Minggu, 19 Maret 2017

Peneliti Cilik dari Semarang Menang di Korea Selatan


Buah bintaro yang akhir-akhir ini ngetren menjadi peneduh di sejumlah jalan dan lahan terbuka hijau, sempat membuat khawatir, karena buahnya mengandung racun. Beberapa seruan dari ahli kesehatan tidak sepenuhnya tepat ketika kita mengetahui penemuan dua peneliti cilik dari SD Semesta dari Semarang. Buah bintaro ini bisa dipakai sebagai antirayap.
Penemuan siswa sekolah dasar ini berangkat dari keadaan buku perpustakaan mereka yang menjadi korban rayap. Ide untuk menjaga buku-buku itu didiskusikan bersama guru pendampingnya Umarudin, kemudian mereka mencari dari buku ajar kelas tiga yang dikembangkan dengan bantuan internet dan diketemukanlah formula untuk anti rayap itu.
Penelitian yang dilakukan itu dikutkan ke 2015 World Creativity Festival, di Daejeon, Korea Selatan, dan memperoleh medali perak. Siswa sekolah dasar bisa menghasilkan penelitian luar biasa besar, dan bahkan di dunia internasional bisa berbicara banyak.
Ke depan akan ada pengajuan hak paten dan itu perlu penelitian lebih lanjut. Menarik ialah mereka telah berpikir ke depan untuk mematenkan penemuan mereka agar tidak menjadi peneliti yang “menyuguhkan” temuan bagi pihak lain yang sering menumpang tenar dan mengambil keuntungan dari kerja keras pihak lain.
Peran Pemerintah dan Dinas Pendidikan
Harapan besar telah terpampang jelas di depan mata. Apa yang bisa dilakukan ialah memberikan mereka insentif dan animasi agar makin bersemangat dan berkontribusi bagi penelitian-penelitian di kemudian hari. Sejatinya banyak sekali hasil kreatifitas anak negeri namun sering “kabur” dan hilang ditelan bumi karena tidak adanya tanggapan baik dan support dari pihak-pihak yang berkompeten. Penemuan dan kekayaan kita baru ribut ketika telah diklaim negara tetangga, padahal sejatinya kita sendiri yang abai akan penghargaan akan anak negeri sendiri. Ribuan penemuan, karya, dan hasil jerih lelah yang sering justru menghasilkan kekecewaan. Luar negeri sebagai poros dan fokus, kalau made in luar baru dipercaya, penelitian dan penemuan sendiri dilecehkan dan dicemooh, padahal sama sekali tidak bisa membuat hal yang sama.
Pemberian bea siswa, pendampingan dan jaminan akan masa depan merupakan tanggung jawab pemerintah. Jangan sampai kita mendidik di awal kemudian dinikmati luar negeri karena tawaran kesejahteraan yang lebih baik. Kita, perusahaan besar mengimpor orang pinter luar negeri dan berbuat seenaknya di sini. Ini kan ironi, banyak orang pintar kita kerja di luar negeri karena kita memberikan bayaran yang rendah, saat  ada tenaga asing di sini dibayar dengan mahal.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar