Selasa, 25 Maret 2014

Doit atau Kemanusiaan

Pengalaman yang sungguh memprihatinkan, saat akhir pekan, bis antarkota mesti penuh. Malam itu ada sebuah keluarga dengan dua anak kecil, duduk di bangku masing-masing bapak dengan anak, ibu dengan anaknya yang kecil, sebuah keluarga yang hangat dan harmonis. Pada suatu halte ada ibu yang naik dengan anak gadisnya yang kelihatan pucat, lemas, dan membungkuk. Ibu itu meminta pada bapak tersebut, apakah bisa memangku anaknya, dengan spontan dijawab ,” Bayar sendiri kog.” Ibu ini menjawab, “Kalau saya tidak masalah tapi anak saya baru sakit juga bayar dan berdiri.”
Apakah yang dapat dipetik dari pengalaman ini. Bukan untuk menghakimi bapak yang tidak mau memberikan bangkunya untuk anak sakit ini. Padahal sepuluh tahun lalu, tidak perlu diminta pasti akan diberikan dengan rela, tempat duduk di bis seperti itu. Bapak tersebut tidak bersalah, hak sepenuhnya karena sudah duduk dan pasti akan membayar. Alangkah bijaksananya kalau hal tersebut untuk memberi pembelajaran pada anaknya yang masih kecil. “Nak, Papa pangku ya, bangkunya untuk kakak yang sedang sakit.”
Pasti hal itu akan terekam pada hati dan budi anak untuk memiliki sikap empati, simpati, dan mau berbagi. Dengan pilihan bapak tersebut, apa yang terekam pada anak adalah, ini hakku karena membayar, aku tidak perlu memberikan apa yang aku punyai. Sekali lagi itu tidak salah, karena membayar layak untuk duduk.
Sikap untuk berbagi, memberi, peduli, dan melepaskan makin sulit ditemui. Materi, nilai uang begitu kuat menguasai manusia, sehingga kemanusian menjadi tersingkirkan. Kepentingan pribadi, keluarga, kelompok lebih utama dibandingkan kepentingan bersama. Pamrih, do ut des, memberi biar diberi, tidak ada makan siang yang gratis menjadi iman bagi kebanyakan masyarakat saat ini.
Ketika berkaitan dengan keakuan akan diperjuangkan sampai darah penghabisan. Bagaimana pola pikir, kebiasaan, dan paradigma itu sudah saatnya diubah dan digantikan. Apa yang akan aku terima kalau aku berlaku pada posisi sebaliknya? Hak selalu berkaitan dengan kewajiban. Apa yang terjadi saat ini, adalah hak terlebih dahulu, sedang kewajiban sering diabaikan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar