Keseharian kita dipenuhi pilihan
kekerasan. Saat ini demam bola sedang panas-panasnya, karena final piala dunia
makin mendekat. Pilihan kata-kata berkonotasi kekerasan akrab di dalam
permainan paling popoluer ini. Penyerang, penetrasi, takel, sliding, heading,
menusuk, akselerasi, menyerang, dulu ujung tombak, tendangan, an masih banyak
sekali.
Lebih ironis lagi, gawe bangsa Indonesia sedang
panas-panasnya juga, apalagi dengan pilihan bahasa para bos yang sedang bersaing.
1. Perang
badar, oleh mantan tokoh yang ingin eksis. Apa maksudnya dengan perang
besar-besaran ini dengan pemilu, apakah ini tidak berlebihan?
2. Perang
terhadap pluralisme, oleh kelompok radikal yang bersembunyi di dalam ketiak
calon penguasa, dulu sudah mati suri sejenak sekarang berani unjuk gigi lagi,
karena merasa mendapat angin.
3. Perang
opini, salah satu capres menyatakan di media on line, pendukungnya sesaat
setelah menghadap calon mantan presiden.
4. Perang
cyber, kata salah satu bakal calon yang
kecewa karena tidak memperoleh tunggangan akhirnya seperti orang frustasi dan
menyatakan hal-hal yang kontraproduksi.
Padahal rakyat hanya ingin perang bantal saat tujuh
belasan, bukan perang-perang seperti di atas. Apalagi pihak istana juga
menyatakan TNI siap terus setelah pilpres, menghadap anak sendiri mengapa
selalu saja kekerasan di kedepankan, memang Polisi tidak mampu? Atau memang
tidak mampu karena mengurus Obor Rakyat saja tidak selesai-selesai, maka
keamanan diserahkan TNI? Kog masa ’98 kembali lagi, dan menguat.
Salam Damai, kurangi kekerasan!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar