Dunia ternyata makin tua, manusia
yang dibekali dengan perikemanusiaan malah kehilangan kemanusiaannya, dan
sungguh tega melakukan perbuatan membunuh ibunya. Anak dan pacarnya membunuh
ibunya sendiri kemudian memasukkan ke dalam kopor. Saat menjadi janin, dia
disimpan di dalam kandungan ibunya, malah membalas dengan menyimpan jasad ibu
yang dibunuhnya di dalam kopor.
Keterlaluan lagi anak gadisnya
diperkosa, dihamili, dipaksa menikah dengan pria lain, dan kembali diperkosa
bertahun-tahun. Seorang bapak yang kehilangan kemanusiaannya dan anaknya
sendiri digaulinya bertahun-tahun dengan ancaman gergaji. Di mana hati dan
perasaannya ketika memaksa, mengancam, dan menggauli buah hatinya sendiri?
Nafsu mengalahkan akal budinya, dan menurunkan derajad kemanusiaan menjadi
hewan yang hanya mengikuti nafsu dan naluri semata. Bahkan anak sendiri menjadi
korban kebejadan yang amat sangat seperti ini.
Ketika manusia kehilangan
kemanusiaannya, justru binatang, memiliki naluri yang naik kelas sehingga
memiliki rasa “kemanusiaan,” bagaimana hal ini bisa terjadi? Anak singa bisa mengenali penjaganya, ini
bukan singa di kebun binatang, namun di hutan, dan membawa penjaga itu ke depan
jasad induknya yang mati.
Manusia diciptakan dengan akal
budi untuk semakin manusia dengan hidup bersama dengan yang lain. Cerita-cerita
tersebut malah berlaku sebaliknya dan menjadi “hewan” yang instingtif. Memenuhi
kepuasan dna kebutuhannya berdasar instingnya. Ketika manusia mengedepankan
insting manusia sudah jatuh kepada taraf hewani, bukan manusia lagi.
Tuhan tidak memberikan rasa dan
pemikiran setinggi manusia kepada hewan, namun laporan di atas sungguh menjadi
cermin bagi manusia agar semakin memberikan banyak waktu untuk menengok ke
dalam diri sendiri sehingga malu untuk berbuat keji bahkan kalah dengan hewan
seperti ini. Apakah manusia sudah kekurangan lahan lagi sehingga mengambil alih
kedudukan hewan?
Marilah kita renungkan!!!
Salam Damai...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar