Minggu, 19 Maret 2017

Bagaimana Mau Toleransi, kalau Hanya Diajarkan Menghormati yang Besar

Ini bicara soal besar, kuat, lebih, bukan soal  agama tertentu atau suku tertentu saja, namun secara umum, biasanya, dan fenomena yang wajar di dalam konteks budaya dan adat bangsa ini. Toleransi hanya bisa  diaplikasikan jika pendidikan untuk adanya ketersalingan, bukan hanya menuntut tanpa memberi. Minta tanpa mau berganti posisi. Budaya kita menghormati yang lebih, baik tua, besar, penguasa, penggede, atau apapun itu sangat biasa, namun sebaliknya, dari yang tua ke muda apalagi kecil, penguasa ke jelata, atau besar ke kecil sangat  jarang ada, bahkan cenderung abai. Dari keluarga, kita saksikan bagaimana biasa dipaksakan untuk memanggil kepada kakak biasa dengan mas, bang atau abang, kak, kakak, kang,dan sebagainya, kalau perempuan, ada yu, mbak, yayuk atau ayuk, teteh, kakak,dan sejenisnya, namun kalau dari yang lebih tua ke yang muda, ke adik, sangat jarang ada tekanan, paksaan, atau didikan itu. Memang ada, namun sangat jarang. Tidak heran menjadi kebiasaan di mana-mana, yang besar-tua lebih mendapatkan segalanya. Tidak heran, akibat turutannya adalah  dalam hal pembagian atau pemberian harta warisan. Meskipun hukum agama ada, toh soal status yang paling tua, kuat, atau besar yang dapat banyak masih berbicara. Ada beberapa kasus pembagian ini hanya menjadi milik segelintir orang dengan dasar hukum yang sepihak sedangkan saudara yang lain menderita, miskin, dan kekurangan tidak menjadi pemikiran. Hal tersebut sangat berpengaruh kepada sikap toleransi dalam hidup berbangsa dan bernegara. Tidak peduli akan sikap yang lemah, kecil, atau perlu bantuan, yang penting aku dan keakuan kuar, besar, dominan, dan bisa menguasai, pihak lain terserah. Ingat ini bukan soal agama semata, atau ras saja, namun model pendekatan yang sama baik agama, ras, golongan, yang kuat, besar, dominan itu minta fasilitas, dimengerti, dihormati, dan diberi hak lebih, sedangkan yang lebih kecil, lemah, dan perlu perlindungan mana menjadi pertimbangan. Agama apapun, suku apapun mengalami sikap yang sama. Penghormatan itu bukan soal status namun kemanusiaan. Manusia yang bermartabat luhur, sebagai ciptaan yang sama, bukan karena kuat dan besar atau tua semata. Penghormatan secara lebih menyeluruh, obyektif bukan subyektif. Penghormatan bukan karena lahir lebih dulu, namun soal kualitas hidup atau kepribadiannya. Toleransi itu soal sikap, bukan hanya pengetahuan atau hapalan. Tidak heran, kata toleransi dijabarkan jutaan kali sejak taman kanak-kanak hingga usia perguruan tinggi, namun sikapnya masih sama saja, karena pendidikan lisan dan tindakan bertolak belakang. Mana bisa terjadi ketika ada ketikdakadilan setiap saat namun dikatakan harus saling mneghormati? Perubahan menyeluruh dan radikal perlu dilakukan. Budaya tidak salah, hanya perlu penjelasan dan obyektifikasi agar lebih adil dan obyektifitas berbicara. Bagaimana suku yang kuat dan besar bisa melindungi yang kecil dan lemah sehingga hidup bersama dengan baik. Agama yang besar dan kuat bisa saling menjadi dengan yang kecil dan sedikit. Hal itu hanyalah luaran yang jauh lebih fundamental adalah hidup dan manusia itu sendiri. Manusia dan kehidupan lebih berharga dari pada suku, agama, atau label apapun bukan? Jika itu semua sudah bisa dipegang dan menjadi bahan pertimbangan, bangsa ini akan besar, toleran bukan semata klaim namun sungguh terjadi. bhineka Tunggal Ika bukan semata slogan namun gaya hidup dan panduan hidup bersama. Sikap intoleran, radikalisme, fundamentalis, dan sikap fanatis sempit tidak mungkin hilang dan dihilangkan, namun tidak akan mendapatkan lahan subur dan tempat untuk berkembang dengan leluasa jika lebih banyak orang yang terbuka menghormati pribadi manusia yang hidup lepas apapun labelnya. Yang perlu dikembangkan adalah keterbukaan bukan menghilangkan yang tertutup. Kosentrasi perlu diubah. Menghilangkan ilalang yang tumbuh bersama padi berpotensi mencabut dan merusak akar tanaman padi juga, lebih baik adalah menyiapkan padi lebih kuat dan lahan dipelihara sehingga tidak ada lalang yang bisa tumbuh. Lebih baik mencegah dan menguatkan sikap terbuka daripada ribut soal fundamentalis apapun jenisnya. Fanatik itu penting dan harus namun ke dalam bukan ke luar. Jika semua orang menyadari bahwa agama, suku, atau apapun yang terbaik, mengapa khawatir dan takut dengan apapun yang sudah dinilai tidak lebih baik itu? Sederhana bukan? Jika sudah memiliki yang terbaik, apapun dikatakan tentang yang lain dengan berbagai cara tidak akan mempengaruhi sama sekali kog. Contoh konkret, saya yakin, mengimani agama saya yang terbaik, apapun yang dilakukan agama lain, baik menjelekkan agama saya, atau berbagai cara dipakai untuk mengajarkan agama lain kepada saya, tetap saja tidak mempan, karena telah memilih dan memegang dengan teguh. Termasuk mempelajari untuk mengerti agama lain, tanpa mengubah pemahaman dan keyakinan awal sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar