Mengapa mengambil kehamilan belum diinginkan? Karena
kebanyakan orang menikah adalah memiliki momongan dengan kehamilan, sedang
kisah berkaitan dengan pendidikan seksualitas anak ini mereka hamil sebelum
mereka menikah dan bahkan masih sekolah, artinya kehamilan belum diinginkan.
Ada tiga kisah dengan tiga penyelesaian soal kehamilan belum
atau tidak diinginkan ini, ketiganya menimpa siswi tingkat SMK. Kisah pertama,
siswi ini berpacaran yang berlebihan dan hamil, karena saat rekannya wisata ke
luar pulau, mereka malah menginap di tempat lain. Si laki-laki mau bertanggung
jawab namun orang tua dari pihak perempuan tidak mau, akhirnya melahirkan
dengan pindah kota terlebih dahulu dan anak diberikan kepada si bapak. Si bu
selang berapa lama menikah dengan orang lain.
Kisah kedua, anak kelas satu SMK hamil dengan pacarnya yang
bekerja di bengkel. Tahu pacarnya telat datang bulan langsung menghadap orang
tua si gadis dan menikahinya.
Kisah ketiga, anak SMK hamil dan melahirkan tanpa bantuan
siapapun. Usai melahirkan entah panik, entah tidak tahu harus bagaimana,
bayinya dimasukkan ke dalam tumpukan kayu. Apa yang terjadi si bayi mati dengan
luka koyak di mana-mana, si ibu kecil ini pendarahan dan mengaku kepada
neneknya sedang haid namun tidak berhenti. Oleh si ibu di bawa ke dokter dan
dinyatakan usai melahirkan. Diketemukanlah bayi di antara kayu dan sudah
meninggal.
Teknologi informasi
yang tidak dibarengi dengan pengetahuan yang cukup. Orang tua, guru, pihak
dewasa biasanya akan mengatakan karena hp
dan film porno mudah diakses dan akhirnya seks bebas dan kehamilan tidak
diinginkan terjadi. Apakah teknologinya yang salah? Tidak sepenuhnya, namun
bahwa anak perlu dibekali soal pemahaman mengenai film porno dengan baik. Film porno hanya menjual sensasi yang tidak
akan pernah ada di dunia nyata. Besarnya alat kelamin, lamanya durasi
hubungan badan itu efek dari editor, pencahayaan, penggunaan cermin, dan banyak
hal. Sama sekali bukan asli dan nyata. Fakta ini oleh remaja sama sekali tidak
diketahui dan dijadikan panduan untuk melakukan banyak hal yang kadang
irrasional. Belum saatnya mereka melihat
tanpa ada pihak dewasa, film porno bisa menjadi penting bagi orang dewasa
yang sudah menikah, namun bagi anak-anak dan remaja sama sekali belum tahu
batasan mana antara boleh dan tidak.
Keterangsangan seharusnya diajarkan kepada siswa-siswi sehingga mereka bisa
menghentikan aktivitas jika berlebihan. Ini pihak guru dan orang tua bisa
mengajarkan sesuai dengan usia anak. Pendampingan melihat film porno menjadi
penting agar mereka tidak nonton sembunyi-sembunyi yang mengabwa akibat hamil.
Proses terjadinya
kehamilan dan perihal seksual sering dikatakan tabu atau saru, ini membuat
anak belajar secara sembunyi-sembunyi, bertanya kepada teman sebayanya yang
juga masih sama-sama buta, akhirnya masuk jurang bareng. Pendidikan seksualitas
diberikan sesuai dengan umur anak baik oleh orang tua, guru, atau pendamping
agamanya masing-masing. Hal ini penting agar anak tidak malah belajar dan
praktek tanpa tahu risiko yang terjadi. Bagaimana kehamilan itu bisa terjadi,
karena apa, dan bagaimana, terutama jika anak sudah akil balik atau masa
pubertas, hal ini sangat penting didampingi.
Penyelesaian yang
terbaik atas kehamilan anak, tiga kisah di atas sungguh terjadi dan tahu
dengan baik para pelakunya, masih ada satu lagi yang tidak saya ketahui secara
langsung namun acap terjadi, aborsi, ini
bisa sehat misalnya dokter, atau tidak sehat dengan obat atau dukun, meski
sama-sama tidak legal namun risiko jauh lebih besar yang kedua. Pernikahan
jelas pilihan terbaik, dari sisi agama dosanya hanya sekali perzinahan, secara
moral tidak terbebani selain malu yang hanya sejenak, secara psikologis tidak
dibayangi dengan dosa dan kesalahan terus menerus. Ingat ini pada kasus
anak-anak remaja, yang masih labil dan mudah panik.
Peran orang tua, biasanya
aborsi, pemisahan anak-anak yang hamil, itu pihak orang tua yang jauh lebih
berperan. Pembunuhan bayi yang dilahirkan pun terjadi karena anak takut
dimarahi, dihukum, dan bisa adanya kematian karena temperamen orang tua dan
anak yang buruk.
Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi kejadian ini?
Kemajuan teknologi tidak bisa disangkal. Pendampingan
menjadi sangat penting. Anak tidak bisa dikekang secara berlebihan namun juga
tidak bisa pula dibiarkan dengan sebebas-bebasnya. Anak diawasi dengan
bijaksana.
Komunikasi dengan orang tua atau guru jika di sekolah.
Komunikasi anak sekarang sebenarnya jauh lebih baik dan mudah karena
keterbukaan mereka sama sekali tidak berjarak dan ada lagi ewuh pakewuh dengan orang tua atau guru. Hanya sayangnya hal ini
belum banyak berlaku berkaitan dengan seksualitas. Mengapa demikian? Masih
banyak orang tua yang tidak bisa
membahasakan termasuk guru mengenai dirinya sendiri. Seksualitas kan soal diri
sendiri bukan barang yang jauh. Berbicara dari hati ke hati sangat membantu,
bagaimana anak mulai tertarik dengan lawan jenis, bagaimana mereka menyikapinya
sangat tergantung orang tua. Jika diledek menjadi malu dan malah bisa juga
berbahaya, jika dibiarkan bisa berabe, dan kembali sikap bijaksana untuk
mengajak mereka berdialog.
Pendidikan seksualitas bukan sekedar tambahan dalam
pelajaran ini itu, namun sungguh-sungguh digarap oleh sekolah, kalau perlu
dinas pendidikan turun tangan. Meliputi semua elemen, agama, kesehatan,
psikologi, dan tentunya pendidikan. Anak bisa bertanya banyak hal tanpa takut
ditertawakan dan menjadi bahan ejekan, namun malah membawa ke tubir jurang.
Orang tua dan guru jelas memegang peran sangat penting dan
vital agar anak bisa bertumbuh sebagaimana mestinya. Kesalahan itu untuk
diperbaiki bukan dihukum, kehamilan itu untuk dirawat bukan dibuang atau
disingkirkan. Jangan malah kesalahan diselesaikan dengan kesalahan yang lebih
besar lagi.
Patut juga disimak artikel terkait:
http://www.kompasiana.com/paulodenoven/pentingnya-menjawab-pertanyaan-anak-tentang-seksualitas_572fead48d7a616510c70c31
Tidak ada komentar:
Posting Komentar