Suatu
pagi bincang pagi salah satu TV menyajikan pembicaraan mengenai pembayaran
denda untuk membebaskan salah satu TKI yang divonis mati di luar negeri,
seorang pejabat dari kementerian luar negeri menyatakan, negara tidak akan
membayar denda untuk pelaku kriminal. Alasan pejabat ini mengeluarkan komentar
tersebut, ialah pernyataan dan fakta hukum bahwa pelaku pembunuhan tersebut
mengakui pembunuhan dan pencurian.
Beberapa
hari lalu, pelaku kriminal lain dari negara tetangga, memperoleh, grasi,
remisi, dan bahkan pembebasan bersyarat. Apa yang ditunjukkan dari dua contoh
peristiwa tersebut? Diplomasi dan usaha keras negara dalam membela dan
melindungi warga negara.
Diplomat
kita malah memberikan pertanyaan yang sangat melukai anak negerinya, padahal
dia dibayar secara tidak langsung adalah dari keringat dan darah TKI tersebut. Bukannya
berusaha dengan keras untuk membantu paling tidak mengusahakan keringanan.
Kalau Australia dapat berbuat banyak mengapa kita tidak?
Melihat
cara berbicara yang hanya berisi pertahanan diri, menunjukkan bukti masa
lalu, dan berlindung di balik fakta
hukum, tidak ada empati dan simpati pada keluarga, apalagi terpidana, dapat
dipastikan tidak akan mampu berdiplomasi di depan diplomat asing.
Apa
yang terjadi?
Kemampuan
diplomasi yang perlu ditingkatkan. Sikap inlander, yang melekat kuat nyata
diperlihatkan kalau melihat bule
masih memuja lihat perfilman, model Indonesia begitu memuja bule, kebanggaan menggunakan bahasa
asing yang disisipkan dalam bahasa Indonesia, menghadapi negara tertentu dengan
takut-takut karena berkaitan dengan keimanan. Iman dengan negara sebenarnya
jauh berbeda, ini perlu perubahan paradigma berpikir bangsa ini.
Keterberpihakan
dan pilihan masih sebatas materi, kemanusiaan menjadi impian dan masih perlu
perjuangan. Selalu yang dibicarakan adalah uang atau materinya, bukan bagaimana
keluarga yang kehilangan anak, orangtua, saudara, dan anggota keluarganya.
Kebiasaan
pejabat negara yang mencari kambing hitam, dan membenarkan diri. Tidak pernah
ada warga negara yang salah, yang salah adalah sistem. Sistem yang korup, tidak bertanggung jawab masih dominan.
Ironisnya mereka inilah yang di depan kalau ada prestasi atau ada kebanggaan
yang ditorehkan oleh salah satu warganya. Ketika menderita entah kemana, ketika
sukses ada di depan. Mental seperti ini sudah harus dibuang jauh-jauh.
Pendidikan yang memprihatinkan. Pendidikan dijejali
dengan pengertian-pengertian, dan hafalan semata, bukan berciri solutif, hasil
yang diperoleh adalah lari dari tanggung jawab dan mencari kambing hitam,
karena lepas dari hafalannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar