Kitab Suci sudah saatnya menjadi dan sebagai buku saku bagi umat beriman. Mau tidak
mau, suka tidak suka, dan rela tidak rela, kita terutama umat Katolik belum
begitu akrab dengan Kitab Suci. Ada lelucon dari salah seorang dosen liturgi
apa yang dibawa umat itu menunjukkan gerejanya. Kalau membawa Kitab Suci jelas
itu adalah orang atau jemaat Gereja Protestan, jika membawa Madah Bhakti atau
Puji Syukur pasti itu umat Gereja
Katolik, kalau tidak bawa apa-apa itu frater. Paham kita sering salah,
terkadang kita juga salah paham mengenai Kitab Suci kita, karena teologi yang
sering kita dengar lebih nyaring hasil pengajaran mayoritas yang progresif dan
mau tidak mau kita ikut mendengar. Hampir semua acara televisi maupun media
yang lain tidak pernah lepas dari pengajaran mayoritas, yang sering tidak sama
bahkan beberapa berbeda secara mendasar.
Saat berbicara mengenai Kitab Suci, umat Katolik
sering kalah fasih dibandingkan saudara Kristen yang lain. Alasan
ketidakakraban umat Katolik dengan Kitab Suci berkaitan dengan sejarah Gereja.
Hasil perpecahan besar di dalam Gereja menjadikan Gereja Katolik pernah
melarang pembacaan Kitab Suci. Meskipun larangan membaca tersebut sudah cabut,
namun budaya membaca Kitab Suci masih memprihatinkan hingga saat ini.
Sebelum membaca Kitab Suci lebih jauh, perlulah
kiranya kita mengerti dengan lebih baik mengenai wahyu dan iman kita. Umat
beriman dapat memahami wahyu sebagai sarana Allah untuk mendekati manusia.
Inisiatif pendekatan berasal dari Allah. Allah dalam mendekati manusia bahkan
menganugerahkan diri-Nya kepada manusia.
Penulis Kitab Suci Kita
Alkitab bukan
sebagaimana Al Qoran yang diberikan secara utuh kepada Rasul Muhamad. Penulis
Kitab Suci kita ialah Allah sekaligus manusia. Kata kunci yang perlu dipegang
ialah sekaligus.
1.
Allah sebagai
Penulis
Siapa yang bersabda dan berfirman? Pasti semua akan
sepakat ialah Allah. Kalau demikian siapa yang menulis pastilah Allah. Tidak
bisa disangsikan lagi.
2.
Manusia sebagai
Penulis
Allah memakai manusia untuk menuliskan apa yang akan
dikonsumsi manusia. Oleh karena itu di sini para penulis dipakai sebagai sarana
oleh Allah. Manusia, baik itu Markus, Mateus, dan yang lain-lain bukan pula hanya
menjadi semacam pena bagi Allah, pasif
dan tidak memiliki kebebasan manusiawi. Manusia seutuhnya, oleh karena itu gaya
bahasa, gaya penulisan, isi sesuai benar dengan kemampuan para penulis
tersebut. Zaman, lingkungan, budaya, taraf pengetahuan yang telah dicapai oleh
orang-orang tersebut, pada waktu dan tempat itu, sangat mewarnai tulisan Kitab
Suci.
Sumber Inspirasi Orang Kristiani
Berbahagialah
menjadi orang Katolik karena memiliki inspirasi yang up to date yaitu melalui tradisi. Tradisi melengkapi Kitab Suci
sebagai Wahyu tertulis dan menjadi inspirasi yang selalu mengikuti dinamika dan
perjalanan sejarah manusia. Nyata, konkret, dan faktual manusia selalu
berkembang, sedang Kitab Suci telah usai dengan adanya kanon Kitab Suci sekian
abad lampau. Pembicaraan mengenai medis, perkembangan teknologi, isu-isu zaman
modern mendapatkan pemahaman Wahyu dalam terang Tradisi.
Berakhirnya masa
atau zaman rasuli, berakhir pula fase konstitusi wahtu, yaitu kurun waktu ketika wahyu
dibentuk, dan mulailah fase kontinuitas
wahyu, yakni periode di mana wahyu yang telah dibentuk itu diteruskan
kepada generasi berikut turun-temurun.[1]
1.
Kitab Suci
Kita mengenal juga Kitab Suci sebagai Alkitab.
Alkitab berasal dari bahasa Latin, biblia
yang berarti gulungan atau buku. Kumpulan ayat-ayat suci yang ada selama
lebih dari seribu tahun dan piagam iman, baik bagi orang Kristen maupun orang
Yahudi. Alkitab Kristen jauh lebih luas daripada Kitab Suci Yahudi karena
berisi juga keempat Injil, surat-surat Santo Paulus, dan tulisan-tulisan lain
dari Gereja Perdana.[2]
Benar dalam pemahaman Katolik dalam memandang Alkitab
ialah setiap hal yang harus diketahui manusia mengenai Allah dan jalan
keselamatan termuat dalam Kitab Suci dengan kepastian yang tidak dapat salah.[3] Sejauh
berkaitan dengan keselamatan bukan sejauh menyangkut hal yang profan-historis
ataupun ilmiah.[4] Jaminan kebenaran mengenai
Allah dan keselamatan karena karya Roh Kudus sebagai inspirator dalam penulisan
Alkitab.
Kitab Suci tidak dimaksudkan untuk menyampaikan
kepada kita informasi sejarah atau penemuan ilmiah. Tidak pula boleh dilupakan
bahwa para penulis atau pengarang Kitab Suci hidup pada waktu dan situasi
tertentu. Mereka membagikan budaya dari dunis sekitar mereka yang sering pula
diliputi kesalahan-kesalahan.
2.
Tradisi
Tradisi atau lengkapnya Tradisi Apolistik merupakan
pewarisan Kristus, yang diturunkan sejak awal kekristenan melalui khotbah,
kesaksian, institusi, ibadah, dan tulisan-tulisan yang diilhami. Para Rasul
mewariskan apa yang sudah mereka terima dari Kristus dan belajar dari Roh Kudus
kemudia berlanjut kepada pengganti-pengganti mereka, para uskup, dan melalui
mereka kepada semua generasi sampai akhir dunia.[5]
Ciri khas tradisi ialah dalam meneruskan wahyu
secara integral, lebih hidup, dan lebih intensif. Ada kenyataan yang tidak
mungkin tertulis sebagaimana ada dalam Kitab Suci, seperti suasana pergaulan
dengan Tuhan.[6]
3.
Magisterium
Magisterium berasal dari bahasa Latin magister yang berarti guru. Kuasa mengajar untuk menyampaikan iman,
untuk menafsirkannya dengan bantuan Roh Kudus, dan untuk melindunginya dari
pemalsuan.[7]
Konsili Vatikan II dalam Konstitusi mengenai Sabda Allah, Dei Verbum artikel 12,
menyatakan,
karena Allah
dalam Kitab Suci bersabda melalui manusia secara manusia, maka untuk menangkap
apa yang oleh Allah mau disampaikan kepada kita, penafsir Kitab Suci harus
menyelidiki dengan cermat, apa yang sebenarnya mau disampaikan oleh para
penulis suci, dan apa yang mau ditampakkan oleh Allah dengan kata-kata mereka.
Kitab Suci ditulis
dalam Roh Kudus dan harus dibaca dan ditafsirkan dalam Roh itu juga. bdk DV. 12
Tugas mengajar
oleh para uskup sama dengan pewartaan para rasul yaitu menyampaikan dan
meneruskan wahyu. Perbedaan pelayanan mereka ialah, para rasul selain
meneruskan wahyu juga merupakan penerima wahyu itu sendiri secara langsung.
Para uskup bertugas untuk menjaga dan menafsirkan segalanya yang telah mereka
terima dari para rasul tanpa menambah, mengurangi, ataupun mengubahnya.
Meskipun demikian bukan berarti statis dan mandeg, namun dikembangkan sepenuhnya agar dengan demikian justru dapat
dijaga sebagai kenyataan hidup yang diwujudkan dalam setiap situasi dan kondisi
waktu serta tempat.[8]
Bagaimana Memahami Kitab Suci
Cara yang benar
untuk membaca atau memahami Kitab Suci ialah membaca dengan sikap iman, dengan
kata lain membaca dengan bantuan Roh Kudus. Di bawah bimbingan-Nya, pesan Allah
sampai kepada manusia. Kitab Suci adalah Sabda Allah dan di dalamnya Allah
berkomunikasi dengan kita.
1.
Doa
Kitab Suci merupakan surat panjang yang ditulis oleh
Allah bagi kita masing-masing. Oleh karena itu harus menyambut Kitab Suci
dengan rasa cinta dan hormat yang besar. Memohon penerangan Roh Kudus dan
bantuan Allah agar mengerti dengan hati dan budi yang jernih.
2.
Sharing/Pendalaman
Kitab Suci
Adanya sharing dan Pendalaman Kitab Suci di
lingkungan-lingkungan membantu banyak pihak di dalam memahami Kitab Suci,
karena jauhnya hirarkhi gerejani yang kadang menjadikan umat “melupakan” Kitab
Suci.
3.
Lectio Divina
Bacaan singkat dari Kitab Suci. Hal ini bisa diambil
dari bacaan harian atau temaa-tema khusus seperti masa-masa liturgi.
4.
Bacaan Harian/Calendarium
Berbahagialah umat Gereja Katolik yang memiliki satu
pedoman bacaan harian. Di seluruh dunia akan mendengarkan sabda Tuhan yang sama
untuk hari yang sama. Pedoman itu ada di dalamcalendarium, atau kalender liturgi. Kalender liturgi membagi bacaan
di dalam tiga tahun A,B,C, dan bacaan harian tahun I dan II. Dengan memakai
pedoman calendarium, umat Katolik akan menyelesaikan seluruh Kitab
Suci paling tidak dalam waktu tiga tahun.
Kitab Suci itu unik, menarik, menyenangkan, dan
menggembirakan ketika kita mau untuk membacanya, menyelami, dan merenungkannya.
Marilah kita cintai Kisah Kasih Allah yang begitu besar dengan penuh cinta
pula.
[1] Syukur,
Nico, Teologi Sistematika 1, Kanisius,
Yogyakarta, 2004, hal. 36
[2] Youcat Indonesia, Katekismus Populer, Kanisius,
Yogyakarta, 2012, hal. 22
[3] ibid
[4] Syukur,
Nico, op.cit, hal. 104
[5] Kompendium Katekismus Gereja Katolik, Kanisius,
Yogyakarta, 2009, hal. 18
[6] Syukur,
Nico, op.cit, hal. 37
[7] Youcat, op.cit, hal. 21
[8] Syukur,
Nico, op.cit, hal. 112-113
Tidak ada komentar:
Posting Komentar