Rabu, 27 Agustus 2014

R.I.P

Setiap kali mendengar berita duka, atau mendoakan arwah, kita memiliki kecenderungan untuk mengucapkan baik langsung atau dalam doa sebagai berikut,”semoga arwahnya  diterima di sisi-Nya sesuai dengan apa yang menjadi amal.........” dan seterusnya dan seterusnya.
Paham kelompok mayoritas bangsa ini mempengaruhi pola pikir kita, dalam iman Katolik, meninggal sebagai awal kehidupan kekal. Kedudukan di sisi Tuhan adalah mutlak di pangkuan Allah Bapa Mahakuasa, karena pembaptisan yang diterima telah menjadikan kita bersatu dengan-Nya.
Amal perbuatan itu bukan penentu keberadaan kita di hadapan Tuhan dalam hidup kekal. Perbuatan baik kita merupakan konsekuensi logis atas cinta Tuhan kepada kita. Karena DIA telah lebih dahulu mengasihi kita, sudah selayaknyalah kita membalas kasih-Nya itu dengan berbuat baik. Kalau tidak berbuat baik berarti kurang ajar, durhaka, dan tidak tahu berterima kasih.
Keselamatan melekat atas pembaptisan kita. Dosa Adam yang membawa kita kepada derita, kelemahan, dan kesakitan, serta keterpisahan dengan kasih Allah telah dipulihkan dengan kedatangan Sang Putera.
Keterpisahan total itu sangatlah kecil kemungkinannya. Kasih Allah sungguh besar, DIA tidak mungkin mengingkari Diri-Nya dengan menyia-nyiakan ciptaan-Nya untuk disiksa di panas abadi (neraka?)
Api penyucian tempat yang wajar sebagai manusia yang masih memiliki kehendak, keinginan,  rasa iri, kedagingan yang kuat, jatuh bangun dalam peziarahan menuju kepada-Nya. Ketika masih ada luka, bisul, kerak-kerak yang perlu dibersihkan sebelum benar-benar layak untuk menghadap DIA Yang Agung Mulia.  Kondisi di mana ketika kita hendak menghadap seseorang yang kita hormati saja kita berpakaian layak dan pantas, demikian juga saat menghadap-Nya muka dengan muka tentunya kita disempurnakan terlebih dahulu. Saat pembersihan luka, menyempurnakan apa yang masih kurang, dan menjalani sanksi apa yang telah kita lakukan.
Berkat Baptis dan kesetiaan di dalam menjalaninya merupakan berkat yang membawanya bersatu di dalam kemuliaan Bapa di surga. Pertama-tama ialah berkat, dan kesetiaan kita merupakan rahmat lain yang diberikan-Nya sehingga kita mampu menjalaninya.
Apa yang tepat kita ucapkan dan doakan kalau begitu? Ungkapkan saja ikut berduka dan semoga mendapatkan ketabahan, dan bagi yang telah meninggal sudah berbahagia bersama Bapa di surga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar