaan dan yang membuat kenyang, ideologi, idealisme, dan perjuangan sama sekali tidak ada, ujung-ujungnya kekuasaan dan kursi.  
Lebih terhormat pekerja Dolly yang bekerja demi sesuap nasi demi anak-anaknya di kampung, dibandingkan para politisi yang berpikir karena kerakusan, keserakahan, ketamakan, dan pemenuhan rasa lapar yang tidak pernah haus akan uang dan materi. Berteriak ideologi, lewat waktu ideologi yang bertolak belakang pun aku diklaim sama. Sama-sama di dalam mencari kuasa.
Lebih mengiris hati ialah pelacur ilmiah. Di mana ketika ilmu pengetahuan dilacurkan oleh para ilmuwan yang berkomplot dengan kekuasaan di dalam menimbun pundi-pundi uang. Metode ilmiah dipakai untuk memenuhi syahwat kekuasaan dan kerakusan uang dan materi.
Media sebagai sarana untuk menyatakan kebenaran dan memberikan pemahaman obyektif sudah digunakan kekuasaan baik itu politik atau uang, alangkah lebih mulia pelacur bercucur keringat demi makan dan sekolah anak-anaknya? Media melacurkan diri demi kekuasaan dan aman akan kelangsungan serta keberadaannya.
Pelacur hukum, selalu memeluk uang, harta, kuasa. Bukankah keadilan akan terlacurkan oleh pilihan aparat-aparat hukum yang tidak pernah puas dengan gelimang uang di depan mata mereka? Di mana keadilan kalau demikian. Bagi yang miskin dan bukan bagi yang kaya. Dewi buta sudah mengedipkan mata bergenit ria demi uang, kekuasaan, dan materi.
Ketika Kramat Tunggak ditutup, Dolly ditutup, pelacur politik, pelacur akademis, media pelacur, hukum yang dilacurkan pelakunya,  merajalela, siapa yang akan menutup mereka? Nurani masing-masing ketika memiliki filter yang jernih akan karya mereka berkarya demi manusia dan kemanusiaan, bukan akan harta, materi, dan uang, Dolly politik Kramat Tunggal akademis akan musnah.

Salam damai..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar