Puasa, semua agama memiliki ritual, pemahaman, dan cara pelaksanaan masing-masing. Hal tersebut menjadi hak prerogatif masing-masing dan perlu dihormati, dan menjadi kekhasan yang tidak bisa dipaksakan dan dipertentangkan tentunya. Katolik memiliki hukum tersendiri untuk berpuasa, namun bisa saja terpengaruh oleh model puasa agama lain. Keponakan kemarin bertanya, puasa Katolik itu bagaimana yang bener, eh malah pagi ini membaca artikel Pater Gordy dengan tema yang sama. Puasa dalam Pandangan Katolik Saya menerangkan kepada keponakan bahwa esensi puasa itu adalah pertobatan, adanya kesadaran dan gerak hati untuk meninggalkan kebiasaan buruk lama menuju budaya baik yang baru. Balik arah menjadi kata kunci, bukan semata lapar dan haus. Kedua, soal koyakkan hati bukan baju, kepercayaan sangat lama bertobat itu mengoyakkan baju dan meratap, tidak cukup hanya mengoyak pakaian karena itu tidak cukup, mengoyakkan hati, bukan dalam arti harafiah, namun membuka hati untuk siap dibentuk Tuhan dan salah satunya adalah mendengar sapaan-Nya untuk kembali kepada jalan-Nya yang lebih baik. Ketiga, waktu. Hukum Gereja hanya mengatur puasa itu dua kali, yaitu Rabu Abu dan Jumat Agung. Karena diilai ringan, umat boleh dan dianjurkan untuk menambah sendiri, ini tidak wajib dan tidak ada sanksi dosa. Biasanya di tingkat lingkungan atau wilayah gerejani bersama-sama merumuskan apa yang mau dilakukan. Misalnya menambah dengan setiap hari tertentu, biasanya Jumat atau menambah dengan tidak akan mengonsumsi makanan tertentu sebagai sarana kebersamaan juga. Keempat, tata caranya, makan kenyang satu kali satu hari, bukan kenyang sekali sehari. Artinya, jika biasa makan kenyang itu satu piring, sepanjang hari hanya satu kali makan satu piring, yang biasanya separuh atau porsinya lebih kecil. Dalam bahasa Jawa, lebih tepat dengan istilah nyudo tadha, mengurangi takaran makan tentunya. Pantang Menghindari apa yang paling disukai selama Masa Prapaskah, yaitu Rabu Abu, hari Jumat sepanjang Masa Prapaskah, dan termasuk Hari Jumat Agung. Peraturannya adalah menghindarkan diri dari jajan, merokok, gula, garam, daging, ikan, atau menonton. Tentu dengan mudah itu akan dilakukan oleh orang-orang tertentu, misalnya pasien diabetes tentu telah terbiasa menghindari gula dan sejenisnya. Apa yang menjadi tuntutan adalah hindarkan diri dari tindakan yang paling disukai, sebagai bentuk tobat. Misalnya para ABG yang gandrung dengan layar ponselnya, mantengin layar setiap hari, bisa menggunakan itu untuk tidak memegang ponsel. Atau mbokdhe-mbokdhe,yang selalu muter-muter mall untuk berbelanja barang-barang tidak mendesak untuk bisa sejenak berhenti dari kebiasaan itu, tentu jauh lebih sulit meninggalkan mall, atau ponselnya daripada sekedar makanan atau tontonan bukan? Ini yang mau dibangun dan diajak oleh Gereja bagi pengikutnya terutama. APP, Aksi Puasa Pembangunan Setiap memasuki Masa Pra Paskah, Gereja biasanya menyediakan kotak atau amplop untuk menyisihkan dana bagi aksi sosial. Ide dasarnya adalah uang itu hasil dari puasa dan pantang. Tentu idenya adalah selisih uang harian atau bulanan jika masa biasa dan masa puasa dan pantang itu, ada X rupiah dan itu yang dipakai untuk APP. Dana yang terkumpul dipakai untuk aksi sosial, misalnya memberikan orang-orang yang tidak mampu apa yang mereka butuhkan, ini tidak terbatas pada umat Gereja saja. Ide dasarnya juga adalah dana yang terkumpul harus habis pula di waktu yang sama, misalnya tahun 2017 terkumpul juga sudah harus habis, bukan malah ditabung. Bukan ini esensi yang mau diajarkan, namun berhubung banyak hal kadang juga masih disimpan, namun tidak juga menyeleweng terlalu jauh. Makna dan Pelajaran yang Ditanamkan Perubahan sikap, bukan semata menahan haus dan lapar atau kesenangan, namun ada perubahan sikap. Tentu tidak ada manfaatnya jika haus dan lapar namun tabiat lama masih juga bercokol. Sarana memperbaiki diri secara spiritual. Pertobatan, berbalik arah menuju kebaikan, bukan sebaliknya. Tidak ada pemaksaan karena pertobatan itu Ilahiah, panggilan ilahi untuk memperbaiki diri. Kesadaran penuh untuk bisa berbuat lebih baik. Haus dan lapar itu saja tidak cukup, jika tidak dibarengi hidup lebih baik dan lebih bermanfaat bagi orang lain. Bisa berbagi bukan di dalam kelebihannya, namun dari kekurangannya, jika berlebih dibagikan untuk apa tentunya bukan? Kesadaran pribadi dan kelompok, Gereja tidak pernah mengatakan ini itu, harus ini dan itu, Gereja memberikan batasan dan kebebasan karena umat dipandang dewasa dan sudah bisa memilah dan memilih, mana yang terbaik dan mana yang tidak boleh dipilih tentunya. Kebebasan yang kadang tidak mudah karena justru membuat orang bisa berpikir skrupel, selalu merasa kurang atau salah, namun bisa saja abai, toh Tuhan Mahabaik. Menyentuh kesadaran hidup beriman.
Selamat berpantang dan selamat merenungkan kerapuhan dan kedosaan kita.
Selamat berpantang dan selamat merenungkan kerapuhan dan kedosaan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar