Suatu
hari, ada seorang tokoh yang mengatakan bahwa bangsa kita sudah beralih kepada
budaya plastik, namun masih berpegang erat pada budaya daun pisang. Hal ini
benar-benar menggelitik, apa iya?
Ternyata
memang benar dan ironis sekali. Bagaimana sekarang ini, hampir seluruhnya
berbungkus plastik. Bungkus yang ribuan tahun baru akan terurai, karena bakteri
pengurai alami tidak mampu mengubah partikel plasitik. Ini menjadi persoalan
yang sangat besar sebenarnya.
Dahulu
kala, saat semua bungkus dari daun pisang, semua praktis, setelah makan, untuk
lap mulut dan tangan langsuang saja dibuang dari jendela atau pintu dapat
dipastikan akan ada yang mendaur ulang. Kambing, sapi, babi, cacing akan
beramai-ramai menyatap dan akan menguraikannya untuk kita dan alam. Alam dan
manusia malah bersyukur dengan daur hidup alami yang saling menguntungkan ini.
Mentalitas
yang sama masih digunakan untuk produk yang sangat berbeda dalam sifat dan
karakternya tersebut. Memperlakukan limbah plastik sama persih dengan daun
pisang, selesai dikonsumsi isinya, langsung saja buang, entah ke mana. Sampah
plastik berserakan di mana-mana, tidak pandang tempat, waktu, dan suasana.
Plastik merajai kehidupan manusia, karena relatif lebih murah, praktis, lebih
indah, bersih, meski higienisnya masih perlu penelitian lebih mendalam. Segi
praktis, estetis, dan praktis paling populer dikemukankan sebagai alasan mengapa
memilih plastik. Persoalan adalah budaya post
pemakaian, budaya membuang sampah yang belum berubah, sungai menjadi tempat
sampah terpanjang, budaya bahwa orang lain akan menyelesaikan persoalan, sedang
kita semaunya menciptakan masalah.
Apa
yang dapat dilakukan? Minimal dari diri kita sendiri, buat sesedikit mungkin
menggunakan plastik. Misalnya menggunakan tas untuk belanja, bukan harus selalu
baru dari toko. Belanjaan yang masih dapat masuk ke kantong atau saku, tidak
usah dibungkus plastik lagi oleh toko. Penggunaan produk daur ulang dan bisa
dipakai berulang. Membuang sampah pada tempatnya, dan membiasakan diri dengan
pola hidup sehat dan peduli lingkungan
Plastik
sangat berbeda dengan daun pisang, maka bersikap sesuai dengan produknya.
Produk alam tentu lain dengan hasil manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar