Senin, 10 Maret 2014

Budaya Plastik Mental Daun

Suatu hari, ada seorang tokoh yang mengatakan bahwa bangsa kita sudah beralih kepada budaya plastik, namun masih berpegang erat pada budaya daun pisang. Hal ini benar-benar menggelitik, apa iya?
Ternyata memang benar dan ironis sekali. Bagaimana sekarang ini, hampir seluruhnya berbungkus plastik. Bungkus yang ribuan tahun baru akan terurai, karena bakteri pengurai alami tidak mampu mengubah partikel plasitik. Ini menjadi persoalan yang sangat besar sebenarnya.
Dahulu kala, saat semua bungkus dari daun pisang, semua praktis, setelah makan, untuk lap mulut dan tangan langsuang saja dibuang dari jendela atau pintu dapat dipastikan akan ada yang mendaur ulang. Kambing, sapi, babi, cacing akan beramai-ramai menyatap dan akan menguraikannya untuk kita dan alam. Alam dan manusia malah bersyukur dengan daur hidup alami yang saling menguntungkan ini.
Mentalitas yang sama masih digunakan untuk produk yang sangat berbeda dalam sifat dan karakternya tersebut. Memperlakukan limbah plastik sama persih dengan daun pisang, selesai dikonsumsi isinya, langsung saja buang, entah ke mana. Sampah plastik berserakan di mana-mana, tidak pandang tempat, waktu, dan suasana. Plastik merajai kehidupan manusia, karena relatif lebih murah, praktis, lebih indah, bersih, meski higienisnya masih perlu penelitian lebih mendalam. Segi praktis, estetis, dan praktis paling populer dikemukankan sebagai alasan mengapa memilih plastik. Persoalan adalah budaya post pemakaian, budaya membuang sampah yang belum berubah, sungai menjadi tempat sampah terpanjang, budaya bahwa orang lain akan menyelesaikan persoalan, sedang kita semaunya menciptakan masalah.
Apa yang dapat dilakukan? Minimal dari diri kita sendiri, buat sesedikit mungkin menggunakan plastik. Misalnya menggunakan tas untuk belanja, bukan harus selalu baru dari toko. Belanjaan yang masih dapat masuk ke kantong atau saku, tidak usah dibungkus plastik lagi oleh toko. Penggunaan produk daur ulang dan bisa dipakai berulang. Membuang sampah pada tempatnya, dan membiasakan diri dengan pola hidup sehat dan peduli lingkungan

Plastik sangat berbeda dengan daun pisang, maka bersikap sesuai dengan produknya. Produk alam tentu lain dengan hasil manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar