Acap
kali kalau sedang menemui masalah atau peristiwa, sering kita menyebut, takdir,
nasib, atau rencana Tuhan. Apa yang paling tepat menggambarkan Belas Kasih
Tuhan dari ketiga kata tersebut? Mari kita lihat masing-masing arti kata tersebut.
Kamus
Bahasa Besar Bahasa Indonesia menyatakan arti dari takdir ialah ketetapan dan
ketentuan Tuhan. Ketentuan berarti bahwa apa yang menjadi kehendak dan
ketetapan-Nya manusia tidak bisa apa-apa, dalam arti ada kesan Tuhan otoriter
dan “memaksakan” kehendak. Kalau demikian manusia sudah tidak memiliki pilihan,
di mana kebebasan manusiawi yang dianugerahkan kepada manusia kalau demikian?
Jika Tuhan memberikan ketetapan yang tak terubahkan, tentunya tidak akan ada
dosa pertama melalui Ibu Hawa. Tidak akan mengenal adanya ketidaksetiaan Daud
dengan mengambil istri Uria hambanya. Ketetapan akan sama dengan putusan hakim
untuk hukuman mati tanpa ada banding atas putusan di tingkat pengadilan
berikut. Kata akhir hidup sudah diketok. Bagaimana takdir menjawab kebaikan
Tuhan yang menyediakan keseluruhan ciptaan untuk kehidupan manusia di dalam
Kisah Penciptaan?
Nasib,
sesuatu yang sudah ditentukan Tuhan. Masih mirip dan sama, senada, seirima
dengan takdir. Berarti bahwa jalan hidup manusia sudah ditakdirkan, ditentukan,
digariskan Tuhan. Mari kita lihat bersama-sama bagaimana kata yang paling tepat
menggambarkan apa yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Tuhan memliki
rencana dan manusia menjalankan sesuai dengan apa yang mampu dia lakukan.
Contoh nyata ditunjukkan oleh Yunus, abdi Tuhan yang demikian setia, meskipun
dia lari dan menghindar, Tuhan tidak menghukumnya. Kalau takdir dan nasib yang
tepat, pasti Yunus akan dihukum, bahkan ditinggalkan oleh Tuhan karena semau
gue bahasa Betawinya. Kita terapkan dengan anak kita, atau rekan kita, kalau
kita memberikan yang terbaik kemudian anak atau rekan kita menolak dapat
dipastikan kita akan naik pitam, mengutuk, dan tidak mau lagi membantu.
Takdir
dan nasib tidak memberikan kesempatan kedua. Dalam kehidupan ini sering ada
kesempatan kedua ketiga dan seterusnya. Bagaimana ketetapan Tuhan berubah-ubah?
Takdir
dan nasib tidak memberikan kesempatan pertobatan, pengampunan, dan kembali ke
jalan yang benar. Kalau demikian ada di mana Tuhan Maharahim, Tuhan Mahakasih,
Tuhan Maha Penyayang. Apakah ini bukan
arogansi manusia yang tidak mampu berbuat seperti Tuhan akhirnya menurunkan “kualitas”
Tuhan mirip-mirip dengan manusia yang tidak pernah memberikan kesempatan orang
untuk berubah.
Rencana
Tuhan. Tuhan memiliki rencana, manusia di dalam menerjemahkan jalan hidup itu
bisa tidak tepat, sehingga bisa berjalan tertatih-tatih. Bukan masalah
ketetapan Tuhan yang diingkari, sehingga terkesan memberontak. Yang paling
tepat menggambarkan keinginan manusia tidak sejalan dengan rencana Tuhan. Tuhan
menunjukkan yang terbaik melalui sabda-Nya yang mengatakan bapa yang baik tidak
akan memberikan ular kepada anaknya. Apa yang dikehendaki dan diinginkan
manusia ternyata membahayakan hidupnya tentu Tuhan akan mengutus malaikat-Nya
untuk menghalangi keinginan manusia tersebut dan memberikan berkat yang lain.
Contoh lain digambarkan dalam perikopa Bapa Baik Hati, anak bungsu yang meminta
warisan dan menghambur-hamburkan uangnya untuk foya-foya dan hidup
bersenang-senang dengan pelacur. Si sulung menggerutu akan apa yang dia terima.
Kebaikan Tuhan tidak mengubah mereka dan mereka diterima dengan tangan terbuka,
pengampunan, pemberian kesempatan, dan belas kasih-Nya membawa kembali ke
keadaan semula penuh kasih setia. Rencana Tuhan juga tidak mengilangkan
Kemahakuasaan Tuhan. Hidup manusia tergantung Tuhan, benar. Dan itu semua
sepakat. Kuasa Tuhan termasuk di dalamnya adalah membiarkan manusia menjalani
kehidupannya dengan penuh kebebasan.
Dengan demikian, mana yang paling tepat
menggambarkan betapa baiknya Tuhan, Tuhan Mahakasih, dan manusia mendapatkan
kebebasan sepenuhnya?
Rencana Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar