Senin, 04 Agustus 2014

Masih Ada Harapan

Hari ini sungguh menggembirakan. Baru saja lebaran usia, ada dua pejabat negara ini yang memiliki pola pikir sangat-sangat berbeda di komunitas pejabat Indonesia yang berkutat sekitar ketakutan melanggar HAM, berkelit dan berkedok dengan birokrasi dan prosedural, pencitraan dan kepura-puraan.
1.       Ignasius Jonan, dirut PT. KAI, yang menyatakan keberaniannya untuk menolak subsidi kereta api jarak jauh. Naik kereta selama 12 jam kog bayar Rp. 50.000,00, bandingkan dengan taksi, kota-kota saja sudah Rp. 75.000,00. Nampak pemikiran yang jauh kedepan mengatasi keborosan anggaran negara yang tidak tepat sasaran. Beliau juga menyatakan subsidi masih bisa diberikan untuk kereta jarak dekat. Pemikiran baru dengan orientasi perbandingan moda darat lainnya, ada sinergi bukan hanya bidangku dan bidang lain urusanmu. Belum banyak pembangunan di Indonesia dengan pola pikir sinergis demikian. Alasan yang dikemukakan pun logis bukan sok logis dan mengatasnamakan rakyat. Kinerja PT.KAI juga kelihatan perubahan secara signifikan, semua kereta, bahkan ekonomi, sudah berpendingin, tidak lagi ada yang beriri, semua fasilitas di stasiun gratis, dan sangat manusiawi serta bersih. Pelayanan sudah prima dibandingkan plat merah lainnya.
2.       Basuki Tjahaya Purnama, selama ini semua pejabat akan mengutuk urbanisasi. Pemikiran calon kuat DKI 1 ini jauh berbeda. Urbanisasi kalau bisa untuk membangun mengapa tidak. Bukan berbicara hambatan namun peluang yang dikedepankan. Potensi urban untuk meringankan beban pekerja yang ada, kesempatan untuk membangun dengan tenaga yang ada, dan kesempatan untuk berkembang bersama. Pandangan soal preman yang menguasai lapak-lapak PKL, bahkan ini bukan hanya preman jalanan, preman berseragam dan berdasi juga banyak.

Media-media perlu lebih banyak mengedepankan peristiwa-peristiwa seperti ini sebagai berita utama, dibandingkan kecurangan, sak wasangka, kecurigaan, iri hati, kedengkian, dan hal-hal negatif lainnya. Keburukan yang akan berbuah caci maki dan saling hujat yang sangat kontra produktif dengan pembangunan. Budaya aduluhung yang dibangga-banggakan sudah jauh berganti budaya kekerasan dan kecurigaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar