Gorengan versus BB
Suatu
siang yang panas, keluar dari kelas ada siswa yang mengatakan dengan bangga,
bahwa dia anak Tuhan karena berani mengembalikan BB yang dia ketemukan. Siswa ini menyatakan bahwa bapaknya juga
sering melakukan hal yang sama. Pengalaman yang luar biasa di zaman ini, bagi
ABG seusia itu, tentunya dia juga pengin memilikinya. Saya tanya, dia mendapat
apa? Dia mengakatakan tidak diberi apa-apa, malah kepanasan, menelpon orang
yang punya menunggu lama pula.
Cerita
ini hanya diceritakan kepada saya, dan selesai. Mengagetkan suatu hari anak
yang sama ini, ketahuan mengambil jajanan seharga Rp.2000,00 dan ketahuan. Semua
guru tahu cerita ini. Saya mendengar belakangan, dan saat mendengar tersebut
saya katakan perihal dia mengembalikan BB
tersebut. Kedua peristiwa
tersebut saya jadikan pengantar dalam pelajaran di semua kelas yang saya ajar. Pas
masuk kelas siswa tersebut, dia tahu dan menolak. Saya katakan bahwa bukan
persoalan dia malu, namun bahwa perbuatan yang tidak banyak diketahui orang
lebih bernilai, apalagi gorengan tersebut toh dibayar saat itu juga, saat
ketahuan.
Peristiwa
buruk dengan cepat menyebar dan langsung lahir hakim-hakim yang hebat-hebat,
namun untuk kebaikan, saat ini masih memprihatinkan. Kebaikan kurang diwartakan
dengan besar-besaran, berbanding dengan keburukan yang malah mendapat porsi
besar di benak kita bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar