Maaf beribu maaf bagi para guru, bukan bermaksud menghina,
merendahkan, dan mencemooh sosok guru. Sama sekali tidak, saya pernah jadi
guru, keluarga banyak yang menjadi pendidik, dan teman tidak sedikit yang
mengabdikan diri menjadi guru. Istilah ini
juga baru saya pahami setelah membaca buku. Pengalaman sudah memberikan
bahan namun tidak tahu, bahwa hal ini ternyata memang demikian adanya. Henry
Adams dikutip Waller, dan dikutip ulang oleh Doni Kusuma menyatakan, no man can be a school master for ten years
and remain fit for anything else. Pernyataan yang bisa diterjemahkan bebas
bahwa tidak akan ada guru yang berkembang kepribadiannya sesuai dengan usianya,
kala sudah mengajar lebih dari sepuluh tahun.
Pengalaman Lapangan
Pertama, dulu, saya menyelesaikan strata satu bersamaan
dengan guru-guru yang melakukan kuliah untuk mendapatkan gelar kesarjanaan.
Jelas dinamikanya berbeda, namun pola pikir, cara kerja, dan model berdiskusi
dan berinteraksi jauh berbeda dengan kuliahan reguler. Bahkan ada yang kolokan,
ngambegan, dan model marahnya, iren, persis anak sekolah dasar.
Kedua, waktu sejenak menjadi guru, sekolah saya berkarya
merupakan sekolah gabungan TK, SD, dan SMP. Seorang rekan guru mengatakan kalau
pola pikir, cara berdiskusi, dan menjawab persoalan guru SD itu mirip muridnya,
bahkan rekan ini juga mengatakan di rumah pun demikian, karena memang istrinya
adalah guru sekolah dasar.
Pendidikan dan Studi
Psikologi di Perguruan Tinggi Pendidikan
Sama sekali tidak pernah dikatakan dan dinyatakan model ini,
entah dosen, pendidik, atau gurunya juga tidak tahu, tidak sadar, atau khawatir
para murid atau mahasiswanya tidak lagi bersemangat, namun seharusnya tetap
dikatakan, diajarkan, dan dikupas kejadian yang akan dialami para guru di
kemudian hari. Memang akan lebih sering terjadi pada guru awal mulai PAUD kini
atau TK dulu dan SD. Jika guru sekolah menengah agak berbeda apa yang dialami.
Pendekatan, pola pikir, dan menyelesaikan masalah di sekolah menengah tidak
sekomplek sekolah awal. Penaratan, pendampingan guru, dan rapat atau seminar
juga sama sekali tidak pernah disinggung hal ini.
Mengapa tidak nampak
sosok manusia?
Hakikat Kinerja guru terutama guru awal berpotensi melanggengkan
kebiasaan, atau tetapnya sikap dan pemikiran kekanak-kanakan. Seumpama orang mengajarkan
cara membuka pintu agar orang lain bisa memasuki pintu tersebut, guru akan
mengulang terus mengajarkan membuka pintu tanpa pernah memasukinya. Itu terus
menerus hingga ia pensiun, pada kisaran tiga puluh tahunan bisa dibayangkan apa
yang terjadi. Guru yang mengajarkan kepada siswa-siswinya yang masih belum
dewasa mau tidak mau mempengaruhi pertumbuhan mereka. Berhari-hari, hingga
bertahun-tahun paling tidak sepertiga hidup hariannya bersama dengan anak-anak.
Mengajari terus menerus hal yang sama.
Keterbatasan waktu belajar untuk diri sendiri.
Sama sekali juga tidak pernah diajarkan siapkan sumur
hidupmu yang akan kamu alirkan kepada muridmu. Sama sekali tidak pernah
dikatakan. Memang sekali satu dosen yang mengatakan, penuhi keranjangmu dengan ilmu
untuk kamu bagikan kepada generasi berikut. Ternyata keranjang saja tidak
cukup, namun perlu sumur. Hakikat mendidik adalah memberi. Memberi dan memberi,
jika apa yang diberikan itu terbatas, apakah tidak akan mengikis diri sendiri
yang berujung pada sakit psikosomatis, sakit perut, gatal-gatal, maag, sakit kepala akut, karena
kehabisan bekal. Membaca dan menuliskan artikel ini baru paham mengapa guru
dulu tidak boleh mengidap TBC, selain menghadapi kenakalan anak, juga karena
akan digerogoti karena selalu memberi ini.
Apa yang bisa
dilakukan?
Guru harus
menyadari bahwa ia bukan manusia super, yang perlu waktu istirahat, waktu untuk
penyegaran kembali, bisa berupa refresing, peneguhan dengan saling bertukar
pengalaman dan informasi terbaru. Apa yang terjadi selama ini malah soal kepsek
atau yayasan yang tidak adil, saling bertukar informasi soal anak dan tas atau
katering pernikahan, yang sedikit banyak menambag\h beban pikiran jika tidak bisa sama dengan rekannya.
Pemerintah
menyediakan kesempatan kepada guru jangan hanya menuntut saja, apalagi ide full day school, segala. Kesempatan
untuk menimba ilmu lagi, mendidik anak-anaknya, dan juga menghirup udara segar.
Guru tidak pernah ada cuti sebagaimana pegawai lain, ingat libur anak tidak
sama dengan libur guru. Siapa yang mengisi kelas ketika ada yang cuti? Guru
pengganti akan mudah diperoleh.
Administrasi
sekolah jangan lagi sepenuhnya atau guru masih diberi tambahan tugas ini itu
yang memberatkan. Usahakan ada tenaga khusus untuk mengurus adminstrasi dan
kertas yang sering tidak juga diaplikasikan di kelas. Bagaimana mau mengajak
anak didik berinovasi kala guru saja inovasi itu apa tidak paham, karena tidak
ada kesempatan.
Pendidikan keguruan perlu mendapatkan perhatian serius.
Konsekuensi-konsekuensi yang berat sama sekali tidak pernah dikatakan dan
dinyatakan, karena tidak tahu, juga karena memang perhatian terhadap guru
sangat lemah. Memang jarang guru yang berpenyakit akut dan menakutkan
sebagaimana profesi lain, tidak ada pula guru yang post power syndrom, namun ternyata pola pikir kanak-kanak dan bisa
membuat orang sakit namun jarang diketemukan sakitnya oleh medis terjadi.
Pendidikan berkualitas bangsa juga ikut naik mutunya.
Pendidikan terabaikan jangan salahkan jika orang saling memanfaatkan dan menjadikan
pihak lain sebagai obyek semata.
*Kutipan dalam sebuah buku
Sumber Inspirasi: Pendidik Karakter Di Zaman Keblinger
Tidak ada komentar:
Posting Komentar