Sebuah sekolah di perbatasan kecamatan Ambarawa dan Jambu, sisi selatan barat dari Kabupaten Semarang. Dulu, ingat ini hanya masa lalu, ketika bicara SMA ini yang terbertik dalam benak adalah sekolah mahal. Salah satu pioner sekolah menengah atas di seputaran Ambarawa, Salatiga, dan juga Kabupaten Semarang secara umum, sekali lagi, dulu, di masa emasnya, sekolah ini termasuk disegani dan menghasilkan banyak lulusan yang sukses. Itu dulu, kini? Di masa jaya, seorang dosen univeritas negeri di kota besar pun akan bertanya mengapa di sekolah negeri bukan Bhakti Awam pada siswa sekolah, bisa dibandingkan sekolah negeri pun kalah pamor. Era 90-an, kelas di sekolah ini masih sangat besar, lima kelas paralel dengan jumplah siswa pada kisaran 40-an. Waktu itu masih lazim. Mundur tidak terlalu lama, hanya berselang dua tahun saja, sudah menjadi susut dan menjadi kurus kering. Kelas sudah banyak yang longgar dan kosong. Mengapa demikian? Menyusul dan lahir sekolah-sekolah di pelosok kyang jauh lebih kelihatan modern, menjanjikan, dan tentunya lebih dekat dengan sekolah. Seragam dan bangunan sekolah biasanya menjadikan anak didik dan orang tua tertarik. Kini, satu kelas dengan murid seperti lembaga bimbingan belajar pun terjadi. sejumlah ruangan menjadi sepi tanpa penghuni karena kurangnya minat siswa untuk bergabung. Yang dulu terkenal paling mahal, kini justru berbalik 1800, penampilan anak-anak didik yang ala kadar, dan sepi sunyi di antara ruang-ruang tidak terpakai. Mengapa sekolah tutup? Ada dua faktor yang sangat berpengaruh, pertama jelas dari pihak dalam sendiri, manajemen yang buruk, tidak profesional, dan berdasar suka atau tidak suka. Jika demikian jangan heran akan sepi dan tutup karena biasanya miskin inovasi, hanya mengandalkan masa lalu, dan berbicara kita sudah besar. Ini banyak terjadi, di mana-mana, sekolah-sekolah yang berjaya di masa lalu, memburuk dan terpuruk dan kemudian tidak bisa kembali menggeliat. Paling tidak ada empat sekolah di empat kota yang berbeda mengalami hal yang demikian. Idealisme yang tidak diarengi dengan inovasi dan manajemen modern membuat semua berantakan. Rekrutmen staf pengajar dan pengelola yayasan dan sekolah seadanya, KKN, dan model titipan bisa merusak rencana besar ke depan sebuah yayasan dan sekolah. Akibat dari luar. Ini banyak faktor, pertama,politis. Selera pasar bisa dibentuk secara politis dengan mengatasnamakan agama, suku, dan sejenisnya. “Rivalitas” yang tidak sehat dengan mudah membuat antitesis sederhana yang disukai oleh khalayak umum, misalnya sekolah A dengan ketat soal disiplin, mendirikan saja sekolah B dengan peraturan yang sangat longgar, dengan cepat sekolah A yang tidak berinovasi akan tutup. Hal ini jamak terjadi. Kedua,pihak pemerintah yang abai akan sikap penghormatan dan pendampingan. Boleh mendirikan sekolah negeri di mana-mana, namun jangan mematikan sekolah swasta yang jauh lebih dulu berbuat demi bangsa dan negara. Batasi ruag kelas, sehingga sekolah swasta tidak kehabisan murid. Demikian juga sekolah swasta yang lain jangan dibiarkan mendierikan di mana-mana, tanpa memikirkan jumlah penduduk. Ingat mencerdaskan kehidupan bangsa juga bukan meniadakan sejarah. Hal ini kelihatannya belum banyak dipikirkan lembaga terkait. Ketiga,faktor ekonomi, bisnis telah merasuk di dunia pendidikan. Memang pendidikan tidak murah, namun jangan merusak pendidikan demi rupiah semata. Bisa seiring sejalan, pendidikan dan mencari keuntungan namun bukan yang utama dan terutama. Pendirian sekolah di mana-mana yang bisa saja hanya berorientasi uang atau bisnis dengan kerennya seragam, gedung, dan fasilitas, namun abai akan prinsip pendidikan telah banyak terjadi. Sekolah lama dan ideal banyak yang tergerus karena pola ini. Empat,persaingan antaryayasan bahkan yang seide, segagasan, dan sevisi-pun bisa terjadi. Jika mau membangun bangsa dan negara tentu akan mengalahkan egosektoral demi tujuan yang lebih besar. Hal ini bisa dijadikan bahan pertimbangan jika mau mendirikan sekolah baru sedangkan di sana ada sekolah lama yang susah berkembang, atau menuju kematian tentunya. Apa yang bisa dilakukan? Pendirian sekolah baru perlu lebih selektif, tanpa melupakan misi dan visi serta tujuan pendidikan nasional, memberikan kemudahan bagi masyarakat, namun juga keberadaan sekolah-sekolah tua, lama, dan bagian sejarah sebuah daerah. Paling tidak tanpa ada yang dirugikan. Semua untung memang tidak mungkin, namun paling tidak, bisa lebih banyak yang mendapatkan manfaat daripada yang dirugikan bisa menjadi pertimbangan. Sekolah negeri bisa seperti era dulu, di mana sangat ketat dan selektif, sehingga sekolah swasta bisa bernafas dengan lega, coba sekarang bisa dilihat semua siswa diterima, kalau kurang, tambah ruang, bagaimana hal ini bisa dilakukan? Ini dunia pendidikan bukan hukum rimba. Hukum rimba telah merambah dunia pendidikan. Siapa kuat ia yang menang. Bagaimana dunia pendidikan bisa maju jika pada dasarnya saja dibangun dengan keji tanpa sadar seperti ini? Selama ini orang hanya berpikir soal pendidikan hanya pada UN, kurikulum, dan sejenisnya, padahal banyak lagi persoalan yang telah menimpa dunia pendidikan tanpa sadar seperti ini. Apakah akan terus terjadi sekolah-sekolah yang hanya ada dalam sejarah saja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar