Rabu, 06 Agustus 2014

Kitab Suci Kita Unik dan Menarik


Kitab Suci sudah saatnya menjadi dan sebagai buku saku bagi umat beriman. Mau tidak mau, suka tidak suka, dan rela tidak rela, kita terutama umat Katolik belum begitu akrab dengan Kitab Suci. Ada lelucon dari salah seorang dosen liturgi apa yang dibawa umat itu menunjukkan gerejanya. Kalau membawa Kitab Suci jelas itu adalah orang atau jemaat Gereja Protestan, jika membawa Madah Bhakti atau Puji Syukur pasti itu umat  Gereja Katolik, kalau tidak bawa apa-apa itu frater. Paham kita sering salah, terkadang kita juga salah paham mengenai Kitab Suci kita, karena teologi yang sering kita dengar lebih nyaring hasil pengajaran mayoritas yang progresif dan mau tidak mau kita ikut mendengar. Hampir semua acara televisi maupun media yang lain tidak pernah lepas dari pengajaran mayoritas, yang sering tidak sama bahkan beberapa berbeda secara mendasar.
Saat berbicara mengenai Kitab Suci, umat Katolik sering kalah fasih dibandingkan saudara Kristen yang lain. Alasan ketidakakraban umat Katolik dengan Kitab Suci berkaitan dengan sejarah Gereja. Hasil perpecahan besar di dalam Gereja menjadikan Gereja Katolik pernah melarang pembacaan Kitab Suci. Meskipun larangan membaca tersebut sudah cabut, namun budaya membaca Kitab Suci masih memprihatinkan hingga saat ini.
Sebelum membaca Kitab Suci lebih jauh, perlulah kiranya kita mengerti dengan lebih baik mengenai wahyu dan iman kita. Umat beriman dapat memahami wahyu sebagai sarana Allah untuk mendekati manusia. Inisiatif pendekatan berasal dari Allah. Allah dalam mendekati manusia bahkan menganugerahkan diri-Nya kepada manusia.
Penulis Kitab Suci Kita
Alkitab bukan sebagaimana Al Qoran yang diberikan secara utuh kepada Rasul Muhamad. Penulis Kitab Suci kita ialah Allah sekaligus manusia. Kata kunci yang perlu dipegang ialah sekaligus.
1.      Allah sebagai Penulis
Siapa yang bersabda dan berfirman? Pasti semua akan sepakat ialah Allah. Kalau demikian siapa yang menulis pastilah Allah. Tidak bisa disangsikan lagi.
2.      Manusia sebagai Penulis
Allah memakai manusia untuk menuliskan apa yang akan dikonsumsi manusia. Oleh karena itu di sini para penulis dipakai sebagai sarana oleh Allah. Manusia, baik itu Markus, Mateus, dan yang lain-lain bukan pula hanya menjadi   semacam pena bagi Allah, pasif dan tidak memiliki kebebasan manusiawi. Manusia seutuhnya, oleh karena itu gaya bahasa, gaya penulisan, isi sesuai benar dengan kemampuan para penulis tersebut. Zaman, lingkungan, budaya, taraf pengetahuan yang telah dicapai oleh orang-orang tersebut, pada waktu dan tempat itu, sangat mewarnai tulisan Kitab Suci.
Sumber Inspirasi Orang Kristiani
Berbahagialah menjadi orang Katolik karena memiliki inspirasi yang up to date yaitu melalui tradisi. Tradisi melengkapi Kitab Suci sebagai Wahyu tertulis dan menjadi inspirasi yang selalu mengikuti dinamika dan perjalanan sejarah manusia. Nyata, konkret, dan faktual manusia selalu berkembang, sedang Kitab Suci telah usai dengan adanya kanon Kitab Suci sekian abad lampau. Pembicaraan mengenai medis, perkembangan teknologi, isu-isu zaman modern mendapatkan pemahaman Wahyu dalam terang Tradisi.
Berakhirnya masa atau zaman rasuli, berakhir pula fase konstitusi  wahtu, yaitu kurun waktu ketika wahyu dibentuk, dan mulailah fase kontinuitas  wahyu, yakni periode di mana wahyu yang telah dibentuk itu diteruskan kepada generasi berikut turun-temurun.[1]
1.      Kitab Suci
Kita mengenal juga Kitab Suci sebagai Alkitab. Alkitab berasal dari bahasa Latin, biblia yang berarti gulungan atau buku. Kumpulan ayat-ayat suci yang ada selama lebih dari seribu tahun dan piagam iman, baik bagi orang Kristen maupun orang Yahudi. Alkitab Kristen jauh lebih luas daripada Kitab Suci Yahudi karena berisi juga keempat Injil, surat-surat Santo Paulus, dan tulisan-tulisan lain dari Gereja Perdana.[2]
Benar dalam pemahaman Katolik dalam memandang Alkitab ialah setiap hal yang harus diketahui manusia mengenai Allah dan jalan keselamatan termuat dalam Kitab Suci dengan kepastian yang tidak dapat salah.[3] Sejauh berkaitan dengan keselamatan bukan sejauh menyangkut hal yang profan-historis ataupun ilmiah.[4] Jaminan kebenaran mengenai Allah dan keselamatan karena karya Roh Kudus sebagai inspirator dalam penulisan Alkitab.
Kitab Suci tidak dimaksudkan untuk menyampaikan kepada kita informasi sejarah atau penemuan ilmiah. Tidak pula boleh dilupakan bahwa para penulis atau pengarang Kitab Suci hidup pada waktu dan situasi tertentu. Mereka membagikan budaya dari dunis sekitar mereka yang sering pula diliputi kesalahan-kesalahan.
2.      Tradisi
Tradisi atau lengkapnya Tradisi Apolistik merupakan pewarisan Kristus, yang diturunkan sejak awal kekristenan melalui khotbah, kesaksian, institusi, ibadah, dan tulisan-tulisan yang diilhami. Para Rasul mewariskan apa yang sudah mereka terima dari Kristus dan belajar dari Roh Kudus kemudia berlanjut kepada pengganti-pengganti mereka, para uskup, dan melalui mereka kepada semua generasi sampai akhir dunia.[5]
Ciri khas tradisi ialah dalam meneruskan wahyu secara integral, lebih hidup, dan lebih intensif. Ada kenyataan yang tidak mungkin tertulis sebagaimana ada dalam Kitab Suci, seperti suasana pergaulan dengan Tuhan.[6]
3.      Magisterium
Magisterium berasal dari bahasa Latin magister yang berarti guru. Kuasa mengajar untuk menyampaikan iman, untuk menafsirkannya dengan bantuan Roh Kudus, dan untuk melindunginya dari pemalsuan.[7] Konsili Vatikan II dalam Konstitusi mengenai Sabda Allah, Dei Verbum  artikel 12, menyatakan,
karena Allah dalam Kitab Suci bersabda melalui manusia secara manusia, maka untuk menangkap apa yang oleh Allah mau disampaikan kepada kita, penafsir Kitab Suci harus menyelidiki dengan cermat, apa yang sebenarnya mau disampaikan oleh para penulis suci, dan apa yang mau ditampakkan oleh Allah dengan kata-kata mereka.
Kitab Suci ditulis dalam Roh Kudus dan harus dibaca dan ditafsirkan dalam Roh itu juga. bdk DV. 12
Tugas mengajar oleh para uskup sama dengan pewartaan para rasul yaitu menyampaikan dan meneruskan wahyu. Perbedaan pelayanan mereka ialah, para rasul selain meneruskan wahyu juga merupakan penerima wahyu itu sendiri secara langsung. Para uskup bertugas untuk menjaga dan menafsirkan segalanya yang telah mereka terima dari para rasul tanpa menambah, mengurangi, ataupun mengubahnya. Meskipun demikian bukan berarti statis dan mandeg, namun dikembangkan  sepenuhnya agar dengan demikian justru dapat dijaga sebagai kenyataan hidup yang diwujudkan dalam setiap situasi dan kondisi waktu serta tempat.[8]

Bagaimana Memahami Kitab Suci
Cara yang benar untuk membaca atau memahami Kitab Suci ialah membaca dengan sikap iman, dengan kata lain membaca dengan bantuan Roh Kudus. Di bawah bimbingan-Nya, pesan Allah sampai kepada manusia. Kitab Suci adalah Sabda Allah dan di dalamnya Allah berkomunikasi dengan kita.
1.      Doa
Kitab Suci merupakan surat panjang yang ditulis oleh Allah bagi kita masing-masing. Oleh karena itu harus menyambut Kitab Suci dengan rasa cinta dan hormat yang besar. Memohon penerangan Roh Kudus dan bantuan Allah agar mengerti dengan hati dan budi yang jernih.
2.      Sharing/Pendalaman Kitab Suci
Adanya sharing dan Pendalaman Kitab Suci di lingkungan-lingkungan membantu banyak pihak di dalam memahami Kitab Suci, karena jauhnya hirarkhi gerejani yang kadang menjadikan umat “melupakan” Kitab Suci.
3.      Lectio Divina
Bacaan singkat dari Kitab Suci. Hal ini bisa diambil dari bacaan harian atau temaa-tema khusus seperti masa-masa liturgi.
4.      Bacaan Harian/Calendarium
Berbahagialah umat Gereja Katolik yang memiliki satu pedoman bacaan harian. Di seluruh dunia akan mendengarkan sabda Tuhan yang sama untuk hari yang sama. Pedoman itu ada di dalamcalendarium, atau kalender liturgi. Kalender liturgi membagi bacaan di dalam tiga tahun A,B,C, dan bacaan harian tahun I dan II. Dengan memakai pedoman calendarium, umat Katolik akan menyelesaikan seluruh Kitab Suci paling tidak dalam waktu tiga tahun.
Kitab Suci itu unik, menarik, menyenangkan, dan menggembirakan ketika kita mau untuk membacanya, menyelami, dan merenungkannya. Marilah kita cintai Kisah Kasih Allah yang begitu besar dengan penuh cinta pula. 




[1] Syukur, Nico, Teologi Sistematika 1, Kanisius, Yogyakarta, 2004, hal. 36
[2] Youcat Indonesia, Katekismus Populer, Kanisius, Yogyakarta, 2012, hal. 22
[3] ibid
[4] Syukur, Nico, op.cit, hal. 104
[5] Kompendium Katekismus Gereja Katolik, Kanisius, Yogyakarta, 2009, hal. 18
[6] Syukur, Nico, op.cit, hal. 37
[7] Youcat, op.cit, hal. 21
[8] Syukur, Nico, op.cit, hal. 112-113

Tidak ada komentar:

Posting Komentar