Rabu, 01 Oktober 2014

. Faktor-Faktor untuk Membangun Kesejahteraan Keluarga


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membangun kesejahteraan keluarga, sebagai berikut:
1.        Komunikasi dalam Keluarga
Perkawinan terdiri atas dua pribadi yang berbeda, terpisah, dan memiliki kepribadian, sifat, dan kepribadian masing-masing. Cita-cita perkawinan mesti memiliki harapan untuk memiliki cinta yang abadai dan perkawinan tersebut penuh dengan kebahagiaan, keakraban, dan kemesaraan setiap saat.
Kebahagiaan dan kesatuan tersebut bukan jatuh dari langit, namun perlu diusahakan dan diperjuangkan dalam kehidupan sehari-hari. Perjuangan tersebut perlu dilakukan dengan penuh kesetiaan satu sama lain, saling mencintai, saling memberi perhatian, dengan penuh kerelaan mengesampingkan dan menomorduakan kesenagannya sendiri demi pasangan. Panggilan hidup suami-istri adalah menjadi satu, karena telah dipersatukan oleh Allah dalam sakramen perkawinan. Sabagai salah satu sarana utama yaitu kerelaan berkaitan juga dengan ketrampilan dan teknik berkomunikasi satu sama lain.
Dua pribadi yang berbeda perlu adanya penyesuaian untuk menjadi satu sebagaimana panggilan hidup perkawinan. Komunikasi dapat dilakukan dengan pembicaraan dari hati ke hati, menyediakan waktu untuk rekreasi, mengungkapkan rasa kasih selain hubungan badan saja, dan juga menyediakan waktu berdua ketika sudah mulai memiliki anak. [1]
2.        Cinta Kasih Suami-Istri Bersifat Subur
Cinta kasih suami-istri bersifat subur berkaitan dengan penerusan atau menurunkan dan adanya kelahiran anak maupun dalam arti moral dan spiritual. Kehidupan seksual dan hidup berkeluarga terarah kepada penerusan penciptaan manusia. (Bdk. Kej. 1)[2]
3.        Ekonomi Rumah Tangga
Dewasa ini ekonomi rumah tangga menjadi tolok ukur kesejahteraan keluarga bagi banyak orang. Mestinya ekonomi atau harta benda hanyalah salah satu menakar kadar kesejahteraan keluarga.
Keluarga yang sejahtera kalau dari penghasilan yang tetap itu dapat mencukupi seluruh kebutuhan keluarga yang selalu berubah. Kebutuhan yang mesti tercukupi seperti makan setiap hari dengan rutin, dapat berpakaian pantas, punya tempat kediaman yang layak, mendapatkan pendidikan yang mencukupi, dan bila ada anggota keluarga yang sakit dapat memberikan pengobatan dan perawatan seperlunya.[3]
4.        Peran Anggota Keluarga
Peran masing-masing anggota keluarga tentunya berbeda-beda. Antara ayah, ibu, anak-anak tentunya memiliki fungsi dan tugas masing-masing. Semua berjalan sebagai satu kesatuan yang saling mengisi. Peran yang umum terjadi di masyarakat, bapak lebih banyak berperan ke arah luar, seperti mencari nafkah, sedang ibu menguruh seluruh kebutuhan yang berciri domestik. Keadaan ini bukan matematis yang mesti demikian kalau tidak demikian salah, bukan. Peran berkaitan juga dengan komunikasi, bisa saja ibu dan bapak bertukar peran atau saling melengkapi. Bukan salah kalau ibu juga mencari nafkah, dan ayah juga terlibat dalam urusan rumah tangga. Anak-anak berkewajiban untuk berbakti dan membantu meringankan beban orangtua sebatas kemampuannya.[4]
5.        Kesehatan dalam Keluarga
Kesehatan keluarga memegang peranan yang penting dalam membangun kesejahteraan. Diperparah keadaan masyarakat dan bangsa yangs sedang menghadapi masa yang tidak jelas dengan beaya kesehatan amat mahal. Sarana dan prasarana kesehatan yang disediakan Negara masih memprihatinkan. Kalau ada salah satu saja anggota keluarga yang tidak sehat, kondisi dan keadaan keluarga tersebut tidak nyaman dan bergejolak dalam banyak aspek. Aspek ekonomi, ketenangan dan rutinitas berubah, banyak persoalan timbul kalau ada yang sakit.
6.        Keluarga Berencana
Keluarga berencana dimaksudkan untuk bertanggung jawab atas keluarganya tersebut. Jumlah anak, jarak kelahiran dan berhubungan dengan pendidikan dan pembeayaan yang perlu ditanggung orangtua. Keluarga berencana menjadi tanggung jawab suami-istri sepenuhnya dalam membangun kesejahteraan keluarga.






[1] Gilarso, T (Ed), Membangun Keluarga Kristiani, Pembinaan Persiapan Berkeluarga, Kanisius, Yogyakarta, 1995, p. 42
[2] Op. Cit, Tim KomKel, p. 8
[3] Op. Cit, Gilarso, T (Ed), p. 135
[4] Op. Cit, Hardiwiratno, p. 54

Tidak ada komentar:

Posting Komentar