Kamis, 10 Juli 2014

Kekerasan suatu Gaya Hidup atau Pilihan


Keseharian kita dipenuhi pilihan kekerasan. Saat ini demam bola sedang panas-panasnya, karena final piala dunia makin mendekat. Pilihan kata-kata berkonotasi kekerasan akrab di dalam permainan paling popoluer ini. Penyerang, penetrasi, takel, sliding, heading, menusuk, akselerasi, menyerang, dulu ujung tombak, tendangan, an masih banyak sekali.
Lebih ironis lagi, gawe bangsa Indonesia sedang panas-panasnya juga, apalagi dengan pilihan bahasa para bos yang sedang bersaing.
1.       Perang badar, oleh mantan tokoh yang ingin eksis. Apa maksudnya dengan perang besar-besaran ini dengan pemilu, apakah ini tidak berlebihan?
2.       Perang terhadap pluralisme, oleh kelompok radikal yang bersembunyi di dalam ketiak calon penguasa, dulu sudah mati suri sejenak sekarang berani unjuk gigi lagi, karena merasa mendapat angin.
3.       Perang opini, salah satu capres menyatakan di media on line, pendukungnya sesaat setelah menghadap calon mantan presiden.
4.       Perang cyber, kata salah satu bakal calon yang kecewa karena tidak memperoleh tunggangan akhirnya seperti orang frustasi dan menyatakan hal-hal yang kontraproduksi.
Padahal rakyat hanya ingin perang bantal saat tujuh belasan, bukan perang-perang seperti di atas. Apalagi pihak istana juga menyatakan TNI siap terus setelah pilpres, menghadap anak sendiri mengapa selalu saja kekerasan di kedepankan, memang Polisi tidak mampu? Atau memang tidak mampu karena mengurus Obor Rakyat saja tidak selesai-selesai, maka keamanan diserahkan TNI? Kog masa ’98 kembali lagi, dan menguat.

Salam Damai, kurangi kekerasan!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar