Pengalaman
yang sungguh memprihatinkan, saat akhir pekan, bis antarkota mesti penuh. Malam
itu ada sebuah keluarga dengan dua anak kecil, duduk di bangku masing-masing bapak
dengan anak, ibu dengan anaknya yang kecil, sebuah keluarga yang hangat dan
harmonis. Pada suatu halte ada ibu yang naik dengan anak gadisnya yang kelihatan
pucat, lemas, dan membungkuk. Ibu itu meminta pada bapak tersebut, apakah bisa
memangku anaknya, dengan spontan dijawab ,” Bayar sendiri kog.” Ibu ini
menjawab, “Kalau saya tidak masalah tapi anak saya baru sakit juga bayar dan
berdiri.”
Apakah
yang dapat dipetik dari pengalaman ini. Bukan untuk menghakimi bapak yang tidak
mau memberikan bangkunya untuk anak sakit ini. Padahal sepuluh tahun lalu,
tidak perlu diminta pasti akan diberikan dengan rela, tempat duduk di bis seperti
itu. Bapak tersebut tidak bersalah, hak sepenuhnya karena sudah duduk dan pasti
akan membayar. Alangkah bijaksananya kalau hal tersebut untuk memberi
pembelajaran pada anaknya yang masih kecil. “Nak, Papa pangku ya, bangkunya
untuk kakak yang sedang sakit.”
Pasti
hal itu akan terekam pada hati dan budi anak untuk memiliki sikap empati,
simpati, dan mau berbagi. Dengan pilihan bapak tersebut, apa yang terekam pada
anak adalah, ini hakku karena membayar, aku tidak perlu memberikan apa yang aku
punyai. Sekali lagi itu tidak salah, karena membayar layak untuk duduk.
Sikap
untuk berbagi, memberi, peduli, dan melepaskan makin sulit ditemui. Materi,
nilai uang begitu kuat menguasai manusia, sehingga kemanusian menjadi
tersingkirkan. Kepentingan pribadi, keluarga, kelompok lebih utama dibandingkan
kepentingan bersama. Pamrih, do ut des,
memberi biar diberi, tidak ada makan siang yang gratis menjadi iman bagi
kebanyakan masyarakat saat ini.
Ketika
berkaitan dengan keakuan akan diperjuangkan sampai darah penghabisan. Bagaimana
pola pikir, kebiasaan, dan paradigma itu sudah saatnya diubah dan digantikan. Apa
yang akan aku terima kalau aku berlaku pada posisi sebaliknya? Hak selalu
berkaitan dengan kewajiban. Apa yang terjadi saat ini, adalah hak terlebih
dahulu, sedang kewajiban sering diabaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar