Selasa, 26 Agustus 2014

Pemilihan dan Penegasan Rohani


Pembedaan Roh memiliki andil besar dalam mengadakan pemilihan ataupun penegasan rohani di dalam hidup seseorang. Bila kita dapat membedakan gerakan roh baik dan roh jahat dengan tepat, maka kemampuan itu akan mendukung secara tepat dalam mengadakan pemilihan mengenai bermacam-macam hal terlebih dalam hidup rohani. Dalam bagian ini, akan dibicarakan secara singkat bagaimana seseorang dapat mengadakan pemilihan dengan baik berdasarkan kemampuannya membedakan roh baik dan roh jahat, berdasarkan pengalaman hiburan ataupun kesepian.
1.       Hal yang perlu diperhatikan sebelum pemilihan
Sebelum kita mengadakan suatu pilihan dan mengadakan penegasan, perlulah kita menyadari terlebih dahulu apa yang menjadi tujuan hidup kita yang sesungguhnya. Tujuan penciptaan kita oleh Allah pertama-tama ialah untuk memuji dan mengabdi Allah. Karena tindakan memuji dan mengabdi Allah itulah, kita akan memperoleh keselamatan dan kebahagiaan bersama Allah.
Apabila tujuan hidup kita ialah demi meluhurkan Allah, maka sikap kita terhadap semua hal, barang ciptaan lain, menjadi jelas pula, yaitu kita akan menggunakannya sejauh hal itu mendukung tujuan kita, dan akan melepaskannya bila hal itu mengganggu tujuan hidup kita.
Patokan yang sangat jelas, yaitu menolak segala yang mengganggu dan memakai yang berguna bagi kehidupan kita di dalam memuliakan Tuhan. Perlu bertanya ke dalam diri sendiri pula, apakah tujuan kita di dalam mengadakan pemilihan itu sungguh murni, yaitu hanya untuk memuji Tuhan. Bisa pula ditanyakan lebih jauh apa kehendak Tuhan dalam hal ini?
2.       Hal yang dijadikan bahan pemilihan
Ada beberapa kriteria yg perlu diperhatikan di dalam pemilihan, yaitu:
a.    Bahan yang dijadikan pemilihan haruslah baik, atau minimal netral tidak baik namun juga tidak buruk
Bahan yang jelek tidak perlu diadakan pemilihan, karena sudah jelas pilihannya, yaitu kita tidak perlu memilihnya. Paling tidak ialah memilih sesuatu yang netral, seperti memilih tempat hidup, pekerjaan, atau mana yang hendak dibeli. Berbeda ketika ada pilihan antara korupsi atau tidak, karena pilihannya pasti, tidak korupsi.
b.    Bahan pemilihan dibedakan antara yang dapat diubah dan tidak dapat diubah
Pemilihan dalam hal yang tidak dapat diubah misalnya perkawinan atau tahbisan. Memilih tahbisan tidak akan mungkin menikah dan sebaliknya. Berbeda dengan memilih pekerjaan, domisili atau barang yang hendak dibeli. Pemilihan dalam hal ini, kalau tidak tepat akan dapat dengan mudah diulang atau diganti, karena halnya sendiri dapat diubah tanpa harus mengorbankan banyak hal.
c.     Untuk bahan yang tidak dapat diubah
Bila seseorang telah memilih secara keliru, sebaiknya tetap dalam pilihan itu sambil mencoba menghayati pilihan itu dengan sebaik mungkin sebagai tanggung jawab dan silih kepada Tuhan atas pilihan yang salah. Misalnya kalau sudah memilih pasangan dan dirasa keliru, lebih baik menjalani itu dengan baik. Kalau berpikir untuk bercerai, korban akan jauh lebih banyak tentunya.
d.    Untuk bahan yang dapat diubah
Tentu pilihan dalam hal ini dengan mudah akan dapat diubah dan memilih pilihan baru, sepanjang situasi dan keadaannya memungkinkan. Apabila pilihan telah perlu kiranya pribadi tersebut berjuang dan menyempurnakan pilihan tersebut. Pribadi itu tinggal meningkatkan penghayatan dan pelaksanaannya.
3.       Tiga waktu pemilihan
a.    Waktu I
Waktu di mana orang tanpa ragu-ragu digerakkan Allah untuk  memilih suatu hal. Contoh konkret apa yang dialami oleh Rasul Paulus. Ketika sedang dalam pengejaran murid-murid Tuhan, Paulus diminta mengikuti Tuhan dan dengan segera mengikutinya. Demikian pula Andreas, Yakobus, Petrus, dan Yohanes.
Keberanian diperlukan di dalam melaksanakan pilihan. Namun keberanian tersebut juga merupakan pemberian Tuhan, oleh karena itu perlu kiranya kita memohon Tuhan memberikan kekuatan untuk mengiyakan ajakan Tuhan itu dan melaksanakannya.
b.    Waktu II
Dalam waktu kedua ini, orang mendapatkan terang dan pengertian karena hiburan dan kesepian serta pengalaman membedakan roh. Dalam hal ini orang akan memilih hal yang lebih membawa kepada Tuhan yang jelas pada hiburan rohani yang ia alami.
Seorang gadis mengisahkan pengalamannya untuk memilih siapa yang akan dipilih menjadi suaminya. Ia banyak berdoa kepada Tuhan untuk memberikan petunjuk mana yang paling tepat untuknya. Ia merasakan kedamaian, ketenteraman, dan kebahagiaan ketika bersama di Budi daripada yang lain. Maka ia memilih Budi sebagai suaminya.
c.     Waktu III
Waktu tenang untuk berfikir dan berefleksi. Dalam waktu ini memang orang dapat tenang tanpa tergesa-gesa mempertimbangkan apa yang ingin dipilihnya. Inilah waktu yang biasanya kita punyai dalam banyak pemilihan. Jiwa kita tidak akan terganggu oleh macam-macam roh, sehingga kita dapat menggunakan daya kodrati seperti pikiran, budi, dan kehendak kita secara bebas. Ada dua cara untuk mengadakan pemilihan dalam waktu biasa ini, yaitu:
1)      Cara 1
Cara ini ialah dengan melihat dan mempertimbangkan unsur pro dan kontra dari setiap hal yang kita jadikan pemilihan, lalu membawa hasilnya kepada Tuhan. Keputusan yang memberikan ketenangan, itulah yang dipilih. Kadang diperlukan masukan dan bertukar pikiran dengan orang lain atau teman yang dipercaya. Langkah-langkah pemilihan sebagai berikut.
a)    Menghadap Tuhan dan mohon agar dapat mengadakan pemilihan dengan baik. Mohon agar digerakkan untuk memilih mana yang lebih menambah pujian bagi Tuhan
b)   Menimbang tujuan hidup, yaitu diciptakan untuk memuji, meluhurkan, dan mengabdi Tuhan.
c)    Menatap bahan pilihan. Menimbang semua unsur dari bahan itu, melihat alasan pro dan kontra apabila memilih salah satu, memberikan bobot kepada hal-hal yang menunjang aku diciptakan. Apa untung ruginya, apa manfaat dan tidaknya semua hal tersebut.
d)   Dari alasan tersebut, menimbang mana yang lebih menguntungkan bagi kehidupan kita dan kecondongan hati kita . Itu merupakan pilihan sementara.
e)   Membawa pilihan kembali kepada Tuhan, apakah hasil ini yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
f)     Merasakan dalam batin apakah kita menjadi tenang, damai, mendapatkan hiburan kerena pilihan itu, atau sebaliknya, hati menjadi gundah dan kacau? Bila tenang, maka kiranya pilihan itu ialah tepat, bila tidak perlu dipertimbangkan lagi.
2)      Cara 2
Pada cara kedua ini, diungkapkan beberapa cara yang dapat membantu mengadakan pemilihan secara tepat. Ada empat cara yang dapat dilakukan, bisa dipilih yang paling membantu kita.
Kita hadir di hadapan Tuhan dan memohon agar boleh mengadakan pemilihan. Selanjutnya dapat memilih cara berikut.
a)    Kita bayangkan bahwa ada orang yang belum kita kenal yang datang kepada kita untuk minta nasihat tentang bahan yang akan dipilih. Sebagai seorang yang dimintai nasihat, kita akan memberikan nasihat yang terbaik dalam hal pemilihan itu. Pilihan terbaik yang lebih memuliakan Tuhan. Pilihan itulah yang lalu menjadi hasil pemilihan kita.
b)   Membayangkan, seolah-olah kita sedang ada di  dalam ambang maut, lalu bertanya apa yang akan aku pilih. Dalam keadaan ambang maut, biasanya orang berfikir untuk mengambil keputusan yang paling tepat bagi kehidupannya. Pilihan itu yang kita ambil.
c)    Membayangkan kita berada di hadapan Tuhan Yesus dan menjalani penghakiman terakhir. Apa yang aku pilih bila ada di hadapan Tuhan yang sedang menyidang kita. Pilihan itulah yang kita ambil.
d)   Membayangkan apa akibat dari pilihan tersebut bagi hubungan kita dengan Tuhan dan orang lain. Apakah pilihan tersebut membawa kita semakin dekat dengan Tuhan dan sesama atau sebaliknya, atau malah menjauhkan?
4.       Unsur yang ikut mempengaruhi pengambilan keputusan
Beberapa hal yang biasanya mempengaruhi pemilihan seseorang dan pengambilan keputusan seseorang:
a.    Sifat, watak, dan pembawaan seseorang. Apakah orangnya mudah bingung, takut, punya trauma yang perlu dibereskan terlebih dahulu? Hal ini akan mempengaruhi cara orang mengadakan pemilihan.
b.    Pendidikan seseorang juga berpengaruh dalam memilih. Orang yang dididik dan dibiasakan untuk memilih sejak kecil dan mengambil keputusan dalam hal-hal sederhana dan kecil dengan tepat dan bijaksana, akan lebih mudah dalam melakukan pemilihan dalam hal yang besar dan mendasar.
c.     Suara hati yang dikembangkan dengan baik, jernih, dan benar akan sangat mempengaruhi orang tersebut dalam mengadakan pemilihan secara tepat. Demikian pula sebaliknya, pribadi dengan suara hati kacau akan kesulitan mengadakan pilihan secara benar.
d.    Pemilihan juga berbeda dalam setiap levelnya. Level rohani, moral, psikologis, atau praktis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar