Gereja Katolik memiliki kekayaan yang luar biasa. Beribu
simbol., berjuta makna, dan berjuta-juta pemahaman. Simbol perlu pengajaran,
simbol perlu penjelasan agar mampu memiliki pehaman yang relatif sama, sehingga
tidak menjadi batu sandungan satu sama lain.
Simbol liturgi lilin yang menyala, ada yang memahami bahwa
mulai lilin dinyalakan, sudah saatnya untuk memasuki suasana perayaan Ekaristi,
kegiatan duniawi seyogyanya ditinggalkah, puasa yang dulunya 24 jam, sudah
dimulai, dan itu hingga komuni tidak ada satu jam. Paling lama misa mingguan
biasa, pada kisaran 60 menit atau lebih sedikit, bagi orang dewasa belum
menimbulkan kelaparan dan kehausan yang amat sangat.
Ironis, ketika pria dewasa, badan gagah, masih muda dalam
artian tidak mungkin mengidap suatu penyakit yang akan membawa maut bagi
pribadi itu, minum dengan seenaknya, bahkan hingga sampai menjelang komuni,
karena saat Doa Syukur Agung.
Bahasa simbol perlu dijelaskan dengan gamblang, karena hari
ini, bahasa lugas saja dengan seenanknya dilanggar dan tidak dijalani, apalagi
yang berupa simbol, akan dengan mudah dijawab tidak tahu, atau oh begitu ya??
Katekese bagi kaum muda sudah mendesak dilakukan. Pelajaran
komuni pertama dan penguatan perlu mendapatkan penekanan, bukan semata sekian
kali dan pasti lulus, namun perlu pendampingan post pelaksanaan sehingga
benar-benar menjadi umat berkualitas.
Gejala main gatged, smartphone,
dan handphone, saatnya bersama
Tuhan yang hanya sedikit telah dikorup dengan terang-terangan tanpa merasa
berdosa dan mengganggu kiri kanannya yang hendak bersungguh-sungguh beribadat. Fenomena
hingga ke pelosok dan hampir merata di semua tempat. Bagi yang belum perlu
hati-hati dan perhatian agar tidak terjadi dengan adanya peringatan yang jelas
dan ters terang.
Banyaknya umat yang menghadiri misa namun duduk di luar.
Kalau katanya panas, sudah banyak yang ber-AC dan kipas angin, kalau alasan
karena anak kecil, justru mengajarkan kepada anak untuk mengerti Ekaristi bukan
mengajari nonton mobil di parkiran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar