Sabtu, 19 Juli 2014

Takdir, Nasib, dan Rencana Tuhan


Acap kali kalau sedang menemui masalah atau peristiwa, sering kita menyebut, takdir, nasib, atau rencana Tuhan. Apa yang paling tepat menggambarkan Belas Kasih Tuhan dari ketiga kata tersebut? Mari kita lihat masing-masing arti kata tersebut.
Kamus Bahasa Besar Bahasa Indonesia menyatakan arti dari takdir ialah ketetapan dan ketentuan Tuhan. Ketentuan berarti bahwa apa yang menjadi kehendak dan ketetapan-Nya manusia tidak bisa apa-apa, dalam arti ada kesan Tuhan otoriter dan “memaksakan” kehendak. Kalau demikian manusia sudah tidak memiliki pilihan, di mana kebebasan manusiawi yang dianugerahkan kepada manusia kalau demikian? Jika Tuhan memberikan ketetapan yang tak terubahkan, tentunya tidak akan ada dosa pertama melalui Ibu Hawa. Tidak akan mengenal adanya ketidaksetiaan Daud dengan mengambil istri Uria hambanya. Ketetapan akan sama dengan putusan hakim untuk hukuman mati tanpa ada banding atas putusan di tingkat pengadilan berikut. Kata akhir hidup sudah diketok. Bagaimana takdir menjawab kebaikan Tuhan yang menyediakan keseluruhan ciptaan untuk kehidupan manusia di dalam Kisah Penciptaan?
Nasib, sesuatu yang sudah ditentukan Tuhan. Masih mirip dan sama, senada, seirima dengan takdir. Berarti bahwa jalan hidup manusia sudah ditakdirkan, ditentukan, digariskan Tuhan. Mari kita lihat bersama-sama bagaimana kata yang paling tepat menggambarkan apa yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Tuhan memliki rencana dan manusia menjalankan sesuai dengan apa yang mampu dia lakukan. Contoh nyata ditunjukkan oleh Yunus, abdi Tuhan yang demikian setia, meskipun dia lari dan menghindar, Tuhan tidak menghukumnya. Kalau takdir dan nasib yang tepat, pasti Yunus akan dihukum, bahkan ditinggalkan oleh Tuhan karena semau gue bahasa Betawinya. Kita terapkan dengan anak kita, atau rekan kita, kalau kita memberikan yang terbaik kemudian anak atau rekan kita menolak dapat dipastikan kita akan naik pitam, mengutuk, dan tidak mau lagi membantu.
Takdir dan nasib tidak memberikan kesempatan kedua. Dalam kehidupan ini sering ada kesempatan kedua ketiga dan seterusnya. Bagaimana ketetapan Tuhan berubah-ubah?
Takdir dan nasib tidak memberikan kesempatan pertobatan, pengampunan, dan kembali ke jalan yang benar. Kalau demikian ada di mana Tuhan Maharahim, Tuhan Mahakasih, Tuhan Maha Penyayang.  Apakah ini bukan arogansi manusia yang tidak mampu berbuat seperti Tuhan akhirnya menurunkan “kualitas” Tuhan mirip-mirip dengan manusia yang tidak pernah memberikan kesempatan orang untuk berubah.
Rencana Tuhan. Tuhan memiliki rencana, manusia di dalam menerjemahkan jalan hidup itu bisa tidak tepat, sehingga bisa berjalan tertatih-tatih. Bukan masalah ketetapan Tuhan yang diingkari, sehingga terkesan memberontak. Yang paling tepat menggambarkan keinginan manusia tidak sejalan dengan rencana Tuhan. Tuhan menunjukkan yang terbaik melalui sabda-Nya yang mengatakan bapa yang baik tidak akan memberikan ular kepada anaknya. Apa yang dikehendaki dan diinginkan manusia ternyata membahayakan hidupnya tentu Tuhan akan mengutus malaikat-Nya untuk menghalangi keinginan manusia tersebut dan memberikan berkat yang lain. Contoh lain digambarkan dalam perikopa Bapa Baik Hati, anak bungsu yang meminta warisan dan menghambur-hamburkan uangnya untuk foya-foya dan hidup bersenang-senang dengan pelacur. Si sulung menggerutu akan apa yang dia terima. Kebaikan Tuhan tidak mengubah mereka dan mereka diterima dengan tangan terbuka, pengampunan, pemberian kesempatan, dan belas kasih-Nya membawa kembali ke keadaan semula penuh kasih setia. Rencana Tuhan juga tidak mengilangkan Kemahakuasaan Tuhan. Hidup manusia tergantung Tuhan, benar. Dan itu semua sepakat. Kuasa Tuhan termasuk di dalamnya adalah membiarkan manusia menjalani kehidupannya dengan penuh kebebasan.

Dengan demikian, mana yang paling tepat menggambarkan betapa baiknya Tuhan, Tuhan Mahakasih, dan manusia mendapatkan kebebasan sepenuhnya?
Rencana Tuhan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar