Beberapa
hal yang perlu diperhatikan dalam membangun kesejahteraan keluarga, sebagai
berikut:
1.
Komunikasi
dalam Keluarga
Perkawinan
terdiri atas dua pribadi yang berbeda, terpisah, dan memiliki kepribadian,
sifat, dan kepribadian masing-masing. Cita-cita perkawinan mesti memiliki
harapan untuk memiliki cinta yang abadai dan perkawinan tersebut penuh dengan
kebahagiaan, keakraban, dan kemesaraan setiap saat.
Kebahagiaan
dan kesatuan tersebut bukan jatuh dari langit, namun perlu diusahakan dan
diperjuangkan dalam kehidupan sehari-hari. Perjuangan tersebut perlu dilakukan
dengan penuh kesetiaan satu sama lain, saling mencintai, saling memberi
perhatian, dengan penuh kerelaan mengesampingkan dan menomorduakan kesenagannya
sendiri demi pasangan. Panggilan hidup suami-istri adalah menjadi satu, karena
telah dipersatukan oleh Allah dalam sakramen perkawinan. Sabagai salah satu
sarana utama yaitu kerelaan berkaitan juga dengan ketrampilan dan teknik
berkomunikasi satu sama lain.
Dua
pribadi yang berbeda perlu adanya penyesuaian untuk menjadi satu sebagaimana
panggilan hidup perkawinan. Komunikasi dapat dilakukan dengan pembicaraan dari
hati ke hati, menyediakan waktu untuk rekreasi, mengungkapkan rasa kasih selain
hubungan badan saja, dan juga menyediakan waktu berdua ketika sudah mulai
memiliki anak. [1]
2.
Cinta Kasih
Suami-Istri Bersifat Subur
Cinta
kasih suami-istri bersifat subur berkaitan dengan penerusan atau menurunkan dan
adanya kelahiran anak maupun dalam arti moral dan spiritual. Kehidupan seksual
dan hidup berkeluarga terarah kepada penerusan penciptaan manusia. (Bdk. Kej.
1)[2]
3.
Ekonomi Rumah
Tangga
Dewasa
ini ekonomi rumah tangga menjadi tolok ukur kesejahteraan keluarga bagi banyak
orang. Mestinya ekonomi atau harta benda hanyalah salah satu menakar kadar
kesejahteraan keluarga.
Keluarga
yang sejahtera kalau dari penghasilan yang tetap itu dapat mencukupi seluruh
kebutuhan keluarga yang selalu berubah. Kebutuhan yang mesti tercukupi seperti
makan setiap hari dengan rutin, dapat berpakaian pantas, punya tempat kediaman
yang layak, mendapatkan pendidikan yang mencukupi, dan bila ada anggota
keluarga yang sakit dapat memberikan pengobatan dan perawatan seperlunya.[3]
4.
Peran Anggota
Keluarga
Peran
masing-masing anggota keluarga tentunya berbeda-beda. Antara ayah, ibu,
anak-anak tentunya memiliki fungsi dan tugas masing-masing. Semua berjalan
sebagai satu kesatuan yang saling mengisi. Peran yang umum terjadi di masyarakat,
bapak lebih banyak berperan ke arah luar, seperti mencari nafkah, sedang ibu
menguruh seluruh kebutuhan yang berciri domestik. Keadaan ini bukan matematis
yang mesti demikian kalau tidak demikian salah, bukan. Peran berkaitan juga
dengan komunikasi, bisa saja ibu dan bapak bertukar peran atau saling
melengkapi. Bukan salah kalau ibu juga mencari nafkah, dan ayah juga terlibat
dalam urusan rumah tangga. Anak-anak berkewajiban untuk berbakti dan membantu
meringankan beban orangtua sebatas kemampuannya.[4]
5.
Kesehatan
dalam Keluarga
Kesehatan
keluarga memegang peranan yang penting dalam membangun kesejahteraan.
Diperparah keadaan masyarakat dan bangsa yangs sedang menghadapi masa yang
tidak jelas dengan beaya kesehatan amat mahal. Sarana dan prasarana kesehatan
yang disediakan Negara masih memprihatinkan. Kalau ada salah satu saja anggota
keluarga yang tidak sehat, kondisi dan keadaan keluarga tersebut tidak nyaman
dan bergejolak dalam banyak aspek. Aspek ekonomi, ketenangan dan rutinitas
berubah, banyak persoalan timbul kalau ada yang sakit.
6.
Keluarga
Berencana
Keluarga
berencana dimaksudkan untuk bertanggung jawab atas keluarganya tersebut. Jumlah
anak, jarak kelahiran dan berhubungan dengan pendidikan dan pembeayaan yang
perlu ditanggung orangtua. Keluarga berencana menjadi tanggung jawab
suami-istri sepenuhnya dalam membangun kesejahteraan keluarga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar