Berita-berita
media massa hari-hari ini sungguh menggembirakan hati. Makin banyak orang
makmur dan kaya. Mulai dari kegiatan kampanye yang menggunakan helikopter
pribadi, hari ini di Jawa, esok di Sumatera, lusa di Sulawesi dengan fasilitas
tentunya kelas atas, ada PNS yang memberikan souvenir pernikahan berupa i.phone. Belum lagi para caleg yang
menyediakan uang Rp.100.000.000 ,00 untuk calon legeslatif tingkat dua, tentu
makin membesar untuk tingkat selanjutnya, apalagi tingkat pusat, tentu nol
sembilan dan lebih untuk wakil rakyat di tingkat pusat. Pengusaha lain ketika
tersangkut kasus korupsi ketahuan memiliki lebih dari lima puluh mobil dengan
banyak yang memiliki kualifikasi mewah.
Namun,
media yang sama juga menyajikan kontradiksi yang amat memilukan. Ibu di Ibukota
negara Indonesia, yang memiliki orang kaya raya seperti di atas, dengan
sembilan anak, makan dari mengais sisa makan karyawan pabrik, di suatu kawasan
industri. Bisa dibayangkan nasib dan kesehatan kesembilan anak, dan ibu anak
ini seperti apa. Media yang lain, menyuguhkan anak yang dieksplotasi oleh bapak
kandung dan ibu tiri untuk menjadi pengamen dengan penghasilan harus mencapai
Rp.40.000,00, anak usia 3.5 tahun. Satu lagi generasi muda kehilangan masa
emasnya.
Negara
membeayai pemekaran pasukan pengamanan presiden guna mengamankan para presiden
dan wakil presiden yang sudah tidak lagi berkuasa, dengan mahal. Harga kebakaran
hutan yang harus dibayarkan untuk memadamkan juga tidak murah. Hanya untuk
golongan tertentu dan sangat sempit sekian besar uang dengan mudah dianggarkan.
Ironisnya,
masih melimpah ruah juga orang yang tidak beruntung, masih di bawah garis
kesejahteraan, untuk sesuap nasipun masih harus menunggu bekas atau buangan
orang lain.
Mari
kita renungkan, kekayaan negara ini sudah terdistribusi dengan baik atau masih
perlu perjuangan dan kepedulian bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar