Sabtu, 01 Maret 2014

Gorengan versus BB

Gorengan  versus BB

Suatu siang yang panas, keluar dari kelas ada siswa yang mengatakan dengan bangga, bahwa dia anak Tuhan karena berani mengembalikan BB yang dia ketemukan. Siswa ini menyatakan bahwa bapaknya juga sering melakukan hal yang sama. Pengalaman yang luar biasa di zaman ini, bagi ABG seusia itu, tentunya dia juga pengin memilikinya. Saya tanya, dia mendapat apa? Dia mengakatakan tidak diberi apa-apa, malah kepanasan, menelpon orang yang punya menunggu lama pula.
Cerita ini hanya diceritakan kepada saya, dan selesai. Mengagetkan suatu hari anak yang sama ini, ketahuan mengambil jajanan seharga Rp.2000,00 dan ketahuan. Semua guru tahu cerita ini. Saya mendengar belakangan, dan saat mendengar tersebut saya katakan perihal dia mengembalikan BB tersebut. Kedua peristiwa tersebut saya jadikan pengantar dalam pelajaran di semua kelas yang saya ajar. Pas masuk kelas siswa tersebut, dia tahu dan menolak. Saya katakan bahwa bukan persoalan dia malu, namun bahwa perbuatan yang tidak banyak diketahui orang lebih bernilai, apalagi gorengan tersebut toh dibayar saat itu juga, saat ketahuan.

Peristiwa buruk dengan cepat menyebar dan langsung lahir hakim-hakim yang hebat-hebat, namun untuk kebaikan, saat ini masih memprihatinkan. Kebaikan kurang diwartakan dengan besar-besaran, berbanding dengan keburukan yang malah mendapat porsi besar di benak kita bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar